Calon Istri Milyader

Calon Istri Milyader
Luka


__ADS_3

"Alika cepat masuk!" Kesal Zein karena Alika tidak mendengarkan perintahnya.


"Tidak Zein, aku tidak akan membiarkanmu terluka lagi." Tolak Alika.


Alika berdiri kemudian memasang kuda-kudanya, ia mengepalkan kedua tangannya lalu memperlihatkan tinjunya sambil melirik lawannya satu persatu.


"Hahaha, menyerahlah Nona kecil, percuma melawan kami, pertama kami laki-laki dan jumlah kami enam orang, kau tidak akan sanggup melawan kami." Ujar bos mereka kembali.


"Sebaiknya kamu menyerah saja Nona, kami tidak mau melukaimu." Sela anak buahnya.


Alika menyeringai. "Kalian pengecut! melawan seorang pria cacat, sedangkan kalian enam orang. Ayo lawan aku kalau berani!" Rutuk Alika.


"Alika, jangan nekad. Mereka berbahaya." Bentak Zein khawatir. Ia berpikir Alika tidak akan mungkin melawan enam pria besar dengan tato dimana-mana.


"Kamu tenang aja, aku tidak akan apa-apa." Ujar Alika kemudian mengeluarkan tendangannya ke arah lawan satu persatu.


Bug! bug! bug!


Alika memukul mereka tanpa ampun. untung saja Alika memakai setelan kantor dengan celana panjang.


"Hehehe, ternyata kamu kuat juga gadis kecil." Ujar Bos mereka.


Alika hanya menyeringai, menaikkan sebelah alisnya. Ia kembali memasang kuda-kudanya.


"Awas Alika!" Teriak Zein karena bos mereka hendak menembak Alika.


Alika memukul tangan pria itu naik keatas hingga pistol yangnia pegang terlepas kemudian Alika dengan segera mengambil kemudian meletakkan di pelipisnya.


"Sekali saja kalian melangkah, aku pastikan nyawanya akan melayang." Ancam Alika.


Semuanya berhenti mendekat tidak ada lagi yang bisa melawan, nyawa bos mereka di tangan Alika.


Satu orang berani maju karena berpikir Alika hanya mengancam dan belum tentu tau menggunakan senjata. Alika segera menembak kakinya hingga tersungkur di tanah.


Dor!


"Aku bilang jangan ada yang mendekat!" Ancam Alika kembali.


Mereka menyerah karena mendapat anggukan dari bosnya untuk menuruti perkataan Alika.


"Alika bisa menggunakan pistol tepat sasaran. Bagus Alika! aku bangga padamu, tapi dari mana dia belajar? apa mungkin Om Hendrik yang mengajarinya? ah, kenapa kau begitu misterius?" Batin Zein.

__ADS_1


Zein berdiri mengambil pistolnya yang telah dia buang karena mendapat ancaman. Ia mengarahkan ke lawan kemudian mengambil senjata mereka satu persatu.


Tidak lama kemudian Ramon dan anak buahnya datang.


"Dari mana saja kalian!" Geram Zein melihat Ramon dan 4 orang anak buahnya menghampiri mereka.


"Maaf Tuan, ada yang menghalangi jalan kami. Sepertinya ini sudah direncanakan agar kami datang terlambat." Jawab Ramon.


"Ya sudah, bereskan mereka." Perintah Zein.


Saat Alika lengah, Bos penjahat itu langsung mengambil belati yang di selipkan di pinggangnya. Ia langsung menusuk ke perut Alika tapi Zein melihatnya dan menahan dengan tangannya. Bos penjahat langsung melarikan diri tapi di kejar oleh anak buah Zein. Setelah beberapa jauh berlari, akhirnya ia ditangkap kemudian dimasukkan kedalam mobil bersama teman-temannya yang lain.


Ramon segera membantu Zein. Tapi telapak tangan Zein sudah terluka dan mengeluarkan banyak darah.


Ramon membantu Zein masuk ke dalam mobil kemudian memerintahkan anak buahnya untuk pergi. "Bawa mereka ke markas, aku akan membawa Tuan Zein kerumah sakit." Perintah Ramon pada anak buahnya.


Ramon segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit, sementara Alika membuka jasnya sebagai alas lalu memegang tangan Zein sambil menahan pendarahannya.


"Tahan Zein, sebentar lagi kita sampai di rumah sakit." Ujar Alika, "Ramon bisa lebih cepat lagi nggak, kasihan Zein kesakitan." Tanya Alika melihat Ramon di kursi kemudi.


"Iya Nona, ini sudah diusahakan." Jawab Ramon.


Tidak lama kemudian mereka tiba di rumah sakit. Alika dan Ramon segera membawa Zein masuk ke dalam ruang rumah sakit kemudian berhenti di depan ruang IGD.


Didepan ruang IGD Alika dan Ramon duduk menunggu. Alika menggit ujung kukunya sambil sesekali melirik pintu IGD.


"Kenapa dokternya lama? apa Zein akan baik-baik aja Ramon." Tanya Alika.


"Jangan khawatir, Zein pria yang sangat kuat. Dia tidak akan kenapa-napa hanya karena luka sekecil itu." Jawab Ramon berusaha meredakan kekhawatiran Alika.


"Aku harap begitu." Lirih Alika.


Alika mengambil ponselnya lalu menghubungi Frans dan Meriska. Saat Alika mengatakan dirinya sekarang berada di rumah sakit. Frans dan Meriska langsung menuju ke sana. Rumah sakit tempat Zein ditangani, kebetulan rumah sakit tempat Frans ditugaskan.


Dalam beberapa menit, Frans dan Meriska langsung kesana.


Setelah menunggu selama satu jam, akhirnya dokter keluar dari ruang IGD. Alika dan Ramon langsung berdiri kemudian mendekati dokter.


"Bagaimana keadaannya dokter?" Tanya Alika.


"Tenang, tidak ada yang perlu dikhawatirkan, lukanya sudah kami jahit. Tapi telalak tangannya masih belum bisa digerakan. Sebentar lagi pasien juga bisa pulang." Jelas Dokter.

__ADS_1


"Baik dokter, apa sekarang kami bisa menjenguknya?" Tanya Alika.


"Iya, silahkan." Jawab Dokter.


"Trimakasih Dokter." Ujar Alika, "Ramon aku duluan ya?" Tanya Alika.


"Iya Nona." Jawab Ramon.


Alika segera masuk ke dalam melihat keadaan Zein. Zein masih belum sadar, pengaruh obat bius yang di berikan dokter belum juga hilang. Alika mendekat kemudian berdiri di sisi brankar.


Alika menatap Zein dengan mata mulai berkaca-kaca, ia sangat menyesali perbuatannya. Ia menggenggam tangan Zein yang tidak terluka. Baru kali ini ia merasa sedih melihat keadaan Zein yang terbaring lemah.


"Zein, bangun! maafkan aku. Kamu jadi begini karena aku tidak mendengar perintahmu. Aku memang bodoh dan keras kepala. Tapi aku hanya ingin membantumu, aku nggak bisa melihatmu dipukuli. Zein, asalkan kau bangun! kamu boleh memaki atau memarahiku. Hikss, hikss, kenapa kamu mengorbankan diri hanya untukku? jika terjadi apa-apa denganmu, apa yang harus aku katakan pada keluargamu, terutama Kakek. Zein bangun dong! aku janji akan menebus kesalahanku, aku akan menuruti apa maumu. Aku.. aku tidak mau kehilanganmu, Zein." Ujar Alika menghapus air matanya kemudian memeluk Zein dengan erat.


"Kau membuatku tidak bisa bernapas Alika!" Lirih Zein.


Alika langsung mengangkat kepalanya, pandangan mereka bertemu dengan jarak hanya beberapa senti.


"Kenapa kamu menangis? apa kau takut kehilangan aku?" Tanya Zein melihat sisa air mata Alika.


Alika segera bangkit dari tubuh Zein. Ia menghapus sisa air matanya lalu segera memencet intercom untuk memanggil dokter.


"Kau belum Jawab pertanyaanku." Ulang Zein.


"Iya, puas! lain kali tidak usah jadi sok jagoan mengorbankan nyawa untukku." Ujar Alika.


"Bukannya sebaliknya? kau yang sok jagoan membelaku. Akhirnya aku terluka juga kan? itu karena kau tidak mau mendengarkanku. Sini peluk lagi." Canda Zein memanggil Alika.


"Enak aja peluk-peluk."


"Tadi kamu sendiri yang memeluk aku. Kenapa sekarang tidak mau lagi, apa aku harus pingsan dulu agar kau mau memelukku?"


"Itu.. tadi.. aku khilaf!" Sergah Alika merasa malu karena tertangkap basah oleh Zein.


.


.


Bersambung...


Sahabat Author yang baik ❤️

__ADS_1


Jangan lupa, Like, Komen, Hadiah, Dukungan dan Votenya ya! 🙏🙏


__ADS_2