Calon Istri Milyader

Calon Istri Milyader
Memutuskan


__ADS_3

Di tempat Lain


Monika sedang kesal. Ia melempar ponselnya keatas kasur yang masih berantakan.


Sander yang baru saja keluar dari kamar mandi terkejut melihat Monika melempar ponselnya.


"Kamu kenapa?" Tanya Sander mengernyitkan keningnya heran.


"Brengsek! Zein memintaku untuk segera pulang. Dia tidak mau transfer uang lagi jika aku tidak pulang. Dia juga memutuskan hubungan denganku." Kesal Monika.


"Jangan takut sayang..! aku yakin itu hanya ancamannya saja. Dia tidak akan sanggup berpisah denganmu, dia itu cinta mati denganmu." Ujar Sander.


"Tapi kali ini Zein bicara serius. Aku yakin kali ini dia tidak main-main dengan ucapannya." Jelas Monika.


"Coba kamu telpon dia kembali. Bujuk dia untuk transfer uang dalam jumlah yang lebih banyak. Bilang aja kamu harus membayar ganti rugi atas kontrak kerja yang kamu batalkan, dan kamu akan kembali dalam minggu ini. Setelah itu kamu tinggalkan saja dia. Laki-laki lumpuh seperti dirinya untuk apa kamu pertahankan, bikin malu aja." Ujar Sander.


"Tapi dia berkuasa dan kaya, dibanding dengan dirimu dia lebih segalanya. Aku masih butuh uangnya untuk bersenang-senang." Jelas Monika.


"Hehehe, tentu tidak sayang..! dia tidak bisa memuaskanmu ditempat tidur. Itulah bedanya aku dengan dia." Sergah Sander.


Monika mengambil kembali ponselnya. Ia menghubungi Zein namun hanya suara operator telpon yang menjawabnya.


"Ayo Zein angkat." Gumam Monika.


Monika mulai panik. Ia berjalan mondar-mandir sambil meletakkan ponsel di telinganya. Baru kali ini Zein tidak mengaktifkan ponselnya.


"Dia tidak menjawabnya?" Tanya Sander dengan santai sambil memakai pakaiannya.


Monika menggelengkan kepalanya lalu kembali menghubungi nomor ponsel Zein.


"Brengsek!" Rutuk Monika.


"Sudahlah, Nanti aja telponnya. Mau sampai kapan Zein tidak mengaktifkan ponselnya. Dia itu orang penting, jadi tenang saja." Bujuk Sander.


"Kau memang paling bisa menenangkan aku. Itulah sebabnya kenapa aku masih mencintaimu meskipun aku bersama Zein." Puji Monika.


"Sudahlah, jangan terlalu memikirkan Zein. Ayo kita berangkat, Nura sudah menunggu kita di luar." Ajak Sander.


Monika dan Sander keluar dari kamar sambil menarik koper. Ia menghampiri Nura yang sedang sibuk mengatur jadwal pemotretan Monika.

__ADS_1


Sebenarnya Nura sangat tidak suka dengan hubungan Monika dengan Sander, Sander jarang bicara dengannya bahkan memandang rendah dirinya yang hanya seorang pelayan baginya dan Monika. Sifatnya yang sombong, sok pintar dan kaya membuat Nura pernah berfikir untuk mengundurkan diri menjadi asisten Monika. Tapi Nura juga butuh biaya untuk keluarganya. Menjadi tulang punggung keluarga sangatlah sulit baginya. Ia harus mengikuti kemana Monika pergi selama dua puluh empat jam.


Nura juga tidak suka karena hubungan mereka berdua terlalu bebas dan intim. Sangat berbeda dengan Zein, Ia sangat baik dan menghargai Nura sebagai asisten Monika. Zein juga pernah memberinya bonus karena dia selalu setia dan menjaga Monika dengan baik. Semenjak Zein lumpuh mereka tidak pernah lagi bertemu. Kadang Nura tidak tega pada Zein. Seandainya saja ia memiliki nomor ponsel Zein, ia akan menghubunginya dan menceritakan semuanya tentang Monika.


"Nura, Apa kamu sudah memesan taksi?" Tanya Monika.


"Sudah, taksinya sudah menunggu di lobi. Apa kalian sudah siap?" Tanya Nura memasukkan pknselnya dalam sling bagnya.


"Iya." Singkat Monika.


"Baiklah, kopermu biar aku yang bawa." Nura mengambil alih koper yang dipegang oleh Monika.


Mereka keluar dari hotel dengan menggunakan taksi menuju bandara. Hari ini mereka akan ke Milan untuk melakukan pemotretan brand ambasador salah satu produk kecantikan.


Saat di bandara Monika memakai masker, Monika tidak ingin media melihat dan meliputnya di sana. Ia takut Zein akan tahu dimana keberadaannya sekarang ini. Sementara dirinya masih ingin menikmati hidupnya tanpa harus bersusah payah merawat dan mendorong kursi roda Zein.


Beberapa jam dalam perjalanan akhirnya mereka tiba di Milan, Nura langsung menghubungi Meriska saat mereka di bandara. Meriska menyuruh supir untuk menjemputnya dan membawanya ke Apartemen untuk istirahat.


Keesokan harinya mereka mulai melakukan sesi pemotretan. Meriska mempercayakan fotografer untuk mengarahkan Monika yang sedang memegang produk kecantikan di tangannya di depan camera.


Alika dan Meriska hanya berdiri di sisi ruangan sambil memperhatikan proses pengambilan gambar di lakukan.


"Monika memang sangat cantik dan memiliki nilai jual yang tinggi. Pantas saja Zein jatuh cinta padanya. Tapi sayang dia tidak setia dan egois, dia sama sekali tidak memiliki rasa kasihan pada Zein. Jika dia wanita yang baik, bagaimanapun keadaan Zein saat ini, dia pasti akan selalu berada di sampingnya." Batin Alika sambil menatap foto Monika.


Entah mengapa pikiran Alika langsung mengingat Zein. Ingin rasanya ia menanyakan kabar Zein saat ini. Ia mengambil ponsel dari dalam tasnya lalu menghubungi Zein. Sebelum sambungan telepon tersambung, Alika tiba-tiba di kagetkan dengan kehadiran Sander di belakangnya.


"Hai." Sapa Sander memegang pundak Alika.


Alika segera menepisnya karena merasa tidak nyaman. Alika hanya tersenyum membalas sapaan Sander. Sander yang merasa Alika sedang menjaga jarak dengannya semakin tertantang untuk mendapatkan Alika.


"Alika, aku tinggal sebentar ya?" Pamit Meriska.


Alika hanya mengangguk dan membiarkan Meriska pergi.


"Mau telpon pacar?" Selidik Sander.


"Bukan, aku nggak punya pacar." Jawab Alika tersenyum.


"Oh, masa sih? kok aku nggak percaya ya? mana mungkin wanita secantik kamu nggak punya pacar, kamu pasti bercanda kan?" Tanya Sander melirik, padahal dalam hati ia merasa senang karena Alika belum memiliki pacar.

__ADS_1


"Tepatnya baru putus." Lirih Alika dengan wajah sedih.


"Maaf, kalau boleh tau kenapa kalian putus?" Tanya Sander penasaran.


"Ah, sudahlah! aku tidak ingin membahas masalah pribadi, lagian itu juga sudah menjadi masa lalu yang tidak perlu di ingat-ingat lagi." Jawab Alika.


"Maaf, Aku hanya tidak percaya ada laki-laki bodoh yang meninggalkan gadis cantik dan sempurna seperti kamu. Kamu itu ibarat berlian yang harus di rawat dan dijaga, bukannya dibiarkan dan dibuang." Ujar Sander.


"Oya? masa sih? kamu orang pertama yang bilang begitu padaku." Ujar Alika sambil tersenyum. Pujian sander terlalu berlebihan untuknya.


"Tentu saja benar, aku nggak pernah salah menilai wanita. Bagaimana jika kita keluar dinner malam ini? aku akan mengajakmu ke suatu tempat yang pastinya dapat menghiburmu." Ungkap Sander.


"Apa kamu yakin ingin mengajakku keluar dinner? bagaimana jika Monika mengetahuinya? aku tidak mau dia salah paham dan menganggap kita memiliki hubungan." Tolak Alika.


"Soal itu, kamu tenang aja, Monika nggak akan pernah tahu kalau kita keluar bersama. Aku akan mengaturnya." Bujuk Sander.


Alika berpikir sejenak lalu mengangguk.


"Oke..! Jadi, kamu mau aku jemput atau kita ketemu di restoran?" Semangat Sander.


"Kita ketemuan di restoran aja jam tujuh malam. Aku masih banyak urusan di kantor." Tolak Alika.


Alika tidak mau dijemput oleh Sander dan membuat kedua orang tuanya marah karena melihat Alika keluar berdua dengan laki-laki lain.


"Baiklah, mana nomor ponselmu, aku akan menghubungimu nanti." Ujar Sander sambil mengeluarkan ponselnya dari saku celana.


Alika menyebutkan nomor ponselnya lalu Sander segera menghubunginya. Setelah mendengar suara ponsel Alika berbunyi, Sander memutuskan panggilannya.


"Itu nomor ponselku, sampai ketemu nanti malam Alika." Ujar Sander kemudian segera keluar dari ruang pemotretan tanpa menyapa Monika.


Monika yang melihat Sander berbicara dengan Alika merasa cemburu. Baru kali ini ia melihat Sander begitu akrab dan selalu tersenyum berada di dekat wanita lain. Hal itu mengingatkan dirinya saat Sander sedang mendekatinya sebelum mereka pacaran.


.


.


Bersambung...


Sahabat Author yang baik ❤️

__ADS_1


Jika kalian suka dengan cerita ini, Jangan lupa, Like, Komen, Hadiah, Dukungan dan Votenya ya! 🙏🙏🙏


__ADS_2