Calon Istri Milyader

Calon Istri Milyader
Mimpi


__ADS_3

"Tidak ada apa-apa. Maaf Nona, aku harus segera ke kantor ada meeting mendadak! aku titip Zein." Alasan Ramon kemudian segera keluar dari apartemen.


"Aneh! kenapa Ramon seperti anak kecil yang sedang main kejar-kejaran?" Monolog Alika sambil geleng-geleng kepala kemudian kembali ke dapur. Ia akan menyiapkan makan malam untuk Zein.


Drrtt.. drrtt.. drrtt..!


Suara ponsel Alika menghentikan aktivitasnya.


"Halo Mah..!" Jawab Alika setelah melihat wajah Belinda.


"[Halo sayang..! kamu sedang ngapain?]" Tanya Belinda.


"[Lagi masak Mah. Oiya, untuk sementara aku temenin Zein di apartemen ya Mah? soalnya tangannya terluka dan butuh bantuan Alika. Ini semua terjadi juga karena Alika.]" Ujar Alika.


"[Iya sayang nggak apa-apa. Papa barusan bicara dengan Zein, kami akan ke sana untuk menjenguknya. Jangan lupa masak yang banyak ya? kami akan makan malam disana.]" Ujar Belinda.


"[Iya Mah.]" Balas Alika.


"[Ya sudah, bye-bye sayang..!]" Uja Belinda kemudian menutup sambungan teleponnya.


Alika meletakkan ponselnya diatas meja makan kemudian kembali melanjutkan masaknya.


Selama hampir dua jam, makanan untuk makan malam sudah siap. Alika segera masuk ke dalam kamarnya untuk membersihkan diri dan pakaian, setelah itu ia berjalan menuju kamar Zeinbuntuk melihat keadaannya.


Tok..tok..tok..!


"Zein!" Panggil Alika di depan pintu.


Zein tidak menjawab, dan Alika kembali mengetuk pintu berulang kali namun Zein tetap tidak menjawab.


Dengan perlahan Alika memutar knop pintu. Ia masuk lalu berjalan mendekati Zein yang sedang tertidur pulas.


Alika menatapnya dengan lekat, wajah Zein sangat tampan meski sedang tertidur. Nampak jelas dimatanya roti sobek Zein karena tertidur tanpa baju dan selimut hanya sepinggang.


"Tidur saja dia sangat tampan." Batin Alika.


Alika duduk di sisi tempat tidur. Tangannya yang mungil penasaran dengan roti sobek Zein. Ia meyentuhnya dengan perlahan kemudian tersenyum merutuki dirinya sendiri yang tidak bisa menahan diri. Di pegangnya dari atas ke bawah membuat Zein menggeliat karena geli. Alika segera menarik tangannya takut Zein bangun.


Zein memperbaiki posisi tidurnya, tidurnya semakin nyenyak saat merasakan kepalanya sedang dibelai dan wajahnya sedang di elus dengan lembut.


"Monika." Ujar Zein mengigau, dalam mimpi Monika sedang mengelus wajahnya. Zein mengerucutkan bibirnya untuk mencium Monika membuat Alika kesal dan tanpa sengaja langsung memukul dada Zein.

__ADS_1


"Monika? apa sampai segitunya Zein mencintai Monika? hingga saat ini pun ia masih memimpikan Monika?" Gumam Alika. "Apa aku belum ada di hatinya Zein?" Monolog Alika.


Tanpa Alika sadari ternyata Zein sudah bangun saat Alika memukulnya. Dalam hati Zein tersenyum mendengar pertanyaan Alika. "Maafkan aku Alika, Aku masih butuh waktu untuk melupakan Monika. Tapi aku janji mulai sekarang aku akan coba membuka hati untukmu." Batin Zein.


Zein pura-pura mengigau kembali, tangannya yang tidak sakit menarik Alika berbaring dalam pelukannya. "Aku merindukanmu." Ujar Zein sambil memeluk Alika.


Alika hanya diam, jarak wajah keduanya hanya beberapa senti. Tatapannya tertuju pada wajah Zein, alis tebal, rahang keras, hidung mancung, mata tertutup, dan bibir yang menggoda. Detak jantungnya mulai berdetak tak beraturan, entah keberanian datang dari mana Alika mengecupnya.


Zein terkejut, ia membuka matanya melihat Alika sedang menciumnya sambil menejamkan mata. Zein membalasnya dan kembali menutup mata, ditahannya tengkuk Alika lalu memperdalam ciumannya. Walau hanya beberapa menit, tapi itu membuatnya cukup puas. Ia kembali menutup matanya agar Alika menganggapnya sedang mengigau. Zein tersenyum untuk sekilas, ciuman yang menjadi candu untuknya baru saja ia rasakan kembali. Kali ini mereka melakukannya dalam keadaan sadar, meskipun Alika menganggap Zein sedang bermimpi, tapi Zein yakin jika Alika sangat menikmatinya.


Alika melepaskan ciumannya saat tangan Zein pindah di pinggangnya. Wajahnya berubah memerah karena merasa malu dengan apa yang sudah dia lakukan.


"Astaga! apa yang baru saja aku lakukan? apa aku baru saja mencuri ciuman darinya? kenapa juga aku menikmatinya, rasanya sangat manis. Ah, aku bisa gila jika berdekatan dengannya, jantungku rasanya mau copot, untung dia masih tidur, coba kalau nggak, aku bisa ditelannya hidup-hidup." Gumam Alika kemudian menyentuh bibirnya.


Entah kenapa rasanya begitu berbeda saat berciuman dengan Dirga. Jika Dirga yang selalu lebih dulu menciumnya, kenapa sekaran kepalanya sekali agar sadar dari pikirannya.


Alika mulai menyingkirkan satu tangan Zein yang melingkar di perutnya yang ramping. Setelah berhasil, ia berusaha bangkit sebelum Zein membuka mata dan mempermalukan dirinya.


"Mau kemana? disini saja peluk aku, aku masih merindukanmu Monika." Ujar Zein sengaja menyebut nama Monika.


"Dasar muka tembok! apa hanya Monika saja yang ada dalam mimpimu?" Kesal Alika sambil memukul lengan Zein. Ia segera bangun dan berdiri dihadapan Zein, merapikan pakaiannya kembali kemudian membangunkan Zein.


Dalam hati Zein tertawa mendengar umpatan Alika. "Apa Alika sedang cemburu? apa mungkin ia sudah mulai mencintaiku? tunggu aku Alika, berikan aku sedikit waktu untuk melupakan Monika" Batin Zein.


Zein tidak membuka matanya, ia hanya tersenyum lalu memperbaiki tidurnya.


"Sebentar lagi sayang..! aku masih ngantuk." Ujar Zein.


"Sayang!? apa dia masih mimpi Monika? ah, panjang sekali mimpinya. Kau sangat menyebalkan Zein! aku yang kau cium dan peluk, malah kau mengira itu Monika." Kesal Alika kemudian mengerucutkan bibirnya.


Alika memutuskan keluar dari kamar Zein. Perasaannya makin tidak karuan jika terus berada di sana. Saat ingin membuka pintu, Zein pura-pura bangun dan duduk bersandar di sandaran tempat tidur.


"Mau kemana?" Tanya Zein sambil mengucek kedua matanya dengan satu tangan yang tidak sakit.


"Kau sudah bangun?" Tanya Alika gugup.


"Tentu saja."


"Apa tidurmu nyenyak? mm.. maksudku apa tanganmu tidak nyeri lagi?"


"Tidurku sangat nyenyak, sejak kapan kau disini?"

__ADS_1


"Sejak kamu mimpikan Monika." Jawab Alika dengan kesal.


"Kok kamu tau?"


"Ya tau lah! kau tidak berhenti menyebut namanya."


"Ah masa sih? perasaan aku mimpi ketemu peri cantik. Kamu tau nggak, peri itu menciumku."


Zein pura-pura berpikir, padahal sebenaranya Ia mengingat bagaimana dia mengerjai Alika saat menciumnya.


"Bukannya Monika yang kau cium dalam mimpi? kau selalu menyebut namanya."


Zein menggelengkan kepalanya. "Ah sudahlah! yang pastinya aku merasa mimpi itu nyata adanya. Aku yakin peri itu akan menjadi jodoh yang di kirim Tuhan untukku."


"Semoga saja, dengan begitu kita batal menikah." Kesal Alika lalu berbalik kembali ingin keluar.


"Mau kemana lagi?" Tanya Zein.


"Ya mau keluar-lah! aku bosan dengerin cerita di mimpimu." Geram Alika, "Nggak tau apa kalau itu nyata. Aku Zein, aku yang kau cium." Batinnya kemudian keluar dari kamar Zein menuju kamarnya.


Malam pun tiba, Belinda dan Hendrik datang ke apartemen Zein sesuai dengan janji Belinda kalau mereka akan makan malam di sana.


"Mama bawa apa?" Tany Alika melihat paper bag yang di pegang oleh Belinda.


"Cake kesukaan kamu sayang, dan sedikit buah untuk Zein."Jawab Belinda sambil menyerahkan paper bag ke tangan Alika.


"Tante nggak usah repot-repot bawa apapun untuk Zein. Cukup kalian datang menjenguk saja itu sudah cukup untukku." Sela Zein.


"Tidak repot kok nak!" Ujar Belinda.


"Ayo Mah, Pah, kita langsung ke meja makan, Alika sudah siapkan makanan kesukaan Mama dan Papa." Semangat Alika sambil menggandeng tangan Belinda.


Zein geleng-geleng kepala melihat Alika seperti anak kecil saat bersama ibunya.


.


.


Bersambung....


Sahabat Author yang baik ❤️

__ADS_1


Jangan lupa, Like, Komen, Hadiah, Dukungan dan Votenya ya! 🙏🙏


__ADS_2