
Manik Alika seketika membola, kakinya yang jenjang tetap mengikuti langkah Zein menaiki anak tangga satu persatu. Detak jantungnya semakin berdebar melebihi kecepatan biasanya.
Saat sampai di depan pintu kamar, Zein melepaskan tangan Alika. "Itu kamar kamu." Tunjuk Zein ke salah satu kamar disamping kamarnya.
Alika menghela napas lega, pikirannya sempat menerawang kemana-mana. Bahkan mulai membayangkan apa yang akan Zein lakukan padanya saat di kamar nanti. "Ayolah Alika, sadar! hilangkan pikiranmu yang tidak-tidak." Batinnya.
Zein memutar knop pintu kemudian berjalan masuk, tapi ketika hendak menutup pintu, Ia melihat Alika masih melamun di tempatnya. Zein menaikkan tangannya, menjentikkan jari pas di depan mata Alika.
Tlikk!
"Kenapa melamun? apa kau mau masuk di kamarku juga? aku tidak masalah jika harus berbagi ranjang denganmu." Ujar Zein kemudian menaikkan bahunya dengan santai.
Sumpah demi apapun, baru kali ini Zein menggoda wanita dengan cara tak lazim seperti ini. Jika biasanya dia menggoda Monika dengan kata-kata romantis yang bisa membawa jiwa pendengarnya melayang, tapi dengan Alika sangat berbeda, bersikap lebih jahil dan mendominan menjadi kebiasaan baru yang dapat menjadi hiburan tersendiri baginya. Apalagi saat ia berhasil membuat Alika menghentakkan kaki atau mengerucutkan bibirnya karena kesal, barulah dirinya akan merasa puas dan berhasil.
Alika maju selangkah mendekatkan wajahnya dengan wajah Zein hingga hampir tak berjarak. Sedikit lagi bibir mereka akan bersentuhan.
Zein sudah siap menerima serangan yang akan Alika lakukan padanya. Bayangan saat Alika menciumnya ketika tidur kembali terngiang dikepalanya bagai pita kaset yang terus berputar. Tatapannya mulai mendamba, berharap Alika segera menyelesaikan. Namun harapan tidak sesuai dengan ekspektasinya, Alika memalingkan wajahnya kemudian berbisik dengan nada penuh penekanan.
"Ogah!" Ejek Alika kemudian melangkahkan kakinya menjauh dari jangkauan Zein.
Zein mematung, Alika selalu memiliki cara tersendiri untuk membalas perbuatannya. Sekilas senyum terukir di wajah tampannya sambil menggelengkan kepalanya. Meski hatinya kecewa, ia kembali masuk ke dalam kamar untuk istirahat.
................
Sementara di kamar lain. Alika menutup pintu kamar, memegang dadanya yang berdebar begitu hebat sambil bersandar di balik pintu. Hampir saja ia benar-benar mencium Zein jika tidak bisa mengontrol dirinya.
"Astaga... apa yang baru saja aku lakukan? kenapa aku seberani itu padanya? ah, aku bisa gila jika mencium aroma... ah.."
Alika menggeleng, menutup matanya sambil tersenyum malu-malu dengan wajah yang memerah. Wangi Citrus yang keluar dari tubuh Zein di hidungnya membuatnya hampir lupa diri.
Alika kembali melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Membersihkan diri dan mengganti pakaiannya kemudian berbaring diatas tempat tidur. Maniknya menatap langit-langit kamar sambil berpikir. Terlalu banyak pertanyaan yang ada di kepalanya tentang Zein yang tiba-tiba ingin mengetahui isi hatinya untuk Dirga.
"Apa zein sudah mulai membuka hati untukku?" Monolog Alika, wajahnya kembali memerah dengan senyum lebar di bibirnya. Satu pertanyaan yang sempat keluar dari mulutnya sebelum menutup mata dan masuk ke alam mimpi.
.............
Beberapa hari mereka lalui diperkebunan. Sekarang mereka habis sarapan pagi. Keadaan Hutama juga semakin membaik.
__ADS_1
Hutama menyuruh mereka untuk jalan-jalan melihat kebun yang hanya berada di belakang rumah dengan luas sepuluh hektar. Hampir sebagian dari wilayah itu adalah milik Hutama. Karena itu ia memiliki pekerja yang cukup banyak untuk mengelola kebunnya.
Sebenarnya Hutama ingin sekali menemani mereka, mengingat kesehatannya yang belum begitu pulih, ia memilih membiarkan mereka pergi berdua.
Zein memegang tangan Alika di depan Hutama sambil tersenyum, begitupun dengan Alika membalas senyumannya.
Kali ini Hutama dapat melihat dengan jelas kedekatan mereka berdua, bahkan ia dapat merasakan jika diantara keduanya telah tumbuh benih cinta namun mereka masih sama-sama gengsi untuk mengakuinya.
"Anak muda jaman now! gengsinya terlalu tinggi." Lirih Hutama geleng-geleng kepala sebelum melangkahkan kaki masuk ke dalam kamarnya.
Zein dan Alika menuju perkebunan anggur. Matanya dimanjakan dengan buah anggur yang bergantungan dipohonnya.
Alika sangat bersemangat, memetik buah langsung dari pohonnya memiliki keseruan tersendiri. Setelah memetik beberapa tangkai, ia mencuci lalu memakannya sambil berjalan.
Zein menyunggingkan senyum tipis, Alika seperti anak kecil makan sambil berjalan.
"Kamu mau?" Tawar Alika.
"Nggak, aku masih kenyang." Tolak Zein.
"Aaaa...." Alika tidak perduli, ia tetap menyuapi Zein agar membuka mulutnya.
"Enakkan?" Tanya Alika.
Zein hanya mengangguk, terlalu menikmati rasa manis di mulutnya, mungkin karena disuapi oleh Alika rasa anggurnya jauh lebih enak.
"Aku suka perkebunan Kakek, terawat dan sangat indah. Banyak kepala keluarga yang menggantungkan hidupnya di sini. Lihatlah di sana." Alika menunjuk beberapa pekerja yang sedang bercanda sambil bekerja. "Mereka pasti sangat bahagia bisa mendapatkan rejeki dari perkebunan ini." Ujar Alika.
Zein mengikuti arah telunjuk Alika, setelah itu menoleh menatap Alika. "Apa kau suka tempat ini?"
Alika mengangguk sambil tersenyum, pandangannya terus fokus melihat sekitar perkebunan.
"Apa kamu betah di sini?" Tanya Zein.
"Tentu saja! Ini tempat indah Zein, aku harap suatu saat nanti aku bisa datang kesini lagi." Semangat Alika.
"Kamu akan kesini Alika, bahkan suatu saat perkebunan ini akan aku berikan padamu sebagai hadiah pernikahan kita." Batin Zein.
__ADS_1
"Tunggu deh Zein! sepertinya aku mengenal wanita yang pakai topi di ujung sana." Tunjuk Alika.
"Yang mana?"
"Itu.." Tunjuk Alika sekali lagi.
Sementara wanita yang dimaksud Alika jadi serba salah, ia segera pergi dari sana sebelum Alika dan Zein menghampirinya.
Zein jadi penasaran dengan sosok yang menghindar dengan berlari kecil dari perkebunan. Saking penasarannya Zein berusaha untuk mengejarnya di susul Alika dibelakangnya.
"Zein sepertinya dia menghilang, kemana ya?" Ujar Alika saat tidak melihat orang itu lagi.
"Iya, cepat juga larinya. Aku jadi curiga, jika dia tidak berniat jahat, untuk apa dia menghindari kita?" Tanya Zein.
"Sepertinya tidak asing ketika aku melihatnya dari belakang. Ciri-cirinya sangat mirip dengan..." Alika masih berpikir, memutar otaknya untuk mencari tau wanita itu siapa.
"Aku juga merasa mengenalnya, tapi siapa ya..?" Ujar Zein ikut berpikir. "Ah, sudahlah lebih baik kita kembali ke rumah. Apa kau masih ingin memetik anggur?" Tanya Zein.
"Sudah, aku rasa ini sudah cukup untuk kita."
"Untuk kita?" Zein membeo. Kaget dengan kata 'kita' yang keluar dari bibir manis Alika.
"Kenapa kamu kaget? apa ini tidak cukup? kalau kau masih mau, aku akan memetiknya lagi."
"Tidak usah, Ayo pergi!" Zein menarik tangan Alika membuat anggur yang dipegangnya hampir saja terjatuh.
"Pelan-pelan aja jalannya Zein! Rumah Kakek nggak akan kemana-mana kan?"
Zein terkekeh, dalam situasi seperti ini Alika masih bisa bercanda, sedangkan dirinya mulai khawatir, ia sangat tau jika nyawa Alika dalam bahaya. Diam-diam ia tahu wanita yang baru saja ia lihat, tapi dia harus tetap diam sebelum memastikan dugaannya benar.
"Kamu yang jalannya terlalu pelan seperti siput." Balas Zein.
.
.
Bersambung....
__ADS_1
Sahabat Author yang baik ❤️
Jangan lupa, Like, Komen, Hadiah, Dukungan dan Votenya ya! 🙏🙏