BUKAN WANITA LEMAH

BUKAN WANITA LEMAH
47. Part 47


__ADS_3

Setelah keluar dari airport Frans melihat jam di tangan nya sudah jam 10 malam, karena tadi ada kendala akibat hujan lebat dan cuaca buruk terpaksa penerbangan di berentikan sementara.


Gusar ingin menumui Dinda langsung namun tidak bisa karena ini sudah malam.


Akhhh Frans menendang mobil yang ada di depan nya, bahkan orang yang menjemputnya merasa takut.


"Ke jln....××× pak".


"Baik pak", hanya itu yang keluar dari mulut sopir, sekedar bertanya saja dia sudah takut karena melihat Frans yang sudah acak acakan penampilannya, muka dingin dan tatapan tajam membuat sopir menjadi tambah was was.


Ada apa kenapa dengan anak majikan nya itu, pulang pun mau ke perusahaannya batin sopir.


Samapai ke depan perusahaan sang sopir memelankan laju mobilnya.


"Lurus ke depan ada gang belok kiri", ucap Frans sangat dingin.


Mobil berenti di depan gapura kontrakan Dinda, dengan arahan Frans tadi.


Ingin rasanya Frans melompat dari mobil itu dan mendobrak pintu yang Dinda tempati.


Akhhh teriak Frans di dalam mobil itu, sopir yang ada di depan hampir saja jantungan.


Jam 1 malam baru saja sampai rumah, tidak mandi lagi Frans langsung membantingkan badan ke kasurnya.


Padahal soal kebersihan Frans nomer 1, tapi kali ini jangankan ingin membersihkan badan sekedar membuka sepatunya pun tidak.


Memikirkan Dinda yang bahkan tidak aktif lagi nomernya, membuat Frans tambah murka.


Sumpah demi apapun aku tidak akan membiarkan milikku di ambil lagi oleh orang lain, akan ku bunuh habis orang itu. Geram Frans.


Jam 3 dini hari Frans baru bisa memejamkan matanya, belum makan siang juga makan malam, tidak membuatnya laper.


Bahkan baru 1 jam memejamkan mata dia sudah terbangun lagi.


Secepat kilat mandi dan menganti pakaiannya, jam 5 subuh Frans sudah mengeluarkan mobnya dari garasi.


Mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, untung saja subuh seperti ini sangat jarang kendaraan lewat.

__ADS_1


yang seharusnya dari rumah ke kantor membutuhkan waktu 35 menit, kali ini Frans sampai ke depan kontrakan Dinda hanya memakai waktu 15 menit.


Menunggu penghuni kontrakan itumuncul Frans menyandarkan punggungnya sambil menatap tajam pintu yang dia pantau.


1 jam menunggu akhirnya penghuni kontrakan itu keluar juga.


Turun dari mobil langsung menarik Dinda ke dalam mobilnya, menjalankan mobil dengan tanpa kata.


Dinda sudah ketakutan, ada apa dengan orang ini ko terlihat sangat marah. Batinnya.


Mobil masuk perusahaan langsung di taro dengan sembarangan tanpa memarkirkan terlebih dahulu, Frans menarik Dinda keluar dari mobilnya lagi, membawa masuk ke dalam ruangannya.


Di tarik tarik terus dari tadi Dinda pun geam sendiri, Frans hanya bungkam dengan muka dingin dan mata tajam nya.


"Kenapa harus di tarik tarik seperti ini sih pak?", bisa kan ngajak pelan pelan, ucapnya lagi.


Frans mendudukan Dinda ke sopa yang ada di ruangannya.


"Darimana saja kamu?", tanya Frans sambil menatap tajam Dinda.


"Di sini tidak ada orang Dinda Mahendra, berenti pura pura bodoh di depanku", geram Frans merekatkan giginya, marahnya sudah naik ke ubun ubun.


"Ada saja ko gak kemana mana", polosnya jawaban Dinda.


"Apa kamu sengaja menghindariku dari kemarin", dengan nada tinggi.


"Saya tidak menghindari pak Frans, kenapa sih ada apa, jangan seolah olah bapak seorang bos bisa se enaknya saja memarahi karyawan OG sepertiku. Aku juga manusia pak, mempunyai rasa jengah rasa marah, kalau ada masalah atau kalau ada kesalahan dalam diriku, tolong bicarakan dengan baik baik.


Ohhh iya hahaa seharusnya saya tidak terlena dengan ucapan ucapan pak Frans kemarin kemarin, yang katanya mencintaiku, seharusnya saya sadar diri bahwa wanita miskin dan hina seperti saya ini harus berkaca diri bahwa tidak mungkin seorang CEO ternama di negara ini mencintai wanita miskin wanita kampung


Seperti saya.


"Kamu mengabaikanku, mengabaikan panggilan dariku, padahal hampir seribu kali aku menghubungi kamu", suara Frans masih meninggi.


"Ponselku jatuh dari loker tempat penyimpanan seragam kemarin, sekarang sudah hancur, mau bagaimana saya tau kalau anda menghubungi saya".


"Cih banyak alasan sekali kau".

__ADS_1


"Mau percaya atau tidak terserah pak Frans saja, permisi saya mau kerja, Dinda bangkit dari duduknya, namun lengannya sudah di cekal.


"Ada apa lagi hah, belum puas memarahi saya, belum puas menyiksa saya, sok silahkan puaskan hati anda tua", Dinda duduk menatap Frans".


"Sayang, Frans mendekat dan memeluk Dinda, jangan siksa aku dan jangan buat aku seperti ini, aku mencintaimu, aku sudah gila dari kemarin merindukan dan mencemaskanmu".


"Lepasss", teriak Dinda.


"Tidak akan aku lepaskan lagi, kau hanya miliku dan akan tetap menjadi milikku".


"Lepaskan saya tuan Frans Wiguna", teriak Dinda lagi.


"Tidak akan jangan harap, bahkan hari ini pun kita akan menikah", ucapan Frans tegas.


Dinda geram ingin sekali dia mencakar muka Frans.


"Anda kenapa sangat umemaksa sih".


Sayang tatap mataku, aku sangat mencintaimu tolong percayalah padaku, pinta Frans lagi.


"Jangan paksa saya".


"Sayang, Frans menarik Dinda masuk ke kamar pribadinya".


Temani aku tidur sebentar saja aku tadi malam tidak bisa tidur, memikirkanmu terus menerus.


"Kemarin aku sempat melaksanaka pekerjaan ke luat negri sayang, pelis aku capek, aku ingin memelukmu".


"Kenapa ponselmu bisa terjatuh dan kenapa siang pun aku tlpon kamu tidak mengangkatnya".


"Saya kerja tidak selalu memainkan ponsel tidak bisa seperti anda".


Frans memilih mengalah dia takut kehilangan Dinda lagi...


❤❤❤


Selamat membaca jangan lupa like ya, Terimakasih.

__ADS_1


__ADS_2