BUKAN WANITA LEMAH

BUKAN WANITA LEMAH
40. Part 40


__ADS_3

Sampai di depan kantor, Frans menyuruh satpan untuk memarkirkan mobilnya, dia tidak mau membuang buang waktu, takut Dinda keburu selesai membereskan ruangan nya.


Di kantor masih sepi karena jam 7 juga belum sedangkan masuk jam 8. Masuk ke lobby dengan jalan seperti berlari langsung menekan lift menuju ruangannya.


Membuka pintu sedikit pelan takut Dinda kaget seperti minggu minggu lalu. Menelisik semua sudut yang ada di situ dan ternyata zonk, ruangan sudah bersih dan rapih orang yang membersihkan sudah tidak ada.


Huwhhh menghembuskan napas dengan kasar, gue udah usahain bangun pagi berangkat pagi melewatkan sarapan sampai sini orangnya gak ada, gerutu Frans.


Duduk sebentar di sopa yang ada di ruangannya, ahhh turun lah siapa tau dia masih di depan, lagian kenapa pagi pagi banget sih Dinda beresnya ni ruangan.


Lah si kupret, dirinya yang minggu kemarin marah marah karena dia datang ruangan belum selesai di bersihkan, padahal salah sendiri datangnya terlalu pagi.


Buru buru Frans turun lagi ke bawah, sampe bawah juga masih belum menemukan Dinda, ampun deh ni anak kemana sih dimana mana gak ada, keluhnya.


Capek gue udah kaya orang gila mondar mandir gak jelas, nunggu di sini, ahhh masa iya gue harus nunggu di sini sih.


Meliat jam yang ada di pergelangan tangannya, jam 7 juga masih kurang lima menit, lama banget ni waktu astaga. Ucapnya pusing sendiri, lalu memutuskan untuk naik lagi ke ruangannya.


Berbeda dengan Dinda yang sedang menikmati sarapannya bersama sang sahabat.


Ya biasanya Dinda membersihkan ruangan Frans terlebih dahulu sebelum sarapan, agar sarapannya tenang.


Frans melupakan sarapannya, memilih malanjutkan pekerjaan, karena kesal mencari orang tidak kunjung ketemu juga.


Ingin rasanya Frans turun mencari Dinda sekarang juga.


Ahhh kan gue punya nomernya kenapa gue gak tlpon ya, menghubungi Dinda lebih dari 10x tak kunjung mendapatkan jawaban, Frans ingin sekali melempar ponselnya karena tidak berguna.


Orang kerja mana bawa ponsel sih Frans oon jangan kelewatan deh.


Ada yang mengetuk pintu ruangannya.


Ahhh Dinda pasti Dinda ayolah Dinda yang mengetuk pintu itu, dlam hati Frans. Frans menyahut menyuruh untuk masuk.


[jeng jeng jeng yang nongol Rio hahaha]


Menyorot Rio dengan mata nyalangnya, geram karena yang muncul bukan yang di harapkan.


"Kenapa sih bos?", Rio di buat bingung.

__ADS_1


"Gak guna kau", ucap Frans dengan sinis.


"Lahh saya hanya mengingatkan pak Frans, kalau kita ada meeting jam 9 ini, dan ini berkasnya", Rio berlalu sambil terkekeuh.


"Kurang ajar, adik tidak guna kau", Frans melempar bolpoin nya saking geram.


Tidak jadi untuk keluar dari ruangan itu Rio balik lagi ke meja Frans.


"Kenapa sih bang, pagi pagi sudah sengit saja muka nya, udah kaya anak remaja lagi pms", Ucapan Rio semakin memancing amarah Frans.


"Gue rasa Aprika lebih membutuhkan lu deh Iyo, niat gue sih ngirim lu kesana".


"Ampun bang ampunn, iya deh iya, kenapa sih bang pagi pagi udah sepet banget tu muka?, Mama juga bilang kalau elu berangkat pagian, ngapain?".


"Bukan urusan lu", sedikit jutek, masa dia mau mengakui kalau supaya ketemu Dinda kan malu, pikir Frans.


"Iya deh iya, udah sarapan belum?, sebelum meeting sarapan dulu ada waktu 35 menit lagi buat sarapan.


Frans menggelengkan kepala tanda dia belum sarapan.


Cek Rio berdecak, kau ini. Ucapnya sambil berlalu.


Tidak lebih dari 10 menit Rio sudah datang lagi membawakan sarapan untuk Frans.


"Iyo ingatkan saya kalau sudah jam 11 siang".


"Baik pak akan saya ingatkan". Ucap Rio sambil menunduk hormat.


Begitulah Frans dan Rio akan formal jika di depan orang apalagi ini di kantor.


Di ruang meeting kali ini sangat sengit karena ada salah satu devisi yang membelokkan keuangan kantor.


Singa berwajah manusia itu sampai melempar laporan yang di berikan devisi itu.


"Saya tidak mau tau bereskan laporan ini semua, saya tunggu besok di ruangan saya".


Bukan karena nominal yang di ambil oleh mereka tapi kejujuran yang Frans inginkan, di belokkan uang 100 juta itu tidak akan membuat perusahaannya bangkrut, tapi kalau di biarkan begitu saja, ohhh tentu tidak.


Pantas selama masih di pegang pak Wira perusahaan nya mentok di situ situ saja, karena membiarkan hal hal kecil seperti ini.

__ADS_1


Padahal kemarin sudah di umumkan bahwa gaji karyawan akan di naikan 40% oleh Frans, asalkan semuanya bekerja dengan jujur dan giat, tidak ada yang sesuka hati masuk kerja.


Semua orang yang ada di ruangan meeting berkeringat dingin melihat bos barunya yang seperti itu. Padahal suhu Ac 18° dan ada 3 Ac di sana, jumlah orang di dalamnya hanya 27 orang.


Badan orang yang memberikan laporan tadi sudah bergetar dan mukanya sudah seperti mayat hidup.


Duhh kan sudah mah lagi galau dari tadi pagi, di tempat meeting menerima laporan seperti itu semakin terlihat saja taringnya.


"Kita tutup meeting kali ini, minggu depan kita adakan meeting lagi, perbaiki semua laporan dengan benar dan ingat, saya tidak akan mengerjakan para penghianat untuk bekerja di kantor saya".


"Baik Pak", ucap mereka serempak, Frans mengangguk.


"Meeting saya tutup, silahkan kembali bekerja dengan benar", ucapan demi ucapan Frans dengan begitu tegas.


Mereka semua keluar dari tempat meeting menyisakan Frans yang masih betah di tempat itu.


Pantas saja selama ini perusahaan Papa tidak berkembang kembang, ternyata masih ada saja cecukung yang model begitu, ucap Fans sangat lirih.


Frans baru saja mengembangkan usahanya di luar negri selama 1 setengah taun di sana dia bisa membuat beberapa cabang.


Bangkit dari duduknya dengan langkah gontai melihat jam baru jam 10 lewat, rasanya waktu begitu lama untuk bisa menjemput sang anak.


Anaknya yang akan di jadikan umpan supaya dia bisa bertemu dengan Dinda.


Frans masuk ke ruangannya hanya untuk menaruh berkas yang dia bawa tadi.


Turun ke bawah niat menjemput Naomi, masuk ke lift dengan sedikit menyunggingkan senyuman, akhirnya yang dari pagi buta dia cari sekarang ada di depan matanya.


"Heii, Frans merapatkan tubuhnya ke arah Dinda".


"Siang pak", Dinda menyapa, walau sedang gedeg dengan manusia itu.


"Iya siang, ikut aku menjemut Naomi yuk". Frans tidak sabaran langsung menggandeng Dinda.


Untung saja ini jam kerja dan semuanya sedang ada di dalam ruangan masing masing, hanya ada satu dua orang yang berlulang lalang.


Resepsionis yang ada di lobby hanya bisa sesikit melirik dan mencuru curi pandang, kenapa tu OG di tarik bos, pikirnya.


Namun dia tidak mempunyai keberanian untuk bertanya.

__ADS_1


❤❤❤


Haii jangan lupa like ya. Terimakasih semuanya yang udah like yang udah dukung😘😘😘


__ADS_2