Calon Istri Milyader

Calon Istri Milyader
Menghubungi


__ADS_3

Karena tidak ada sahutan, Alika berbalik melihat Meris yang sudah tertidur dengan mulut sedikit terbuka. "Dasar kebbo! Mulutku sudah berbusa-busa bicara, dia malah enak-enakan tidur." Kesal Alika.


Alika memukul lengan Meriska dengan bantal, namun Meriska tidak goyang sedikitpun.


............


Pagi harinya Ramon mengendarai mobilnya bersama Zein membelah jalanan kota yang mulai ramai dengan padatnya kendaraan dan pejalan kaki.


Mereka akan pergi ke Graz Group setelah mereka sarapan. Zein tidak ingin berlama-lama di rumah Alika karena harus mengerjakan pekerjaannya di kantor. Mereka akan melakukan meeting beberapa menit lagi membuat Ramon harus melajukan mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata.


Saat mereka tiba di Kantor. Mereka di sambut dengan baik oleh karyawan. Karyawan sudah mulai terbiasa melihat Zein yang duduk di kursi roda. Sudah tidak ada lagi yang berani menghina Zein di dalam hati. Bahkan mereka bangga karena memiliki pimpinan yang meskipun lumpuh, tapi tetap mampu membuat perusahaan semakin maju dan berkembang.


Zein hanya sesekali datang ke perusahaan itu karena dia menetap di Milan bersama kedua orang tuanya. Jika Zein datang, itu artinya ada urusan penting yang harus ia kerjakan di sana dan tidak bisa di wakili oleh direktur yang menjabat.


Ramon memencet tombol lift yang ada di samping pintu.


Ting!


Pintu lift khusus petinggi perusahaan terbuka.


Mereka berdua langsung masuk ke dalam tanpa ada orang lain yang berani ikut masuk.


Ting!


Lift terbuka di lantai dua puluh lima dan mereka langsung menuju ruangan CEO.


Mereka langsung melakukan pekerjaan di sana sambil menunggu kedatangan klien yang akan meeting bersamanya.


"Ramon, bagaimana kabar karyawan kantor? apa mereka bekerja dengan baik?" Tanya Zein.


"Mereka sangat disiplin dan dapat diandalkan, kamu jangan khawatir." Jawab Ramon.


"Baguslah, kalau begitu berikan bonus pada karyawan yang bekerja dengan baik dan memajukan perusahaan ini. Jangan lupa untuk tetap memantau kesejahteraan mereka, aku tidak ingin mereka merasa kesulitan ekonomi karena bekerja di perusahaanku." Perintah Zein.


"Baik Tuan." Jawab Ramon sopan.


Saat mereka sedang sibuk dengan dokumen yang ada diatas meja, Monika tiba-tiba menelpon Zein.


Zein menghela napas berat lalu melirik Ramon sebelum menjawab telpon dari Monika. Ia sudah dapat menebak jika Monika pasti akan menghubunginya.


"[Halo.]" Jawab Zein datar.

__ADS_1


"[Halo Zein sayang..!]" Goda Monika dengan lembut di balik telepon selulernya.


"[Kamu masih ingat denganku? aku pikir kamu sudah lupa karena memiliki pria lain disana.]" Sindiri Zein.


"[Tentu tidak dong sayang..! mana mungkin aku berpaling darimu Zein. Aku sangat mencintaimu. Tidak ada laki-laki lain disini, aku milikmu. Hanya kamu yang ada di hatiku.]" Goda Monika kembali.


Zein mencibir, Monika sangat pandai menggodanya dengan kata-kata manis dari mulutnya. Jika dulu Zein belum tahu apa yang dilakukan Monika di belakangnya, mungkin sekarang ia sudah termakan rayuan gombal Monika. Zein kembali menenangkan diri karena sudah mulai kesal.


"[Monika, kamu dimana sekarang? kenapa tidak bisa di hubungi?]"


Zein pura-pura tidak mengetahui keberadaan Monika saat ini.


"[Aku masih di Paris sayang.]"


"[Di Paris? apa yang kau lakukan di sana?]"


"[Aku lagi pemotretan di salah satu daerah terpencil. Tidak ada signal di sini makanya aku sulit menghubungimu.]" Jawab Monika berbohong.


"[Pulanglah! apa kau tidak ingin melihat keadaanku?]"


"[Maaf sayang, aku tidak bisa meninggalkan pekerjaanku begitu saja.]"


"[Apa pekerjaanmu lebih penting dariku?]"


"[Pulang atau tidak sama sekali!]"


"..."


"[Aku ingin melihatmu sekarang, kita video call ya?]" Zein pura-pura ingin video call dengan Monika.


"[Jangan Zein, Signalnya putus-putus jika video call. Aku cuma ingin nanya sayang, kenapa uang bulananku belum kamu transfer? aku butuh banget nih...]"


"[Kamu menghubungiku hanya untuk menanyakan itu? kamu tidak menanyakan kabarku bagaimana sekarang ini? kau keterlaluan Monika!]" Geram Zein.


"[Sayang..! jangan marah dong..! aku mohon transfer uangnya sekarang dan aku akan usahakan pulang secepatnya.]"


"[Pulang sekarang atau tidak sama sekali!]"


"[Sayang.. jangan gitu dong?]" Melas Monika.


"[Itu kelamaan Monika, aku ingin kau pulang sekarang, jika tidak, aku tidak akan transfer uang lagi padamu.]"

__ADS_1


"[Zien mengertilah, aku tidak bisa meninggalkan pekerjaanku, aku sudah tanda tangan kontrak. Tunggu sampai aku menyelesaikan pekerjaan ini.]"


"[Kalau begitu aku tidak akan transfer sepeserpun untukmu. Kamu memiliki uang sendiri dari pekerjaanmu bukan? aku rasa uang yang kau dapat sudah cukup untuk membiayai hidupmu di sana. Tidak perlu kembali lagi, tinggal saja di sana, aku juga tidak membutuhkan dirimu lagi. Mari kita akhiri hubungan ini. Mulai hari ini kita putus! tidak ada lagi hubungan antara kau dan aku. Ini terakhir kali kau menghubungi aku. Kita jalani hidup kita masing-masing.]" Geram Zein.


Zein menutup sambungan teleponnya, sakit hatinya semakin bertambah. Dia sangat kecewa ternyata Monika tidak menghawatirkan dirinya. Monika juga tidak menanyakan kabarnya sedikitpun. Yang dia perdulikan hanya uang yang berhenti mengalir di rekeningnya.


"Brengsek! kenapa aku bisa mencintai wanita sepertimu Monika!" Kesal Zein.


Prang!


Zein membanting ponselnya ke lantai hingga retak dan berhamburan. Ramon langsung kaget dan memungut ponsel Zein.


"Tenangkan dirimu Zein! Jangan merusak barang seperti ini. Dia tidak bersalah sedikitpun. Tunggu sampai Monika menemuimu, baru lampiaskan amarahmu." Kesal Ramon mengambil bagian ponsel yang berhamburan satu persatu.


Zein mendelik tajam menatap Ramon. "Apa kau mau aku banting juga?" Geram Zein.


"Hahh, salah lagi deh!" Gerutu Ramon menghela napas.


Ramon mengambil ponselnya lalu menghubungi salah satu toko handphone. Ia menyuruh pegawai toko untuk membawakan ponsel keluaran terbaru yang berlogo apel sudah digigit sebagian. Setelah selesai, Ia kembali menyimpan ponselnya.


"Dia benar-benar tidak perduli denganku. Kenapa aku begitu bodoh pernah mencintainya. Bahkan mengharapkan ia kembali lalu kami akan menikah." Lirih Zein tersenyum miris.


"Sudahlah Zein! tidak perlu mengingat yang telah berlalu. Apalagi jika kenangan itu menyakitkan. Kenapa tidak mencoba buat kenangan baru yang lebih indah bersama Nona Alika?" Nasihat Ramon.


"Hehehe, bicaramu seperti orang yang pernah patah hati saja." Ejek Zein mencibir menyunggingkan senyum tipis di ujung bibirnya.


"Nggak usah menyindir! aku hanya membacanya di Internet. Karena aku tahu patah hati itu menyakitkan, makanya aku tidak mau jatuh cinta. Urusannya bikin ribet!" Jawab Ramon lalu duduk di kursi depan meja kerja Zein.


Zein melihat jam tangan patek philippe limited edition yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Kenapa mereka belum juga tiba?" Tanya Zein.


"Mereka sudah di ruang meeting lima menit yang lalu." Jawab Ramon.


"Baiklah, ayo pergi." Ajak Zein sambil mengarahkan kursi rodanya ke luar dari ruangan.


Meeting berjalan dengan lancar dan tanda tangan kontrak, pembangunan salah satu gedung perkantoran terbesar akan segera di lakukan di kota itu.


Di tempat Lain.


.

__ADS_1


.


Bersambung....


__ADS_2