Calon Istri Milyader

Calon Istri Milyader
Teka-teki


__ADS_3

Zein tidak menjawab, tatapannya hanya fokus menatap laptopnya penuh rasa kecewa bercampur marah.


"Bukankah ini terjadi di Club? kalau nggak salah saat ulang tahun Lucas. Waktu itu memang Monika pulang lebih dulu kan?" Tanya Ramon sambil mengingat.


"Kamu benar, dia bilang ingin ke toilet sebentar, tapi tidak kembali lagi, ternyata dia bersama laki-laki bajingan itu." Geram Zein.


"Kok bisa Alan memiliki video ini ya?" Tanya Ramon penasaran.


"Mungkin saat itu Alan kebetulan melihat mereka lalu merekamnya sebagai bukti. Brengsek Monika! ternyata sudah lama ia mempermainkan Aku." Geram Zein, rahangnya mengeras, gigi atas dan bawahnya bergesekan dengan wajah yang memerah karena emosi.


"Jadi, Alan mengetahui perselingkuhan Monika saat kalian masih pacaran? tapi kenapa Alan tidak mengatakannya?" Kesal Ramon, Ia merasa Alan telah menghianati persahabatan mereka karena menyembunyikan sesuatu yang seharusnya Zein tahu.


"Aku yakin Alan memiliki alasannya, Bukankah kecelakaan Alan terjadi setelah ulang tahun Lucas? kita tidak pernah bertemu lagi dengannya setelah malam itu. Aku ingat sekarang, seminggu setelah ulang tahun Lucas, Alan menghubungi aku untuk bertemu, tapi aku tidak bisa karena harus kembali ke Roma, Mungkin saja dia ingin mengatakannya saat itu." Zein berusaha mengingat kejadian tahun lalu.


"Mungkin saja. Ah, kenapa Alan pergi meninggalkan teka-teki untuk kita?" Pikir Ramon bingung.


"Mana aku tahu? kenapa nggak tanyakan pada Alan saat di pemakaman?"


"Kamu ini, mana bisa Alan menjawabnya." Kesal Ramon.


"Tugas kamu membuka kunci laptop Alan, Aku yakin masih ada yang dia sembunyikan. Mengingat dia menyembunyikan hal besar dari aku. Tidak mungkin Alan merahasiakannya tanpa sebab." Ungkap Zein curiga.


Zein sangat mengenal Alan. Alan sangat jujur dalam bersahabat, Tidak ada rahasia diantara persahabatan mereka, kecuali tentang keluarganya yang Alan tutupi, itupun Alan sudah menjelaskan alasannya.


"Apa ini ada kaitannya dengan kematian Alan?" Selidik Ramon ikut curiga.


"Bisa ia, bisa juga tidak."


"Kenapa tidak tanyakan ke Alika? mereka kan dekat, mungkin dia tahu Pasword laptop Kakaknya, atau tanyakan ke Meriska mereka kan pacaran." Ujar Ramon.


"Baiklah, aku akan memintanya setelah makan malam. Aku mandi dulu, mana handuk untukku?" Tanya Zein sambil melajukan kursi rodanya menuju kamar mandi.


"Aku sudah menyimpan handuk di dalam kamar mandi untukmu." Jawab Ramon.


"Oke! setelah kau pakaian, cari bukti yang lain lagi yang bisa kita dapatkan di kamar ini." Ujar Zein menutup pintu kamar mandi.


Setelah beberapa menit, mereka selesai dan langsung menuju meja makan.


"Maaf, kami agak lama." Ujar Zein.


Ramon menyingkirkan satu kursi untuk kursi roda Zein lalu menarik kursi yang lain untuk dia duduk.


"Tidak apa-apa Zein. Ayo kita makan." Jawab Hendrik memberikan piringnya pada Belinda.


Alika mengambil piring Zein lalu mengisinya dengan nasi dan lauknya lalu meletakkan di depan Zein. Setelah itu mereka menikmati hidangan makan malam bersama.


Setelah makan malam selesai, Alika dan Meriska membantu Titin membersihkan meja makan. Titin yang sudah terbiasa dengan Alika dan Meriska merasa sudah tidak canggung lagi. Tidak lama kemudian mereka selesai lalu ikut bergabung di ruang keluarga.

__ADS_1


"Kalian semua nginap di sini aja, nggak usah pulang. Mama akan merasa kesepian jika kalian pergi." Ujar Belinda.


"Ia, Mama Alika benar." Lanjut Hendrik.


"Baiklah Om, Tante. Om, boleh aku tidur di kamar Alan saja? aku merasa nyaman di sana." Pinta Zein.


"Boleh, lakukan apa aja yang membuatmu nyaman di rumah ini. Anggap saja rumah sendiri. Tidak perlu sungkan, kecuali jika kamu ingin tidur di kamar Alika, Itu tidak boleh. Nikahin dulu baru Om bolehin, hehehe." Canda Hendrik.


"Ihh, Papa apaan sih." Kesal Alika dengan wajah yang memerah karena malu.


"Hehehe, Om nggak perlu khawatir, aku akan menikahi Alika setelah aku sembuh." Ujar Zein penuh keyakinan.


Alika langsung menatap Zein. Ia tidak percaya dengan ucapan Zein yang begitu santainya mengatakan akan menikahinya.


"Nak Ramon tidur di kamar tamu aja, kalau Meriska sudah terbiasa tidur bersama Alika." Ujar Belinda.


"Iya Tante, makasih." Ujar Ramon sopan.


"Bagaimana kabar Kakek, apa dia masih di Roma?" Tanya Hendrik.


"Kakek sudah kembali ke Desa. Dia akan kembali saat kami menikah." Jawab Zein.


"Baiklah, Bagaimana dengan perusahaan kamu di sini?"


"Semua lancar Om."


"O ya? aku ngak tau Om, jika Alika memiliki perusahaan."


Zein langsung melirik Alika, Ia semakin kagum dengan kemampuan yang Alika miliki.


"Om saja baru tahu beberapa bulan yang lalu. Kamu tahu? Dia dapat mengembangkan perusahaannya hanya dalam waktu setahun. Om saja butuh waktu lima tahun untuk itu, bahkan harus jatuh bangun terlebih dahulu. Mungkin karena dasar Om pada saat itu masih sangat terbatas. Tidak seperti Alika yang menguasai bidangnya terlebih dahulu." Puji Hendrik.


"Sudah dong Pah. Itu juga karena Meriska yang membantu Alika." Ujar Alika.


"Aku hanya menjalankan perintah Alika, ide dan keputusan kan kamu yang buat." Sela Meriska.


Ramon melirik Alika dan Meriska secara bergantian, dua gadis tangguh yang sanggup mendirikan perusahaan tanpa bantuan lain menurutnya itu sangat langka dan jarang di temui. Dia sangat tahu bagaimana kejamnya dunia bisnis. Jika kamu lemah, maka perusahaan yang kamu pimpin akan jalan di tempat. Jika kamu kuat maka perusahaan akan berkembang dan maju. Secara diam-diam ia mengambil ponselnya lalu mencari tahu tentang Alika dan perusahaannya. Setelah beberapa menit mencari, ia tidak menemukannya, ia berpikir mungkin Alika sengaja menyembunyikan identitasnya dengan tujuan tertentu.


"Kenapa Alika begitu misterius? selalu saja ada hal baru yang membuatku tidak percaya, sepertinya Zein juga tidak mengetahuinya. Ah, apa ini pikiranku saja?" Batin Ramon lalu menggelengkan kepalanya.


"Kamu kenapa?" Tanya Zein.


"Tidak, aku hanya mengecek e-mail yang masuk." Jawab Ramon berbohong.


Setelah beberapa jam duduk bersantai bersama. Belinda dan Hendrik berpamitan untuk istirahat.


"Alika, Apa kamu tau pasword laptop Alan?" Tanya Zein setelah kedua orang tua Alika masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


"Tidak." Singkat Alika.


"Meriska?" Zein beralih menatap Meriska.


"Tidak." Jawab Meriska.


"Emangnya kenapa?" Tanya Alika heran.


"Mungkin saja ada petunjuk yang bisa kita jadikan bukti kematian Alan. Tapi sayang kalian juga tidak mengetahui pasword-nya" Jawab Zein.


"Iya juga ya? kenapa kita nggak pernah kepikiran ke sana ya?" Tanya Alika pada Meriska.


Meriska mengangguk lalu tersenyum penuh arti.


Alika mencibir, ia sudah tahu apa yang ada di otak Meriska.


"Kalian kenapa?" Tanya Ramon curiga.


"Alika bisa membukanya." Ujar Meriska.


"Membuka apa? jangan aneh-aneh." Ujar Ramon.


"Laptop Alan lah! kamu yang pikirannya aneh." Kesal Meriska di tuduh berpikiran aneh-aneh.


"Kalau begitu ayo kita ke kamar Alan." Ajak Zein lalu menekan tombol kursi rodanya menuju kamar Alan.


Mereka berempat masuk ke dalam kamar Alan.


Alika mengambil laptop Alan dengan ragu-ragu. "Kak Alan, maafkan Lika." Lirih Alika.


"Kenapa kamu minta maaf? Alan tidak akan mendengarnya. Cepat buka." Ujar Zein.


"Kamu tidak sabaran banget sih! Kak Alan paling tidak suka jika orang lain menyentuh barang miliknya."


"Kamu kan bukan orang lain. Kamu adiknya." Ujar Zein.


Alika menghela napas, lalu membuka laptop Alan. Alika kembali menatap Zein, Ramon, dan Meriska secara bergantian.


"Apa lagi yang kamu pikirkan?" Kesal Zein.


.


.


.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2