Calon Istri Milyader

Calon Istri Milyader
Villa


__ADS_3

Drrtt.. drrtt.. drrtt..


Ponsel Ramon berdering, kali ini dari anak buahnya yang mencari informasi tentang Dirga. Ramon menekan headset bluetooth yang terpasang di telinganya kemudian mulai bicara.


"[Halo.]" Jawab Ramon.


"[Bos, Dirga membawa Nona Alika ke perbatasan kota.]" Lapor anak buah mereka di balik telepon.


"[Ikuti mereka, jangan biarkan mereka lolos, aku sedang menuju kesana.]" Perintah Ramon.


"[Baik Tuan.]"


Ramon menutup telponnya kemudian menginjak gas dengan kecepatan penuh. Jika tadinya dia masih santai karena Meriska tidak jelas arahnya kemana, sekarang dia sudah tahu kemana arah tujuannya dengan jelas.


"Dirga membawa Alika ke mana?" Tanya Zein.


"Perbatasan tepatnya dipantai Riviera vittoria, kita harus sampai di sana sebelum Dirga semakin jauh. Sepertinya dia ingin membawa Alika menjauh darimu." Lapor Ramon melirik Zein kemudian kembali fokus kedepan.


"Brengsek! berani-beraninya dia memisahkan aku dan Alika. Awas saja jika Alika sampai lecet. Aku pasti akan membunuhnya!" Geram Zein dengan tangan yang terkepal kuat, "Lebih cepat lagi nyetirnya, kenapa jalannya seperti siput?" Zein makin Kesal karena Ramon memperlambat laju kendaraannya.


"Kamu nggak liat di depan sana lampu merah?" Kesal Ramon kemudian menunjuk lampu merah sambil memelankan laju mobilnya.


"Terobos saja lampu merahnya."


"Disana juga ada polisi lalu lintas yang sedang berjaga bos!" Ramon makin Kesal.


Zein benar-benar menguji kesabarannya jika sedang menghawatirkan sesuatu. Kali ini dia sangat menghawatirkan Alika.


"Yang bener aja bos! Enak saja terobos, bagaimana bisa jika banyak mobil yang berhenti di depan sana. Ah, cinta memang bikin orang gila! lampu merah aja mau diterobos, apalagi yang lainnya. Beruntunglah yang masih jomblo seperti aku ini. Masih bisa hidup dengan tenang dan waras." Batin Ramon.


"Kau sedang mengumpatku?"


"Tidak bos, aku hanya fokus melihat lampu merahnya." Jawab Ramon kemudian menghentikan mobilnya saat lampu merah menyala.


Baru lima detik mobil berhenti, Zein kembali bersuara. "Kenapa lampu merahnya terlalu lama? apa lampunya rusak?" Tanya Zein kembali.


"Lama-lama aku juga ikut gila menghadapi Zein." Batin Ramon.


Ramon hanya diam, lebih baik menutup mulutnya daripada harus berdebat lagi dengan Zein.


"Ramon, kenapa kau tiba-tiba diam? kamu sariawan ya?" Tanya Zein.


"Zein maunya apa sih! bicara salah, diam juga salah!" Batin Ramon kesal.


Ramon kembali melajukan mobilnya setelah lampu hijau menyala dan mobil didepannya jalan. Ia terus mengendarai mobilnya hingga tiba di sebuah pantai. Disana terdapat beberapa Villa dan hotel untuk di sewa.


"Apa kau yakin ini tempatnya Ramon? ingat kita sedang mencari Alika, bukan ingin liburan dipantai."


"Alika disekap disalah satu Villa ini bos, nanti malam Dirga akan membawanya kepulau selatan. Jika kita terlambat maka..."


"Hentikan! kamu banyak bicara, cepat cari Alika."


Ramon memarkirkan mobilnya kemudian mengambil senjata yang ia sembunyikan di dalam mobil. Memberikan satu pada Zein dan satu lagi untuknya. Mereka menyembunyikan dibalik jasnya lalu bersiap untuk turun.


"Kau siap?"


"Siap bos!"


"Ayo turun!"


Zein turun dari mobil kemudian membukakan pintu mobil untuk Zein. Tidak lama kemudian, seseorang berpakaian serba hitam datang menghampiri mereka.


"Bos!" Sapanya sambil menundukkan kepala pada Zein dan Ramon.

__ADS_1


"Dimana mereka?" Tanya Zein.


"Villa yang di sana bos." Anak buahnya menunjuk sebuah Villa yang berada paling ujung.


"Ayo ke sana." Zein mulai melangkah menuju Villa.


"Bos, mereka membawa senjata."


"Apa kalian takut?" Kesal Zein setelah menghentikan langkahnya.


"Bukan takut bos, tapi ini tempat umum."


Anak buahnya mengingatkan dimana mereka sedang berada. Disebuah pantai dimana banyak wisatawan dari luar maupun luar negeri yang sedang menikmati suasana pantai karena waktu sudah mulai sore.


Zein diam sejenak, Maniknya bergerak ke kiri dan kenan memperhatikan sekitarnya. Benar apa kata anak buahnya terlalu ramai untuk membuat keributan.


Ia kembali memikirkan cara untuk menyelamatkan Alika tanpa menimbulkan keributan yang berlebihan.


"Berapa orang yang berjaga di sana?" Sela Ramon.


"Sekitar dua belas orang."


"Lumayan juga." Ramon mengangguk kemudian melirik Zein dengan seringai licik di wajahnya. Zein juga membalasnya dengan senyuman yang sama membuat anak buahnya mulai bergidik.


"Anak buah kita berapa orang?" Tanya Zein.


"Tujuh orang bos."


"Baiklah, kita masuk ke dalam tanpa menggunakan senjata, ingat! senjata hanya digunakan jika dalam keadaan mendesak."


"Maksud Tuan?" Tanya anak buahnya bingung.


"Habisi mereka satu persatu tanpa sepengetahuan yang lainnya. Kau mengerti?" Sela Ramon menjelaskan.


"Mengerti Tuan."


Satu persatu pengawal Dirga diringkus dengan memukul pundaknya dari belakang. Delapan orang sudah jatuh pingsan diluar Villa, menyisakan empat orang lagi didalam bersama Dirga.


Zein, Ramon dan tiga pengawalnya ikut masuk sedangkan yang lainnya berjaga diluar.


"Kita berpencar cari Alika di disetiap kamar." Perintah Zein.


Mereka mulai memeriksa satu persatu kamar yang ada didalam Villa.


Prakkk!


Zein menendang pintu kamar dengan kasar. Dirga yang sedang istirahat akibat ulah Alika sontak kaget dan melihat kearah pintu.


"Zein!" Sentak Dirga.


"Bajingan, dimana Alika!" Geram Zein.


Zein berjalan mendekat, menarik kerah baju Dirga hingga tubuhnya sedikit terangkat.


"Pengawal." Teriak Dirga.


"Ck! tidak akan ada yang datang kemari. Aku sudah menyingkirkan semua anak buahmu yang tidak berguna dan bodoh itu. Jadi, jangan harap ada yang akan menolongmu." Kesal Zein dengan wajah datar dan dinginnya.


"Alika tidak bersamaku." Elak Dirga.


Bug!


Zein tiba-tiba melayangkan bogeman mentah di wajah Dirga.

__ADS_1


Seketika sudut bibir Dirga mengeluarkan cairan darah. Pukulan Zein sangat kuat membuat seluruh wajahnya terasa perih dan memerah, bahkan berdengung hingga di telinga.


"Masih tidak ingin mengaku? Katakan dimana Alika!" Bentak Zein kembali.


Dirga menyeringai licik, menghapus darah di sudut bibirnya dengan jempolnya. "Dia dikamarku, jangan mengganggunya, dia masih kelelahan karena kami baru saja bercinta menikmati indahnya surga dunia. Dia sudah menjadi milikku seutuhnya." Ujar Dirga penuh kemenangan. Ia tetap akan berusaha mendapatkan Alika meskipun ia sadar jika dirinya sudah kalah dan gagal membawa Alika pergi.


"Brengsek! kau pikir aku akan percaya dengan omong kosongmu itu?" Amarah Zein semakin meningkat mendengar Dirga. Ia sangat percaya jika Alika tidak akan mungkin membiarkan Dirga menyentuhnya.


Bug!


Zein kembali melayangkan tinjunya, kali ini lebih parah karena pukulannya tepat di pipi yang sama. Zein mengeluarkan pistol di balik jasnya. Mengangkat kemudian mengarahkan tepat di pelipis Dirga.


"Tunjukkan dimana Alika berada, atau peluru ini akan menembus isi kepalamu." Ancam Zein.


Zein menarik tubuh Dirga berjalan menuju salah satu kamar paling sudut di lantai dua dengan dua orang pengawal yang berdiri di depan pintu.


Disaat yang sama Ramon muncul dari sisi kanan. "Zein disana." Tunjuk Ramon.


"Bereskan mereka."


Ramon dan anak buahnya mendekat lebih dulu, membereskan dengan cepat dua orang di depan kamar.


Bug!


Bug!


Bug!


Perkelahianpun terjadi hingga anak buah Dirga kalah dan diikat dengan posisi saling membelakangi.


"Dasar, kalian tidak berguna!" Umpat Dirga melihat anak buahnya Kalah.


Prakkk!


Ramon dan anak buahnya mendorong pintu kamar dengan sekali tendangan keras.


Alika yang sedang menangis di dalam menoleh dan terkejut melihat keadaan Dirga yang sangat memprihatinkan. Wajahnya lebam dengan darah di sudut bibir, kerah bajunya kusut, dan berjalan tanpa alas kaki.


Alika mengalihkan pandangannya melihat seseorang yang menyeret Dirga.


"Zein." Lirih Alika, seketika bibirnya tersenyum menyambut kedatangan Zein yang ia rindukan. Ia berlari kearah Zein kemudian langsung memeluknya dengan posesif.


"Aku yakin, kamu pasti akan datang menjemputku Zein." Ujar Alika dalam pelukan Zein.


"Kamu baik-baik saja sayang?" Tanya Zein mengeratkan pelukannya.


Alika mengangguk. "Aku tidak apa-apa sayang..! kamu lupa, aku Alika gadis tangguh dan mandiri, hanya saja Dirga curang karena melibatkan pengawal. coba kalau nggak, dia nggak bakalan bisa lawan aku." Ujar Alika penuh percaya diri.


"Aku tau itu, makanya aku tidak terlalu khawatir." Ujar Zein berbohong.


Rasa senang bercampur haru membuat bibir Alika keluh, air matanya seketika menetes membasahi kemeja dibagian dada Zein, tubuhnya yang mungil dan lebih pendek dari Zein membuat Zein sedikit menunduk lalu membelai rambutnya untuk menenangkan Alika.


Momen romantis yang mereka pertontonkan membuat Ramon dan anak buahnya menunduk sambil bergumam dalam hati.


Ramon kesal karena mereka berpelukan didepannya. "Hah?! apa dia bilang? tidak khawatir? apa Zein sekarang lupa ingatan, siapa yang nyuruh aku terobos lampu merah dan ngebut?" Batin Ramon.


Sebagai jomblo sejati tentu saja merasa iri. "Ya Tuhan... tunjukkanlah satu gadis yang akan menjadi jodohku, agar jomblo di dunia ini berkurang satu lagi." Batin Ramon sambil melihat ke langit-langit ruangan.


.


.


Bersambung....

__ADS_1


Sahabat Author yang baik ❤️


Jangan lupa, Like, Komen, Hadiah, Dukungan dan Votenya ya!


__ADS_2