
"Jika aku tau, aku tidak mungkin memikirkannya." Jawab Zein dengan nada rendah.
Zein kembali berdiri, mondar-mandir di depan Ramon, hingga Ramon pusing sendiri melihatnya.
"Kau bisa tenang sedikit nggak? aku makin pusing melihatmu!" Kesal Ramon dengan kepala bergerak kekiri dan kekanan mengikuti arah langkah Zein.
"Arghh...!" Zein mengepalkan tangannya, memukul dinding ruangannya dengan keras hingga menimbulkan goresan luka di punggung jari-jarinya.
"Kau terluka Zein!" Ujar Ramon panik. Ia berdiri kemudian mendekati Zein.
"Jangan pikirkan aku, cepat temukan Alika dan bawa dia ke hadapanku."
"Bagaimana aku menemukannya jika belum ada informasi dari anak buahku? tunggu sebentar lagi, mereka pasti sedang berusaha mencari Alika." Jelas Ramon.
Ramon sudah mengirim pesan pada anak buahnya untuk mencari keberadaan Alika namun sudah satu jam telah berlalu, belum juga mendapatkan kabar membuat dirinya dan Zein tidak bisa melakukan pencarian.
"Apa mungkin ini orang suruhan Monika atau Sander?"
"Mungkin saja."
"Aku akan menyuruh anak buah kita menyelidiki mereka di dalam penjara."
"Lakukan segala kemungkinan Ramon!"
Ramon kembali mengambil ponselnya kemudian menghubungi anak buahnya, setelah itu kembali bersandar pada kursi di depan meja Zein.
"Kenapa tidak menghubungi Meriska? mungkin saja kita bisa dapat sesuatu darinya." Ide Ramon tiba-tiba muncul.
"Ah, Kamu benar, kali ini otakku mulai buntu. Tidak bisa memikirkan apa yang harus aku lakukan selain menunggu kabar dari anak buah kita. "
Zein memukul jidatnya hingga dua kali dengan telapak tangannya kemudian mengambil ponselnya diatas meja lalu menghubungi Meriska.
"[Halo, siapa ini?]" Tanya Meriska heran. Nomor yang sedang menghubunginya tidak memiliki nama di layar ponselnya, Ia juga tidak pernah memberikan nomor ponselnya pada Zein.
"[Zein!]" Singkat Zein.
Tidak mudah bagi Zein untuk mencari tahu nomor telepon seseorang, tentu saja itu tidak jauh dari campur tangan Ramon.
"[Zein?! ada apa?]" Tanya Meriska yang belum mengetahui tentang hilangnya Alika.
"[Apa Alika bersamamu?]" Tanya Zein.
"[Tidak, dia belum datang ke kantor, sebentar lagi ada meeting lagi. Aku sudah menghubunginya beberapa kali tapi dia tidak mengangkat telponnya. Ini, aku baru saja ingin telpon tante Belinda. Apa mungkin dia sakit ya?]" Tanya Meriska balik mulai khawatir.
"[Alika juga tidak dirumah. Apa semalam dia menghubungimu atau kirim pesan?]" Tanya Zein kembali.
Meriska mengerutkan keningnya, perasaannya mulai was-was takut sesuatu yang buruk sedang terjadi.
"[Tidak, Zein ini sebenarnya ada apa sih? kenapa menanyakan Alika seperti seorang detektif?]"
__ADS_1
"[Alika hilang dan aku sedang berusaha mencarinya. Apa ada sesuatu yang terjadi di kantor belakangan ini?]"
Meriska diam sejenak, memikirkan apa yang terjadi di kantor beberapa hari terakhir. "[Kantor tidak ada masalah, hanya saja..]"
"[Hanya apa?]"
"[Dirga sering datang mencari Alika, tapi Alika tidak mau bertemu dengannya dan selalu mengusirnya.]" Ujar Meriska kemudian menutup mulutnya, tanpa sadar ia telah mengingkari janjinya pada Alika. Alika pernah memintanya untuk tutup mulut pada Zein tentang Dirga yang selalu datang mengganggu dan berusaha menemuinya.
"[Kenapa Alika tidak pernah mengatakannya padaku?]" Kesal Zein.
"[Maaf Zein, sebenarnya Alika sengaja menyembunyikannya karena dia dapat menyelesaikan masalahnya sendiri dengan Dirga.]" Jelas Meriska.
"[Dasar gadis barbar! Dia selalu bertindak sendiri tanpa ingin melibatkan aku dalam masalahnya.]" Gumam Zein, tapi Meriska dapat mendengarnya, "[Kirimkan nomor ponsel bajingan itu, aku sendiri yang akan menghubunginya.]"
"[Baiklah]." Ujar Meriska
Zein kemudian memutuskan sambungan teleponnya. Tatapannya tidak terhenti pada layar ponsel yang ada di tangannya.
"Dia tidak di kantor?" Tanya Ramon.
Zein hanya mengangguk. Tidak lama kemudian sebuah pesan masuk, Zein segera membukanya lalu menghubungi nomor telepon Dirga namun lagi-lagi gagal karena tidak aktif.
"Brengsek!" Umpat Zein kemudian membanting ponselnya ke lantai hingga retak.
"Kau sudah gila ya?" Ramon ikut kesal.
"Aku akan lebih gila lagi jika aku tidak menemukan Alika."
"Cepat lakukan! jangan membuatku menunggu terlalu lama. Atau kau akan aku pecat!" Ancam Zein membuat Ramon tidak takut sama sekali.
Ramon kemudian menghubungi kembali anak buahnya. Meminta mereka berpencar mencari keberadaan Alika.
Waktu terus berputar, sudah tiga jam mereka menunggu namun belum juga ada kabar. Mereka bahkan melewati makan siang dan hanya duduk didalam ruang kerja Zein. Zein tidak peduli lagi dengan tumpukan kertas yang harus ia selesaikan dihadapannya. Sedangkan Ramon mengerjakan apa yang bisa ia selesaikan sambil menunggu.
Tidak lama kemudian ponsel Ramon berbunyi anak buahnya mengabarkan jika Sander didalam penjara sedang terluka karena sering dipukuli oleh sesama narapidana didalam sel. Sedangkan Monika lebih sering melamun dan mengurung diri. Tidak ada yang perduli bahkan mau berteman dengannya karena sikapnya yang sombong dan angkuh.
"Zein, sepertinya bukan Monika atau Sander." Ujar Zein memecah keheningan.
Drrtt.. drrtt.. drrtt..
Ponsel Zein yang retak masih dapat berdering, Ramon melihatnya kemudian memberinya pada Zein.
Zein hanya melirik siapa yang menghubunginya kemudian kembali menatap Ramon.
Ramon mengambil ponselnya kemudian menghubungi Meriska. Setelah tersambung, ia menyerahkan ponselnya pada Zein.
"Lain kali kalau mau menghancurkan barang pikir-pikir dulu." Ejek Ramon.
Zein tidak perduli ia hanya mendelik sambil menerima ponsel Ramon kemudian meletakkan si samping telinganya.
__ADS_1
"Halo, Zein." Sapa Merisak di balik telepon.
"Apa ada kabar tentang Alika?" Tanya Zein.
"Belum, aku sedang berusaha mencarinya. Kapan kalian terakhir bertemu?" Tanya Meriska.
"Semalam aku mengantarnya pulang ke rumah." Jawab Zein.
"Baiklah, aku akan memulainya disana."
Tut.. tut.. tut..
Meriska memutuskan panggilan teleponnya membuat Zein kesal karena belum selesai bicara.
"Apa mereka seperti ini? benar-benar sahabat yang kompak. Sama-sama sok tau cara menyelesaikan masalah." Kesal Zein.
"Sudahlah Zein, Mungkin dia juga memiliki cara lain untuk menemukan sahabatnya.
..........
Sementara di kantor Alika, Meriska keluar dari kantor dengan langkah cepat menuju basement tempat mobilnya terparkir. Sebelum menghubungi Zein, dia telah membatalkan semua meeting hari ini dan fokus untuk mencari Alika.
Meriska masuk ke dalam mobil kemudian melaju ke rumah Alika dengan kecepatan penuh.
Pip..!
Berkali-kali ia menekan klakson untuk menyingkirkan kendaraan di depannya agar cepat sampai. Berkali-kali pula ia mendapatkan umpatan dari pengendara yang lain. Tidak butuh waktu lama, akhirnya Meriska tiba di rumah Alika.
Ia segera turun dari mobil kemudian berjalan menuju pintu rumah. Sebelum mengetuk pintu ia memperhatikan sekitarnya. Menunduk dan menoleh ke kiri dan kekanan seolah mencari sesuatu. Sekarang ia mencari jejak yang ditinggalkan Alika.
Dulu saat mereka kuliah, Mereka telah sepakat jika terjadi sesuatu yang buruk, maka masing-masing harus meninggalkan kode atau tanda apa saja untuk meminta pertolongan.
Meriska semakin menunduk meraih sesuatu yang menarik perhatiannya. Satu anting yang kemarin Alika pakai. Ia sekarang yakin jika Alika dalam bahaya dan sedang menunggu pertolongannya di suatu tempat.
Setelah yakin itu anting Alika ia kembali melangkah menuju parkiran mobil. Lagi-lagi menemukan satu anting milik Alika. Kemungkinan Alika di bawa pergi menggunakan mobil. Dia sangat yakin akan itu.
Meriska kembali menghubungi Ramon dan memberi tahu apa yang ia dapatkan. Meriska kemudian masuk ke dalam mobilnya. Dari rumah Alika ada dua arah yang berbeda, ke pusat kota atau kearah pinggiran kota, dia bingung arah mana yang harus ia jalani.
Meriska menghentikan mobilnya, menatap ke kiri dan kekanan. "Aku harus kemana? Ya Tuhan.. tolong bantu aku kearah mana aku harus pergi." Monolog Meriska bingung.
Tok.. tok.. tok..!
.
.
Bersambung....
Sahabat Author yang baik ❤️
__ADS_1
Jangan lupa, Like, Komen, Hadiah, Dukungan dan Votenya ya!