
Setelah melalui acara akad dan resepsi pernikahan yang sangat menguras tenaga dan penuh drama karena keluarga besara mereka kembali rukun dan menyambut hangat pernikaha ini. Akhirnya Alika dan Zein masuk ke salah satu kamar presidential suit dihotel itu.
"Selama acara berlangsung, kamu dari tadi diam aja. Ada apa sayang?" Tanya Zein menghampiri Alika yang sedang duduk di depan cermin menghapus make-up di wajahnya.
"Aku terkejut, kenapa semuanya tiba-tiba berubah? kemana Andrew?" Tanya Alika melirik Zein lewat cermin di depannya.
"Kamu kecewa bukan Andrew yang menjadi pengantinnya?" Tanya Zein balik dengan wajah mulai di tekuk.
Alika meletakkan kapas pembersih wajahnya, membalikkan wajah menatap mata Zein, kemudian meletakkan kedua tangannya diatas bahu Zein. Tatapan mata keduanya bertemu membuat jantung mereka semakin berdebar.
"Aku bahagia karena kamu yang menikah dengan aku, Zein. Aku tidak tahu jadinya akan seperti apa jika aku menikah dengan orang lain. Terima kasih atas pesta yang mewah dan penuh dengan kejutan ini. Terima kasih karena selalu ada di dekatku saat aku butuhkan. I love you, Zein." Ungkap Alika dengan tulus dengan mata yang mengeluarkan air benih diujungnya.
"Duhhhh... manis sekali sekali sih istriku ini. Belum juga di cobain, I love you too, sayang." Goda Zein sambil menghapus genangan air mata di ujung mata Alika. "Aku mandi dulu, setelah itu kamu, atau... kamu mau kita mandi berdua?" Tawar Zein penuh harap.
"Ihh, apaan sih!" Sentak Alika memukul lengan Zein kemudian berbalik menghadap cermin dengan wajah memerah karena malu.
"Ingat, kita sudah sah jadi suami-istri! jadi semuanya sudah boleh dilakukan." Bisik Zein dengan suara sensualnya di belakang telinga Alika hingga hembusan napasnya menyentuh kulit, membuat Alika seketika merinding.
"Sana Zein duluan aja. Aku belum kelar." Tolak Alika.
"Menolak permintaan suami dosa lho sayang." Goda Zein kembali.
"Zein!" Pekik Alika.
"Hehehe..." Kekeh Zein merasa puas menggoda Alika kemudian segera masuk kedalam kamar mandi.
Dua puluh menit berlalu, Zein selesai mandi. Melangkah keluar kamar mandi dengan lilitan handuk putih di pinggangnya.
Alika menatap Zein tanpa berkedip, tubuh Zein begitu sempurna dengan roti sobek yang menggoda. Alika menelan saliva denga susah payah kemudian membalikkan wajahnya yang memerah.
Zein menghampiri Alika yang kesusahan membuka resleting bajunya yang ada di belakang.
"Sini! aku bantu buka, aku jadi penasaran dengan isi didalamnya." Tawar Zein menggoda.
Zein kini berada di belakang Alika. Membuka resleting baju Alika kemudian membalikkan tubuh Alika menghadapnya. Tatapan mata keduanya bertemu, terasa ada yang menggelenyar didalam dada Alika ketika Zein menurunkan res bajunya, apalagi sekarang mereka bertatapan begitu dalam. Oh Tuhan, rasanya jantung Alika ingin meledak saat itu juga.
"Pakai baju tidur dulu Zein. Aku akan mandi." Ujar Alika.
__ADS_1
"Ngapain pakai baju jika nantinya dibuka lagi?" Jawab Zein dengan santainya membuat Alika segera waspada dan segera berjalan menuju kamar mandi dengan memegang gaun yang hampir melorot.
Zein kembali terkekeh dengan sikap pemalu Alika, "Sejak kapan gadis barbar itu jadi pemalu?" Tanya Zein pada dirinya sendiri geleng-geleng kepala kemudian duduk di sisi tempat tidur sambil menunggu Alika keluar dari kamar mandi.
Setelah beberapa menit menunggu, Alika keluar dari kamar mandi menggunakan bathrobe dengan lilitan handuk kecil di kepalanya.
Alika melihat Zein menatapnya kemudian mendekati Alika sebelum mengambil pakainnya.
"Zein, mau ngapain?" Tanya Alika gugup mundur dua langkah secara perlahan.
"Ssttt..." Zein meletakkan jari telunjuk di bibir Alika membuat Alika diam seribu bahasa. Zein menahan tengkuk Alika lalu menciumnya dengan lembut membuat Alika ikut menikmatinya. Perlahan Alika menutup mata mengikuti tarian lidah yang Zein lakukan didalam mulutnya.
Zein melepaskan bibirnya lalu menatap Anastasya lebih dalam. Jantung keduanya semakin tak beraturan mengikuti napas yang ikut memburu. Alika tahu apa yang sedang di inginkan suaminya saat ini. Ia mengangguk lalu menunduk untuk menghilangkan wajahnya yang sudah bersemu merah.
Melihat Alika mengangguk, Zein tidak ingin membuang kesempatan. Ia kembali mencium bibir Alika lebih dalam dan memabukkan, saat Alika mulai kehabisan napas, Zein melepasnya kemudian mengangkat tubuh Alika keatas tempat tidur yang dihiasi kelopak bunga mawar merah yang berhamburan.
Kini Zein tepat berada diatas tubuh Alika, menatap manik Alika yang juga memandangnya dengan wajah memerah. Zein kembali menyatukan bibirnya lebih dalam sambil tangannya menjelajah ke area tubuh Alika yang sensitif. Desah napas Alika tertahan kala Zein menyentuh diarea yang tepat. Tangan Zein membuka tali bathrobe kemudian melemparnya ke sembarang arah.
Zein menatap seluruh tubuh istrinya dari atas hingga ke bawah dengan lekat. Alika benar-benar cantik dengan tubuh polosnya, sungguh indah pemandangan yang ada di depannya, Alika semakin malu dan merona membuat Zein tersenyum tanpa berkedip.
"Aku akan melakukannya dengan pelan-pelan agar kamu tidak terlalu kesakitan." Ujar Zein sebelum menyatukan tubuhnya.
Alika mengangguk kemudian Zein segera melakukan penyatuan.
Keduanya pun terhanyut dalam tarian tengah malam penuh asmara, membuat mereka terbang menikmati indahnya surga dunia kemudian melakukan pelepasan bersama. Zein mengeluarkan bibit unggulnya di dalam, lalu mengusap perut rata Alika, berharap akan segera hadir Zein junior di sana.
Pertarungan selesai setelah dua jam berlalu, Zein mengusap peluh di dahi Alika lalu mengeratkan pelukannya. Zein menarik selimut menutupi tubuh mereka hingga dada.
"Apa itu sakit?" Tanya Zein melirik kebawah.
"Sedikit." Jawab Alika padahal ia sangat kesakitan saat saat memasukinya. Alika kemudian mengeratkan pelukannya. Berbantalkan lengan Zein, ia menutup mata mengingat apa yang baru saja mereka lakukan. Baru saja Zein membuatnya melayang dan kewalahan, ia tidak bisa mengimbangi permainan Zein yang menurutnya sangat menggairahkan bagaikan pria yang sudah sangat berpengalaman. Entah dari mana Zein mempelajarinya. Ah, mungkin Zein sudah biasa melakukannya dengan Monika, pikirnya. Tidak mau memikirkan hal yang belum tentu benar, toh sekarang Zein sudah menjadi miliknya, bukan Monika atau siapapun gadis di luar sana.
Alika tersenyum membayangkan yang mereka lakukan barusan, hingga menutupi matanya dengan kedua tangannya. hatinya begitu bahagia karena menyerahkan keperawanannya pada suaminya.
"Jangan membayangkan yang aneh-aneh. Besok pagi kita akan mengulangnya lagi." Ucapan Zein membuatnya sontak membuka mata.
'Astaga Zein..! Kok, kamu bisa tau apa yang sedang aku pikirkan?' Batin Alika kemudian menarik selimut menutupi kepalanya.
__ADS_1
"Tidurlah! sebelum aku memakan mu kembali." Ujar Zein kembali tanpa membuka mata.
Alika mengangguk lalu kembali menutup matanya. Ia tidak mau Zein melakukannya kembali karena ia masih sangat lelah dengan bagian inti yang masih perih dan sakit akibat ulah Zein.
Tidak lama kemudian, keduanya berselancar ke alam mimpi.
....................
Satu tahun kemudian.
Setahun kemudian, kebahagiaan Zein dan Alika bertambah dengan kehadiran bayi mungil yang sangat cantik bernama Nayara Adisty Dirgantara di rumah sakit International hospital Roma.
Kakek Hutama telah meninggal beberapa bulan yang lalu karena penyakit jantungnya yang sudah tidak bisa diobati. Sebelum meninggal ia mewariskan seluruh kekayaannya pada Zein, ia juga berpesan agar Zein dan Alika selalu hidup bahagia.
.
.
......Tamat.....
Hai readers.. terimakasih banyak sudah membaca karya Author. Jika ada kesalahan kata mohon maaf sebesar-besarnya ya 🙏🙏🙏
Jangan lupa baca karyaku yang lain.
#Maduku Tak Berhati#
#Wanita Kedua Suamiku#
#Terpaksa Menikahimu#
__ADS_1