Calon Istri Milyader

Calon Istri Milyader
Luka Kecil


__ADS_3

Tidak lama kemudian Dokter datang memeriksa keadaan Zein. mulai dari tekanan darah, detak jantung dan lukanya.


"Semuanya sudah membaik, tekanan darahnya juga normal. Tangannya untuk sementara tidak boleh digerakkan. Anda harus rutin mengganti perbannya." Jelas Dokter.


"Apa boleh saya sendiri yang menggantinya dokter?" Tanya Alika.


"Boleh, akan saya ajarkan caranya." Jawab Dokternya.


Dokter mengambil perban biasa lalu mengajari Alika cara membuka perban ditangan Zein, memberinya obat, lalu diperban kembali. Setelah selesai Alika mengangguk tanda mengerti.


Frans membuka pintu IGD kemudian masuk kedalam melihat keadaan Zein. Ia juga sempat mendengarkan penjelasan dokter. Dokter yang merawat Zein adalah teman Frans karena Zein berada di rumah sakit tempatnya bekerja. Teman Frans hanya mengangguk saat melihat Frans, ia sudah paham jika mereka pasti saling kenal.


"Biar aku yang mengganti perbannya Alika, telpon aku aja jika sudah waktunya ganti perban, aku akan selalu ada untuk membantumu." Ujar Frans.


Alika tersenyum manis lalu mengangguk, "Makasih Frans." Ujarnya.


Zein mendelik tajam kearah Frans. Tidak mungkin ia mau menerima bantuan Frans begitu saja. Jika ia setuju maka Frans akan selalu datang di apartemennya bertemu dengan Alika. "Aku tidak akan membiarkan kalian bertemu apalagi di dalam apartemenku." Batin Zein.


"Saya sarankan untuk dirawat semalam di rumah sakit, tapi kalau Anda ingin pulang juga tidak apa-apa, yang penting obatnya rutin dan telapak tangannya jangan digerakkan." Jelas Dokter.


"Iya Zein, kamu di rawat aja." Usul Alika.


"Saya pulang aja dokter, ini hanya luka kecil, saya sudah terbiasa dengan luka seperti ini." Ungkap Zein.


Zein tidak ingin berlama-lama di rumah sakit karena ingin menemui Sander dan Monika nanti malam. Seandainya ia di Roma, sudah pasti Richard yang akan merawatnya di Mansion sama seperti sebelumnya jika Zein terluka.


"Apa kamu bilang? luka kecil? ini bukan luka kecil Zein! luka kecil nggak perlu di jahit, ini luar dalam dijahit, kenapa kamu keras kepala!" Kesal Alika karena Zein tidak mau dirawat inap.


"Tidak usah memaksaku. Aku tidak suka berada di rumah sakit. Aku bisa makin sakit jika disemalaman di sini." Balas Zein.


Alika mengerucutkan bibirnya. Zein benar-benar membuatnya kesal.


Zein memang tidak suka bau rumah sakit. Jika dia sakit atau terluka, Richard lah yang selalu datang untuk mengobatinya. Jika perlu Richard membawa peralatan medis ke Mansion Zein.


"Baiklah jika itu sudah menjadi keputusan Anda." Sela Dokter kemudian mengambil pulpen di saku snelli yang ia kenakan. Setelah menulis resep obat, ia memberinya pada Alika. "Ini resep obatnya, salepnya di olesi setelah luka di bersihkan, dan obatnya diminum 3x sehari." Jelas Dokter.


"Iya dokter." Ujar Alika sambil mengambil resep obatnya.


Mereka kemudian keluar dari IGD, di sana sudah ada Ramon dan Meriska yang sedang menunggu.

__ADS_1


"Ramon urus administrasinya, aku ingin pulang sekarang." Perintah Zein.


"Baik Tuan." Ujar Ramon lalu menunduk undur diri.


"Tunggu, Ini resep obatnya sekalian belikan untuk Zein." Alika menyerahkan resep obat dari tangannya.


Ramon mengambilnya lalu menuju kasir rumah sakit mengurus administrasi, setelah beres ia ke apotek dan menebus obat sesuai dengan resep dokter.


Setelah kepergian Ramon, Meriska segera menarik tangan Alika menjauh dari Zein. "Alika, Apa yang terjadi? kenapa Zein bisa terluka seperti itu?" Tanya Meriska kemudian menunjuk telapak tangan Zein.


"Ada beberapa orang yang mencoba menghalangi jalan kami. Kami melawan dan Zein jadi korbannya." Jelas Alika.


"Kenapa kau biarkan Zein terluka? apa kemampuan beladirimu sudah berkurang semenjak putus dari Dirga?" Ejek Meriska.


"Bukan begitu, dia yang terlalu lincah menolongku. Aku baru saja ingin menghindar tapi Zein tiba-tiba datang dan menahan belati itu dengan telapak tangannya. Sudahlah semua sudah terjadi, dan Zein juga tidak kenapa-napa. Sorry u tuk sementara aku nggak kekantor, aku akan tinggal di apartemen Zein sampai lukanya sembuh. Jika butuh sesuatu datang aja ke sana." Jelas Alika.


"Baiklah, ayo kita pulang." Ajak Meriska.


Mereka berjalan mendekati Zein kemudian mengajaknya untuk pulang.


"Kamu yakin nggak mau aku temenin?" Tanya Meriska.


"Baiklah Zein aku pamit ya, semoga lekas sembuh. Jika butuh apa-apa, minta aja pada Alika, dia akan selalu ada untuk kamu dua puluh empat jam." Ujar Meriska sambil menaikkan jempolnya.


Zein hanya tersenyum manis sambil melirik Alika. Entah apa arti senyum Zein yang membuat Ramon bergidik ngeri lalu membuka pintu mobil untuk Zein dan Alika.


"Frans, Meriska, kami duluan ya?" Pamit Alika.


"Iya, hati-hati di jalan. Ingat telpon aku jika kamu butuh apa-apa." Ujar Frans.


"Masuk Alika, kalian berpamitan seperti orang yang May berpisah selama setahun aja." Kesal Zein.


"Iya, ini juga mau masuk." Alika duduk di samping Zein.


Sementara Ramon langsung melajukan mobilnya menuju apartemen.


Selama tiga puluh menit di perjalanan berbaur dengan kemacetan, akhirnya mereka tiba di apartemen.


Zein langsung masuk ke kamarnya di bantu oleh Ramon sementara Alika langsung masuk ke dalam kamarnya.

__ADS_1


"Bos, apa Anda akan memanfaatkan kesempatan ini?" Tebak Ramon saat melihat senyuman Zein saat di rumah sakit.


"Hehehe, kau sangat mengenalku Ramon. Kau selalu tau apa yang ada di otakku ini." Kekeh Zein karena ketahuan.


"Baiklah, aku pergi dulu. Anak buah kita sudah membawa Sander dan Monika. Oiya, orang yang membuatmu terluka sudah mengaku jika mereka di suruh oleh Sander untuk menculik Alika. Mereka diperintahkan untuk membawa Alika ke hotel jika berhasil mendapatkannya. Tapi sayang rencana mereka gagal." Lapor Ramon karena anak buahnya sempat menelpon saat dia menunggu di apotek.


Zein mendelik ke arah Ramon. "Di hotel? untuk apa Sander ingin membawa Alika ke sana? Apa jangan-jangan... ah, brengsek!" Geram Zein.


"Aku juga berpikir begitu. Sepertinya dia akan memaksa Nona Alika." Pikir Ramon.


"Ah, Sander membuatku makin sakit." Kesal Zein karena ia hampir saja mengepalkan tangan kanannya yang terluka.


"Baiklah, aku kembali ke kantor. Aku akan menjemputmu jam sembilan nanti malam." Pamit Ramon sambil melihat jam tangannya.


"Pergilah, aku ingin istirahat. Cari tahu apa saja yang Alika lakukan selama ini. Aku jadi penasaran bagaimana bisa dia sangat mahir menggunakan senjata. Dia juga jago beladiri. Entah apa lagi kemampuannya yang lain yang aku tidak tahu. Dia selalu mengejutkanku saat aku sedang meremehkan dan menganggapnya lemah." Pinta Zein.


"Siap bos!" Ramon mengangguk lalu berbalik, ia menghentikan langkahnya saat tidak sengaja melihat toples berisi cookies di atas meja nakas.


"Apa yang kau liat?" Tanya Zein mengikuti arah pandangan Ramon.


"Itu untukku! jika kamu mau, cepat cari calon istri yang pandai masak seperti Alika." Tegas Zein.


"Bagaimana kalau Alika aja bos! Bos tinggal cari yang lain aja, bos kan paling gampang dapetin cewek, bagaimana?" Ujar Ramon lalu menutup mulutnya karena terlalu lancang.


Zein langsung mendelik tajam. Netranya yang hitam menatap Ramon seolah ingin memangsanya hidup-hidup.


"Hanya bercanda bos..! jangan di masukkin ke hati." Ralat Ramon kemudian segera keluar dari kamar Zein sebelum Zein memberinya hukuman karena terlalu berani meminta Alika padanya.


"Ramon!" Geram Zein.


Saat diluar Ramon kedapatan sedang berlari oleh Alika. "Ramon, kenapa Zein berteriak? Kamu juga kenapa keluar buru-buru? ada apa sih dengan kalian!" Tanya Alika heran dari arah dapur.


.


.


Bersambung....


Sahabat Author yang baik ❤️

__ADS_1


Jangan lupa, Like, Komen, Hadiah, Dukungan dan Votenya ya! 🙏🙏


__ADS_2