
Jam 5 pagi alarm Dinda berbunyi, Dinda menguap merasakan berat sekali ada yang menimpa perut dan kakinya.
Masya Allah nyenyak banget tudurku malam ini, Alhandulillah, tapi ini apa ya berat banget, celoteh Dinda, mendengar dengkuran halus Dinda melihat ke sampingnya, kaget ada seorang lelaki yang memeluknya, Ya Allah saking kagetnya Dinda sampai tersentak menjauh.
Frans juga kaget sampai terbangun, nyawanya belum kumpul.
"Kenapa sayang?", Frans masih berusaha membuka matanya yang terasa berat saking ngantuk.
"Kaget Maaf ya", Dinda juga merasa bersalah telah mengagetkan suaminya.
"Gak apa apa, sini peluk lagi aku masih ngantuk".
"Ini sudah subuh, aku mau Shalat", ucap Dinda, sebenarnya masih merasa takut pada Frans takut yang lain lain.
"Yaudah, aku tidur lagi sebebntar ya, nanti bangunin sayang", suara Frans seperti orang melindur.
Huwhhh Dinda turun dari kasur sambil membuang napasnya, Ya Allah ternyata aku udah punya suami sekarang, senyum senyum sendiri sambil berjalan ke arah kamar mandi. Aman ya Allah pakaianku masih utuh heheee.
Dinda sudah melaksanakan Shalatnya, menunggu Frans terbangun duduk di sopa, namun manusia itu masih anteng dengan dengkuran halus nya, mau di bangunin takut marah gak di bangunin dia udah ngomong tadi, ini juga udah mau jam 6 celoteh Dinda.
Dengan berjalan pelan Dinda menuju ranjang, niat membangunkan Frans.
Cakep juga ternyata suami, Dinda membatin sambil tersenyum, akhhh suami mimpi gak sih lucu juga udah punya suami sekarang, cakep kaya raya lagi, hahaa Dinda tertawa sendiri dalam hatinya.
Menepuk nepuk tangan Frans dengan lembut sebenarnya dia merasa takut, setelah beberapa kali menepuk tangan lelaki itu barulah yang di bangunkan membuka matanya sambil tersenyum. Menarik tangan Dinda sampai masuk ke dalam dekapan nya.
__ADS_1
"Selamat pagi istriku, udah wangi udah cantik aja sayang", Frans menyembunyikan wajahnya ke dada Dinda.
Dinda diam saja dia tadi sempat melihat ponselnya banyak foto foto acara kemarin, memantapkan hati untuk bisa membiasakan diri menerima apapun yang di lakukan Frans terhadapnya selagi buka mukul atau niat membunuh. Dinda sekarang sadar bahwa bagaimana kewajiban seorang istri pada suaminya.
Merasa geli karena Frans mendusel duselkan wajahnya di antara dua kepunyaan nya.
"Masss geli", ucap Dinda sedikit berbisik.
"Wangi kamu enak sayang, nyaman banget ternyata punya istri, pengen peluk terus".
Dinda bingung bukannya ini yang kedua kalinya buat Frans, tapi ko bisa bilang seperti itu, tau ahh bingung, Mama Sinta juga seakan menutup rapat bagaimana kisah mas Frans sama Mama nya Naomi.
"Mandi gih, tadi aku udah siapin air hangat di bathtub, mungkin udah dingin lagi, lama bangunnya".
"Yang bawah udah bangun sayang, nyium bau wangi kamu aja udah bangun dia", celoteh Frans yang Dinda sama sekali tidak ngerti.
"Yaudah aku mandi sayang, cup Frans mencium bibir Dinda menggigit gemas, tunggu sebentar, gak apa apa dingin sekarang kalau kedinginnan ada yang peluk jadi santai", sambil turun dari kasur Frans mengelus dadanya bicara pada dirinya sendiri, sabar Frans sabar dia masih polos.
Ngomong apa sih tuh orang ngelantur mulu perasaan, sambil membereskan kasurnya yang sedikit berantakan Dinda mengoceh. Astagfirullohalazim, dia ternyata ngomongnya ke arah mana, batin Dinda, pantas mukanya langsung masam.
Ya Allah istri macam apa aku ini tidak tau kemana arah suami bicara, tapi aku merasa masih takut Ya Allah.
Setelah beres merapihkan kasur Dinda menaruh baju untuk Frans gunakan, suka atau tidak suka gimana Frans saja, dia mau belajar menjadi istri ta'at, membuka gorden dia berjalan ke balkon menikmati angin pagi yang sejuk melihat pemandangan yang memanjakan mata. Merasa ada tangan yang memeluknya dari belakang jantung Dinda kembang kempis.
"Sayang liat apa?", tanya Frans sambil menaruh dagunya di pundak Dinda, sangat terasa hembusan napas hangat dari lelaki itu.
__ADS_1
"Liat pemandangan itu, Jakarta kalau di pandang dari ketinggian bagus ya", berusaha untuk berinteraksi bak suami istri pada umumnya.
"Gak ada pemandangan yang bagus di Dunia ini, selain istrinya Frans Wiguna yaitu Dinda Mahendra Wiguna", ucapan Frans membuat hati Dinda meleleh.
"Gombal nih Papanya Naomi, Dinda mencubit kecil tangan Frans yang melingkar di pinggangnya". Senenarnya hatinya berbunga bunga.
"Hahaha, tapi Mamanya Naomi suka kan kalau di gombalin gini, Frans membalikan badan Dinda, melihat muka Dinda yang sudah merah membuatnya tambah gemas, manis banget sih istriku, apalagi ini Frans langsung menempelkan bibirnya ******* habis bibir istrinya".
"Napas sayang", Frans mengendong Dinda membawanya masuk ke dalam kamar lagi, di rebahkannya badan Dinda secara pelan dan perlahan sambil menyatukan bibirnya lagi, masih tidak ada balasan dari Dinda. "Sayang balas ciumanku", pinta Frans hasratnya mulai naik.
Dinda menggeleng, menjauhkan bibirnya dari bibir Frans "Aku gak bisa mas", ucap Dinda dengan polos sukses membuat Frans terkekeh geli. Gini rasanya punya istri polos se polos polosnya.
"Ikutin apa yang mas lakukan sayang, buka kerudungnya ya", tanpa persetujuan Frans sudah membuka kerudung Dinda, membuatnya melongo. Cantik banget istriku, ternyata cantiknya bertambah berkali kali lipat kalau di buka seperti ini.
Tidak sabaran Frans langsung mencium bibir Dinda lebih rakus lagi, merasakan balasan dari Dinda membuatnya tersenyum bahagia, ciumannya turun ke leher, Frans mencium leher Dinda merasakan sangat wangi dia menyesapnya kencang, membuat Dinda mengaduh, namun seolah tuli Frans terus saja mencari kesenangannya sendiri, membuka kancing baju yang Dinda pakai Frans mencium dua gundukan empuk dengan gemas meski masih di bungkus oleh bra dan tengtop.
"Sayang boleh buka ya", suara Frans mulai serak hasratnya sudah memuncak. Dinda mengangguk setuju cepat atau lambat suaminya itu akan minta hak nya dan memang sudah kewajiban seorang istri.
"Boleh masshhh", Dinda mendesah karena Frans sudah menyesap salah satu gundukan yang dia sudah tarik tadi.
•
•
•
__ADS_1
❤❤❤
Happy reading😘. Duhh Utor deg degan sumpah nulis ini hahaaa🙏