
"Tidak usah nak, kamu fokus aja dengan Zein. Masalah Alan biar Papa yang selesaikan. Kirimkan bukti rekamannya ke ponsel Papa, biar Papa yang mengurus semuanya.
"Tapi Pah." Protes Alika.
"Siapa nama orang itu?" Tolak Hendrik.
"Sander." Singkat Alika.
"Papa tidak mau kamu berurusan dengan pembunuh itu lagi. Kau tau bagaimana perasaan Papa mendengar rekaman tadi? Papa lebih khawatir denganmu berhadapan dengan Sander dari pada mendengarkan omongannya. Lain kali jangan melakukan hal bodoh seperti ini. Jika ingin melakukan sesuatu yang berbahaya, setidaknya terlebih dahulu bilang ke Papa. Papa masih hidup nak, Papa masih bisa menjagamu dengan baik. Lihat apa yang di lakukan Kakakmu. Dia menghadapi pembunuh itu seorang diri tanpa bicara apa-apa. Akhirnya jadi begini kan? Dia pergi meninggalkan kita semua. Papa tau kalian anak yang mandiri, tapi jangan lupa jika Papa akan selalu ada untuk kalian, mendampingi kalian dalam menghadapi masalah. Papa tidak mau kehilangan kamu Alika, cukup Alan yang pergi! rasanya Dia membawa separuh semangat hidup Papa, kamu jangan. Cuma kamu harapan hidup Papa satu-satunya, kamu harus lebih menjaga diri mulai dari sekarang, bisa jadi setelah Papa melaporkan orang itu, kamu akan menjadi sasarannya." Ungkap Hendrik.
Ramon dan Zein ikut berpikir, apa yang dikatakan Hendrik benar, nyawa Alika akan menjadi incaran Sander.
"Alika akan menjadi tanggung jawab aku Om. Om fokus aja pada kasus Alan." Sela Zein.
"Baik, terimakasih Zein, kali ini Om mengandalkanmu, jangan biarkan orang itu mendekati atau melukai Alika, jika itu terjadi nyawamu sebagai taruhannya." Ancam Hendrik.
Zein mengangguk mengerti maksud ucapan Hendrik. "Ia Om, aku paham. Jadi kapan Om akan melaporkan Sander dan Monika?" Tanya Zein.
"Secepatnya, Om akan bicara dengan pengacara Om terlebih dahulu. Nanti Om akan kabari perkembangannya." Jawab Hendrik.
"Iya Om, jika butuh bantuan Zein, Zein akan bantu apapun itu." Ujar Zein.
"Makasih nak! Cukup bantu Om menjaga Alika dengan baik." Hendrik menepuk pundak Zein. Ia menaruh harapan besar pada Zein untuk Alika.
"Baik Om." Yakin Zein.
Alika dan Ramon hanya menjadi pendengar setia. Alika tidak berani memotong pembicaraan Papanya dan Zein yang sedang bicara serius. Apalagi saat Hendrik menepuk pundak Zein, ia tahu saat ini Papanya sedang menitipkan dirinya pada Zein.
"Alika, Papa ingin kamu menuruti kata-kata Zein. Jangan suka melakukan sesuatu tanpa sepengetahuannya. Kali ini Papa nggak mau tau, kau tidak boleh melawan atau menolak perintahnya. Anggap saja kau menuruti kata-kata Papa. Jelas?"
"Jelas Pah!" Pasrah Alika.
Alika pasrah kemudian mengerucutkan bibirnya, percuma melawan jika Hendrik yang berbicara. Sedangkan Zein tersenyum melihat tingkah Alika seperti anak kecil.
Alika mendelik ke arah Zein yang sedang mengejeknya, hari ini ia benar-benar kalah oleh Zein. Zein yang kaku dan dingin mengalahkan Alika yang cerewet dan barbar.
Sedangkan Ramon pura-pura melihat layar ponselnya, padahal ia sedang melirik Alika dan Zein secara bergantian. "Hahh, kapan mereka akur ya?" Batin Ramon.
"Satu lagi nak, masalah ini Mama kamu nggak usah tahu. Biar ini menjadi rahasia kita. Papa nggak mau Mama kamu kepikiran dan jatuh sakit." Jelas Hendrik.
"Iya Pah, Alika janji akan merahasiakannya." Ujar Alika.
Setelah membicarakan masalah Sander, mereka kembali ke apartemen Zein.
__ADS_1
................
Beberapa hari kemudian.
Frans meminta bertemu dengan Alika untuk meminta penjelasan hubungannya dengan Zein. Frans tidak terima Alika bertunangan tanpa kehadirannya. Frans bertemu Alika dan Meriska di perusahaan lalu marah padanya.
Sekarang mereka duduk bertiga di ruang kerja Alika saling melirik satu sama lain.
Prakk!
Frans sengaja memukul meja agar Alika dan Meriska tau kalau dia sedang marah. Sontak Alika dan Meriska kaget dan memegang dadanya.
"Apa kalian tau kalau aku sedang marah besar pada kalian?" Bentak Frans .
Keduanya hanya mengangguk menyadari kesalahan masing-masing.
"Kenapa hal sebesar ini kalian rahasiakan dariku? Apa kalian tidak menganggapku ada?" Geram Frans pada Alika dan Meriska, "Kau kenapa bertunangan dengan Zein tanpa memberitahuku? setidaknya telpon agar aku datang." Frans menunjuk Alika, lalu beralih menunjuk Meriska, "Kau juga, Alika tidak memberitahuku kenapa kau diam saja? Apa kalian sengaja bekerja sama?" Kesal Frans.
"Maaf Frans, sebenarnya aku memang sengaja menyembunyikannya, tidak ada temanku yang tau selain Meriska. Awalnya aku pikir pertunangan ini hanya sementara karena aku dan Zein sama-sama terpaksa melakukannya, kami sepakat akan mencari cara dan waktu yang tepat untuk membatalkannya, jadi untuk apa memberitahu orang-orang." Jelas Alika.
"Setidaknya aku tahu, agar aku tidak seperti orang bodoh saat tunanganmu itu mengatakannya padaku!" Frans masih kesal mengingat wajah datar Zein saat melihatnya. Zein seolah ingin menerkamnya hidup-hidup saat melihat kedekatannya dengan Alika.
"Kamu ini kenapa sih! Alika yang tunangan, kenapa kau yang kebakaran jenggot? ada-ada aja deh..!" Meriska menimpali sambil melipat kedua tangannya didada.
"Siapa juga yang mau datang, Ia kan Alika?" Canda Meriska.
"Hmm." Alika menganggukkan kepalanya sambil tersenyum tanda setuju.
"Dasar kalian sahabat durhaka!" Umpat Frans.
"Sudah ah jangan marah lagi! nanti kau cepat tua, nggak laku-laku baru tau rasa kau." Kesal Meriska.
"Mana mungkin dokter yang tampan kayak gini nggak laku? Aku bisa mendapatkan gadis manapun yang aku mau." Ujar Frans pernah percaya diri.
"Kecuali Alika ya kan?" Ejek Meriska.
"Hehehe, itu karena kami sahabat, coba kalau nggak, aku sudah menikahinya sejak dulu." Ungkap Frans.
"Sudah, berhenti bercandanya, Meriska pesanankan makanan dong..! kita makan di sini aja, aku sudah sangat lapar." Pinta Alika.
"Kita makan di Cafe depan kantor kamu aja. Sudah lama kita nggak makan bareng ya?" Melas Frans.
"Baiklah, ayo." Ajak Alika lalu mengambil ponsel dan sling bagnya.
__ADS_1
Mereka keluar bersama dari ruangan Alika. Saat melewati ruangan Meriska, Ia masuk sebentar untuk mengambil ponselnya diatas meja.
Mereka kemudian masuk ke dalam lift, tanpa sengaja mereka bertemu dengan Monika dan Nura yang baru saja menyelesaikan pemotretannya.
"Bu Alika." Sapa Nura.
Alika tersenyum membalas sapaan Nura, sedangkan Monika sibuk mengirim pesan pada Sander.
"Bagaimana pemotretannya, apa sudah selesai semua?" Tanya Alika pada Nura.
Alika tidak menyapa Monika karena sangat marah melihatnya. Melihat Monika mengingatkannya pada kakaknya Alan yang meninggal karena ulahnya.
"Sudah Bu' Kontrak sudah selesai dan aku sudah mengurus semua administrasinya. Senang bekerjasama dengan perusahaan Ibu Alika. Jika masih ada kesempatan untuk bekerja sama lagi kami siap." Ujar Nura dengan Sopan.
"Sama-sama Nura, kamu gadis yang baik dan pekerja keras. Aku sangat suka dengan kinerjamu. Jika suatu saat kamu butuh bantuan, jangan sungkan untuk mencariku atau Meriska." Ujar Alika tulus, ia merasa kasihan pada Nura jika Monika masuk penjara. Nura pasti tidak memiliki pekerjaan.
Nura mengernyitkan keningnya, Ia heran kenapa Alika bicara seperti itu padanya.
"Apa maksudmu? Nura tidak butuh bantuan siapapun, segala keperluan sudah aku penuhi." Sela Monika setelah mendengar Alika.
"Maaf Monika, kami tidak bermaksud apa-apa. Jika kalian tidak butuh bantuan kami juga nggak masalah, kami hanya menawarkan saja." Jelas Meriska menahan amarahnya. Jika saja Alika tidak menahan tangan Meriska, mungkin
dia sudah menampar wajah Monika karena mengingat kematian Alan.
Tidak lama kemudian pintu lift terbuka, mereka keluar satu persatu menuju pintu keluar gedung.
"Sekali lagi terima kasih bu Alika, sampai jumpa." Ujar Nura.
Nura dan Monika kemudian bersalaman dengan Meriska dan Alika lalu berpisah di lobi.
Meriska, Frans dan Alika keluar dari gedung hanya dengan berjalan kaki karena letak Cafe berada tepat di hadapan kantor Alika. Mereka menyebrangi jalan sambil bergandengan tangan dengan posisi Frans di tengah.
Tanpa mereka sadari seseorang sedang mengawasi gerak-gerik mereka. Ia mengepal kuat setir mobil yang di kendarainya lalu turun dari mobil dan ikut masuk ke dalam Cafe.
.
.
Bersambung....
Sahabat Author yang baik ❤️
Jangan lupa, Like, Komen, Hadiah, Dukungan dan Votenya ya! 🙏🙏
__ADS_1