Calon Istri Milyader

Calon Istri Milyader
Kedatangan Ramon


__ADS_3

Ramon beranjak menuju ruang tamu setelah makanannya habis. Ia memutuskan duduk di sofa sambil menunggu Zein bangun tidur. Ramon mengeluarkan laptopnya lalu menyelesaikan pekerjaannya yang sempat tertunda dikantor.


Satu jam kemudian mata Zein terbuka lebih dulu. Ia mencium ujung kepala Alika lalu mengusapnya dengan lembut. Setelah itu, ide jahil muncul tiba-tiba dari dalam kepalanya.


Alika menggeliat, matanya membulat saat sadar dirinya sedang tidur memeluk Zein. Ia kembali pura-pura menutup mata karena malu. Takut Zein bangun dan mengejeknya karena berani memeluk Zein.


"Ayo bangun! jangan pura-pura tidur. Aku bukan bantal yang bisa kau tiduri seenaknya."


Alika membuka mata, lalu segera memperbaiki posisi duduknya.


Zein merenggangkan otot-ototnya lalu berjalan ke kursi rodanya.


"Zein! kamu sudah bisa jalan sendiri?" Tanya Alika nggak percaya, Ia memang pernah melihat Zein jalan, tapi tidak selincah yang baru saja Zein lakukan.


"Iya, sebenarnya masih harus menggunakan tongkat. Kenapa kamu kaget? apa kamu nggak senang aku bisa jalan?" Tanya Zein.


"Nggak boleh suudzon! mana mungkin aku sejahat itu. Aku tuh seneng banget jika kamu sembuh dan bisa berjalan seperti biasa. Itu artinya aku sudah boleh pulang ke rumah karena nggak perlu merawat kamu lagi." Jelas Alika.


"Kamu akan tetap tinggal disini sampai kita menikah!" Tegas Zein langsung menjalankan kursi roda keluar dari ruang kerjanya.


Alika melongo, matanya seketika membola mendengar ucapan Zein. Ia tidak percaya jika Zein akan mengatakan itu padanya.


"Zein tunggu." Panggil Alika saat Zein hendak membuka pintu ruangan.


Zein berhenti lalu berbalik melihat Alika dengan wajah panik dan kebingungan.


"Apa lagi?"


"Apa maksudmu?"


"Kamu nggak tuli kan? Kita akan segera menikah. Ini sudah menjadi keputusanku. "


"Apa kau yakin? Maksudku, kau kan tau aku wanita barbar, suka menghambur-hamburkan uang, suka melawan, jahil, manja, suka pakaian terbuka. Apa kau tidak risih atau ilfil dengan wanita seperti itu?" Ungkap Alika agar Zein berpikiran buruk tentangnya.


"Aku tidak perduli."


Alika berpikir keras, agar Zein merubah keputusannya, dia belum siap menikah dalam waktu dekat ini, hatinya masih mencintai Dirga walau Dirga telah menghianatinya.


"Bagaimana jika aku seperti Monika yang hanya memanfaatkanmu? Apa kau masih yakin mau menikah denganku?"


"Hehehe, Aku nggak masalah jika kau memanfaatkan aku, aku malah dengan senang hati menerimanya. Satu lagi, kau tidak akan seperti Monika yang tega menghabisi nyawa orang lain!" Tegas Zein.


"Tapi, aku..."


"Sudahlah, persiapkan saja dirimu, karena kau tidak akan bisa lari dari pernikahan ini." Jelas Zein kemudian membuka pintu lalu keluar.


Saat ingin menuju kamar, Zein melihat Ramon duduk di sofa ruang tamu sambil menatap layar ponselnya dengan serius. Zein menuju ruang tamu menghampiri Ramon karena penasaran.


"Sejak kapan kau disini?" Tanya Zein.


Ramon melihat jam tangan mahal di pergelangan tangannya. "Sudah hampir satu jam." Jawab Ramon.

__ADS_1


"Satu jam?" Zein mengernyitkan keningnya.


"Iya." Ramon mengangguk.


"Kenapa kesini tanpa memberitahuku?" Tanya Zein.


"Aku khawatir dengan kalian berdua. Apalagi saat aku mengetuk pintu dari luar. Aku hampir jamuran menunggu kalian bukain pintu." Jawab Ramon dengan kesal.


Zein berpikir sejenak. Bagaimana bisa ia membuka pintu sedangkan dirinya ketiduran bersama Alika di ruang kerjanya.


"Ah, sudahlah, apa kau sudah makan?"


"Sudah! di dapur ada makanan, jadi aku makan aja."


"Dasar tidak punya sopan santun!" Sudah masuk apartemen tanpa permisi, makan, duduk di ruang tamu, apalagi yang telah kau lakukan?"


"Hehehe, rahasia." Kekeh Ramon.


Zein mendengus kesal kata-kata Ramon membuatnya berpikir jika Ramon pasti telah melihatnya tidur berpelukan dengan Alika.


"Apa yang kau kerjakan?"


"Laporan data perusahaan, aku hanya mengeceknya." Jawab Ramon.


Ramon pura-pura mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Alika.


"Alika mana? Dari tadi aku mencarinya tapi tidak melihatnya, apa dia tidur di kamar ya?"


"Di ruang kerjaku." Jawab Zein.


Ramon hanya diam ia melongo saat melihat Alika, sedangkan Zein menyunggingkan senyum tipis di ujung bibirnya lalu kembali dengan wajah datarnya.


"Apa kalian baik-baik aja?" Tanya Ramon menatap Alika dan Zein secara bergantian.


"Iya, kami baik-baik aja! emangnya kenapa?" Jawab Alika.


"Kalian tidak bertengkar kan?" Tanya Ramon kembali.


"Tidak, kamu ini kenapa sih!" Alika mulai kesal.


"Itu, rambut kamu berantakan." Tunjuk Ramon.


Ramon menunjuk puncak kepala Alika yang berantakan. Alika memegang rambutnya yang memang berantakan kemudian mendelik ke arah Zein.


"Zein! ini pasti ulahmu kan!?" Geram Alika. Wajahnya sudah memerah karena malu pada ramon dan kesal pada Zein. Ingin rasanya Alika bersembunyi di lubang semut saat itu juga.


Zein tersenyum lalu terkekeh melihat ekspresi wajah kesal Alika. Sebelum Alika bangun tidur, ia memang sengaja membuat rambut Alika berantakan. Awalnya ingin mengerjai Alika saat Alika bercermin. Tapi di luar dugaan, ternyata Ramon yang melihat semuanya. Zein hanya pasrah ketahuan oleh Ramon. untuk apa malu, bukankah Ramon sudah melihat semuanya? pikir Zein.


"Kau sangat menyebalkan Zein!" Geram Alika memukul pundak Zein dengan telapak tangannya.


Alika menghentakkan kakinya lalu segera berjalan menuju kamarnya, ia sangat malu pada Ramon saat ini, bisa-bisanya Zein membuat rambutnya berantakan. Apa yang nantinya Ramon pikiran tentang mereka. Memikirkannya saja, malunya sudah setengah mati, apalagi menunjukkan wajah di depan Ramon lagi.

__ADS_1


Prang!


Alika membanting pintu membuat Zein dan Ramon terkejut. Setelah itu, mereka saling melirik lalu tertawa.


Tidak lama kemudian raut wajah Zein kembali datar. "Kau berani menertawakan calon istriku Ramon?"


"Tidak bos!" Elak Ramon menggeleng. Mana mungkin ia berani mengakui jika tingkah Alika memang sangat lucu seperti gadis kecil yang sedang marah karena tidak mendapatkan mainan baru.


"Lalu kenapa kau tertawa?" Selidik Zein.


"Karena bos tertawa, makanya aku juga ikut tertawa." Alasan Ramon.


"Dasar! kau memang pandai mengelak Ramon!"


"Aku belajar dari mu bos!" Batin Ramon.


"Kau pasti melihat kami tidur di ruang kerjaku kan?"


"Tidak bos! mana berani aku." Sergah Ramon kemudian menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Ah, kau makin pandai, aku semakin tidak bisa menutupi sesuatu dari kamu." Kesal Zein ketahuan.


"Gawat! aku bakalan dapat hukuman nih!" Batin Ramon.


Ramon mulai memutar otaknya karena ketahuan. Ia sudah memikirkannya jika ini akan terjadi. Dia harus segera mengalihkan perhatian Zein agar melupakan kesalahannya.


"Ayo Ramon..! Aku tau sekarang kau lagi berpikir untuk menghindar dari hukumanku, hehehe." Batin Zein.


Zein menatap Ramon dengan netra tajam seolah ingin menerkam. Semakin lama ia diam, semakin lama pula Ramon memiliki kesempatan untuk berpikir.


"Oiya, aku ingin bicara tentang mantan pacar Alika." Ujar Ramon membuat Zein langsung terkejut.


Ramon memang sangat pandai menggunakan otaknya. Kecerdasannya hampir seimbang dengan Zein. Saat kuliah mereka selalu saja bersaing dalam mendapatkan nilai. Tapi meskipun begitu mereka tidak pernah merasa bersaing atau iri satu sama lain. Persahabatan mereka semakin erat saat Zein menjadikannya sebagai asisten.


Menurut Zein, Ramon adalah orang yang tepat berada di dekatnya. Selain mereka sudah saling mengenal dengan baik, Ramon pria yang sangat jujur, rajin dan dapat diandalkan. Sangat susah mencari orang seperti Ramon yang mau mengabdikan hidup untuk sahabatnya.


"Dirga?" Tanya Zein.


"Iya." Ramon mengangguk dengan wajah mulai serius.


"Baiklah, ayo kita ke ruanganku." Ujar Zein lalu menuju ruang kerjanya diikuti Ramon.


Zein tidak ingin membicarakan masalah Dirga di ruang tamu karena Zein merahasiakannya dari Alika. Dia tidak mau jika Alika mengetahui apa yang ia lakukan, apalagi mencari tahu tentang semua yang berhubungan dengan Alika.


Setelah mereka di dalam ruangan, Ramon mengambil dokumen yang ada di dalam tasnya lalu memberinya pada Zein.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


Sahabat Author yang baik ❤️


Jangan lupa, Like, Komen, Hadiah, Dukungan dan Votenya ya! 🙏🙏🙏


__ADS_2