
Zein mengambilnya dan mulai memasang tali webbing di tubuhnya. Setelah selesai, ia memasang alat lainnya, seperti harness, carabiner, ascender, descender, dan membawa perlengkapan lainnya, Setelah dirasa perlengkapan cukup, ia kemudian memegang tali karmantel yang sudah di ikat dipohon oleh warga.
"Ada yang mau ikut denganku?" Tanya Zein setelah siap.
Warga hanya saling melirik, tidak ada satu orangpun yang berani. Mereka tidak memiliki pengalaman memanjat tebing.
"Maaf Tuan Zein, kami tidak berani, terlalu berbahaya." Tolak salah satu dari warga.
"Baiklah, kalau begitu saya saja yang turun."
Zein mulai turun, meskipun ia hanya menggunakan celana pendek, dia tidak perduli dengan ranting yang menggores kakinya. Yang dia pikirkan sekarang ini hanya keselamatan Alika.
"Alika bertahanlah! tunggu aku, kamu akan baik-baik saja." Monolog Zein berusaha menghilangkan kekhawatirannya.
Saat sampai dibawah, yepatnya di tepi sungai, Zein membuka tali di pinggang dan pangkal pahanya, segera menelusuri sisi sungai tapi tidak menemukan Alika.
"Alika." Teriak Zein, "Alika." Teriaknya kembali hingga berkali-kali.
Tidak ada sahutan dari Alika. Hanya suara binatang aneh yang terdengar, tidak ada orang lain di sana selain Zein.
"Ya Tuhan...! tolong bantu aku menemukan Alika. Jangan pisahkan kami secepat ini. aku belum siap kehilangannya." Monolog Zein dengan wajah penuh permohonan dan mengangkat kepalanya menatap keatas.
Zein kembali menelusuri sungai, langkahnya tiba-tiba berhenti saat melihat sendal yang tersangkut diantara ranting dan batu. Tanpa berpikir panjang ia melompat dan menggapainya, beruntung karena aliran sungai disana tidak terlalu deras. Setelah yakin sendal itu milik Alika, karena Alika memakainya saat di dalam rumah Hutama, Zein menyelam ke dalam, mungkin saja Alika disana. Sampai beberapa menit, ia tetap tidak menemukannya. Kepalanya mulai muncul di permukaan kembali mencari di bagian mana lagi ia harus mencari Alika.
Zein tidak menyerah tetap mengikuti aliran sungai sambil berenang, jika mendapatkan batu, dia akan berhenti sejenak untuk mengatur pernapasannya.
"Alika!" Teriaknya.
Wajahnya mulai memerah, tanpa ia sadari air matanya mulai menetes. Dadanya terasa sesak. Baru kali ini menangisi seorang wanita, Alika gadis yang baru saja ia kenal namun dapat menarik perhatian dan pikirannya secepat kilat. Ia mengusap wajahnya yang basah karena air mata bercampur air sungai. Menoleh ke kiri dan ke kanan namun tidak menemukan sesuatu yang berarti.
Zein kembali menyelam masuk ke dalam air yang kedalamannya sekitar sepuluh meter. Terus berenang mengikuti aliran air, menahan napas, dan menggerakkan tanggan dan kaki.
Tidak lama kemudian ia kembali naik kepermukaan.
__ADS_1
"Tuan Zein." Teriak Ramon.
Mendengar suara Ramon, Ia kembali menepi. Memberikan sahutan agar mereka tau keberadaannya. Ternyata dia sudah cukup jauh dari titik turunnya.
"Aku di sini Ramon." Balas Zein berteriak.
Tidak lama kemudian Ramon muncul bersama Lucas, Thomas, dan empat orang anak buahnya. Sedangkan yang dua orang lagi mengejar Perempuan yang telah mendorong Alika.
Tanpa Zein minta, mereka semua membuka baju dan celana. Hanya menggunakan celana pendek, mereka ikut melompat ke sungai menghampiri Zein.
"Kita berpencar mengikuti aliran sungai. Aku yakin Alika jatuh disini. Ingat utamakan keselamatan bersama. Kita harus menemukan Alika sebelum gelap, kalian mengerti?" Tegas Zein.
"Mengerti." Serentak semuanya kemudian menenggelamkan kepalanya menghilang ke dalam air.
Sudah hampir tiga jam pencarian mereka tapi tidak juga menemukan Alika. Zein mulai putus asa. Tidak mungkin dia kembali ke rumah tanpa membawa Alika pulang. Sedangkan yang lainnya sudah mulai kelelahan.
"Tuan Zein, sebaiknya kita istirahat sebentar." Ujar Ramon.
Ramon terdiam, tidak menyangka jika Zein akan kehilangan seperti ini. Baru kali ini ia menghawatirkan orang lain selain keluarganya, Zein bahkan tidak perduli dengan kesehatannya sendiri.
"Tapi Zein..."
"Sudahlah, aku tidak apa-apa, jangan menghawatirkan keadaanku."
Zein kembali menghilang dari permukaan air.
"Ayo Ramon kita bantu Zein lagi, biarkan yang lain untuk istirahat, nanti mereka menyusul kita." Sela Lucas.
"Baiklah, aku hanya khawatir Lucas, Zein baru saja sembuh, kakinya bisa kembali nyeri jika terus menyelam." Ujar Ramon.
"Sudah, biarkan saja, kali ini kita tidak akan bisa menahannya. Kau tau sendiri bagaimana keras kepalanya Zein. Apalagi yang hilang Alika. Aku yakin Dia memang sangat khawatir. Dapat dilihat dari raut wajahnya yang tanpa ekspresi. Aku malah kasihan padanya." Jelas Lucas.
Zein kembali menyelam, kali ini dia tidak ingin muncul ke permukaan sebelum menemukan Alika. Bagaimana bisa dia menghadapi Hendrik jika terjadi sesuatu, Dia sudah berjanji pada Hendrik untuk menjaga Alika dengan baik.
__ADS_1
Sepuluh menit kemudian, anak buahnya kembali melakukan pencarian begitupun dengan Ramon dan Lucas melompat kedalam air.
Setelah satu jam Zein tidak juga muncul di permukaan membuat yang lainnya semakin khawatir.
Ramon dan Lucas berteriak memanggil Zein untuk naik walau hanya sebentar, tapi Zein tidak juga muncul. Mereka saling melirik kemudian mencari keberadaan Zein tapi tidak menemukannya.
Zein melihat sesuatu yang membuatnya semakin mendekat untuk memastikan. Matanya membola tidak percaya, dia dapat menemukan Alika dibawah sana. Kakinya tersangkut pada akar dan ranting pohon di tepi sungai dalam keadaan sudah tidak bergerak. Kemungkinan Alika tidak bisa meloloskan diri hingga dia kelelahan dan pernapasannya mulai melemah. Rambutnya yang panjang melambai-lambai dengan sedikit gelembung air yang keluar dari hidungnya.
Zein segera menyingkirkannya, berusaha semakin keras dan cepat agar Alika masih bisa di selamatkan. Ia tidak memiliki waktu lagi untuk ke permukaan mencari pertolongan. Mengangkat ranting dan memberi celah sedikit, akhirnya ia dapat menarik Alika dalam pelukannya. Sekilas senyum tipis terlihat di ujung bibirnya, betapa bahagianya dirinya saat ini. Kepanikan dan kekhawatirannya belum juga hilang karena Alika tidak sadar.
Zein berusaha menariknya ke permukaan air dengan sisa tenaga yang dimilikinya. dirinya sungguh lelah, kakinya juga mulai keram, tapi ia tetap mengabaikan rasa sakitnya. Tujuan utamanya adalah Alika harus selamat. Ia tidak ingin kehilangannya disaat hatinya mulai menerima kehadirannya.
"Alika sayang...! kau bisa mendengarku?" Tanya Zein, kata 'sayang' begitu saja keluar dari bibirnya saat mereka sudah di permukaan.
Alika tidak menjawab dan tidak juga membuka mata.
Zein memeluk Alika menuju tepi sungai, kemudian membaringkannya di tempat yang datar dalam posisi telentang. Setelah itu mengangkat sedikit kepala Alika ke atas kemudian membuka rahangnya.
Zein kemudian mengecek pernapasannya, mendekatkan telinga ke mulut dan hidung untuk merasakan adanya embusan udara. Setelah itu, memperhatikan dadanya, apakah masih bergerak naik turun atau sudah tidak.
Zein makin panik karena Alika tidak bernapas, ia kemudian memeriksa nadinya selama sepuluh menit.
"Tidak sayang..! jangan tinggalkan aku, aku mohon bangunlah!" Lirih Zein menggelengkan kepalanya tidak ingin Alika pergi meninggalkannya.
.
.
Bersambung....
Sahabat Author yang baik ❤️
Jangan lupa, Like, Komen, Hadiah, Dukungan dan Votenya ya! 🙏🙏
__ADS_1