
"[Halo..]" Jawab Ramon dengan suara serak khas baru bangun tidur.
"[Ramon, bisa jemput aku di jalan XX nggak? taksi yang aku tumpangi mogok. Aku mencari taksi lain tapi tidak ada yang kosong.]" Ujar Meriska.
"[Malam-malam kayak gini kamu ngapain disana?]" Tanya Zein saat mendengar nama jalan yang Meriska sebut.
"[Aku baru saja tiba di Roma, cepat jemput aku.]"
Ramon mendengus kesal kemudian duduk bersandar dikepala tempat tidur, mengumpulkan nyawanya yang masih belum sepenuhnya sadar dari tidurnya.
"[Ramon, bisa nggak? kalo nggak bisa, aku telpon Alika saja.]" Tanya Meriska kembali karena Ramon belum setuju untuk menjemputnya.
"[Ja.. jangan! biar aku saja yang jemput. sharelock aja tempatnya, aku kesana sekarang.]" Balas Ramon.
Jika Meriska menelpon Alika, sudah pasti Zein akan marah karena terganggu dan ujung-ujungnya pasti Ramon yang disuruh menjemput Meriska.
Tiklik!
Satu pesan singkat masuk kedalam ponsel Ramon.
Ramon segera beranjak dari tempat tidur menuju wastafel, membersihkan wajahnya dan menggosok gigi. Setelah selesai, ia mengambil ponsel dan kunci mobil keluar dari kamar.
Saat di depan kamar, ia rmndekati anak buahnya yang berdiri di depan pintu kamar Alika.
"Aku keluar sebentar. Jika Tuan Zein keluar, berikan kunci ini padanya. Aku akan menjemputnya setelah urusanku selesai." Pesan Ramon.
"Baik bos." Serentak kedua anak buahnya.
Ramon segera pergi, masuk kedalam lift kemudian keluar dibasemen hotel. Setelah itu, masuk kedalam mobil kemudian melajukan kendaraannya dengan kecepatan rata-rata.
Setelah tiga puluh menit, mobil yang dikendarai Ramon berhenti di tepi jalan saat melihat Meriska sedang berdiri di belakang taksi yang sedang mogok.
Bip! Bip!
Suara klakson yang ditekan Ramon membuat Meriska seketika terkejut dan menoleh.
"Dasar asisten nggak punya sopan santun!" Gerutu Meriska.
Alika mendekat, dengan wajah kesal mengetuk kaca pintu samping mobil.
Tok.. tok.. tok..
Ramon menyeringai, merasa berhasil membuat Meriska marah.
"Buka! Ramon, buka nggak?" Kesal Meriska sambil terus mengetuk kaca mobil.
Ramon membuka kaca mobil kemudian tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang putih.
__ADS_1
"Dasar tidak peka, Bantuin!" Melas Meriska menunjuk kopenya yang besar.
"Jangan bawel. Angkat aja sendiri, sudah untung aku mau menjemputmu malam-malam begini." Sahut Ramon dengan santai.
Meriska membuka bagasi mobil bagian belakang kemudian memasukkan kopernya, setelah itu ia masuk dan duduk dikursi belakang.
"Apa-apaan ini? kenapa duduk disitu? aku bukan sopir kamu ya?"
"Jalan aja, bawel." Ketus Meriska.
"Nggak, kamu pindah kedepan atau kita tidak jalan sama sekali."
Meriska mendengus kesal. Ramon benar-benar membuat amarahnya naik turun seperti roller coster. Dengan terpaksa ia kedepan lewat tengah, menyingkirkan tubuh Ramon kesamping agar tubuhnya bisa lewat.
"Minggir." Ujar Meriska mendorong ke samping hingga tubuh Ramon bertumpu pada pintu mobil.
"Kamu." Tunjuk Ramon dengan kesal.
"Rasain!" Ejek Alika kemudian menjulurkan lidahnya kedepan.
Meriska menyetel AC agar menghadap ke tubuhnya kemudian memperbaiki posisi duduknya bersandar di kursi.
Ramon mendekatkan wajahnya hingga bersisa hanya beberapa sentimeter saja. Pandangan mata keduanya bertemu tanpa berkedip.
"Ka.. kamu mau ngapain? jangan macam-macam Ramon." Gugup Meriska.
"Sudah, emang kamu pikir aku mau ngapain sampai-sampai kamu bilang jangan macam-macam?" Tanya Ramon kali pada posisi duduknya semula.
Meriska tidak menjawabnya, wajahnya memerah karena menahan malu. Sungguh ia merasa bersalah karena telah salah sangka.
"Oh.. aku tau sekarang, kamu pikir aku mau mencium kamu kan? ihh.. PD amat!" Ejek Ramon kemudian bergidik ngeri, "Tapi jika kamu mau aku bersedia memberinya kok, gratis! nggak perlu bayar." Lanjut Ramon.
"Dasar otak mesum! cepat jalankan mobilnya, antar aku ke hotel tempat Alika menginap." Kesal Meriska.
Ramon melajukan mobilnya menuju hotel. "Hehehe.. semua pria dewasa seperti itu. Jika tidak mesum berarti dia sedang sakit." Jelas Ramon .
"Eh, kamu tau nggak kenapa ponsel Alika nggak aktif?" Tanya Meriska dengan wajah serius.
"Tau." Jawab Ramon sambil menganggukkan kepalanya.
"Kenapa?"
"Kamu yakin, beneran mau tau?"
"Ih.. kamu apaan sih! masa Jawab begitu saja berbelit-belit. Cepat katakan?" Kesal meriska kembali memukul lengan Ramon.
"Aw... kamu kecil-kecil kalau memukul sakit juga." Kesal Ramon sambil mengelus lengannya kemudian kembali fokus menyetir.
__ADS_1
"Makanya, kalau ditanya itu ya di jawab! bukan buat orang makin penasaran."
"Mereka lagi mantep-mantep tuh di kamar."
"Hah..? maksudnya?" Meriska mengernyitkan keningnya tidak mengerti maksud dari ucapan Ramon.
"Anak kecil dilarang kepoin orang dewasa." Ejek Ramon.
"Aku bukan anak kecil lagi tau, umurku sudah dua puluh lima tahun."
"Hahaha.." Ramon tertawa.
"Lihat dirimu, kecil dan kurus seperti itu. Dada aja rata, mana bisa dipegang." Ejek Ramon.
Meriska memang kurus dan tidak terlalu tinggi, tapi bentuk tubuhnya masih bisa dikatakan ideal hanya saja dua squisynya memang kecil. Mungkin karena belum pernah disentuh Pria manapun hingga bentuknya seperti itu.
"Apa katamu? kalau ngomong itu difilter atau sekalian disaring biar kata-kata yang keluar itu tidak absurd. Penyaku lumayan besar tau nggak."
"Ah masa sih?" Pancing Ramon.
"Kalau nggak percaya, aku kasih liat nih?" Meriska mulai membuka kancing bajunya sambil melirik Ramon untuk melihat reaksinya.
Wajah Ramon memerah. Awalnya ia ingin membuat Meriska marah, tapi ternyata Meriska membalasnya dengan memancing gairahnya.
"Hentikan Meriska!" Bentak Ramon sambil mengepal setir mobil dengan kuat.
Meriska tidak perduli, semakin Ramon kesal, semakin hatinya merasa senang dan bahagia.
"Kamu beneran nggak mau liat? aku sudah buka tiga kancing lho..?" Goda Meriska berbohong.
Mana mungkin Meriska membuka kancing bajunya di depan Ramon. Pria paling menyebalkan menurutnya. Jika ia membukanya, apa bedanya dirinya dengan wanita murahan di luar sana. Itu sama saja menjatuhkan harga dirinya sebagai gadis baik-baik dan terhormat.
"Ah.."
Suara desah yang sengaja Meriska keluarkan membuat Ramon seketika berbalik meliriknya. Sungguh Ramon tidak tahan dengan suara sensual yang keluar dari mulut Meriska. Pikirannya mulai melayang, membayangkan merdunya suara Meriska saat mendesah di bawah kungkungannya.
"Hentikan jika kamu tidak ingin kita berakhir diranjang." Kesal Ramon mengusap wajahnya dengan satu tangan sementara tangan yang satunya fokus menyetir.
"Heheh... Sorry hanya becanda kok."
"Tapi, cara bercandamu membuatku tidak fokus. Kalau kita kecelakaan bagaimana? kamu mau tanggung jawab?" Kesal Ramon menahan sesuatu yang sudah menegang.
"Nggak mau, aku masih belum mau mati, Aku masih mau menikah dan menikmati indahnya surga dunia, masa anak perawan cepat mati. apa kata dunia?"
"Makanya lebih baik kamu diam. Kita sudah hampir sampai." Kesal Ramon.
Meriska kemudian diam seribu bahasa.
__ADS_1