Calon Istri Milyader

Calon Istri Milyader
Siapa Takut


__ADS_3

"Yang tadi sayang, dari pada kita turun dan ketemu Papa kamu di lobi, lebih baik kita keatas."


"Keatas mana?"


"Ke kamar sayang? aku harus mandi. Lain kali jangan melakukan yang seperti tadi, kau telah membangunkan sesuatu yang tertidur."


"Siapa suruh nggak mau berhenti bicara."


"Kamu juga nggak bilang jika Om Hendrik datang, kan aku bisa menyambutnya."


"Yakin bisa menyambutnya? kamu nggak takut dengan Papa?"


"Siapa takut?" Zein menaikkan kedua bahunya.


"Bukannya kamu menghindar dari Papa?"


"Bukan menghindar sayang..! tapi memberi Om Hendrik waktu untuk tenang. Kamu tenang aja, aku akan berusaha untuk mengagalkan perjodohanmu dengan orang lain karena kamu hanya milikku."


Zein menarik Alika masuk kedalam lift kemudian menekan tombol lantai paling atas dikamarnya. Di setiap hotel miliknya, Zein memiliki kamar pribadi yang tidak pernah ditempati oleh orang lain karena kadang dia butuh istirahat jika sedang memeriksa laporan bulanan hotel.


Ting!


Lift kembali terbuka dilantai paling atas. Zein menekan pasword kamarnya kemudian mereka masuk bersama. Alika tertegun melihat isi kamar mewah Zein. Mulai dari ruang tamu, ruang makan, ruang kerja yang cukup besar, dua kamar tidur, serta kolam renang pribadi, dilengkapi dengan area olahraga dan jendela anti peluru. Dengan arsitektur yang mewah dan elegan, serta kombinasi cat putih dan abu-abu yang mendominan menampakkan ruangan semakin luas dan nyaman untuk bersantai.


"Kenapa berdiri di situ? ayo masuk! kalau kamu mau berenang, berenang aja di sana. Aku mau mandi." Tunjuk Zein ke kolam renang kemudian melangkahkan kakinya masuk ke salah satu kamar.


"Nggak ah! nanti lama lagi, aku masih harus kembali ke kantor." Tolak Alika sambil melihat jam di tangannya.


Alika memilih duduk di sofa ruang tamu sambil menunggu Zein selesai mandi. Mengambil remote tv yang ada diatas meja lalu menekan tombol on. Mencari siaran drama korea favoritnya kemudian menyandarkan bahunya disofa.


Setengah jam menunggu, Zein belum juga keluar kamar. Ia memilih berbaring kemudian memejamkan matanya untuk istirahat.


Drrtt.. drrtt.. drrtt...


Bunyi ponsel Alika berdering.


Alika tersentak, suara ponselnya membuat tidurnya terganggu, ia mengambil ponsel di dalam sling bagnya kemudian membuka mata. Alisnya saling mengerut saat melihat nama Papa dilayar ponselnya. Alika menghela napas berat kemudian menggeser tombol hijau dilayar.


"[Halo Pah.]" Jawan Alika.


"[Kamu dimana sayang?]" Tanya Hendrik.


"[Lagi diluar Pah, Mau meeting bareng Meriska dan klien.]" Jawab Alika berbohong.


"[Habis meeting, kamu ketemu Papa di restoran hotel Milano Centro. Ada hal penting yang ingin Papa bicarakan. Sekalian kenalin kamu dengan anak temen Papa.]" Pinta Hendrik.


Mata Alika melotot, bagaimana tidak, hotel yang Hendrik maksud adalah hotel yang sama dimana ia berada saat ini.


"[Tapi, Alika belum tau jam berapa selesainya Pah?]" Tolak Alika.


"[Kalau begitu, undur meetingnya satu jam lagi. Papa menunggumu sekarang.]" Tegas Hendrik.


"[Tapi Pah...]"


Tut.. tut.. tut..

__ADS_1


"Ihh, Papa ngeselin banget sih! orang aku masih bicara, main tutup telpon aja!" Kesal Alika kemudian menghempaskan ponselnya di sofa.


"Siapa yang nelpon sayang?"


Zein tiba-tiba muncul dari belakang mencium kening Alika kemudian ikut duduk di sampingnya.


"Papa." Jawab Alika dengan lemas.


"Kenapa kamu cemberut seperti itu? semangat dong..! masa ketemu calon suami wajahnya ditekuk, jelek tau!" Canda Zein sambil menyandarkan kepalanya dibahu Alika. "Kamu seperti ABG aja suka nonton drakor." Ejek Zein saat melihat layar televisi di depannya.


"Biarin." Kesal Alika.


"Kenapa Om Hendrik meneleponmu?" Tanya Zein.


"Papa memintaku menemuinya di bawah, dan dia ingin kenalin aku dengan calon suamiku." Jawab Alika menekankan kata 'calon suamiku'.


"Aku dong..?" Zein masih saja bercanda sedangkan Alika dalam mode serius.


"Ihh.. Zein, aku lagi nggak bercanda."


"Aku juga bercanda sayang...! apa kamu takut?"


Alika mengangguk sambil menatap mata Zein.


"Jangan takut sayang..!" Zein mengelus puncak kepala Alika.


"Aku tidak takut dengan Papa, tapi aku sangat takut kehilanganmu, Zein!"


"Jangan takut, temui saja mereka dan bersikap-lah seperti biasanya, sebentar lagi kita akan memberikan mereka kejutan. Kamu duluan aja kesana, nanti aku menyusul." Bujuk Zein.


Alika memeluk Zein dengan erat. Entah kenapa dia takut jika Hendrik akan memisahkannya dengan Zein.


"Aku juga sayang..! Ayo berikan kecupan manismu. Semuanya akan baik-baik saja." Bujuk Zein.


Alika mengkat kepalanya, mengecup bibir Zein kemudian kembali memeluknya.


"Wajahmu pasti memerah ya kan? makanya kamu sembunyikan dengan memelukku." Ujar Zein membuat Alika semakin merona karena malu.


Zein membalas pelukan Alika memberi kehangatan dan rasa nyaman untuknya bersandar.


"Kau tau Zein, dulu kak Alan sering memelukku seperti ini jika aku sedang takut, menghawatirkan sesuatu yang belum pasti akan terjadi? Sekarang aku merasakannya lagi, takut Papa akan menjodohkan aku dengan pria lain dan memisahkan kita. Dan kamu sedang memelukku seperti Kak Alan rasanya sangat nyaman dan menenangkan. Jika suatu saat kita tidak berjodoh, apakah kamu masih mau memelukku seperti ini Zein?" Ujar Alika dengan air mata yang mulai berderai.


Zein memegang pundak Alika, memberi jarak agar dapat melihat mata Alika. "Hei.. kenapa kamu menangis? aku akan selalu ada untukmu, menggantikan Alan menjagamu. Aku sudah janji padanya dan diriku sendiri. Tenanglah! tidak akan ada yang memisahkan kita." Ujar Zein kemudian menghapus air mata Alika.


"Aku takut Zein!" Lirih Alika dengan tangan yang gemetar dan dingin. Tatapannya mulai kosong karena penyakitnya mulai kambuh.


"Sayang kamu kenapa...?"


Zein mulai panik, baru kali ini melihat Alika seperti orang yang ketakutan.


"Zein.. aku.."


"Kamu sakit?"


"Tidak, aku hanya cemas."

__ADS_1


"Cemas yang berlebihan juga penyakit sayang..! Tenanglah, semuanya akan baik-baik saja."


Zein mengusap puncak kepala Alika kemudian kembali memeluknya.


Setelah Alika tenang, Zein megajaknya menuju balkon. Pemandangan langsung ke taman dan kolam renang. Udara di sore hari menerpa rambutnya yang terurai dan melambai-lambai.


Alika memegang pinggiran balkon. Maniknya berbinar sambil bergerak menikmati pemandangan yang sangat memanjakan matanya.


"Kamu suka tempat ini?" Tanya Zein.


"Ia sayang..! Disini sangat indah, kamu sering ke tempat ini Zein?" Tanya Alika.


"Sudah kuduga kau menyukai hal sederhana Alika. Kau berbeda dengan gadis lain yang lebih senang pergi belanja barang-barang mewah dan branded di Mall. Sedangkan kamu, hanya membawamu melihat pemandangan aja sudah sangat bahagia. Entah bagaimana cara Om Hendrik mendidikmu hingga seperti ini. Aku salah karena mengira gadis kaya sepertimu pasti sangat manja dan suka menghambur-hamburkan uang. Aku kagum padamu." Batin Zein.


"Ia, setiap aku memeriksa laporan karyawan hotel, aku selalu kesini menenangkan pikiran sambil menikmati secangkir kopi."


"Trus kenapa sekarang nggak ada kopi?"


"Karena susah ada kamu sayang..! Kamu lebih manis dari kopi."


"Gombal!"


"Itu kenyataannya."


Zein menarik kursi kemudian duduk, terus memperhatikan Alika dari atas hingga ke bawah kemudian keatas kembali. "Sungguh ciptaan Tuhan yang sempurna." Batin Zein.


"Kamu pernah pacaran berapa kali?" Tanya Zein penasaran. Menurutnya Alika pasti dikelilingi cowok saat kuliah karena sangat cantik.


"Mmm... berapa ya..? nggak ingat." Alika pura-pura menaikkan jari-jarinya hingga nggak cukup jika hanya sepuluh jari saja.


"Aku serius."


"Lupa, lagian juga semuanya sudah nggak penting." Jawab Alika kemudian melihat jam di tangannya. "Sepertinya aku harus menemui Papa."


"Apa perlu aku antar?"


"Nggak usah, aku bisa sendiri sayang..!"


"Baiklah, ayo, aku akan mengantarmu ke lift." Ujar Zein kemudian mengikuti Alika.


Alika mengambil sling bagnya di sofa kemudian keluar bersama Zein menuju lift.


Setelah di depan lift, mereka berpisah, Zein mengecup kening Alika kemudian membiarkannya memasuki lift seorang diri.


.


.


Bersambung.....


Maaf, karena dua hari sempat nggak up, anakku yang umur 3 tahun lagi sakit flu dan demam sejak malam takbiran, sampai sekarang masih belum sembuh, mohon doanya, mudah-mudahan Allah mengangkat penyakitnya, Amin... 🙏🙏


Sahabat Author yang baik ❤️


Jangan lupa, Like, Komen, Hadiah, Dukungan dan Votenya ya! 🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2