
Hendrik dan Belinda menuju brankar, berdiri di samping Alika yang sedang duduk bersandarkan dua bantal yang telah di susunnya. Mereka yakin jika Alika akan bicara serius dengan Mereka. Apalagi Alika membahas masalah Zein.
"Ia, kenapa Papa putuskan pertunangan Alika dan Zein? kecelakaan yang menimpa Alika bukan kesalahannya Pah! Alika keluar dari rumah Kakek tanpa pamit padanya. Dia tidak tahu apa-apa." Jelas Alika.
"Tetap saja dia ingkar janji pada Papa. Dia tidak bisa menjagamu dengan baik sayang..! Buktinya, seseorang berani mencelakaimu. Papa tidak bisa terima alasan apapun itu."
"Pah, aku sudah berusaha menerima perjodohan ini, mulai membuka hati dengan Zein dengan mengabaikan perasaanku pada Dirga, dan disaat aku sudah mencintainya, kenapa Papa ingin memisahkan kami?"
"Dia tidak bisa menjagamu sayang. Sebelum orang-orang jahat itu membunuhmu, kita harus menghindarinya."
Alika mulai menangis, air mata yang sudah ia tahan, mengalir begitu saja bagaikan aliran sungai yang tiada ujungnya. "Hikss, hikss.. Mungkin itu sudah takdir Pah!"
"Tidak nak, sebelum takdir itu menimpa kita, kita masih bisa menghindarinya."
"Maksud Papa?"
"Mulai sekarang lupakan Zein!" Tegas Hendrik.
"Pah..!" Sentak Alika dengan air mata yang terus menetes.
"Papa akan menjodohkan kamu dengan anak rekan bisnis Papa. Dia juga tampan, baik, sopan, dan seorang dokter. Papa yakin kamu akan melupakan Zein."
"Alika tidak mau di jodohkan lagi Pah! cukup sekali saja rasanya sangat rumit, memulai suatu hubungan yang cukup membingungkan untuk saling mengenal satu sama lain. Alika tidak mau! Alika hanya mau menikah dengan Zein. Aku berutang nyawa padanya, Jika Zein tidak menemukanku di sungai saat itu, mungkin Alika sudah mati disana. Aku tau Papa menyalahkan Zein, tapi tidakkah Papa tau perjuangan Zein saat mencariku? turun dari ketinggian dan berenang di sungai yang cukup dalam, apa itu belum membuktikan kalau dia juga khawatir Pah? Dia juga Mengabaikan rasa sakit di kakinya yang baru saja sembuh dengan beberapa luka akibat tergores ranting, tapi kenapa Papa menghukumnya dengan memisahkan kami? Bukankah itu tidak adil untuknya?" Bujuk Alika.
Mendengar kata perjodohan, Alika sangat syok, ia tidak ingin di jodohkan dengan orang lain. Dia tidak mungkin mengingkari janjinya pada Zein.
"Kenapa kau sangat membela Zein? Papa hanya ingin kau mendapatkan pendamping hidup yang terbaik. Tapi bukan Zein. Hanya pria sejati yang dapat dipegang omongannya, sedangkan dia? kalian baru tunangan aja sudah membuatmu masuk rumah sakit. Bukankah dia termasuk pria yang tidak bertanggung jawab? Apa salah jika Papa menginginkan yang terbaik untuk putri kesayangan Papa?"
"Pah, untuk kali ini Alika mohon! restui hubungan kami. Jika Papa menolak, aku juga menolak di jodohkan lagi. Aku masih bisa mencari pendamping hidupku sendiri!" Melas Alika penuh iba sambil menggenggam tangan Hendrik.
"Sudahlah sayang..! lebih baik ikuti saja keputusan Papa. Ini juga demi kebahagiaan kamu." Sela Belinda.
"Tapi Mah, aku hanya mau Zein!" Tolak Alika.
"Keputusan Papa sudah tidak bisa dibantah! Besok kita akan kembali ke Milan dan memperkenalkan kamu dengan anak teman Papa." Sela Hendrik.
Alika hanya diam, percuma saja dia berdebat dengan kedua orang tuanya saat ini. Untuk sementara dia akan mengikuti kemauan Hendrik, sambil menunggu Zein menemuinya.
"Pah, apa sebaiknya kita pamitan pada keluarga Zein?! Mereka sangat baik 0ada keluarga kita, Mama merasa berat hati jika langsung pergi tanpa memberitahu mereka." Ujar Belinda.
Hendrik berpikir sejenak, apa yang dikatakan Belinda sangat benar. "Terserah kamu saja."
__ADS_1
Hendrik kemudian menuju sofa membaringkan tubuhnya untuk istirahat di susul Belinda.
Alika memperbaiki posisi tidurnya, Maniknya bergerak menatap langit-langit kamar rumah sakit yang berwarna putih. Otaknya mulai berpikir dengan keras. Bagaimana cara menghindari pertemuannya dengan anak dari sahabat Hendrik. Cobaan demi cobaan mulai berdatangan, entah sampai kapan akan berakhir membuat Alika bingung harus berbuat apa.
"Zein kamu dimana? aku butuh kamu disini. Aku merindukanmu! ah, kenapa tiba-tiba aku memikirkannya? apa Zein juga sedang memikirkan aku" Batin Alika.
Tanpa terasa air matanya berlinang, akankah cinta yang baru tumbuh dalam hatinya akan tetap bersemi, atau akan layu sebelum berkembang. Apakah Hendrik akan mengubah keputusannya suatu saat nanti? akan Zein mempertahankannya apapun yang terjadi? Alika ragu, mengingat Hendrik sangat keras kepala. Walaupun Alika sudah membujuknya namun gagal dan tidak merubah apapun.
Kilasan balik peristiwa saat Zein menyatakan cinta padanya terputar dipeluk mata Alika, melingkupi hati dengan perasaan membuncah akibat rasa rindu yang sudah tidak bisa tertahan lagi. Zein sudah memenuhi hati dan pikirannya. Dulu dia pernah mencintai Dirga tapi tidak sebesar mencintai Zein. Mungkin karena keberanian dan perjuangan Zein yang menurutnya berbeda dengan pria lain yang membuat hatinya cepat luluh.
..............
Ditempat lain,
Zein sedang duduk melamun di balkon kamarnya. Matanya tidak bisa terpejam dengan tenang merindukan kekasih hatinya. Tangannya memegang sebatang rokok dengan asap di ujungnya, ia kemudian menghisap bagian ujung yang yang tidak terbakar, menariknya dalam-dalam menikmati nikotin yang terkandung didalamnya sambil berpikir. Melepaskan asapnya dengan perlahan dari mulut dan hidung. Seandainya saja Alika melihat apa yang ia lakukan. Alika pasti melarangnya merokok saat itu juga.
Untung saja Alika jauh.
Hampir dua jam ia duduk, maniknya bergerak menatap langit yang gelap, hanya bintang yang menemaninya di menikmati kesunyian dimalam hari.
Zein sudah terbiasa dengan kehadiran Alika selama beberapa bulan. Suka dan duka, perdebatan, amarah dan kejahilan, mereka telah lalui bersama di dalam apartemen. Ia mengambil ponselnya, menggeser layar mencari foto Alika, hanya ada beberapa foto Alika di sana. Foto saat Alika menunggangi kuda dan di rumah sakit yang secara diam-diam Zein ambil. Dia sangat menyesal, kenapa tidak sering-sering mengambil gambar Alika. Mulutnya menyunggingkan senyum tipis merutuki dirinya yang sedang jatuh cinta seperti ABG yang baru mengenal pacaran.
"Apa kau juga sedang merindukan aku sayang...?" Monolog Zein.
Alika pernah minta di belikan ponsel pada Hendrik namun Hendrik melarangnya karena harus fokus pada kesehatannya.
Setelah rokok di tangannya habis, ia kembali masuk ke kamar. Mencoba kembali berbaring menuju alam mimpi.
................
Satu minggu kemudian.
Alika sedang ke kantor, menyelesaikan meeting bersama Meriska kemudian menuju ruangannya.
Drrtt.. drrtt.. drrtt..!
Bunyi ponsel Alika berdering. Alika mengambil dari atas meja kerjanya kemudian menggeser tombol hijaunya.
"[Halo.]"
"[Halo sayang..! Kamu dimana?]"
__ADS_1
"[Lagi di kantor, kenapa?]"
"[Kangen kamu.]"
"[Kalau kangen kenapa nggak video call?]"
"[Sengaja biar semakin rindu.]"
"[Ihh.. gombal!]"
Alika menuju jendela kaca, membuka tirainya kemudian menatap keluar gedung sambil memegang ponsel di samping telinga.
"[Nggak! siapa yang ngegombal? kamu juga kangen kan?]"
"[Hmmm... kangen nggak ya?]" Alika pura-pura sedang berpikir, "Kamu kapan kesini? katanya mau susul aku. Jangan bilang kalau kamu sudah lupa Zein!"
"[Nggak mungkin sayang, keluar makan yuk!["
"[Keluar makan? emangnya kamu dimana?]"
"[Di hatimu sayang..!]"
"[Ihh, aku serius. Mana mungkin kita keluar makan sedangkan kamu di kota lain.]"
"[Aku di sini sayang..! disamping kamu.]" Bisik Zein di telinga Alika, membuat alik tersentak dan tak sengaja menjatuhkan ponsel di tangannya.
Deg!
Alika berbalik hembusan napas Zein di telinganya dapat ia rasakan dengan jelas.
"Zein!"
Seketika mata Alika berbinar. "Kamu beneran disini?" Tanya Alika meyakinkan dirinya sendiri.
.
.
Bersambung.....
Sahabat Author yang baik ❤️
__ADS_1
Jangan lupa, Like, Komen, Hadiah, Dukungan dan Votenya ya! 🙏🙏