Calon Istri Milyader

Calon Istri Milyader
Menjenguk Kakek


__ADS_3

Keesokan harinya Alika, Belinda dan Hendrik menuju Roma.


Semalam Alika menghubungi Meriska untuk membatalkan penerbangannya karena ikut bersama kedua orang tuanya ke Roma.


Setelah beberapa jam, jet pribadi milik Hendrik tiba di bandara. Mereka langsung turun dari pesawat menuju mobil. Supir yang menjemput mereka memasukkan barang-barang di bagasi mobil kemudian melajukan kendaraannya menuju hotel.


Sepanjang perjalanan Alika hanya diam, menatap luar jendela menikmati pemandangan ibu kota Roma yang terkenal sebagai kota abadi. Di sinilah kisah cintanya dan Zein dimulai. Perjodohan yang sangat tidak diinginkan, namun seirng dengan berjalannya waktu merubah semuanya menjadi sebuah ikatan cinta. Dalam hati Alika berdoa semoga cintanya dan juga Abadi.


Setelah tiga puluh menit di dalam mobil, akhirnya mereka tiba di hotel. Alika langsung berpamitan dengan kedua orang tuanya untuk menjenguk Kakek Hutama namun Hendrik tidak memberinya ijin.


"Papa tidak mengijinkan kamu ke sana sebelum kamu bertunangan dengan Andrew. Ini demi kebaikanmu. Istirahatlah."


"Pa, Alika mohon!" Melas Alika dengan wajah mengiba.


"Tidak ada penolakan! Masuk ke kamar kamu." Tegas Hendrik.


Alika menyentakkan kakinya masuk ke dalam kamarnya.


Pakkk!


Alika membanting pintu hotel sebagainya bentuk protesnya. Sedangkan Belinda dan Hendrik hanya geleng-geleng kepala melihat putrinya yang keras kepala.


...........


Di rumah sakit.


Zein duduk di dalam ruang VVIP tempat Hutama di rawat. Memegang tangan Hutama kemudian menciumnya.


"Kakek, Zein mohon untuk bertahan demi aku Kek. Aku ingin Kakek sembuh dan menghadiri pernikahanku bersama Alika nantinya. Zein yakin Kakek kuat, Sadarlah. Aku janji, setelah Kakek sadar aku pasti akan menikahi Alika meskipun Om Hendrik menentangnya." Ujar Zein.


Feronica, Prayoga dan Zaskia yang duduk di sofa mendengarnya, sungguh mereka sangat kasihan melihat Zein. Setiap hari Zein selalu sempatkan untuk datang dan berbicara dengan Hutama, mencurahkan isi hatinya dan masalah yang dihadapinya bersama Alika. Meskipun ia sangat sibuk, ia akan mampir di rumah sakit sebelum kembali ke Mansion.


Tangan Hutama mulai bergerak, matanya mulai terbuka dengan perlahan.


Zein langsung panik. "Mah, Pah, Kakek Sadar." Panggil Zein.


Saat kedua orang tua dan adiknya mendekat, Zein segera keluar membuka pintu kemudian menyuruh Ramon memanggil dokter.


Ramon dan sahabat-sahabatnya memang menunggu di luar. Baru saja Ramon akan beranjak, Hendrik tiba-tiba keluar dari kamar pasien yang lain yang kebetulan berdampingan dengan kamar Hutama.

__ADS_1


"Kebetulan kau disini." Ujar Zein. "Cepat periksa Kakek, dia sudah sadar." Ujar Zein segera menarik tangan Richard masuk kedalam kamar perawatan Hutama.


Richard mulai memeriksa keadaan Hutama. Sedangkan yang lainnya hanya diam sambil menunggu bagaimana hasil pemeriksaan Richard.


"Bagaimana perasaan Opa?" Tanya Richard.


"Jangan berlebihan nak, Opa baik-baik saja. Opa tidak akan meninggal sebelum melihat anak nakal itu menikah." Canda Hutama kemudian menunjuk Zein dengan dagunya.


Zein yang merasa ditunjuk merasa salah tingkah, ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal kemudian mengalihkan pandangannya saat semua mata tertuju padanya.


"Bagaimana mau menikah? menjaga calon istri aja nggak becus. Bagaimana jika nantinya punya anak?" Sindir Prayoga melirik Zein kemudian mendekati brankar Hutama dan Richard.


"Rich, bagaimana kondisi Papa?"


"Semuanya sudah normal Om, Kakek bisa berobat jalan. Jika kondisinya tetap stabil sampai besok pagi, maka beliau bisa pulang besok siang." Jelas Hendrik.


"Makasih banyak Rich, kamu sudah membantu menyembuhkan Kakek." Ujar Prayoga sambil menepuk pundak Hendrik, sedangkan Hendrik tersenyum tipis melirik Zaskia yang mendelik saat tatapan mereka bertemu.


"Itu sudah kewajiban saya Om, dan kebetulan rumah sakit ini juga salah satu rumah sakit tempat aku bertugas, jadi bisa ikut menjaga Kakek." Ujar Hendrik merendahkan diri.


"Kamu memang sangat baik Rich." Puji Feronica.


"Maksud kamu apa Zein?" Tanya Feronica.


Zein melirik Richard sedang melotot. "Ah, Tidak cuma bercanda Mah." Ujar Zein.


Zein pernah melihat Richard dan Zaskia bertengkar di Cafe. Karena penasaran ia mendekati mereka dan pura-pura duduk di belakang kursi mereka, dan itu tidak disadari oleh Zaskia dan Richard. Saat itulah Zein sadar jika adiknya dan Richard memiliki hubungan. Tapi saat Zein keluar dari Cafe, Richard melihatnya dan itu membuatnya merasa bersalah.


Richard pamit keluar dari ruangan Hutama karena tidak mau Zein membocorkan rahasianya.


"Om, Tante, aku pamit sebentar, masih ada pasien yang harus aku periksa." Ujar Richard.


"Iya, sekali lagi makasih." Ujar Prayoga.


Richard segera keluar kemudian menuju kamar pasien yang lain. Setelah memeriksa ia keluar betapa terkejutnya Richard saat Zaskia menarik lengannya menuju taman belakang rumah sakit.


"Lepaskan Za..! jangan begini, ini rumah sakit." Bentak Richard menepis tangan Zaskia sambil melirik kekiri dan kekanan.


"Kakak harus jelaskan kenapa selalu menghindari aku?" Tanya Zaskia melihat sikap cuek Richard selama beberapa hari Zaskia menjenguk Hutama di rumah sakit.

__ADS_1


"Za, bukankah sudah aku katakan, kita tidak bisa bersama, kamu masih kecil. Selesaikan dulu kuliahmu baru memikirkan pacaran."


"Alasan kakak tidak masuk akal! Aku cinta Kakak sejak aku masih SMA. Saat itu juga Kakak bilang aku masih kecil, dan sekarang aku sudah kuliah Kakak masih bilang aku masih kecil. Kapan Kakak menganggapku dewasa? "


"Berhentilah mengejar cinta Kakak Za. Apa kamu tidak lelah?"


Richard tidak ingin Zaskia terus mendekatinya, sikap Zaskia yang seperti ini membuatnya merasa risih.


Zaskia diam sejenak kemudian menggelengkan kepalanya. Zaskia gadis yang pantang menyerah, dia bukan tipe cewek yang manja meski hidupnya bergelimang harta.


"Tidak, sebelum Kakak berikan aku alasan yang masuk akal, kenapa kakak selalu menolakku? apa aku tidak cantik? atau ada kekurangan ku yang Kakak tidak suka? atau apa Kakak sudah mencintai wanita lain?" Tanya Zaskia, matanya mulai berkaca-kaca menatap mata teduh Richard yang selalu menyejukkan hatinya. Selama SMA hingga kuliah Zaskia tidak pernah melirik pria lain selain Richard. Baginya Richard adalah pujaan hati dan cinta pertamanya setelah Prayoga. Tidak ada cerita cinta semasa SMA bagi Zaskia. Bukan karena tidak ada teman sekolahnya yang suka padanya, tapi karena dipikirannya hanya ada Richard teman kuliah kakaknya.


"Kakak akan bertunangan dengan dokter Inggrid." Jawab Richard asal agar Zaskia berhenti mengganggunya.


Deg!


Zaskia tersentak mundur beberapa langkah.


"Kakak tega!" Lirih Zaskia menahan tangis.


Tatapan mereka saling bertemu. Ada rasa bersalah yang Richard rasakan setelah mengucapkan kata itu. Entah kenapa hatinya juga sakit dan ikut teriris. Bukankah itu lebih baik dari pada terus memberikan harapan pada Zaskia? ya itu lebih baik pikirnya.


Zaskia memberanikan diri mendekat hingga wajah mereka berjarak beberapa sentimeter.


Cup!


Zaskia mengecup bibir Richard, air matanya terus mengalir membasahi pipinya, entah setan apa yang mendorongnya untuk melakukan itu.


"Aku sudah dewasa Kak! baiklah, aku tidak akan mengganggu Kakak lagi. Kedepannya kita tidak usah saling menyapa, anggap saja kita tidak pernah saling mengenal. Semoga Kakak bahagia."


Zaskia segera berlari meninggalkan Richard yang masih mematung. Gadis itu telah mencuri ciuman pertamanya. Jantungnya berdetak begitu kencang saat bibir Zaskia menyentuhnya. Ia menatap Zaskia yang semakin menjauh, ada rasa kehilangan di relung hatinya tapi yakin jika dirinya tidak mungkin jatuh cinta pada gadis kecil yang selalu dianggapnya sebagai adik.


Tanpa mereka tahu, seseorang di balik jendela kaca sedang memperhatikan mereka.


.


.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2