
Prans kembali ke meja kerjanya, melanjutkan pekerjaan yang sudah menumpuk, setengah hari dia membuang waktunya, meninggalkan pekerjaan.
Dinda masih tetap di kurung di ruangan kerjanya, karena untuk hari ini Frans tidak memperbolehkan Dinda kerja lagi.
Frans malah memberikan ponsel dan ipad nya supaya Dinda tidak jenuh.
Jangankan Dinda memegang ipad dan ponsel Frans, melirikpun bahkan tidak, jengkel, dongkol, bosan hanya bersidekap lalu menyender di pinggiran sopa.
Frans yang melihat muka bete Dinda, semakin menggemaskan menurutnya, ingin sekali rasanya dia melompat dari meja kerjanya memeluk Dinda, namun sudah ada peringatan tadi, Frans tidak boleh memeluk apalagi menciumnya.
Pekerjaan yang menumpuk, hati dan otaknya sedang tidak bisa di ajak kerja sama. Akhhhhh Frans berteriak saking pusingnya.
"Heiii anda kenapa?", kaget bukan main Dinda hampir saja dia melompat.
Frans bangkit dari kursinya, belum juga 1 jam dia melanjutkan pekerjaannya, malah menghampiri Dinda lagi yang sedang duduk di sopa.
Merebahkan tubuknya berbantalkan paha Dinda dia memejamkan kedua matanya.
"Pak Frans, tadi saya bilang apa, ayolah jangan sesuka hati".
"Sebentar saja begini sayang, aku janji tidak akan ngapa ngapain kamu, hanya ingin seperti ini sebentar saja ya", memejamkan mata lalu membawa tangan Dinda mendekapnya.
"Bisa tidak, manggilnya tidak usah sayang sayangan".
"Tidak karena aku sudah sayang kamu", aku ingin seperti ini sebelum kita pulang ya, pinta Frans masih dengan memejamkan mata dan merebahkan tubuhnya.
"Saya rasa pak Frans tadi pagi salah minum obat deh", ucap Dinda.
"Aku tidak sakit ya, Dinda Mahendra calon istriku ibu dari anak anakku, bisa kan tidak ada saya saya an kalau lagi ngomong sama aku", Frans mendongak menatap Dinda.
Dinda yang di tatap seperti itu menjadi salah tingkah.
Sayang lihat aku, kalau di ajak ngomong jangan suka membuang pandang.
__ADS_1
Hati dan jantung Dinda sedang kelojotan, mendengar kata sayang mendengar kata istri apalagi ibu dari anak anaknya Frans,
Berusaha untuk menatap Frans dan terlihat tenang tenang saja, tatapan mereka bertemu.
"Cantik banget sih sayang, pantas aku langsung jatuh cinta".
"Gombal mulu ihhh", dengan cepat Dinda membuang pandangnya lagi.
"Aku gak gombal lo sayang, ini tulus dan murni dari lubuk hatiku yang terdalam, tangan kamu satu lagi mana", Frans mengambil tangan Dinda yang satunya lagi untuk mengusap usap kepalanya, karena yang satu dari tadi sudah di dekapnya.
"Nyaman banget seperti ini, aku belum pernah merasakan senyaman ini, tolong usap usap kepalaku sayang", pintanya lagi.
"Banyak maunya amat ni orang tua", ucap Dinda namun menurut saja dia mengusap ngusap kepla Frans, tidak sampai 3 menit sudah terdengar dengkuran halus, dan tangan yang di dekap Frans mulai mengendur, menandakan yang di usap usap itu sudah terjun ke alam tidurnya.
Cakep kalau lagi tidur kaya tenang banget wajahnya, kalau udah bangun nyebelinnya minta ampun. batin Dinda.
Kettt pintu kamar terbuka, menampakan anak kecil yang baru terbangun dari tidurnya.
"Papa knapa kak?", tanya Naomi.
Ya Allah aku merasa seperti sudah mempunyai anak dan suami kalau begini caranya, pikir Dinda.
Menyandar ke sandaran sopa saking sudah bosan dari tadi, Dinda pun memejamkan matanya.
Tepat jam setengh lima Dinda terbangun dari tidur 20 menitnya itu.
"Maaf pegal ya?", tanya Frans, setelah dia tertidur kurang lebih setengah jam tadi dia terbangun dengan keadaan segar.
Naomi tadi mengisyaratkan agar pelan pelan karena Dinda sedang tidur.
Bapak dan anak itu bicarapun sangat pelan karena takut Dinda terbangun.
"Tidak ko, sedikit doang, ucapnya sambil tersebyum", senyuman Dinda sukses melelehkan hati Frans.
__ADS_1
saya mau Shalat dulu pak", Dinda bangit dari duduknya, berjalan menuju pintu keluar.
"Pulang bareng nanti ya sayang", ucap Frans sebelum Dinda membuka pintunya.
"Saya bareng teman saya pak, Dinda menoleh ke arah Frans".
"Gak ada penolakan sayang, kalau kamu mau keluar dari sini", ucap Frans dengan tegas.
"Hihhh nyebelin pemaksa, iya iya nanti saya kesini lagi setelah shalat, sekarang tolong buka kuci pintu ini", daripada tidak shalat pikir Dinda.
Trek...tanda pintu terbuka.. Frans menekan tombol yang ada di tangannya.
"Kakakkk ikut, rengek Naomi".
Ya Allah apalagi ini batin Dinda menjerit.
"Kakak mau Shalat doang sayang nanti kesini lagi", ucap Dinda.
"Yaudah bawa aj sayang, sekalian ajarin dia Shalat", Frans menimpali.
Bwahahaaa bisa aja bapak dan anak itu ternyata sekongkol, takut setelah Shalat Dinda tidak ke situ lagi, kalau Naomi ikut otomatis dia akan ke ruangan Frans lagi mengantarkan Naomi.
"Yaudah ayo, kita ke mushola dulu", ajak Dinda, dengan cepat Naomi berlari.
Jangan lari lari takut jatoh, kenapa sih apa apa lari terus,
Omel Dinda seperti ke anak sendiri, hanya di tanggapi cengiran sama Naomi.
Frans tersenyum menyaksikan itu.
Akhhh pengen gue nikahin besok juga tu anak, batin Frans.
Sabar sabar gue harus sabar, ucap Frans.
__ADS_1
❤❤❤
jangan lupa like nya ya😘 Terimakasih🙏🙏🙏