Calon Istri Milyader

Calon Istri Milyader
Alika Menghilang


__ADS_3

Tidak lama kemudian Ramon datang, menarik sebuah kursi kemudian duduk berhadapan dengan Zein. Ia membuka tasnya lalu mengeluarkan berkas-berkas yang harus di tandatangani oleh Zein.


"Ramon, bisakah kita makan dulu baru bekerja?" Kesal Zein. "Apa isi otakmu hanya pekerjaan dan pekerjaan saja?" Tanya Zein menyindir.


"Ya.. begitulah kira-kira, aku bahkan lupa makan saat bekerja." Jawab Ramon dengan santainya.


Zein mendengkus kesal, matanya tetap tertuju pada setumpukan berkas yang Ramon masukkan kembali kedalam tasnya.


"Permisi Tuan." Sapa seorang pelayan yang membawakan mereka makanan kemudian menatanya diatas meja.


"Silahkan." Ujar Pelayan restoran sebelum pergi meninggalkan mereka. Mereka kemudian menikmatinya setelah itu melanjutkan pekerjaannya.


............


Beberapa hari terakhir setelah pertemuan Zein dan Hendrik di Hotel Milano Centro, Zein dan Alika bertemu secara diam-diam dibelakang Hendrik. Mereka sering bertemu di perusahaan Zein dan Cafe atau restoran.


Beberapa hari telah berlalu, malam berganti pagi, cahaya matahari mulai bersinar di sebuah rumah mewah milik keluarga Alika.


Tok.. tok.. tok!


Belinda yang sedang mengetuk kamar Alika tapi tidak mendapatkan sahutan sama sekali. Ia memutar knop pintu kamar yang tidak terkunci kemudian masuk kedalam.


"Dasar anak ceroboh! masih saja tidak mengunci pintu saat tidur." Kesal Belinda karena kebiasaan Alika yang jarang mengunci pintu kamarnya.


"Alika bangun sayang.. ayo kita sarapan." Panggil Belinda sambil melangkah membuka gorden dan jendela kamar.


Belinda berbalik menuju tempat tidur tapi tidak menemukan Alika disana. Ia kemudian berjalan menuju kamar mandi dan mengetuknya beberapa kali, tapi tidak juga mendengar suara Alika. Belinda membuka pintu kamar mandi kemudian memeriksanya. Ia mulai panik, Alika tidak ada di dimana-mana.


Dengan langkah cepat Belinda segera keluar menuju meja makan, disana sudah ada Hendrik yang sedang melihat ponselnya sambil menunggu Alika dan Belinda untuk sarapan.


"Sayang, Alika nggak ada di kamarnya." Ujar Belinda panik. Napasnya masih tersenggal-senggal.


"Kenapa kamu panik? sebentar aku telpon. Mungkin dia sudah berangkat ke kantor lebih dulu." Hendrik mencari nama 'Putriku sayang' dilayar ponselnya kemudian menekan tombol panggilan.


"Tidak mungkin dia pergi tanpa pamit pada Mama."


Sebenarnya Hendrik mulai khawatir, sudah beberapa kali ia menghubungi Alika tapi Alika tidak menjawabnya.


"Bagaimana Pah?" Tanya Belinda.


"Alika tidak menjawabnya. Makanlah dulu, aku akan menyuruh Aldo untuk mencarinya."


Hendrik kemudian menghubungi Aldo, Asisten sekaligus orang kepercayaannya. Ia memintanya untuk mencari Alika, dan menunggu kabar secepatnya.


Setelah menghubungi Aldo, Hendrik meletakkan ponselnya di atas meja.


Meskipun di depan Hendrik Belinda terlihat tenang, tapi ada sesuatu dihatinya yang membuatnya tidak nyaman. "Apa dari semalam Alika tidak pulang ya Pah?" Belinda mulai menerka-nerka, pikirannya saat ini tidak tenang, " Pah, apa dia bersama Zein?" Tanya Belinda.


"Entahlah." Jawab Hendrik ia tidak ingin ikut berspekulasi dengan yang belum pasti kebenarannya.


"Pah, kenapa masih tenang aja? ayo cari Alika, temui Zein di kantornya. Baru kali ini Mama merasa tidak tenang, jika Alika ada disana, segera hubungi Mama. Setidaknya Mama tau dimana anak itu berada."


"Tunggu sebentar sayang, tenanglah!"

__ADS_1


Hendrik kembali mengambil ponselnya kemudian menghubungi Aldo.


"Halo Tuan." Jawab Aldo di balik ponselnya.


"Bagaimana? kau mendapatkan sesuatu?" Tanya Hendrik.


"Maaf Tuan, ponsel Nona Alika tidak bisa kami lacak. Tapi, semalam Nona Alika bersama Tuan Zein di restoran The Lagettho." Lapor Aldo.


Hendrik langsung melirik Belinda kemudian kembali fokus pada Aldo.


"Baiklah, aku akan menemui Zein."


Hendrik memutuskan sambungan teleponnya kemudian segera beranjak dari kursi. Mengambil tas kerjanya kemudian berpamitan pada Belinda.


"Sayang, aku akan cari Alika di kantor Zein. Kamu tenang aja, Alika pasti ada di sana." Ujar Hendrik.


Hendrik mencium kening Belinda kemudian segera keluar dari rumah menuju mobilnya yang terparkir didepan.


............


Prakkkk


Suara bantingan pintu yang dibuka kasar oleh Hendrik, membuat Zein dan Ramon yang ada di dalam ruangan tersentak dan langsung menoleh ke arah pintu. Hendrik sedang berdiri dengan wajah yang memerah dengan rahang yang mengeras serta kedua tangan yang dikepal kuat.


Mereka berdua melongo dengan mulut sedikit terbuka.


"Brengsek! Dimana Alika?"


Bug!


"Dimana kau sembunyikan Alika." Geram Hendrik masih bertahan dengan menarik kemeja serta dasi Zein.


"Om." Ramon segera berdiri mencoba menghentikan Hendrik yang sedang emosi. Ia Menarik tangan Hendrik tapi kembali mundur setelah mendapatkan tatapan tajam dari Hendrik.


Zein hanya memberikan kode pada Ramon agar mundur dan membiarkan Hendrik melampiaskan kemarahannya.


"Katakan dimana Alika!" Bentak Hendrik


"Alika tidak bersamaku, Om." Jawab Zein sambil menahan tangan Hendrik yang berada di dadanya.


"Brengsek! kau masih mengelak? semalam kalian bersama di restoran, apa kau pikir aku tidak tahu apa yang kalian lakukan?"


"Semalam memang kami makan direstoran the Lagettho, tapi setelah itu aku mengantarnya pulang. Aku berani sumpah Om!"


Zein menaikkan jari telunjuk dan tengahnya membentuk huruf v untuk meyakinkan Hendrik, Sedangkan Hendrik mulai merenggangkan cengramannya.


"Tapi Alika tidak ada di rumah." Ujar Hendrik mulai khawatir.


"Aku beneran mengantarnya sampai di rumah Om. Aku juga melihatnya masuk kedalam rumah." Jelas Zein.


"Lalu kemana dia? tidak biasanya dia pergi dari rumah tanpa pamit dengan Mamanya."


Hendrik mulai melepaskan tangannya kemudian berdiri dengan wajah bingung.

__ADS_1


"Aku akan menelponnya."


Zein mengambil ponselnya di atas meja kerjanya kemudian menghubungi Alika. Sudah beberapa kali dia mencoba namun hanya suaranya operator yang menjawabnya.


"Percuma, jika ponselnya aktif, aku tidak akan kesini." Lirih Hendrik menekan pelipisnya beberapa kali. Ia bahkan mondar-mandir di depan Zein dan Ramon yang masih belum mengerti jika Alika sedang hilang.


"Om, apa mungkin sesuatu terjadi pada Alika setelah aku mengantarnya?"


"Mungkin saja, itu yang Om takutkan." Lirih Hendrik.


"Maksudnya ada yang menculik Alika setelah Zein mengantarnya pulang? Bisa jadi Alika keluar dari rumah setelah mobil kamu pergi Zein." Ramon ikut bersuara, mulai menerka-nerka sesuatu yang mungkin terjadi.


Mereka bertiga kemudian diam sambil berpikir.


"Om, biarkan aku yang mencari Alika." Melas Zein.


"Tidak, aku tidak percaya padamu." Tolak Hendrik.


"Aku mohon Om, berikan aku kesempatan untuk menebus kesalahanku. Bukankah lebih banyak yang mencari itu akan lebih baik?" Bujuk Zein.


Hendrik berpikir sejenak, apa yang Zein katakan memang ada benarnya. Meskipun dia memiliki banyak anak buah, tapi Zein juga memiliki anak buah yang tidak bisa ditemukan. "Terserah kamu." Ujar Hendrik kemudian segera keluar dari ruangan Zein.


Ramon melirik Zein yang masih diam sambil memutar otaknya yang sedang berpikir.


"Kamu kenapa?" Tanya Zein melihat tatapan Ramon seakan curiga padanya.


"Kamu benar-benar nggak tau dimana Alika?" Tanya Ramon memastikan jika Zein memang bukan pelakunya.


Jika aku tau, untuk apa aku menawarkan bantuan pada Om Hendrik?" Kesal Zein.


"Bisa saja kau menyembunyikannya dan pura-pura menawarkan bantuan agar Om Hendrik merestui hubungan kalian. Otak kamu kan cukup licik untuk melakukan semua itu." Ejek Ramon penuh curiga. Ia harus memastikan jika memang bukan Zein yang menyembunyikan Alika. Dia tidak ingin mengeluarkan tenaga untuk mencari Alika jika ternyata itu hanya permainan Zein.


"Brengsek kamu! Mana mungkin aku mencuri calon istriku sendiri? apa kau pikir aku tidak punya kerjaan lain?" Zein makin geram, ia mengambil pulpen dimejanya lalu melempar kearah Ramon. Bicara dengan Ramon membuat aliran darahnya makin mendidih.


Ramon segera menghindar kemudian mengambil pulpen mahal itu dilantai.


"Santai bos! aku hanya bertanya nggak usah ngegas." Ujar Ramon dengan santai kemudian mengambil ponselnya. Ia mengirim pesan pada seseorang kemudian kembali menyimpan ponselnya.


"Pertanyaanmu sangat konyol. Tidak masuk akal." Zein kembali duduk di kursi kerjanya. Menyandarkan punggungnya kemudian melipat kedua tangannya didada.


Hening beberapa menit, hanya suara sepatu Zein yang terdengar berjalan bolak-balik didepan Ramon.


"Kira-kira siapa yang menculik Alika? bukankah Alika jago beladiri?" Ramon tiba-tiba bersuara.


.


.


Bersambung....


Sahabat Author yang baik ❤️


Jangan lupa, Like, Komen, Hadiah, Dukungan dan Votenya ya!

__ADS_1


__ADS_2