Calon Istri Milyader

Calon Istri Milyader
Perjalanan


__ADS_3

Saat Calista di dalam kamar. Mamanya datang menasihati. Tapi Calista yang keras kepala hanya mengiyakan dam menurut, tapi di dalam hatinya sudah tertanam rasa kebencian pada Alika dan Zein. Rencana untuk membalas dendam tetap akan ia lakukan tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya.


.....


Di tempat Lain


Setelah kepergian Alika, Dirga kembali ke hotel. Pekerjaannya sudah selesai di kota itu setelah makan malam bersama rekan kerjanya. Ia masuk ke dalam kamar hotel dan mendapatkan Vanesa sedang menangis. Tadinya Vanesa melarang Dirga pergi menemui Alika. Tapi, Dirga tetap pergi.


Sudah hampir sebulan Dirga tidak bertemu dengan Alika. Ia tidak menyangka akan bertemu Alika di waktu dan ditempat yang salah. Ketika ia dipertemukan malah di hotel dan bertepatan dengan dirinya sedang satu kamar dengan Vanesa. Perselingkuhannya pun terbongkar, Alika tidak ingin memaafkannya, tapi Dirga tetap ingin mempertahankan Alika.


Dirga sangat mencintai Alika, Alika satu-satunya wanita yang dapat merubahnya menjadi laki-laki yang lebih baik dan sukses. Hanya saja Alika sangat sulit untuk diajaknya menjadi partner ranjangnya. Hingga pada suatu saat Dirga pulang dari pesta bersama teman-temannya dalam keadaan mabuk. Ia melihat Vanesa sebagai Alika dan mengajaknya menghabiskan malam. Vanesa yang memang sudah lama menaruh hati pada Dirga dengan senang hati dan sukarela melayani keinginan Dirga.


Bagi Dirga, Vanesa hanya pelampiasan, mereka melakukannya atas dasar suka sama suka tanpa ikatan apapun.


Vanesa mulai menuntut agar Dirga meninggalkan Alika dan menjadikan dirinya sebagai kekasih Dirga. Tapi Dirga sering menolaknya. Hanya Alika yang pantas menjadi kekasihnya, istrinya, dan ibu dari anak-anak kelak. Ia akan melakukan apapun untuk mendapatkan Alika kembali.


"Kemasi barang-barang kamu, kita akan kembali ke Milan sekarang." Perintah Dirga.


"Kenapa harus sekarang? bukankah kita akan pulang besok?"


"Aku tahu, tapi aku tidak ingin berlama-lama di sini."


"Apa karena Alika? sudah aku katakan tinggalkan dia! dia hanya menyusahkan Dirga. Sadarlah! Aku yang selalu ada di sisi kamu saat kamu butuh. Sedangkan dia? dia pergi entah kemana dan tidak jelas." Ujar Vanesa sambil menangis.

__ADS_1


"Aku capek Vanesa, jangan mengajakku berdebat untuk sesuatu yang sudah kamu ketahui jawabannya. Sampai kapanpun aku tidak akan meninggalkan Alika. Jika salah satu diantara kalian harus aku lepas, orang itu adalah kamu. Ingat kita melakukan semua ini atas dasar suka. Aku tidak pernah memaksamu menuruti keinginanku. Bukankah aku juga mencukupi segala kebutuhan? Jadi, jangan terlalu banyak menuntut dan berharap padaku." Ujar Dirga sambil memasukkan pakaiannya ke dalam koper.


Vanesa merasa sakit hati. Ucapan Dirga memang benar, tapi itu juga dia lakukan karena dia sangat mencintai Dirga, bukan karena dia menginginkan uang dari Dirga.


"Kamu jahat Dirga!"


"Terserah, aku sudah selesai! kamu mau ikut aku atau tidak?" Dirga sudah memegang kopernya dan bersiap untuk keluar kamar hotel.


Vanesa terpaksa memasukkan barang-barangnya ke dalam koper. Setelah beberapa menit, ia selesai dan mengikuti langkah kaki Dirga keluar kamar hotel . Saat di lobi Dirga menyerahkan kunci kamar di resepsionis lalu masuk ke dalam mobil yang sudah di sediakan hotel menuju bandara.


Selama di perjalanan, Dirga hanya diam. Sedangkan Vanesa berusaha menghibur Dirga tapi Dirga tidak perduli. Begitupun di dalam pesawat. Dirga lebih memilih memasang headset di telinganya sambil mendengarkan lagu dari pada mendengarkan Vanesa.


Beberapa jam kemudian, mereka tiba di Milan. Vanesa makin geram dengan sikap cuek yang di perlihatkan Dirga padanya. Dirga dan Vanesa berpisah di bandara. Dirga mengatakan ada urusan yang harus ia langsung kerjakan hingga tidak mengantar Vanesa untuk pulang.


Setelah tiba di apartemennya ia langsung mengambil laptopnya. Sejak Alika mengatakan bahwa dirinya telah bertunangan dengan Zein. Dirga tidak bisa tidur. Ia terus memikirkan siapa Zein yang sebenarnya, ia mencoba mencari tahu tentang Zein di Internet tapi nihil. Pencariannya tidak membuahkan hasil. Tidak banyak informasi yang bisa ia dapat. Ia hanya tahu Zein adalah seorang pengusaha muda yang sukses berkuasa, dan sangat di segini di Roma. Pemilik Perusahaan Graz Group yang bergerak di bidang perdagangan, konstruksi, serta pemilik salah satu maskapai penerbangan yang ada di Italia, Indonesia serta berbagai negara lainnya. Untuk informasi lebih detailnya tentang diri pribadi tidak dapat Ia akses. Semuanya tertutup dengan rapi.


Dirga juga mencari tahu tentang berita pertunangan Zein dan Alika di media sosial, tapi tidak menemukan apapun.


"Aneh, Jika benar mereka telah bertunangan, kenapa berita besar tentang pertunangan Zein pengusaha sukses itu tidak di publikasikan? apa Alika hanya berbohong padaku? iya, mungkin saja karena ia tidak mau berhubungan lagi denganku. Tapi jangan sebut namaku Dirga jika aku tidak bisa mendapatkanmu kembali Alika." Monolog Dirga tersenyum. Ternyata yang dia khawatirkan semenjak di perjalanan tidak benar. Iya sangat yakin jika Alika dan Zein tidak bertunangan.


.....


Alika kembali ke Milan di temani Zein. Saat Alika ingin berangkat, ternyata Zein sudah menunggunya di mobil. Zein harus menemani Alika atas permintaan Hutama. Awalnya Zein menolak, tapi karena Hutama memaksanya dan ada pekerjaan yang harus di kerjaannya di Milan, Ia menyetujuinya. Hutama tidak mau jika terjadi sesuatu selama Alika dalam perjalanan.

__ADS_1


Keduanya kini duduk berdampingan di dalam pesawat milik Zein.


"Zein, apa kamu baik-baik aja? kakimu tidak sakit kan?" Tanya Alika khawatir. Ia tidak mau Zein merasa sakit dan kembali mengulangi terapi pengobatannya.


"Tidak apa-apa." Jawab Zein.


Ramon yang juga ikut hanya duduk diam sambil memejamkan mata. Pura-pura tidak melihat dan mendengar apa yang Zein dan Alika lakukan.


Sebelum berangkat, Alika sempat menghubungi Meriska untuk menyiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaannya dan Dirga. Alika ingin menyelesaikan semuanya saat berada di Milan.


Setelah beberapa jam perjalanan, mereka tiba di Milan. Zein dan Alika menuju apartemen milik Zein untuk istirahat. Rencananya Alika akan ke rumah orang tuanya besok.


Zein memiliki enam apartemen di Milan yang masing-masing di tempat yang berbeda, ia juga memiliki dua Villa di pinggir kota. Dua perusahaan di pusat kota yang bergerak di bidang konstruksi dan satu cabang perusahaan maskapai penerbangan.


Setelah tiba di Apartemen mereka langsung istirahat. Apartemen milik Zein hampir sama dengan yang ada di Roma, sama-sama mewah dan elegan. Hanya berbeda interior ruangan serta view yang memperlihatkan isi kota Milan.


Keesokan harinya Alika, Zein dan Ramon, ke pemakaman Alan. Disana sudah ada Hendrik dan Belinda, tidak lama kemudian Meriska juga datang membawa sebuket bunga mawar putih ditangannya. Dulu saat pacaran dengan Alan, Alan sering memberikan bunga mawar untuk Meriska.


Suasana pun jadi hening hanya suara tangis dan doa dalam hati yang mereka kirimkan untuk Alan. Setelah memanjakan doa, Alika membuka suara mengeluarkan kesedihannya.


.


.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2