Calon Istri Milyader

Calon Istri Milyader
Rela Mati


__ADS_3

"Aku rela mati di tangamu Zein! karena Aku sangat mencintaimu, termasuk memberikan nyawaku jika kau ingin membunuhku."


"Kau benar-benar sudah gila Calista!"


Zein menggelengkan kepalanya, baru kali ini mengetahui sifat asli dari Calista. Wanita yang satu ini tidak mudah menyerah dan akan melakukan apapun untuk mencapai tujuannya, "Ramon! kau urus dia, aku sudah muak dengar omong kosongnya." Ujar Zein sambil melirik Ramon kemudian melangkah menuju pintu.


"Zein, apa yang akan kau lakukan padaku? aku tidak mau diurus Ramon." Tolak Calista.


Zein menghentikan langkahnya. "Apa kau pikir aku akan membuang waktuku hanya untuk mengurusmu? Sekarang juga Ramon akan membawamu ke penjara. Aku rasa itu tempat yang paling cocok untukmu!" Tegas Zein pada Calista, kemudian berbalik ke arah Ramon. "Berikan kunci mobilku, biar aku pulang sendiri," Ramon mengambil kunci mobil disaku celananya kemudian memberinya pada Zein, "Pastikan dia tidak bisa keluar dari penjara meski kedua orangtuanya sudah menjamin. Dia harus membayar mahal atas yang dia lakukan pada Alika. Jelas?" Tegas Zein penuh penekanan.


"Jelas bos! Tenang aja, pengakuannya juga sudah aku rekam. Aku sendiri yang akan membawa wanita ini ke kantor polisi." Ramon menaikkan jempolnya tanda mengerti maksud Zein.


Calista beranjak kemudian berlari memegang tangan Zein, hingga langkah kakinya terhenti akibat tangan Calista menahannya.


"Hikss, hikss.. Tidak Zein, Jangan! aku tidak mau dipenjara. Berikan aku kesempatan membuktikan cintaku Zein! Aku yakin kau akan bahagia bersamaku." Melas Calista sambil menggelengkan kepalanya. Air matanya mulai mengalir dengan derasnya. Tangannya tetap menggenggam kuat lengan Zein.


"Aku tidak butuh pembuktian!"


Zein menyentakkan tangannya, mengakibatkan tangan Calista terlepas dengan kasar. Membuka pintu ruangan, sebelum menghilang di balik pintu.


Zein segera keluar dari rumah tua mengendarai mobilnya kembali ke Mansion.


Ramon dan anak buahnya membawa Calista ke kantor polisi. Kali ini anak buahnya yang menyetir. Ramon duduk di di samping supir sedangkan Alika duduk di belakang bersama dua anak buahnya lagi.


Dalam perjalanan, Calista terus memberontak minta untuk dilepaskan. Tapi bukan Ramon namanya jika tidak bisa menghadapi Calista. Semakin dia memberontak jiwa kejahilannya semakin bertambah.


"Tenanglah Calista, jangan panik! aku hanya akan membawamu ketempat yang seharusnya."


"Lepaskan aku Ramon! aku tidak bersalah, Alika yang merebut Zein dariku."


"Alika itu hanya menuruti keinginan keluarganya, sampai kapanpun kau tidak akan bisa merubahnya. Kau tau sekarang Zein sudah mencintainya? itu artinya kau tidak memiliki harapan lagi. Lebih baik kau lupakan Zein biar nggak makin halu! Sekarang turun! kita sudah sampai."


Ramon turun dari dalam mobil, Memerintahkan anak buahnya membawa Calista masuk. Saat di dalam, ia langsung menemui kapolres sekaligus temannya. Mereka sudah membuat janji saat Ramon menunggu Zein di rumah sakit.


Setelah saling menyapa dengan Kapolres, Ramon mulai melaporkan kejahatan Calista. Menyerahkan bukti gelang yang di temukan Virda dia tepi jurang, dan rekaman pengakuan Calista.


Calista tidak banyak bicara, ia hanya menatap tajam petugas saat dirinya diperiksa di salah satu ruangan.

__ADS_1


Setelah urusan Ramon beres, dia segera menemui Calista dan mengucapkan selamat tinggal padanya. Sungguh Calista ingin membunuhnya saat itu juga. Selain mencebloskannya ke dalam penjara, Ramon juga mengejeknya sebagai gadis gila yang tidak punya otak sebelum melakukan sesuatu.


"Percuma saja sekolah tinggi-tinggi jika kelakuan kamu seperti orang rendahan! Selamat menikmati hari yang menyenangkan Calista."


Ramon tersenyum kecut melihat Calista mendelik kearahnya. Memberikan kode pada anak buahnya kemudian mereka keluar dari kantor polisi.


.............


Di rumah Sakit.


Belinda masuk ke dalam kamar inap Alika, mendapati Alika yang sedang duduk melamun. Ia mendekat ke samping brankar, mengelus kepala putrinya penuh kasih.


"Sayang..! kenapa kamu melamun? apa kau butuh sesuatu?" Tanya Belinda.


Alika tersadar dari lamunannya, menoleh kearah Belinda kemudian memeluknya dengan erat. "Mah, Papa mana?"


Belinda mengelus puncak kepala Alika, ia tidak pernah berhenti bersyukur karena Alika kini telah sadar dan akan kembali pulang.


"Papa sudah di jalan sayang. Oiya, apa kata dokter? Sepertinya dia dokter baru di sini." Selidik Belinda.


"Dia menggantikan dokter Adrian karena sedang berada di luar negeri. Tapi cuma hari ini saja karena dokter Adrian akan kembali besok." Jelas Alika berbohong, "Mudah-mudahan Mama nggak curiga." Batin Alika. Seandainya saja Belinda mengetahui jika Zein yang datang menjunguknya, mungkin dia akan mengusirnya saat itu juga.


"Mah, aku ingin istirahat, Mama juga ya? aku nggak mau jika Mama jatuh sakit karena menjagaku."


"Iya sayang, tidurlah! Mama akan istirahat di sofa."


Belinda memperbaiki selimut Alika, mengangkat sedikit kepalanya melihat botol infus apa masih banyak atau sudah harus diganti. Ternyata sisa setengah botol. Ia rasa masih cukup banyak waktu untuk Alika tidur sampai isi infusnya habis.


Belinda menuju sofa kemudian berbaring, meluruskan tubuhnya yang kelelahan karena menjaga Alika selama beberapa hari di rumah sakit. Mulai menutup mata kemudian tertidur menuju alam mimpi.


Tidak lama setelah Alika dan Belanda tertidur. Pintu kamar terbuka. Hendrik masuk melihat keadaan Alika yang sedang tertidur kemudian menuju sofa.


"Sayang...! Bangun, aku sudah bawakan pesananmu."


Hendrik meletakkan paper bag yang ada di tangannya keatas meja. Membukanya satu persatu kemudian menatanya diatas meja. Aroma masakan yang tercium masuk kedalam rongga hidung Belinda dan Alika, membuat keduanya langsung bangun dan mencari sumber makanan.


Hendrik tersenyum, kedua bidadari cantik dalam hidupnya sudah bangun. Tidak perlu bekerja keras untuk membangunkan mereka. Ternyata ide Hendrik cukup berhasil membuka mata mereka tanpa harus bersusah payah membangunkannya.

__ADS_1


"Hmm." Gumam Belinda merentangkan kedua tangannya sambil menggerakkan otor-ototnya.


"Papa bawa apa?" Tanya Alika setelah memperbaiki posisi duduknya. Cacing di perutnya sudah berdemo minta di isi.


"Makanan kesukaan kamu sayang. Nasi goreng seafood dengan telur mata sapi setengah matang."


"Papa dapat dari mana? setahu Alika disini nggak ada yang menjualnya." Tanya Alika heran. Baru kali ini mendapatkan makan khas Indo di kota Roma.


"Papa menyuruh koki hotel membuatnya khusus untuk putri kesayangan Papa." Jawab Hendrik tersenyum, ia sangat bahagia Alika kembali sembuh. Maka dari itu ia rela menunggu koki membuatkan makanan untuknya.


"Hanya Alika saja yang di sayang nih? Mamanya nggak lagi?" Sela Belinda.


"Siapa bilang? aku bawakan tiga porsi sayang..! Kalian berdua kesayangan Papa. Papa akan melakukan apapun untuk kebahagian kalian. Dan Papa tidak akan biarkan orang lain menyakiti kalian. Sudah, ayo kita makan, Papa juga sangat lapar." Ujar Hendrik.


Belinda mengambil satu porsi makanan kemudian memberinya pada Alika.


Alika mengambil sendok kemudian mulai makan dengan perlahan. "Ini sangat enak Pah. Besok Alika ingin makan ini lagi sebelum pulang dari rumah sakit. Boleh kan Pah?"


"Tentu boleh sayang..! apapun untuk putri cantik Papa."


Mereka menikmati makanan masing-masing. Hanya dalam beberapa menit mereka selesai makan malam.


Belinda kemudian mengambil obat dia atas nakas kemudian memberinya pada Alika.


"Pah, boleh Alika tanya? tapi Papa harus janji nggak akan marah."


"Hmm, tanya apa sayang?!" Jawab Hendrik mengangguk.


"Mmm.. ini soal aku dan Zein Pah." Ujar Alika ragu-ragu, matanya terus saja memperhatikan ekspresi wajah Hendrik.


"Zein?"


.


.


Bersambung....

__ADS_1


Sahabat Author yang baik ❤️


Jangan lupa, Like, Komen, Hadiah, Dukungan dan Votenya ya! 🙏🙏


__ADS_2