Calon Istri Milyader

Calon Istri Milyader
Menghancurkan Perusahaan


__ADS_3

Alika memilih perusahaannya, Ia tidak mau menghancurkan perusahaan kedua orang yang sangat berarti dalam hidupnya, Orang tua dan calon suaminya.


"Kenapa perusahaan yang ini terlalu lama?" Tanya Alexis kesal. Ia sudah tidak sabar lagi menunggu Alika menghancurkan semuanya.


Alexis sama sekali tidak tahu jika pemilik perusahaan itu adalah Alika. Yang ia tahu, perusahaan itu milik seorang wanita yang tidak ada yang tahu keberadaannya. Dia pernah menyelidiki tapi tidak pernah melihat Alika datang kekantornya. Tentu saja karena saat itu Alika sedang berada di Roma bersama Zein. Alexis juga pernah mencoba bekerja sama dengannya tapi hanya Meriska yang menangani semuanya.


Tidak semua klien bisa bertemu dengan Alika kecuali keluarga atau orang terdekatnya.


"Perusahaan ini sangat sulit, sepertinya mereka tau jika aku sedang menyabotase perusahaannya." Jawab Alika.


Beruntung saat Alika sedang masuk ke dalam data perusahaannya Meriska mengetahuinya. Tentu saja Alika mengirim kode pada Meriska, bahkan Alika mengirim pesan dimana keberadaannya saat ini tanpa harus membuat Alexis curiga.


Yang Alexis tau, Alika sedang memasukkan kode untuk membuka data perusahaan. "Apa benar seperti itu?" Alexis mulai tidak percaya.


Alika terus berusaha berkomunikasi dengan Meriska, sedangkan Meriska juga menghubungi Ramon untuk memberitahukan bahwa Alika berada di Mansion Alexis, tepatnya di ruang kerjanya.


Setelah menerima kabar dari Meriska dimana keberadaan Alika, Ramon yang sudah berada di hutan memerintahkan anak buahnya untuk masuk ke dalam Mansion Alexis. Satu persatu anak buah Alexis menghilang dari tempatnya akibat di pukul hingga pingsan dari belakang. Setelah Anak buah Zein menguasai luar Mansion, mereka membuka gerbang. Mobil yang di kendarai Ramon masuk dengan mudah tanpa satu pengawal Alexis yang mengetahuinya.


Sementara Alexis meminum wine sambil menatap bibir Alika dengan lekat, pikirannya mulai liar. Netranya terus bergerak memperhatikan pergerakan Alika.


"Apa sudah selesai, hem?" Tanya Alexis.


Alexis berdiri dari kursinya, berjalan mendekat dan memposisikan wajahnya sejajar dengan wajah Alika menatap layar laptop.


Berdua dalam ruangan dengan Alika membuat dadanya sesak dan jantungnya berdetak lebih kencang. Entah kenapa pesona Alika begitu mengalihkan perhatiannya.


Tok.. tok.. tok...


Alexis dan Alika berbalik melihat pintu yang diketuk.


"Masuk." Sahut Alexis kemudian duduk bersandar pada meja kerjanya.


"Tuan saya sudah menyelesaikan perintah Anda." Lapor Leon.


"Bagus, sekarang keluarlah dan jangan ada yang menggaguku, mengerti?" Perintah Alexis membuat Leon mengernyitkan dahinya. Ia tidak mengerti kenapa Alexis tidak ingin diganggu saat bersama dengan orang asing.


"Baik Tuan, permisi." Pamit Leon sejenak melirik Alika yang sedang sibuk.


"Gawat! Nona ini sedang mempermainkan Tuan. Dia sedang mengirimkan data perusahaan ke tempat lain. Dia sangat cerdas, jika ada kesempatan, rasanya aku ingin belajar banyak darinya. Apa yang harus aku lakukan? apa aku memberitahukan Alexis atau aku diam saja. Ah, tapi dia mengusirku." Batin Leon. Sebagai hacker dia juga tau apa yang sedang Alika lakukan, meskipun kemampuannya tidak setingkat dengan Alika, tapi dia dapat membaca dengan jelas Alika mempermainkan Alexis.


"Kenapa masih bengong? apa yang kau lihat? kau mencoba membaca data perusahaan orang lain? keluar dari sini!"


"Tapi Tuan, dia sedang..."


"Keluar sebelum aku memecatmu, Leon!" Bentak Alexis.

__ADS_1


"Baik Tuan."


Leon menunduk dan segera keluar, sebenarnya dia ingin memberitahukan pada Alexis, jika Alika sedang meminta bantuan pada rekannya, tapi Alexis malah mengusirnya keluar.


"Ah, Kenapa aku kasihan dan memikirkan gadis yang ada di dalam? ayo berpikir Leon...! cari cara untuk menyelamatkan gadis itu agar kamu bisa belajar banyak darinya." Monolog Leon memukul jidatnya sambil mondar-mandir didepan pintu. Sedangkan Ramon dan Zein sudah masuk kedalam Mansion bersama pengawalnya.


"Hei, kamu kenapa? mondar-mandir nggak jelas kayak gitu." Tanya salah satu teman Leon yang berjaga.


"Tidak, aku hanya khawatir Nona itu tidak bisa menyelesaikan perintah bos." Jawab Leon asal.


"Ooo.."


Percakapan berhenti, tidak lama kemudian Zein dan Ramon datang menghampiri mereka dan langsung melakukan penyerangan.


Dor!


Dor!


Dor!


Keempat pengawal Alexis jatuh pingsan termasuk Leon terluka parah karena sempat melakukan perlawanan.


Prakkk!


Zein langsung membuka pintu ruang kerja Alexis.


Melihat jarak Alexis dan Alika begitu dekat, Zein langsung menarik kerah baju Alexis. "Brengsek! beraninya kau mendekati calon istriku." Geram Zein.


Bug!


Bug!


Zein memukul wajah Alexis hingga mulutnya mengeluarkan darah. Kemarahannya tidak bisa tertahan saat melihat Alexis hendak mencium pipi Alika.


Alexis menghapus darah di sudut bibirnya, wajahnya memerah tidak terima Zein langsung memukulnya sebelum mempersiapkan diri.


Bug!


Bug!


Alexis membalas pukulan Zein kemudian mendorong Zein kedinginan. Tidak memberikan Zein kesempatan untuk melawan dan berbalik menarik kerah baju Zein. Tatapannya tajam seakan ingin membunuh Zein.


"Ck! baru calon istri bukan? bagaimana jika aku lebih dulu mencicipinya sebelum kau nikahi." Ancam Alexis.


"Bajingan!"

__ADS_1


Bug!


Zein segera menepis saat Alexis ingin memukulnya kembali. Zein memutar tangan Alexis kebelakang kemudian menguncinya agar Alexis tidak dapat bergerak.


"Alika, apa yang kau lakukan? hentikan sayang." Ujar Zein saat Alika tidak memperdulikannya dengan Alexis.


Alika sibuk mengembalikan data perusahaan yang sempat ia alihkan.Ia mengambil kesempatan saat Zein dan Alexis sedang mengadu otot sebagai sesama laki-laki. Bahkan Alika tidak perduli meski dirinya yang menjadi rebutan dua pria di belakang kursinya.


"Hahaha... Dia akan menghancurkan perusahaanmu Zein. Aku ingin melihat kehancuranmu beserta keluarga besarmu. Karena apa? karena keluargamu telah menghancurkan perusahaan orang tuaku."


"Kamu salah paham Lex. Bukan orangtua ku yang melakukannya. Sudah berapa kali aku jelaskan. Ada konspirasi yang kita tidak tau disini. Kenapa kau tidak menyelidiki kejadian sebenarnya? Bukankah kau memiliki kekuasaan sekarang, hah?!" Bentak Zein. "Satu lagi, jangan coba-coba mendekati keluargaku apalagi calon istriku, jika terjadi sesuatu dengan mereka maka kau tau sendiri apa yang akan aku lakukan padamu." Ancam Zein kemudian melepaskan tangan Alexis.


Ramon tiba-tiba masuk setelah menyelesaikan urusannya dengan anak buah Alexis.


"Lebih baik kau urus anak buahmu di rumah sakit." Sela Ramon memebuat Alexis semakin Geram


"Brengsek! apa yang kau lakukan pada mereka, hah? aku bersumpah akan membalas kalian." Kesal Alexis mengusap wajahnya dengan kasar.


"Hanya memberinya sedikit pelajaran agar lain kali tidak berani melawan kami." Ujar Ramon menyunggingkan senyum licik.


Zein mendekati Alika kemudian menarik tangannya. "Ayo sayang kita pulang."


"Tunggu sebentar Zein, aku harus mengembalikan data ini sebelum terlambat."


Mendengar perkataan Alika Alexis segera keluar dari ruangannya. Ia segera mematikan listrik dari luar Mansion agar Alika gagal mengendalikan semua data perusahaan. Setelah listrik padam, ia tersenyum licik kemudian masuk ke dalam mobilnya menuju rumah sakit dimana anak buahnya tangani.


"Arghh..! Brengsek si Zein! dia benar-benar melunpuhkan semua anak buahku." Heram Alexis kemudian memukul stir mobil.


Listrik tiba-tiba mati. Semua komputer dalam ruangan itu juga mati hingga Alika tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Tangannya gemetar dan wajahnya berubah menjadi pucat pasih.


"Zein gimana ini? aku belum mengembalikan semuanya." Ujar Alika panik, jika perusahaan itu bangkrut maka dia akan menyalahkan dirinya sendiri karena secara tidak langsung telah melakukan tindakan kriminal.


"Tunggu sayang, aku harus berpikir untuk mencari solusinya." Zein berpikir sejenak.


"Bos, chipnya dibawa aja, mungkin masih bisa di perbaiki di tempat lain." Sela Ramon.


"Bagaimana sayang, apa bisa begitu?" Tanya Zein.


"Entahlah, aku tidak yakin. Tapi kenapa kita tidak coba, dari pada tidak sama sekali. Mudah-mudahan semua datanya masih ada." Ujar Alika, sebenarnya dia juga cemas dan tidak terlalu yakin.


Mereka segera keluar dari Mansion Alexis. Zein langsung masuk ke dalam mobil bersama Alika dan Ramon kemudian melajukan mobilnya menuju rumah Alika. Di belakang mobilnya juga ada tiga mobil anak buah Zein yang sedang mengawal mereka.


.


.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2