Calon Istri Milyader

Calon Istri Milyader
Perkebunan


__ADS_3

Zein mulai menginjak gas melanjutkan perjalanan yang sempat terhenti. Untuk menghilangkan keheningan, ia menekan tombol on radio untuk mendengarkan alunan musik dengan suara yang sedang.


Alika mulai mengantuk dan menguap beberapa kali, makanan yang baru saja masuk ke dalam perutnya membuatnya langsung menutup mata dan tertidur.


Zein meliriknya sekilas kemudian kembali fokus ke jalanan, melintasi hutan, dan pemukiman penduduk hingga sampai di perkebunan.


Zein menghentikan mobilnya tepat di halaman rumah. ART sudah berdiri di luar menunggu kedatangan mereka. Zein membuka seat beltnya kemudian menoleh menatap Alika. Berniat membangunkan Alika namun ia masih ingin menikmati pemandangan yang menyegarkan matanya. Diam-diam mengakui dalam hati Alika memang cantik apalagi dilihat dari dekat, bulu mata yang lentik serta hidung mancung, rambut panjang, dan bibir yang mungil. Sungguh Zein tidak ingin berkedip, seandainya waktu dapat ia hentikan, maka ia akan menghentikannya agar dapat terus melihat wajah Alika.


Alika menggeliat mencari posisi yang nyaman.


Zein mendekatkan tangannya, mengusap wajah Alika dengan lembut, tanpa ia sadari jemarinya semakin turun ke bibir. Mendekatkan wajahnya lebih dekat lagi, mungikis jarak diantara mereka, ia kemudian mencuri kecupan di bibir yang menjadi candunya. Ah, Zein rasanya sudah gila, berada di dekat Alika membuat jantungnya memacu lebih kencang, dan sialnya mampu membuat yang dibawah sana semakin sesak dibalik celana panjangnya.


Zein memundurkan wajahnya, mengusap wajahnya yang sudah memerah dengan kasar. Pikirannya semakin berkelana, ia harus segera membangunkan Alika sebelum dirinya semakin tersiksa.


"Alika bangun!" Panggil Zein sambil mengelus puncak kepalanya.


Alika membuka mata dengan perlahan. Mengucek beberapa kali sambil menguap untuk mengembalikan kesadarannya.


"Hmm, jangan terlalu buka mulut, bau tau.." Ujar Zein mengibaskan tangannya di udara kemudian pura-pura menutup hidungnya.


Jika saja Alika tau Zein baru saja menciumnya tanpa ijin, dia pasti sudah memaki Zein habis-habisan karena mengejeknya 'Bau'.


"Biarin?! Kenapa mobil berhenti, apa kita sudah sampai?"


Alika mengedarkan pandangannya keluar jendela, mencari tau keberadaannya saat ini. Rumah dengan taman yang sangat luas dan beberapa orang pelayan berdiri di depan pintu masuk.


"Ya."


"Hah?! sejak kapan?" Heran Alika tidak merasakan apapun saat mobil berhenti.


"Setengah jam yang lalu."


"Hah?! setengah jam yang lalu." Alika membeo, " Kenapa tidak membangunkan aku?" Kesal Alika.


"Aku sudah capek membangunkanmu. Kau tidur seperti orang pingsan saja."


Alika mengernyitkan keningnya, ragu-ragu percaya dengan ucapan Zein. "Masa sih?!"


Zein berbohong, jika dia membangunkan Alika sejak awal, mana mungkin dia memiliki kesempatan untuk menciumnya. Ciuman yang membuatnya perlahan melupakan kenangannya bersama Monika.


"Ayo turun!" Ajak Zein.


Zein membuka pintu mobil di sampingnya kemudian berjalan ke pintu Alika lalu membukanya. Saat Alika keluar, Zein mendekatkan wajahnya, Alika seketika mundur menjaga jarak.

__ADS_1


"Bersikaplah seolah hubungan kita sudah mulai mencair di hadapan Kakek, tetaplah selalu berada di sampingku agar Kakek senang." Bisik Zein.


"Iya aku juga tau."


Mereka berdua berjalan beriringan masuk ke dalam rumah. Alika yang tidak tahu apa-apa segera mencari keberadaan Hutama karena tidak di sambut langsung olehnya.


Mendapati ruang tamu kosong Alika berbalik menatap Zein. "Kakek mana?"


"Di kamar." Singkat Zein.


Mereka langsung masuk menuju kamar di temani seorang ART.


Saat mereka hendak masuk, seorang dokter juga keluar dari kamar.


"Dokter, apa Kakek baik-baik saja?" Tanya Zein.


"Jantungnya sudah mulai membaik, tapi tekanan darahnya naik, aku sudah memberinya obat dan sebentar lagi harus istirahat." Jelas Dokter.


"Boleh kami menemuinya dokter?"


"Silahkan, saya juga harus pamit karena harus kembali ke rumah sakit. Jika ada apa-apa jangan sungkan menghubungi saya." Ujar Dokter kemudian mengulurkan tangannya.


"Terimakasih dokter."


Zein membalas uluran tangan dokter kemudian membuka pintu kamar Hutama. Sedangkan dokter yang baru saja memeriksa keadaan Hutama keluar dari rumah di temani oleh Titin salah satu ART dirumah Hutama.


Alika duduk disisi tempat tidur sedangkan Zein memilih menarik kursi dan duduk di depan Hutama.


"Kakek kami sudah datang." Zein memegang tangan Hutama yang matanya sedang terpejam.


Mendengar suara Zein, cucu kesayangannya sekarang berada di dekatnya, ia membuka mata dengan perlahan. Bibirnya tersenyum saat melihat Zein dan Alika. "Kalian sudah datang?"


Alika dan Zein mengangguk.


"Bagaimana keadaan Kakek?" Tanya Alika khawatir.


"Kakek akan baik-baik saja, jangan khawatir. Kakek sangat senang melihat kalian datang. Sekarang pergilah istirahat, kalian pasti lelah. Nanti kalian kesini lagi." Lanjut Hutama.


"Kakek yakin tidak apa-apa jika kami tinggal sendiri?" Tanya Zein.


"Ya, Kakek juga ingin istirahat."


"Baiklah Kek, kami keluar. Istirahatlah."

__ADS_1


Zein mengulurkan tangannya mengajak Alika keluar. Kali ini mereka tidak sedang bersandiwara di depan Hutama tapi semuanya berjalan begitu saja.


Setelah Zein menutup pintu, Alika segera menariknya menuju ruang tamu.


"Hei, apa-apaan ini! apa yang kau lakukan Alika!" Sentak Zein dengan intonasi tinggi.


"Kau yang apa-apaan?" Balas Alika melepaskan tangan Zein.


Zein memegang pergelangan tangannya yang telah di pegang Alika.


"Maksudnya?"


Zein menuju sofa kemudian duduk. bersandar dengan bahunya kemudian menyampirkan kedua tangannya seolah ingin dipeluk.


Alika terdiam untuk sejenak, maniknya tidak berhenti mengagumi pria tampan yang sedang duduk dengan santai di depan matanya. Mulutnya tiba-tiba kaku, terlalu indah untuk dia maki saat ini. "Sadarlah Alika, kau sedang marah padanya, jangan sampai pesonanya membuatmu lemah." Batin Alika.


"Kenapa bengong? sini." Zein menepuk pahanya meminta Alika untuk duduk dipangkuannya.


Pipi Alika seketika merona semerah buah cerry. Ia bahkan hampir lupa dengan tujuannya menarik tangan Zein. Mengalihkan pandangannya ke sofa lain kemudian memilih duduk di sana.


"Jadi selama ini Kakek sakit? dan kau tidak mengatakan apapun padaku? kau anggap aku ini apa Zein! Kau...." Tanya Alika penuh penekanan di setiap katanya.


"Ssttt.. jangan berisik!" Zein bangkit kemudian menutup mulut Alika dengan telapak tangannya. "Kau mau Kakek mendengar suara cemprengmu itu? aku sengaja menyembunyikannya karena aku tidak ingin membuatmu khawatir." Jelas Zein kemudian melepaskan tangannya.


"Tetap saja aku khawatir! Setidaknya, jika aku tau, aku bisa usahakan mengurus semuanya lebih cepat, dan kita bisa lebih awal menemui Kakek! Kau tau, aku hampir syok melihat keadaannya di dalam." Kesal Alika


"Oke! aku mengaku salah, maaf."


Untuk pertama kalinya Zein mengucapkan kata maaf setelah beberapa tahun kata itu menjadi sebuah kata yang keramat dan sangat sulit keluar dari bibirnya. Tapi di depan Alika, ia begitu mudahnya mengeluarkan kata maaf tanpa beban apapun.


"Baguslah jika kau mengakuinya, lain kali aku tidak ingin kejadian seperti ini Zein! Jika terjadi sesuatu maka aku akan menyalahkanmu. Jangan seperti Papa yang suka menyembunyikan sesuatu dari Mama. Aku tidak suka." Cecar Alika.


"Iya, aku janji, ayo kita ke kamar!"


Hah?!"


Zein langsung menarik tangan Alika menaiki anak tangga.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


Sahabat Author yang baik ❤️


Jangan lupa, Like, Komen, Hadiah, Dukungan dan Votenya ya! 🙏🙏


__ADS_2