
"Tentu saja, aku merindukanmu."
Zein langsung meletakkan ponselnya kedalam saku celana. Merentangkan kedua tangannya lalu memeluk Alika dengan posesif. Alika membalas pelukan Zein kemudian saling melepaskan kerinduan satu sama lain.
Sementara di sofa mata meriska membola, sejak kapan mereka semakin dekat? pikirnya.
Saat Zein masuk ke ruangan Alika tanpa mengetuk pintu, Meriska melihatnya, tapi jari telunjuk Zein menutup mulutnya sendiri agar Meriska tak bersuara. Zein ingin memberikan sedikit kejutan pada Alika dengan kedatangannya di kantor.
"Khemm." Dehaman Meriska membuat keduanya melepas pelukannya.
Alika jadi salah tingkah, ia melupakan Meriska yang sedang duduk di sofa di ujung sana.
"Sepertinya aku harus keluar deh! Alika, pembahasan yang tadi nanti kita lanjutin lagi." Ujar Meriska.
Alika dan Zein hanya mengangguk sambil tersenyum.
"Meris, jika ada yang mencariku bilang aja aku keluar." Ujar Alika sebelum Meriska menghilang dibalik pintu.
Meriska hanya menaikkan satu jempolnya tanda oke setelah itu menutup pintu ruangan.
Setelah kepergian Meriska, Zein menatap Alika dengan lekat. Pandangan keduanya kembali bertemu. Alika membalas tatapan Zein penuh rasa. Detak jantung Alika mulai berdetak lebih kencang.
"Aku merindukanmu." Zein mulai mengangkat jemarinya membelai wajah Alika dengan lembut, kemudian berhenti tepat diatas bibir mungil milik Alika.
Bagai tersihir, Alika hanya diam dan terhanyut dengan belaian Zein, kemudian membiarkan Zein menyentuh apapun yang diinginkannya dengan tatapan teduh. Entah dari mana mulainya, kini bibir mereka saling bertautan. Alika perlahan menutup mata dan mulai menikmatinya. Ciuman yang awalnya biasa lama kelamaan semakin menuntut. Manisnya bibir Alika membuat Zein mulai terbakar gairah begitupun dengan Alika. Rasa rindu yang mereka tahan selama hampir dua minggu baru hari ini dapat terobati.
Zein segera melepaskan bibirnya, menatap Alika dengan lekat kemudian memeluknya dengan erat, sesuatu yang di bawah sana mulai sesak ingin dikeluarkan. Jika di teruskan ini akan berbahaya.
"Zein."
"Hmm.. jangan bicara dulu sayang..!" Suara Zein terdengar parau dan berat, wajahnya memerah menahan sesuatu yang sangat sulit ia dapatkan. Sedikit saja mendengarkan suara Alika bagaikan suara desah yang mengalun indah ditelinganya.
"Kamu kenapa?" Tanya Alika semakin mendekatkan wajahnya hingga jarak mereka hanya beberapa sentimeter.
Zein hanya diam berusaha menghindar dan memalingkan wajahnya dari Alika, sedikit berbalik ke arah kaca jendela, agar yang sesuatu yang mengeras dibawah sana ikut tenang. Tapi siapa sangka jika Alika malah memeluknya dari belakang sambil menempelkan wajahnya di punggung Zein, lalu jemarinya mengelus dada Zein dengan lembut.
"Zein..!"
__ADS_1
"Hmmm..."
Zein menutup mata, semakin menikmati sensasi indah yang Alika berikan. Bukannya gairah itu menghilang, tapi malah membuncah semakin meminta untuk disalurkan.
"Sayang..!"
Suara merdu Alika yang manja mengalun merdu di telinganya hingga ia tak sanggup lagi untuk tidak berbalik.
"Kau menginginkan aku?" Tanya Alika mengangkat kepalanya menatap manik hitam Zein.
"..."
"Aku tidak keberatan Zein." Entah keberanian dari mana kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut Alika. Dia sudah tidak perduli lagi bagaimana nasib dirinya kedepan. Tidak perduli sebesar apa kemarahan Hendrik nantinya.
Netra hazel Zein menatap Alika dengan lekat kemudian menyelipkan rambut Alika belakang telinga. Tanpa kata-kata menautkan bibir mereka dengan rakus. Zein mendorong Alika menuju sofa tanpa sandaran. Membaringkan Alika tanpa melepaskan pagutannya. Jemarinya dengan lincah membuka satu-persatu kancing baju Alika, memperlihatkan dua squisy yang terbungkus dengan kain renda berwarna merah. Zein menatapnya dengan lekat, sungguh ia tidak bisa menahan diri untuk tidak menyentuhnya. Saat tangannya mendekat, perut Alika tiba-tiba berbunyi. Cacing di perutnya sudah berdemo minta untuk di isi.
Zein tiba-tiba tersadar, ia segera menjauh dari tubuh Alika. "Perbaiki pakaianmu! maaf, aku tidak ingin menyakitimu." Ujar Zein kemudian memilih mundur dan duduk di sofa lain, mengusap wajahnya dengan kasar karena hampir saja melewati batas.
"Tahan Zein.. tahan..!" Batin Zein.
"Maaf Zein, aku lapar." Alika kembali memasang kancing bajunya.
Sein segera berdiri, berdua dengan Alika di dalam satu ruangan akan membuatnya tersiksa, dia juga tidak tega membiarkan Alika kelaparan karena gairahnya, dan akhirnya memilih mengajak Alika keluar untuk makan siang.
Mereka keluar dari kantor sambil bergandengan tangan. Meriska yang melihat mereka melewati ruangannya hanya geleng-geleng kepala.
"Kapan aku bahagia seperti Alika?" Monolog Meriska kemudian melanjutkan pekerjaannya.
Zein dan Alika menuju lobi di sana sudah ada mobil Zein yang menunggu di depan. Zein membuka pintu mobil untuk Alika, sedangkan Alika hanya tersenyum kemudian duduk dan meletakkan sling bagnya diatas paha. Setelah memastikan Alika duduk dengan nyaman. Zein menuju pintu kemudi, ia membukanya kemudian duduk lalu memasang seat beltnya. Ia menyalakan mesin mobil dan AC lalu mulai menginjak gas kemudian melajukan mobil mewahnya menuju restoran.
"Ramon mana? kok kamu sendirian?" Tanya Alika.
"Jadi kamu lebih merindukan Ramon daripada aku?" Canda Zein.
"Ihh, aku hanya heran karena kamu sendiri aja, biasanya kamu dan Ramon selalu jalan berdua."
"Hehehe... kalau ada kamu, mana mungkin aku mengajak Ramon? Kamu mau jadikan dia obat nyamuk?"
__ADS_1
Kekeh Zein, sudah dapat membayangkan bagaimana raut wajah Ramon jika itu benar-benar terjadi. Pasti ramon akan mengeluarkan sudah serapahnya pada Zein.
Zein tetap fokus melihat jalanan, sesekali melirik gadis cantik yang sedang duduk di sampingnya.
"Apa semuanya baik-baik saja selama kamu kembali?"
Alika diam sejenak, dia harus berkata jujur pada Zein. Sejak dulu ia selalu mengatakan kejujuran saat menjalin hubungan dengan seseorang termasuk Dirga. Tapi hanya saja Dirga tidak menganggapnya penting, dan memih berbohong demi kesenangannya sendiri.
"Sebenarnya, Papa akan menjodohkan aku dengan orang lain Zein." Ungkap Alika dengan mata sendu menatap kearah depan, ia tidak sanggup melihat ekspresi wajah Zein jika menoleh menghadap Zein.
Ciiitttt!
Zein mendadak menginjak rem mobilnya karena terkejut. Untung saja tidak ada kendaraan lain dibelakangnya. seandainya ada, sudah dipastikan mereka akan kecelakaan karena tertabrak dari belakang.
"Zein! kau mau kita mati ya?" Teriak Alika. Hampir saja wajahnya mencium dashboar mobil jika tidak memakai seat belt.
Zein mengambil tangan Alika lalu menggenggamnya dengan tangan kiri. "Maaf sayang, aku tidak sengaja. Aku terlalu kaget mendengarnya." Melas Zein.
Alika mengerucutkan bibirnya karena kesal. "Lain kali jangan seperti itu, rem mendadak bisa membahayakan nyawa kita dan orang lain."
"Iya sayang." Zein kembali melajukan mobilnya, restoran yang mereka tuju sudah dekat, hanya membutuhkan beberapa menit lagi mereka akan sampai.
Zein dan Alika turun dari mobil di lobi hotel kemudian menyerahkan kunci mobil bugatti divo yang bari saja di kendarainya pada valet hotel kemudian masuk ke dalam.
"Kita akan makan di restoran hotel ini?" Tanya Alika penasaran.
"Iya sayang.. hotel ini milik aku, sebentar lagi akan jadi milikmu. Ayo kita masuk! aku akan memperlihatkan sisi uniknya." Jawab Zein meletakkan tangan Alika di lengannya kemudian mereka masuk.
Saat dilobi kedangan mereka di sambut oleh karyawan hotel dengan berdiri menundukkan kepala sambil menutup punggung tangan kirinya dengan tangan kanannya.
Zein hanya berjalan dengan langkah lebar ke depan, wajah datar dan dinginnya yang mendominan menambah kesan dia seorang pemimpin yang berwibawa dan di segani oleh karyawannya. Sedangkan Alika hanya diam mengikuti langkah Zein sambil mengagumi Zein dalam hati.
.
.
Bersambung...
__ADS_1
Sahabat Author yang baik ❤️
Jangan lupa, Like, Komen, Hadiah, Dukungan dan Votenya ya! 🙏🙏