
Mereka memasuki rumah setelah satu jam berada di perkebunan. Alika dan Zein langsung masuk ke dalam kamar masing-masing. Zein mengerjakan pekerjaan yang Ramon kirim lewat e-mail begitupun dengan Alika mengerjakan pekerjaannya bersama Meriska. Tidak lama kemudian ponsel Alika berbunyi. Ia menggeser tombol hijau setelah melihat kata Mama yang tertera dilayar.
"[Halo Mah.]" Jawab Alika setelah melihat wajah Belinda di layar ponselnya.
"[Halo sayang..! gimana kabar kamu?]" Tanya Belinda.
"[Baik Mah, Mama nggak usah khawatir, disini Alika sangat senang. Perkebunan Kakek sangat luas, banyak buah-buahan dan sayurannya. Alika baru saja ke sana bersama Zein.]" Semangat Alika.
"[Bagaimana hubungan kalian? sudah ada kemajuan kan?]" Tanya Belinda.
Wajah Alika seketika merona, ada sesuatu di dalam hatinya yang sedang ia sembunyikan dalam-dalam.
"[Alika Mama sedang bertanya? kenapa kamu malah diam?]"
"[Ini juga mau jawab Mah, hubungan kami baik-baik aja.["
"[Bukan itu maksud Mama, kalian sudah saling mencintai kan?["
"[Belum Mah.]"
"[Hahh... kenapa kau tidak berusaha mendekati Zein. Mama tau dia itu pria yang dingin, maka dari itu kamu yang harus lebih agresif sayang.]" Bujuk Belinda. Ia baru saja menghubungi Feronika membicarakan hubungan Alika dan Zein.
"[Mama apa-apaan sih! Alika nggak mau ah..! apa kata dunia jika aku mengejar Zein. Biasanya laki-laki yang mengejar Alika. Bisa kiamat dunia jika aku melakukannya. Alika nggak mau menjatuhkan harga diri Alika, Mah!]"
"[Tidak usah menjatuhkan harga diri sayang, Mama hanya minta kamu mencoba mendekatinya biar nggak dingin dalam bersikap. Sebenarnya Zein itu sangat baik, kamunya aja yang nggak tau cara menarik perhatiannya.]" Nasihat Belinda.
"[Baik apanya? orang dia selalu ngerjain Alika.]" Ketus Alika.
"[Kamu nurut kata Mama aja. Jika bukan kamu yang memulai, dia akan tetap bersikap dingin sayang..!]"
"[Iya Mah, Alika akan ikuti saran Mama.]" Pasrah Alika.
"[Bagaimana keadaan Kakek?]"
Belinda mengalihkan pembicaraan padahal sebenarnya ia sudah tahu keadaan Hutama dari Feronika.
"[Kakek juga sudah lebih baik.]"
"[Jadi kapan kalian pulang? persiapan pernikahan sudah Mama Zein persiapkan. Tinggal menunggu keadaan Kakek membaik.]"
__ADS_1
"[Aku juga belum tau Mah! Liat keadaan Kakek dulu.]"
"[Baiklah, kabari Mama jika kalian akan pulang.]"
"[Iya Mah.]"
Belinda memutuskan sambungan teleponnya begitupun dengan Alika.
Alika meletakkan ponselnya diatas meja kemudian keluar dari kamar. Tidak tau mau kemana ia memilih mengetuk pintu kamar Hutama.
Tok.. tok.. tok..!
"Kakek boleh aku masuk?" Tanya Alika di depan pintu kamar.
Hutama tidak menjawab, suaranya sama sekali tidak terdengar oleh Alika.
Alika memutar knop pintu kamar kemudian masuk. Terus melangkah hingga berdiri tepat di samping tempat tidur Hutama. Melihat Hutama memejamkan mata, ia berpikir akan keluar karena tidak ingin mengganggu waktu istirahat Hutama. Ia melirik jam dinding di dalam kamar, waktu sudah menunjukkan pukul satu siang, sudah waktunya Hutama makan dan minum obatnya.
Alika memberanikan diri membangunkannya untuk makan. Tapi Hutama sama sekali tidak bangun. Karena khawatir ia memeriksa denyut nadi Hutama yang mulai melemah.
"Kakek." Pekik Alika, ia mundur beberapa langkah kemudian segera keluar ke kamar Zein.
"Zein." Teriak Alika langsung masuk ke dalam kamar tanpa mengetuk pintu.
Alika tertegun menikmati pemandangan yang Zein suguhkan. Ia bahkan lupa akan tujuannya masuk untuk memanggil Zein.
Zein tersenyum tipis berjalan mendekati Alika, aroma sabun dari tubuhnya menusuk hingga ke indera penciuman Alika. Tanpa kata ia mengambil tangan Alika meletakkannya di bahu.
Bagaikan terhipnotis oleh Zein. Alika hanya diam mengikuti kemana arah tangannya akan bergerak.
Zein mulai memejamkan mata saat Alika menyentuhnya. Wajahnya mulai memerah menahan gairah yang baru saja ia ciptakan. Awalnya hanya ingin mengerjai Alika, tapi semuanya berubah saat Alika menyentuh bagian yang sensitif di dada bidangnya, sentuhan dari bahu hingga ke perut yang sangat lembut dan mampu membuat jiwa kelaki-lakiannya meronta. Sesuatu dibawah sana mulai menegang dan sedikit lagi akan keluar karena hanya handuk yang menjadi penghalangnya.
Alika belum menyadari perbuatannya, tetap fokus pada bagian depan tubuh Zein.
Zein menunduk, menarik pinggang Alika masuk ke dalam dekapannya. Tanpa ijin mengecup bibir Alika, kecupan yang awalnya biasa, namun semakin dalam dan rakus saat Alika memberi celah.
Alika Ikut menikmatinya dan mulai membalas ciuman Zein. Pikirannya ingin menolak tapi tubuhnya menginginkan lebih. Detak jantung yang mulai tidak beraturan, semakin memompa darahnya yang kian berdesir. Sungguh, kali ini Alika dan Zein sangat menikmatinya karena kali ini mereka berdua melakukannya dengan kesadaran penuh.
Zein tiba-tiba melepaskan bibirnya, wajahnya sedikit mundur menatap manik indah yang dapat mengalihkan perhatiannya.
__ADS_1
"Bernapas Alika! apa kau mau mati hanya karena kita ciuman?" Kesal Zein karena Alika menahan napas selama mereka ciuman.
Masih seperti tersihir oleh pesona Zein. Alika menuruti kata-katanya, bernapas dan menarik oksigen sebanyak-banyaknya. Tidak lama kemudian Zein kembali menahan tengkuknya melanjutkan apa yang seharusnya ia lakukan kembali hingga beberapa menit. Karena terlalu menikmati, mereka tidak menyadari jika seseorang sedang berdiri di depan pintu yang sedikit terbuka.
Alika baru sadar, ia juga dapat merasakan sesuatu yang keras yang sedang menusuknya dibawah sana.
"Aaa.... apa yang kau lakukan Zein?!" Teriak Alika mundur kemudian memegang bibirnya.
Zein segera menutup mulut Alika, melirik ke arah pintu yang masih sedikit terbuka. Ia takut seseorang sedang melihat perbuatannya.
"Ssstt.. Jangan teriak-teriak! apa kau mau kita dilihat orang? tuh pintunya kau lupa tutup. Lain kali kalau mau masuk di kamarku, pintunya kamu kunci, biar kamu bebas melakukan apapun padaku."
Zein berucap seolah dia tidak bersalah, menyudutkan Alika seakan Alika yang memulai untuk menggodanya hingga mereka berciuman dalam waktu yang cukup lama.
"Apa kamu bilang? aku menggodamu? yang benar aja Zein, kau yang tiba-tiba menarikku." Geram Alika tidak terima.
Zein berjalan menuju lemari mengambil pakaian santai untuk ia gunakan.
"Apa kau masih ingin disini melihatku membuka handuk?" Ejek Zein sambil meletakkan pakaiannya diatas tempat tidur. Ia mulai memegang handuknya seolah ingin membukanya.
Sumpah demi apapun Alika sangat malu, rasanya ingin sekali memakan Zein hidup-hidup. Matanya melotot dengan wajah yang memerah. Seandainya bisa ia bersembunyi, maka ia akan segera berlari agar Zein tidak melihat wajahnya.
"Dasar pria mesum! Cepat pakaian dan lihat keadaannya Kakek. Aku menunggumu di sana." Ujar Alika sebelum melangkahkan kakinya keluar dari dalam kamar.
Alika segera kembali kekamar Hutama, langkahnya kembali pelan saat melihat Hutama tersenyum sambil duduk bersandar di kepala tempat tidur.
"Kamu dari mana nak? kenapa wajahmu memerah?" Tanya Hutama menyambut kedatangannya.
Alika duduk di tepi ranjang, memegang tanga Hutama dengan sangat lembut.
"Kakek baik-baik saja?" Tanya Alika memastikan karena dia sempat menghawatirkan kesehatan Hutama.
"Seperti yang kamu lihat, Kakek baik-baik saja." Jawab Hutama sambil menaikkan kedua bahunya, "Kamu belum menjawab pertanyaan Kakek, kamu dari mana?" Ulangnya.
.
.
Bersambung....
__ADS_1
Sahabat Author yang baik ❤️
Jangan lupa, Like, Komen, Hadiah, Dukungan dan Votenya ya! 🙏🙏