Calon Istri Milyader

Calon Istri Milyader
Kerja Sama


__ADS_3

Mereka pun berbalik memastikan suara itu.


"Siapa yang kalian bicarakan? pagi-pagi sudah bergosip, kamu sudah kayak ibu-ibu komplek, Ramon." Ejek Alika.


"Itu, anu.."


Ramon jadi gugup menjawab pertanyaan Alika. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, tapi matanya melirik Zein yang menatapnya dengan tatapan mengintimidasi.


"Mampus aku." Batin Ramon.


"Untung Zein dan Alika tidak mendengar omongan kami sebelumnya. Jika ia, bisa mati aku dimakan singa jantan dan betina ini, ih.." Batin Meriska kemudian tanpa sadar bergidik ngeri.


"Kenapa cuma kalian yang ada di sini?" Tanya Zein.


"Meetingnya sepuluh menit lagi." Jawab Meriska.


Zein melihat jam mewah ditangannya. Masih ada waktu sepuluh menit untuk meeting. Ia kemudian melirik Alika yang hendak duduk. "Kalau begitu panggil aku di ruangan Alika saat meeting akan dimulai." Perintah Zein kemudian menarik tangan Alika keluar dari ruang meeting.


"Kenapa kita nggak tungguin aja?" Protes Alika sambil berjalan bersama Zein.


"Ayo sayang... aku merindukanmu. Aku tidak bisa tidur semalaman karena memikirkanmu." Melas Zein kemudian masuk kedalam lift menuju ruang kerja Alika.


"Jangan macam-macam Zein, ini kantor. "


"Siapa yang mau macam-macam sayang..! cuma satu macam kok."


Alika mulai waspada, begitu pintu lift kembali terbuka, Ia segera berjalan lebih dulu menuju ruangannya.


Karyawan yang melihat bosnya keluar dari lift, berdiri kemudian menyapanya.


"Selamat pagi bu." Ucap mereka bergantian.


"Pagi semua." Jawab Alika dengan sejuman termanisnya sambil berjalan.


Sedangkan pada Zein, mereka tidak berani menyapa kecuali menunduk dan diam. Mungkin karena aura dingin dan datar Zein yang membuat mereka segan dan takut padanya.


"Sayang.. kenapa karyawanmu tidak ada yang menyapaku?" Protes Zein saat mereka berada di dalam ruangan Alika.


"Mungkin karena wajah kamu yang seram dan menakutkan, hehehe.. ." Ejek Alika.


"Mana ada wajah tampan seperti ini menakutkan? yang ada mereka terpesona. Ah, Kamu pasti bercanda ya.. kamu mau bilang itu karena aku terlalu tampan kan?" Goda Zein kemudian menaikkan kedua alisnya.


"Ihh... PD-nya kebangetan!" Ejek Alika.


Zein mendekat, meraih pinggang Alika kemudian merapatkan tubuhnya hingga tak berjarak. Satu tangannya membelai sisi wajah Alika dengan lembut membuat Alika terbuai dan langsung memejamkan mata.


"Zein.."

__ADS_1


"Ssttt... hanya sebentar sayang..! biarkan aku melepas rasa rinduku." Bisik Zein di belakang telinga Alika hingga napasnya menyentuh permukaan kulit Alika.


Alika semakin gugup dan detak jantungnya mulai berdebar begitu kencang. Zein mencium bibir Alika begitu lembut membuat Alika ikut menikmatinya dan membiarkan Zein mengekspos seluruh isi didalamnya. Tangan Zein tidak tinggal diam, mulai membuka satu persatu kancing kemeja Alika untuk mencari benda squisy yang telah membuatnya tidak bisa tidur semalaman karena mengintip di balik baju tipis Alika. Saat kancing ketiga terbuka tiba-tiba.


Tok.. tok.. tok..


Suara ketukan pintu membuat Zein dan Alika tersentak mundur. Wajah Zein memerah karena kesal. Pemburuannya kali ini gagal karena orang lain.


"Zein.. aku liat dulu." Ujar Alika kemudian berbalik untuk membuka pintu.


"Jangan." Zein segera menarik tangan Alika.


"Hanya sebentar, mungkin itu penting sayang..."


"Aku tidak mengizinkanmu."


"Zein, Jangan seperti anak kecil. Ingat ini kantor."


"Yang seperti anak kecil siapa?"


"Kamu."


"Kamu mau membuka pintu dalam keadaan seperti Itu...?"


Zein menunjuk dada Alika membuat Alika seketika menunduk.


Alika segera mengancing bajunya, ia tidak sadar saat Zein melepasnya karena terlalu menikmati sensasi ciuman yang di berikan Zein.


"Aku tidak melakukan apa-apa sayang, aku hanya mencari sesuatu yang ingin aku pegang, bukannya tadi malam kamu meyuruhku memegangnya?."


Alika mendelik kemudian memukul dada Zein. "Ihh.. menyebalkan."


Alika membuka pintu setelah kancing bajunya rapi.


"Maaf Nona, rapat akan segera dimulai." Ujar Ramon.


"Terimakasih Ramon, kami akan menyusul."


"Permisi Nona." Pamit Ramon menunduk sejenak, kemudian melirik Zein yang menatapnya dengan tajam sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


"Pasti aku mengganggunya lagi, wajahnya memerah, apa yang sedang mereka lakukan?" Batin Ramon.


"Kenapa masih disitu? sana pergi."


"Permisi bos!" Pamit Ramon kemudian kembali ke ruang meeting.


Tidak lama kemudian Alika dan Zein juga masuk ke ruang meeting.

__ADS_1


Meeting berjalan dengan lancar selama dua jam, dihadiri delapan orang dari empat perusahaan yang berbeda. Produk makanan yang akan diluncurkan perusahaan Zein, akan ditangani oleh perusahaan Alika sebagai pemasarnya. Mereka keluar satu persatu dari ruang meeting dengan raut wajah yang berbeda.


Alika keluar karena senang mendapatkan proyek, sedangkan Zein bisa memiliki alasan pada Hendrik untuk keluar masuk ke perusahaan Alika dengan alasan pekerjaan.


Berbeda dengan Meriska antara senang dan kesal. Senang karena mendapatkan proyek besar, kesal karena pasti akan selalu berurusan dengan Ramon yang menyebalkan.


Bagaimana dengan Ramon? tentu saja dia biasa saja, yang ada dikepalanya hanya mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya untuk menikmati hari tuanya kelak, bahkan ia belum memikirkan untuk menikah dan berkeluarga.


Saat keluar ruangan Ramon menerima telpon dari seseorang, ia menjauh dari semua orang dan tampak memarahi orang dibalik telepon. Setelah selesai ia mendekati Zein kemudian mengajaknya untuk segera pergi.


"Bos, ada sedikit masalah, sepertinya kita harus pergi." Ujar Ramon.


"Ada masalah apa?" Tanya Zein.


"Masalah dana untuk semua Yayasan, ada beberapa pihak yang korupsi karena dana yang perusahaan keluarkan tidak sesuai dengan dana yang Yayasan teriman." Lapor Ramon.


Zein memiliki beberapa Yayasan di Italia, Roma dan Indonesia. Mulai dari sekolah, panti asuhan dan panti jompo dan bantuan untuk keluarga yang tidak mampu.


"Sayang, aku pergi dulu ya..? nanti aku menjemputmu setelah urusanku beres." Pamit Zein kemudian mengecup kening Alika.


"Hati-hati, bye-bye." Ujar Alika.


Zein segera pergi bersama Ramon menuju mobil. Kemudian menuju ke salah satu Yayasan yang melaporkan masalah yang terjadi.


Setelah empat puluh menit, mereka tiba dan langsung menuju ke ruang ketua Yayasan.


Setelah mendapatkan laporan keuangan semua Yayasan dan bukti transferan yang masuk serta menghubungkan kemana saja aliran dana yang dikeluarkan oleh Graz Group. Zein dan Ramon kembali ke kantor. Mereka tidak habis pikir dengan kepala keuangan dan karyawan yang terlibat. Bagaimana bisa mereka berpikir untuk mengambil keuntungan dengan memotong dana sosial yang jelas-jelas untuk membantu orang lain.


"Panggil mereka ke ruanganku." Tegas Zein setahun pintu lift di lantai ruangannya terbuka.


"Baik Tuan."


Ramon segera makukan tugasnya. Hanya dalam waktu beberapa menit. Mereka yang terlibat telah berdiri dihadapan meja Zein dengan kepala menunduk dan lutut gemetar.


Zein yang duduk bersandar di kursinya melihat karyawannya satu persatu. Tangannya mengepal kuat dengan wajah memerah karena emosi.


"Angkat kepala kalian dan lihat aku baik-baik." Bentak Zein sontak membuat ketiganya mengangkat kepala tapi takut melihat Zein.


"Apa kalian tau apa kesalahan kalian?"


"Ti.. tidak Tuan." Jawab salah satu dari mereka dengan suara yang bergetar.


Zein menatap mereka penuh intimidasi kemudian melempar berkas diatas mejanya ke arah mereka bertiga.


"Dimana hati nurani kalian?! ambil dan baca."


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2