Calon Istri Milyader

Calon Istri Milyader
Memecat Karyawan


__ADS_3

Ketiga karyawan itu mengambil kertas yang berhamburan di depan kaki mereka lalu membacanya. Mereka semakin gemetar saat melihat deretan angka yang tertera di atas kertas itu. Setiap bulan perusahaan mengeluarkan uang sebesar dua milyar untuk Yayasan, tapi jumlah yang di terima dari seluruh Yayasan hanya saru milyar atau seperdua dari anggaran.


Tubuh mereka langsung lemas, tidak menyangka jika perbuatan mereka selama tiga bulan terkhir akan ketahuan dengan mudah oleh Zein. Padahal mereka sudah yakin jika mereka mengerjakannya dengan sangat rapi. Mereka saling melirik kemudian berlutut memohon maaf dengan kedua telapak tangan tertutup di depan dada.


"Tuan, tolong maafkan kami, kami khilaf." Mereka memelas.


"Apa gaji yang aku berikan belum cukup untuk kalian makan? Diluar sana begitu banyak yang berharap bekerja di perusahaan ini, tapi kenapa kalian berkhianat? Apa kalian sadar hak siapa yang kalian makan? kalian seharusnya membantu mereka, bukannya merampas hak mereka." Geram Zein.


"Kami mohon, maafkan kami Tuan."


"Pergi dari hadapanku, mulai sekarang kalian di pecat dengan tidak hormat di perusahaan ini," Tegas Zein lalu menoleh ke arah Ramon yang berdiri di samping meja menunggu perintah. "Ramon, urus mereka."


"Sudah Tuan, sebentar lagi polisi akan datang." Ujar Ramon.


"Tuan, Aku mohon jangan penjarakan aku, aku melakukannya karena di suruh Pak Lewis. Aku sudah menolak tapi dia memaksa dan mengancamku. Aku juga tidak menerima dana itu sedikitpun. Aku hanya melakukan apa yang dia suruh." Melas Tio staf baru di bagian keuangan, dia masih muda dan tidak ingin jadi pengangguran seumur hidup.


"Kenapa tidak melapor padaku? apa kau lebih takut dengannya dari pada aku?" Bentak Zein kemudian menunjuk wajah Lewis.


Tio hanya diam kemudian kembali menunduk. Dia sangat menyesal karena tidak melapor pada Zein. "Sata takut, Anda tidak akan percaya padaku, Tuan." Lirih Tio.


"Tidak usah membela diri. Bicara saja di kantor polisi." Sela Ramon.


Sebenarnya Ramon sudah tahu jika Tio diancam. Sebagai karyawan baru, kinerja Tio cukup bagus karena dia sangat pintar dan termasuk salah satu mahasiswa berprestasitasi dikampusnya. Ramon ingin memberinya pelajaran jika bukan hanya kepintaran saja yang dibutuhkan dalam pekerjaan, tapi juga keberanian dan kejujuran.


Tidak lama kemudian empat polisi datang mengetuk pintu. Mereka kemudian masuk saat Ramon membuka pintu untuk mereka.


"Bawa mereka." Tegas Zein.


"Tuan aku mohon, tolong maafkan aku." Melas Tio. Sedangkan Lewis dan dan karyawan yang satu lagi hanya bisa pasrah tangannya di borgol kemudian dibawa keluar dari ruangan Zein.


Mereka jadi pusat perhatian para karyawan lain saat melewati lobi kantor. Berbagai cibiran pedas pun dilontarkan oleh teman sekantor mereka.


"Astaga... nggak nyangka ya? gaji udah besar, tapi masih serakah merampas hak orang miskin." Ujar salah satu karyawan.


"Ia, nggak tau malu."


"Bisa-bisanya ngasih uang haram ke keluarganya."


"Dapat karma baru tau rasa tuh..!"


"Suatu saat mereka pasti akan menderita karena menikmati uang haram"


Begitulah sebagian kecil cibiran yang sempat mereka dengar. Mereka hanya bisa menunduk malu sambil berjalan bersama pria berseragam polisi disampingnya.

__ADS_1


...........


Ciklik..!


Nada pesan masuk di ponsel Zein kemudian Zein mengambil ponselnya diatas meja.


"[Sayang, aku pulang duluan ya.. Mama ingin di temenin belanja.]" Isi pesan Alika.


"[Baiklah, Hati-hati sayang. Ingat, jaga mata dan jaga hati ya.. jangan lirik cowok sana sini.]" Balas Zein.


"[Iya.. iya aku tau...]" Balas Alika kembali.


Setelah mengirim pesan pada Zein. Alika segera keluar dari perusahaan. Ia masuk ke dalam mobilnya kemudian melaju dengan kecepatan rata-rata.


Saat diperjalan ia merasa ada mobil yang sedang mengawasi dan mengikutinya. Ia mencoba mencari jalan lain agar mereka tidak mengetahui kemana arah tujuannya. Tapi saat di lampu merah, mobil itu tiba-tiba menghilang. Alika bingung, kemana mobil yang terus mengikutinya sejak kekuat dari perusahaan? Tidak mau ambil pusing, Alika menghela napas lega. Merasa dirinya sudah aman, ia kembali menuju arah rumah untuk menjemput Belinda.


Pip.. pip... pip..


Alika menekan klakson mobilnya membuat Belinda yang sedang, bersiap-siap di depan cermin terus mengomel yang tidak jelas.


"Ini anak bener-bener nggak bisa menunggu, gak tau apa kalau Mamanya lagi siap-siap." Kesal Belinda.


Tok.. tok.. tok


"Ma.. Mama..." Teriak Alika di depan pintu.


"Nggak usah terlalu cantik Mah, nggak akan ada juga yang godain Mama di sana." Teriak Alika kembali.


Belinda membuka pintu, berdandan lebih flowless sambil memegang tas branded limeted edition di tangannya.


"Wow.. cantik banget sih Mamanya Alika, pantesan lama banget! Jika Papa lihat Mama secantik ini ke Mall, bisa ngamuk dia Mah! Takut istrinya digoda cowok lain." Puji Alika sambil memutar tubuh Belinda.


"Sudah ah, berhenti memuji Mama. Ayo kita pergi." Ajak Belinda.


"Lilis, jaga rumah ya? aku dan Alika pergi dulu" Ujar Belinda pada salah satu ART yang bekerja di rumahnya.


Mereka masuk kedalam mobil Ferrari milik Alika. Setelah memasang seat belt, Alika melajukan mobilnya keluar dari halaman rumah.


Saat mereka melewati pos satpam kompleks. Alika melirik spion sebelah kanan. Matanya langsung melotot ternyata orang yang mengikutinya berada di belakang mobilnya.


Tidak ingin Mamanya khawatir, ia berusaha tenang sambil melajukan mobilnya diatas rata-rata.


"Pelan-pelan aja jalannya sayang, nggak usah buru-buru, Mall-nya nggak akan lari meskipun kita telat."

__ADS_1


"I.. ia Mah."


Alika memelankan laju mobilnya, begitupun mobil yang mengikutinya. "Ah, mungkin itu anak buah Papa atau Zein." Batin Alika.


Begitu jalanan sunyi, tiba-tiba mobil yang dibelakang melaju kecang menyalip mobil Alika.


Ciiiiit!


Alika menginjak rem mendadak membuat kepala Belinda hampir menyentuh dashboard mobil, untung mereka memakai seat belt hingga kecelakaan dapat dihindari.


"Astaga... Alika." Sentak Belinda terkejut, sambil berpegang di dashboar untuk menahan tubuhnya.


"Mama nggak apa-apa kan?" Tanya Alika khawatir memeriksa keadaan ibunya.


"Mama nggak apa-apa sayang, kamu?"


Alika mengatur napas lega karena dirinya dan Belinda tidak apa-apa. "Alika juga baik-baik aja, Mah."


"Siapa mereka? kenapa tiba-tiba mereka menghalangi jalan kita?" Tanya Belinda.


"Entahlah, aku juga nggak tau Mah. Mama tolong hubungi Papa. Biar Alika turun." Ujar Alika kemudian memegang gagang pintu.


"Jangan turun sayang, mungkin mereka berbahaya."


Belinda menahan tangan Alika sambil menghubungi Hendrik, namun ponsel Hendrik tidak aktif karena sedang meeting bersama investor dari Jerman.


Alika kembali bersandar memikirkan apa yang ia lakukan. Ia kemudian mengambil ponselnya lalu menghubungi Zein, tapi Zein juga tidak mengangkat telponnya.


Tok.. tok.. tok..


"Keluar." Bentak seseorang dari penjahat yang menodongkan pistol kearah Alika.


"Alika Mama takut, sayang..." Uajr Belinda ketakutan, tubuhnya bergetar dan mulai pucat.


"Tidak apa-apa Mah, biar Alika yang hadapi mereka."


"Mana bisa sayang. Apa mereka perampok? Berikan saja semua uang dan perhiasan Mama." Belinda mencoba membuka cincin di tangannya, "Ini juga Papa, disaat genting seperti ini malah tidak angkat telpon." Kesal Belinda masih terus mencoba menelpon, dan akhirnya mengirim pesan 'Pah, tolongin Mama dan Alika.' Isi pesan singkat Belinda kemudian mengirim lokasinya sekarang.


Tok.. tok.. tok..


Orang itu semakin mendesak kemudian memukul kaca mobil Alika dengan pistol yang dipegangnya.


.

__ADS_1


.


Bersambung....


__ADS_2