Calon Istri Milyader

Calon Istri Milyader
Kesempatan


__ADS_3

Prakkk!


Hendrik memukul meja dengan keras kemudian berdiri, rahangnya mengeras dan wajahnya memerah karena menahan emosi. "Apa yang kau lakukan Zein! kenapa kau ada di sini?" Bentak Hendrik dengan intonasi tinggi.


"Aku hanya mempertahankan apa yang sudah menjadi milikku Om, dan aku tidak akan membiarkan orang lain memilikinya." Tegas Zein penuh penekanan pada kata 'milikku'.


Alika hanya duduk diam tidak berani membuka mulut. Menatap wajah Hendrik dan Zein pun ia tidak bisa.


"Hendrik, apa maksud semua ini?" Tanya Matheo. Sedangkan Mama Alika dan Mama Andrew hanya diam melihat pertengkaran mereka.


"Kenalkan aku Zein, tunangan sekaligus calon suami Alika." Ujar Zein memperkenalkan diri kemudian mengulurkan tangannya pada Andrew dan kedua orang tuanya.


"Alika, apa itu benar? kamu sudah tunangan?" Tanya Andrew. Tatapan matanya teduh mengisyaratkan kekecewaan yang mendalam. Ia sudah jatuh cinta pada Alika sejak pandangan pertama. Tapi dia juga bukan tipe pria yang egois yang akan merebut kekasih orang lain apalagi jika Alika benar-benar telah bertunangan.


Alika menganggukkan kepalanya. "Maaf Andrew kami akan menikah bulan depan." Jawab Alika sedikit menundukkan kepalanya karena takut pada Hendrik.


"Tidak! kalian tidak akan menikah karena Papa sudah membatalkan pertunangan kalian." Tegas Hendrik tidak terima dengan keputusan Alika.


"Jadi mereka sudah tunangan dan anda akan menikahkan anak anda dengan anak saya? begitu Tuan Hendrik?" Tanya Matheo mulai menaikkan nada bicaranya.


"Kamu dengar sendiri kan? aku sudah membatalkan pertunangan mereka. Jadi wajar jika aku mencarikan pria yang lebih pantas dan baik untuk anak gadisku." Jawab Hendrik.


"Tapi untuk kali ini, saya tidak setuju dengan anda. Seharusnya anda selesaikan dulu masalah pertunangan mereka baru mencari pria lain. Aku tidak menyangka ternyata anak kamu begitu tidak lakunya hingga kamu mencarikan laki-laki lain untuknya. Mulai saat ini perjodohan anak kita batal! Aku tidak akan membiarkan anakku hidup dengan wanita yang mencintai orang lain." Kesal Matheo. Ia merasa di bohongi oleh Hendrik sahabatnya sendiri.


"Kenapa jadi menghina putriku?" Hendrik tidak terima Alika dikatakan tidak laku.


Alika ingin bicara namun Zein tiba-tiba menahannya dengan menggenggam tangannya. Sebenarnya Alika tidak terima jika dirinya dihina dan dipermalukan. Sedangkan Zein, berusaha menahan diri agar tidak terpancing dengan ucapan Matheo. Seandainya saja di sana tidak ada orang tua Alika, sudah dia pastikan Matheo akan mendapatkan bogeman mentah darinya. Tapi dia juga yakin jika Hendrik tidak akan diam saja jika putrinya dihina.


"Tapi Pah, aku suka dengan Alika. Mungkin mereka hanya butuh waktu untuk menyelesaikan masalahnya." Sela Andrew, dia ingin Alika menyelesaikan masalahnya dengan Zein dan Hendrik, dan tidak ingin kehilangan Alika, selain itu dia juga berharap memiliki kesempatan untuk bersama Alika.

__ADS_1


"Tidak nak! sekarang juga ayo kita pulang. Kamu bisa dapatkan gadis yang jauh lebih baik darinya. Papa tidak terima dipermalukan seperti ini." Geram Matheo.


"Pah." Melas Andrew.


Matheo tidak perduli lagi, ia segera mengambil tangan istrinya lalu mengajaknya untuk pergi. "Ayo Mah, kita pulang!" Ajak Matheo sambil membantu istrinya untuk berdiri.


Matheo dan istrinya segera pergi tanpa pamit dengan Hendrik dan Belinda. Sedangkan Andrew dilema antara ikut orang tuanya atau tinggal menyelesaikan masalahnya dengan Alika.


"Maafkan sikap Papa Om, saya pamit." Ujar Andrew pada Hendrik, kemudian menghampiri Alika. "Alika, aku harap kita masih bisa dipertemukan dilain waktu. Aku pamit." Ujat Andrew dengan tulus kemudian melirik Zein dengan tatapan tajam, sedangkan Zein membalasnya lebih tajam lagi.


"Kalian tidak akan bertemu lagi." Lirih Zein. Tapi masih dapat di dengar oleh Andrew.


"Aku akan memiliki Alika jika kau melepasnya. Ingat itu!" Tegas Andrew kemudian melangkahkan kakinya meninggalkan restoran dan menyusul kedua orangtuanya.


Hendrik hanya diam masih dalam posisi berdiri. Tertegun sambil menatap Alika dan Zein secara bergantian. Entah apa lagi yang ada di pikirannya saat ini, yang pastinya dia sangat marah pada keduanya karena telah menggagalkan rencananya.


"Apa mau kalian?" Bentak Hendrik tiba-tiba bersuara diantara keheningan yang tercipta setelah kepergian Andrew.


"Maaf Om, tapi aku tidak akan tinggal diam jika calon istriku bertemu dengan pria lain." Tegas Zein menyela ucapan Alika dan Hendrik.


"Siapa kamu? berani-beraninya mengatakan Alika calon istrimu? sampai kapanpun Aku tidak akan merestui hubungan kalian. Sekarang, kau pergi dari sini!" Tegas Hendrik.


"Baiklah, aku akan pergi dari sini Om. Tapi aku akan membawa Alika bersamaku." Ujar Zein kemudian menoleh meminta ijin pada Belinda, "Zein pamit Tante." Pamit Zein.


Zein langsung menarik tangan Alika meninggalkan meja Hendrik.


"Selangkah saja kalian pergi tanpa ijin dariku, maka kau tidak akan melihat Alika lagi Zein!" Ancam Hendrik menatap tajam pada Zein.


Zein dan Alika langsung berhenti melangkah. Ancaman Hendrik begitu menusuk tepat di jantung hati Zein. Zein Kemudian berbalik, dengan tatapan sendu berusaha mengikis kemarahan dan egonya. Dengan harapan Hendrik akan luluh dan membuka hati merestui hubungannya dengan Alika.

__ADS_1


"Om, aku mencintai Alika, aku akan lebih ekstra menjaganya. Harus berapa kali Zein minta maaf agar Om menerima Zein kembali? aku sudah menemukan pelakunya dan Om sendiri yang mengambil alih kasusnya. Apa itu belum cukup membuktikan jika aku bertanggung jawab? Tolong berikan aku kesempatan sekali saja Om. Jika aku tidak bisa menjaga Alika dengan baik, maka Om boleh memisahkan kami." Ungkap Zein kemudian melirik Alika yang sedang tertunduk.


"Ya Tuhan...! Zein, kenapa kau seberani itu pada Papa?" Batin Alika, mulutnya seakan kaku saat Zein dengan berani menantang Hendrik.


"Bagaimana jika tidak ada kesempatan kedua? aku tidak mungkin membahayakan nyawa anakku sendiri. Ayo Alika, ikut Papa pulang." Tolak Hendrik.


"Tapi Pah, aku dan Zein..."


"Pulanglah, besok kita ketemu lagi." Bisik Zein, sedangkan Alika hanya mengangguk.


"Ayo, jangan membantah!" Tegas Hendrik kemudian menarik tangan Alika keluar bersamanya dan Belinda.


Alika mengikuti Hendrik karena tidak ingin menjadi pusat perhatian para tamu di restoran.


Zein menghela napas dengan berat menatap kepergian tambatan hatinya. Hendrik sungguh keras kepala dan tidak mudah untuk di taklukkan. Tapi bukan Zein namanya jika menyerah begitu saja sebelum berperang. Tekadnya sudah bulat untuk satu tujuan yaitu Alika.


Mengabaikan pandangan para gadis yang juga makan di sana, Ia kemudian menarik kursi dan duduk seorang diri. Menyandarkan bahu kemudian menyampirkan tangannya pada sandaran kursi. Zein mengambil ponselnya di saku kemudian meletakkannya diatas meja.


Zein mengambil ponselnya diatas meja, menulis beberapa kata lewat sebuah aplikasi kemudian mengirimnya pada Ramon. "Aku menunggumu di restoran." Isi pesan Zein. Setelah pesan terkirim, Zein kembali meletakkan ponselnya diatas meja.


Sambil menunggu Ramon datang, ia memesan makanan untuk makan malamnya bersama Ramon. Rencana makan malam romantis bersama Alika yang sudah terputar di otaknya sejak di dalam kamar hotel gagal, berganti makan malam biasa bersama Ramon dan pekerjaan yang sedang menunggunya. Sungguh Zein ingin berlari sekencang mungkin dari berkas-berkas yang akan Ramon bawa untuknya. Pikirannya masih saja tidak tenang mengingat hubungannya dengan Alika belum juga menemukan titik terang.


.


.


Bersambung...


Sahabat Author yang baik ❤️

__ADS_1


Jangan lupa, Like, Komen, Hadiah, Dukungan dan Votenya ya!


__ADS_2