Calon Istri Milyader

Calon Istri Milyader
Bebaskan Mama


__ADS_3

"Bajingan, apa jaminannya jika aku berhasil membuka isi chip itu? Aku tidak percaya kalian akan melepaskanku dan Mama setelah makukannya." Geram Alika.


"Hahaha... aku Alexis yang tidak pernah ingkar janji. Setelah kau meretas semuanya, maka kalian akan aku lepaskan."


Alika berpikir keras, Netranya tajam menatap mata Alexis penuh intimidasi. mencari kejujuran disana, tapi sangat sulit ia dapatkan. Baginya tidak mudah mempercayai omongan Alexis. Dalam dunia gelap berbagai cara akan di lakukan untuk mencapai tujuan termasuk cara licik dan membunuh. Siapa yang kuat dia yang hidup, dan yang lemah akan mati.


"Tidak, aku ingin kau membebaskan Mamaku terlebih dahulu. Aku bersedia melakukannya dan menjadi tawananmu, tapi lepaskan Mamaku."


Alika mulai bernegosiasi, ia tidak ingin mengambil resiko dengan mengorbankan Mamanya.


"Apa kau sedang bernegosiasi denganku Nona?" Tanya Alexis dengan menyunggingkan sejum tipis di ujung bibirnya.


Alexis menuang wine kedalam gelas kemudian meminumya dengan sekali teguk, tatapannya kembali pada Alika yang berdiri dihadapannya. Dalam hati ia begitu menginginkan Alika menjadi miliknya.


"Anggap saja begitu."


"Bagaimana jika aku menolak? Aku bisa menyiksamu agar mau melakukannya."


"Maka, aku juga menolak sampai aku mati."


Tatapan mata Alika sangat tajam, bahkan ia sangat berani melawan Alexis dengan sengit tanpa rasa takut.


Alexis mengepalkan kedua tangannya, ia tidak menyangka jika gadis yang berdiri dihadapannya sangat keras kepala, bahkan sangat berani bernegosiasi dengannya. Selama ini dia tidak pernah menerima bantahan apalagi penolakan. Setiap kata yang keluar dari mulutnya adalah perintah dan itu harus dilakukan.


Anak buahnya sendiri yang berdiri di belakang Alika juga kaget dengan permintaan Alika. Baru kali ini mereka melihat tawanan tidak memohon ampun pada Tuan-nya. Bahkan mereka dapat melihat dengan sangat jelas, bagaimana raut wajah Alika yang sedang menantang Alexis tanpa sedikitpun rasa takut.


"Hahaha... kau tidak takut padaku, hum?"


Alexis tertawa begitu keras. Anak buahnya saja mulai ketakutan dan merinding mendengarnya, sedangkan Alika hanya menyunggingkan senyum tipis di ujung bibirnya.


"Kenapa aku harus takut?" Tanya Alika balik.


Alexis melirik anak buahnya, perempuan yang berdiri dihadapannya begitu lancang pada seorang Alexis.


"Keluar kalian, biar aku yang membereskannya." Perinta Alexis pada anak buahnya.


"Baik Tuan." Anak buahnya menunduk kemudian melepaskan tangan Alika. Mereka segera keluar dari ruang kerja Alexis tapi sebelumnya melirik Alika. Mereka berpikir nyawa Alika kini dalam bahaya jika tidak mengukuti perintah bosnya.


Setelah anak buahnya keluar, Alexis beranjak dari kursinya. Duduk diatas meja kerjanya dengan satu tangan bertumpu diatas meja.

__ADS_1


"Kenapa kau begitu keras kepala? aku bisa saja membunuh kalian berdua jika tidak menuruti perintahku."


"Ck! kau tidak akan melakukannya sebelum aku membuka isi chip itu."


"Aku suka dengan keberanianmu, selain cantik kamu juga pintar. Baiklah, aku mengalah! aku akan melepaskan Mamamu."


"Aku ingin kalian mengantarnya pulang. Setelah itu aku akan melakukan tugasku."


"Aku tidak punya banyak waktu." Kesal Alexis mengusap wajahnya dengan kasar. Kenapa hatinya begitu luluh saat Alika meminta sesuatu padanya. Ia tidak mengerti dengan apa dirasakannya sekarang ini, dengan menatap wajah Alika saja sudah meruntuhkan segala keangguhan yang dia pertahankan selama ini. Menjadi ketua Mafia dalam dunia gelap tentu saja dirinya sangat kejam dan tidak mengenal kata ampun. Tapi saat berhadapan dengan Alika, Ia merasa dirinya begitu lemah.


"Terserah! ya atau tidak sama sekali." Ujar Alika dengan santai memberikan pilihan.


"Leon." Panggil Alexis pada anak buah kepercayaannya.


Leon masuk kedalam kemudian menunduk. "Ya, Tuan."


"Antar Mamanya pulang."


"Tapi Tuan.."


"Jangan membantahku! lakukan saja apa yang kuperintahkan." Bentak Alexis.


Alexis tersenyum pada Alika setelah Leon keluar. Ia berdiri kemudian berusaha mendekati Alika. "Aku sudah melakukan apa yang kau minta. Jangan coba-coba mengulur waktu lagi. Jika tidak, maka aku akan memaksamu melakukan hal lain." Ujar Alexis, tangannya menarik dagi Alika, mendekatkan wajahnya dengan Alika hingga menyisakan jarak beberapa centimeter. Wajahnya memerah karena gairah yang mulai tidak bisa ditahan.


Alika segera memalingkan wajahnya saat sadar Alexis akan menciumnya.


Netra Alexis terus tertuju pada bibir merah dan tipis milik Alika. Dia sangat menginginkan dan merasakan lembutnya bibir Alika. Tapi Alika tidak akan membiarkan itu terjadi.


Plakk!


Satu tamparan keras yang Alika layangkan ke wajah Alixis namun tak cukup membuat Alexis bergeming.


Pria itu hanya menyunggingkan senyum licik. Semakin Alika menolak, semakin dirinya penasaran dengan sosok gadis cantik yang mampu menarik perhatiannya.


"Kurang ajar, jangan coba-coba menyentuhku." Geram Alika kemudian mendorong dada Alexis agar menjauh darinya, tapi kekuatan tidak cukup kuat untuk membuat pria itu mundur.


Ciklik!


Satu pesan masuk ke dalam ponsel Alexis.

__ADS_1


"Kalau kau tidak mau aku sentuh, cepat lakukan. Ibuku sudah sampai di rumah."


"Bagaimana bisa aku percaya padamu?"


Alexis memperlihatkan video yang baru saja Leon kirimkan. Belinda telah masuk ke dalam rumah dengan kondisi tangannya masih terikat.


"Sudah percaya? sekarang, kau yang harus menepati janjimu."


Alika berpikir keras, jika dia menuruti permintaan Alexis maka perusahaan Papanya dan Zein juga akan bangkrut.


"Cepat!"


Alexis mendorong Alika duduk di depan laptop untuk segera membuka isi chip-nya. Dengan tangan gemetar, Alika mulai menekan keybord yang berisi deretan huruf dan angka. Apa yang ditekan Alika juga muncul dilayar LED. Mata Alika membola saat melihat perusahaan siapa saja yang akan dia hancurkan. Selain perusahaan orang tuanya dan Zein, ternyata perusahaannya juga termasuk didalamnya. Bagaimana mungkin dia menghancurkan perusahaannya sendiri. Ia menekan pasword yang salah untuk mengulur waktu berharap Papanya akan menemukannya.


"Kenapa terlalu lama? apa kau sengaja untuk mengerjaiku?" Kesal Alexis.


"Aku sedang mencoba mengingatnya. Aku lupa karena terlalu banyak kata sandi yang harus aku pecahkan." Jelas Alika tampa mengalihkan pandangannya dari layar di depannya


"Kau tidak sedang membohongiku kan?" Selidik Alexis.


"Tidak, berikan aku waktu dan jangan mendesakku karena konsentrasiku bisa hilang." Ujar Alika.


"Oke." Ujar Alexis.


Alexis mulai diam dan membiarkan Alika bekerja. Tatapannya terus memperhatikan layar besar. Ia sedang menunggu saat-saat dimana perusahaan musuhnya hancur di depan matanya.


Sudah satu jam Alika bekutak-katik di depan laptop tapi belum juga menyelesaikan semuanya. Sekarang sudah tujuh perusahaan yang telah di akuisisi, Alika yakin sekarang ini pemilik perusahaan itu sedang kebingungan mencari tahu kenapa data perusahaan mereka tiba-tiba terblock.


Alexis tersenyum puas melihat kehancuran mereka. Bahkan ia kembali mengambil wine diatas meja untuk merayakan keberhasilannya.


Waktu terus berlalu, Alika semakin mengulur waktu. Dalam hati ia terus berdoa agar seseorang datang untuk menghentikan kegilaannya karena telah menghancurkan perusahaan orang lain. Sekarang tinggal tiga perusahaan yang akan Alika hancurkan. Ia harus memilih yang mana lebih dulu, perusahaannya, perusahaan Zein, atau perusahaan Hendrik.


.


.


Bersambung....


Menurut readers yang mana duluan? Author juga bingung...

__ADS_1


__ADS_2