Calon Istri Milyader

Calon Istri Milyader
Cafe


__ADS_3

Didalam Cafe.


Mereka mulai memilih makanan saat pelayan datang membawakan menu.


Setelah beberapa menit pesanan mereka datang. Mereka kemudian menikmati makanan masing-masing.


"Kamu kenapa larang aku labrak Monika? Kamu tau nggak sih! rasanya aku ingin sekali mencakar wajah munafiknya itu! Aku sangat benci dan marah padanya Alika! jika aku tau sebelumnya dia yang membunuh Alan, aku nggak akan pernah mau berurusan dengannya. Lagian kenapa orang itu masih berkeliaran bebas?" Tanya Meriska kesal.


"Aku tau bagaimana perasaanmu, Papa sudah mengurus semuanya. Semua butuh proses. Orang-orang Papa sedang mengejar pria yang menabrak Kak Alan. Kamu tenang aja! Biarkan dia menikmati sisa hari-harinya di luar. Aku hanya tidak ingin ada keributan di kantor. Apa kata karyawan yang lain jika kita ribut di sana. Kita tunggu sampai besok, pasti dia dan Sander sudah berada di penjara." Jelas Alika.


"Apa maksud kalian? Apa masih ada lagi yang kalian sembunyikan dariku? kalian bener-bener ingin aku jitak ya biar kalian sadar?" Kesal Frans.


"Yeee, marah lagi, ini juga aku baru mau cerita. Ini masalah kematian Kak Alan, dan wanita yang barusan kita temui di lift itu adalah dalangnya. Dia menyuruh orang untuk mencelakai Kak Alan." Jelas Alika.


"Hah!? yang bener? masa iya cewek secantik itu tega menghilangkan nyawa orang lain. Tapi kenapa dia mencelakai Alan?" Tanya Frans.


"Kak Alan memiliki bukti perselingkuhannya dan rekaman rencana jahatnya pada Zein. Itu sebabnya dia tidak ingin bukti itu sampai di tangan Zein, dan akhirnya membunuh Kak Alan." Ungkap Alika.


"Aku benar-benar nggak percaya! Kalian tau? tadi aku aku sempat terpesona dengan kecantikannya." Frans menggelengkan kepalanya.


"Jangan suka menilai wanita dari luarnya. Diluar bisa saja dia cantik tapi di dalam hatinya busuk." Nasihat Alika.


"Iya Bu Alika saya mengerti. Sekarang apa rencana kamu dengan Zein?" Tanya Frans dengan serius.


"Entahlah, sepertinya aku menyerah! kalian bayangin aja, sekarang Papa malah menyerahkan tanggung jawabnya pada Zein untuk menjagaku. Gila nggak tuh!?"


"Gila banget! dan kau mau aja gitu?" Tanya Meriska.


"Hmm, itu sudah keputusan Papa, dan lebih gilanya lagi. Dia akan mempercepat pernikahan kami. Dia akan membawaku ke perkebunan menemui Kakek Hutama setelah itu.. ya kalian tau sendiri lah." Jelas Alika pasrah lalu menaikkan kedua bahunya.


"Eh, tunggu deh, bukannya itu Zein?" Tanya Meriska sambil menunjuk ke arah Zein dan Monika.


.............


Setelah keluar dari perusahaan milik Alika, Monika menghubungi Zein namun Zein tidak menjawabnya. Ia mengetahui Zein berada di Milan karena Sander yang mengatakan padanya jika dia pernah melihat Zein saat di hotel sedang sarapan. Padahal dia di pukuli oleh Zein saat mabuk dan berduaan dengan Alika di kamar hotel.

__ADS_1


Karena Zein tidak menjawab, akhirnya ia mengirim pesan lewat aplikasi.


"Zein kamu dimana? sekarang aku sudah kembali dan berada di Milan. Kita temuan ya? kita perlu bicara, aku butuh kamu saat ini, aku mohon kita balikan ya? aku merindukanmu. I love you." Isi pesan singkat Monika.


Satu jam kemudian Zein baru membalas pesan Monika.


"Oke, di Cafe Xorita satu jam lagi. Aku masih sibuk sekarang." Balas Zein.


"Baiklah aku menunggumu di sana sayang..!" Balas Monika.


Satu jam kemudian, mereka bertemu di Cafe. Monika langsung berdiri dari duduknya karena melihat Zein dan Ramon masuk ke dalam Cafe. Ia sengaja menunggu Zein di salah satu meja dekat pintu masuk karena mengira Zein akan datang dengan kursi rodanya.


"Zein, kamu sudah bisa jalan sayang..?" Tanya Monika berbinar langsung berdiri dari kursinya menyambut Zein.


Raut wajahnya sangat senang saat melihat Zein datang dengan menggunakan tongkat, bukan kursi roda lagi. Monika langsung mencium pipi Zein dan memeluknya dengan erat seolah tak ingin melepas lagi.


"Monika lepaskan, disini banyak orang." Zein melepaskan pelukan Alika.


"Iya deh kalo nggak mau disini pelukannya, aku akan memberimu lebih dari ini sayang, aku sangat merindukanmu. Ayo! aku sudah memesan tempat VVIP untuk kita berdua." Semangat Monika sambil membantu Zein jalan menuju ruang VVIP.


Ramon tidak ikut masuk, ia memilih duduk di meja yang lain, sedangkan Nura memilih pergi mengurus pekerjaannya yang lain dari pada menunggu di Cafe.


Setelah beberapa menit Ramon duduk ia mengedarkan pandangannya melihat pengunjung Cafe, hari ini lumayan ramai hingga matanya berhenti di salah satu meja.


"Alika!" Gumam Ramon, Ia segera melihat Zein berharap Alika tidak melihatnya, tapi kenyataannya lebih parah, Monika sedang mencium Zein kemudian memeluknya dalam waktu yang lama.


"Gawat! kau dapat masalah besar Zein! Alika melihat semuanya!" Monolog Ramon.


...............


Di dalam Cafe yang sama.


"Alika, bukankah itu Zein dan Monika?" Tanya Meriska sambil menunjuk Zein dan Monika sedang berpelukan.


Alika menoleh kearah mereka, ia tertegun saat melihat Monika mencium pipi Zein lalu memeluknya dengan erat. Setelah itu, mereka berdua masuk ke dalam ruang VVIP. Alika mencari keberadaan Ramon bersama mereka tapi tidak melihatnya.

__ADS_1


"Mana Ramon? kenapa dia membiarkan Zein berdua dengan Monika? Apa ini permintaan Zein agar Ramon tidak mengganggu kencan mereka? ah, ia ini pasti perintahnya, awas kamu Zein!" Batin Alika.


"Hei, kamu kenapa? jangan bilang kamu sedang cemburu melihat mereka." Selidik Meriska.


"Kalau dari raut wajahnya sih sepertinya dia sedang cemburu." Ejek Frans.


"Siapa juga yang cemburu. Aku tidak perduli mereka mau ngapain. Kesal Alika dengan wajah yang memerah. "Dasar laki-laki tidak bisa di percaya." Batin Alika.


"Kalau tidak cemburu ya sudah! lanjutkan makannya. Nggak usah dipikirin lagi!" Ujar Meriska lalu menyuap makanannya tapi matanya masih tertuju ke wajah kesal Alika.


"Meris ada yang mulai jatuh cinta nih!" Ejek Frans.


"Siapa juga yang jatuh cinta dengan pria kaku dan nyebelin kayak Zein." Sergah Alika sambil mengaduk-aduk makanannya. Selera makannya dan rasa laparnya sudah hilang karena melihat Zein berdua dengan Monika.


"Oo..., jadi kamu jatuh cinta pada Zein? kemarin-kemarin nggak mau, sekarang sudah jatuh cinta, dari pada kamu mati penasaran apa yang mereka lakukan di dalam sana berdua. Mending samperin deh!" Ide Meriska.


"Biarin aja mereka mau lakuin apa, aku nggak peduli." Elak Alika tapi dalam hatinya tidak tenang. Entah apa yang ia rasakan saat ini. Dia sangat marah pada Zein karena hanya berdua dengan Monika di dalam ruangan VVIP. Dia sangat tau bagaimana pintarnya Monika dalam merayu, sebagai pria normal Alika sangat yakin jika Zein akan tergoda, apalagi mereka pernah saling mencintai.


"Ya sudah, kalau nggak cemburu, habiskan makananmu! hari ini aku yang traktir kalian." Ujar Frans.


"Ah, Kamu manis sekali Frans, kalau begitu aku boleh bungkus dong untuk makan malam aku nantinya, hehehe..." Ujar Meriska.


"Kebiasaan buruk! dari dulu nggak pernah berubah, kamu tuh sudah kerja, banyak uang, masa beli makanan aja susah. Emangnya Alika nggak ngasih kamu gaji?" Ejek Frans.


"Kalian sendiri tau kan aku tulang punggung keluarga? Sebagian gaji aku untuk keperluan mereka. Dan aku bersyukur memiliki bos yang sangat baik dan tidak pelit jadi aku juga masih bisa nabung sih." Ujar Meriska lalu memeluk Alika beberapa menit.


"Aku nggak ikut di peluk nih?" Canda Frans.


.


.


Bersambung...


Sahabat Author yang baik ❤️

__ADS_1


Jangan lupa, Like, Komen, Hadiah, Dukungan dan Votenya ya! 🙏🙏


__ADS_2