
Dirga mengitari mobil lalu duduk di kursi kemudi. Dirga ingin memasang seat belt Alika, tapi Alika segera menepis tangannya. Bentuk perhatian kecil yang biasa Dirga lakukan padanya dan kini Alika menolak dan membuatnya semakin muak.
"Tidak usah, aku bisa sendiri!" Ketus Alika lalu memasang seat beltnya sendiri.
"Jangan marah lagi dong sayang..!" Bujuk Dirga sambil melajukan mobilnya menuju salah satu restoran.
Alika hanya melirik Dirga dengan sekilas lalu membuang muka ke arah lain.
Tidak ada pembicaraan diantara mereka selama di perjalanan. Beberapa kali Dirga ingin memulai obrolan namun dia juga ragu. Alika pasti marah dan meminta turun di pinggir jalan jika mereka sampai bertengkar.
Setelah beberapa menit, Dirga memarkirkan mobilnya di depan restoran. Ia membuka pintu untuk Alika lalu mereka masuk ke dalam restoran.
Saat Dirga ingin menggandeng tangan Alika masuk, Alika langsung menarik tangannya. Selain ia tidak suka tangannya dipegang oleh Dirga lagi, Ia juga tidak ingin orang lain mengambil gambar mereka dan membuat Zein berpikir yang tidak-tidak dengannya.
Alika sangat mengenal keluarga Hutama dengan baik. Sebagai keluarga besar dan memiliki kekuasaan, mereka sangat menjaga anggota keluarganya. Ia juga sangat yakin jika anak buah Zein sekarang ini berada di sekitarnya. Ia harus menjaga sikap agar tidak mempermalukan keluarga Zein. Apalagi Zein melihatnya bertengkar dengan Dirga. Pasti dia menyuruh anak buahnya untuk menjaga dirinya.
"Kenapa?" Tanya Dirga heran.
"Jangan menyentuhku lagi, kita tidak ada hubungan apa-apa." Balas Alika sambil berjalan.
Dirga meminta pelayan mengantar mereka ke tempat VVIP yang kosong. Setelah mereka masuk, pelayan kembali keluar untuk mengambil makanan yang di pesan oleh Dirga.
Alika menarik kursi lalu duduk. Mereka sama-sama diam mengatur napas sebelum memulai obrolan.
Dirga mengambil tangan Alika lalu menggenggamnya. Ia kemudian mencoba menjelaskan hubungannya dengan Vanesa saat itu, tapi Alika lebih dulu menarik tangannya.
"Sejak kapan?" Lirih Alika dengan wajah sendu.
"Maksudnya?" Dirga balik bertanya.
"Sejak kapan kalian berhubungan?"
"Sayang, percayalah! aku dan Vanesa tidak memiliki hubungan selain pekerjaan."
Alika tidak akan percaya dengan mudah. Apa yang ia lihat sangat menyakitkan hatinya. Sedikit saja ia memberi celah pada Dirga, maka Dirga akan besar kepala dan menganggap kesalahannya hanya hal biasa.
"Baiklah, jika kamu tidak ingin mengatakannya. Aku juga nggak perduli."
Dirga menghela napas berat. Inilah yang ia takutkan jika Alika sedang marah. Sangat susah untuk dibujuk dan keras kepala. Tidak mau mendengar penjelasan dan lebih percaya dengan dirinya sendiri.
"Tidak usah mengelak, semuanya sudah jelas."
"Sayang...! Aku dan Vanesa tidak ada hubungan apa-apa. Kami terpaksa satu kamar, karena tidak ada lagi kamar yang kosong. Aku tidur di sofa dan Vanesa di tempat tidur. Percayalah sayang..! aku tidak mungkin menghianatimu." Bujuk Dirga berbohong. Ia tidak mau kehilangan Alika. Alika sering membantu perusahaannya dengan memberikan beberapa proyek untuk Dirga.
"Tidak memiliki hubungan tapi tidur satu kamar? Omong kosong!"
__ADS_1
"Aku berani sumpah!"
Alika mencibir, semakin Dirga berusaha meyakinkannya, Alika semakin yakin bahwa Dirga sedang berpura-pura dan berbohong padanya.
"Alika, aku mohon! maafkan aku! aku janji tidak akan melakukan kesalahan seperti ini lagi. Berikan aku kesempatan sekali lagi. Aku tidak ingin kita berpisah, aku sangat mencintaimu." Ungkap Dirga.
"Cinta!? aku sudah tidak percaya dengan kata cinta. Cinta yang kau berikan untukku palsu, kamu tidak sungguh-sungguh mencintaiku. Jika kamu mencintaiku, kamu akan menjaga perasaanku dan tidak membuatku hancur seperti ini." Balas Alika, berusaha menahan air matanya.
Dirga tidak menyerah begitu saja, ia akan melakukan apapun untuk mendapatkan Alika kembali. Ia langsung berlutut di hadapan Alika, tangannya berusaha menggapai tangan Alika, tapi Alika tetap menolaknya.
"Apa yang kamu lakukan? Ayo berdiri!"
"Aku tidak akan berdiri sebelum kamu memaafkanku." Melas Dirga.
Alika diam sejenak, Ia menatap wajah Dirga dengan lekat. Rasanya sangat sulit melepaskan Dirga tapi dia juga tidak menerima perselingkuhan. Baginya sekali orang itu berselingkuh, maka tidak menutup kemungkinan suatu saat nanti dia akan kembali melakukan hal yang sama. Alika tidak mau sakit untuk yang kedua kalinya, karena itu ia tidak mau kembali pada Dirga.
Hati Alika sangat sakit dan kecewa, rasanya ingin segera keluar dari tempat itu. Apa yang dilakukan Dirga membuat napasnya begitu sesak. Tanpa ia sadari air matanya mengalir begitu saja tak tertahankan.
"Hikss, kau jahat! aku sangat sayang dan cinta padamu tapi kenapa kau tega padaku? aku selalu melakukan yang terbaik untukmu tapi apa yang kau berikan padaku? kau menduakan aku dan selingkuh di belakangku dengan Vanesa? Kenapa kamu berubah Dirga!? aku seperti tidak mengenal Dirgaku yang dulu. Dirga yang hanya sayang dan cinta padaku. Akan melakukan apapun untuk memperthankan aku. Selalu memberiku perhatian dan kasih sayang. Selalu ada di dekatku dalam suka dan duka."
"Maafkan aku Alika, aku khilaf." Dirga mengusap wajahnya dengan kasar.
"Tidak usah minta maaf, semua sudah terjadi! Aku yang salah karena memberimu kesempatan untuk berubah. Berharap aku hanya wanita satu-satunya untukmu tapi ternyata kau tidak puas hanya dengan satu wanita. Apa ini karena aku tidak bisa memberi apa yang sudah Vanesa berikan padamu?" Tanya Alika.
"Tidak sayang, bukan karena itu, aku yang salah! aku menyesal, maafkan aku ya?"
Drrtt, drrtt, drrtt!
Suara ponsel Alika mengalihkan perhatian keduanya. Alika mengambil di dalam tasnya lalu melihat siapa yang menghubunginya. Alika tidak menjawabnya, ia kembali melihat Dirga yang masih tetap dalam posisinya.
"Apa kamu akan berlutut selamanya?"
"Aku tidak akan berdiri sebelum kamu mau kembali padaku."
"Sampai kapanpun aku tidak akan kembali padamu, Jika kamu senang seperti itu, silahkan. Aku tidak perduli lagi, sama seperti kamu yang tidak perduli dengan perasaanku."
Drrtt, drrtt, drrtt!
Alika kembali melihat ponselnya.
"Siapa yang menelponmu? kenapa tidak diangkat?"
"Bukan urusan kamu!"
"Angkat saja mungkin penting."
__ADS_1
"Nanti saja."
Dirga Geram, ia mulai curiga pada Alika. Alika tidak biasanya mengabaikan panggilan di ponselnya. "Sini! berikan ponselmu." Bentak Dirga langsung berdiri dan meraih ponsel Alika.
"Aku tidak mau." Alika menarik ponselnya agar Dirga tidak mengambilnya.
"Kenapa? Apa kamu juga selingkuh? Berikan Alika!" Bentak Dirga kembali.
Alika tidak terima di tuduh selingkuh. Kata-kata yang tidak pernah Ia pikirkan dalam kehidupannya.
"Aku selingkuh atau tidak apa masalahmu? kamu lebih dulu selingkuh bukan? aku hanya mengikuti apa yang kau lakukan. Jika kamu selingkuh karena keinginanmu, maka aku selingkuh karena terpaksa." Balas Alika.
Suara ponsel Alika berhenti lalu kembali berdering hanya berselang lima menit.
"Angkat nggak?" Geram Dirga langsung berjalan cepat menuju pintu dan menguncinya.
"Nggak mau! Buka kuncinya aku mau pulang."
"Kenapa? apa kamu takut ketahuan?"
"Aku tidak pernah takut dengan apapun selagi aku benar. Buka pintunya! Aku harus pergi, ingat jangan mencoba mencariku atau menghubungi aku lagi. Kita sudah selesai."
Ponsel Alika kembali berbunyi karena Zein semakin khawatir. Anak buah yang dikirim Ramon untuk mengikuti Alika melaporkan bahwa Alika belum juga keluar dari VVIP room.
"[Halo.]" Jawab Alika.
"[Halo, kamu sudah selesai?]"
Zein bernapas lega akhirnya Alika menjawab telponnya.
"[Sudah, aku akan segera pulang.]"
"[Aku sudah mengirim supir menjemputmu. Dia sedang menunggu di luar.]"
Dirga mengernyitkan keningnya karena penasaran, siapa yang menelpon Alika dan kenapa meminta Alika untuk pulang.
"[Baiklah.]"
Alika menutup telponnya kemudian meminta kunci pada Dirga, tapi Dirga tidak mau memberinya.
"Siapa yang menelponmu?" Tanya Dirga penasaran.
.
.
__ADS_1
Bersambung...