
Zein dan Ramon masuk ke dalam mobil. Ramon mengemudikan mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata.
"Kita akan ke markas Zein, anak buahnya kita sudah menemukan Calista. Ternyata dia bersembunyi di salah satu Villa pinggir kota milik keluarganya." Jelas Ramon.
Seketika wajah Zein berubah memerah, rahangnya mengeras, tangannya mengepal kuat dan netranya menatap tajam bagai singa yang sedang menemukan mangsanya.
"Apa dia sudah mengakui kesalahannya?"
"Belum, sepertinya dia depresi karena kehilanganmu Zein! Cinta memang membuat orang buta, rela berbuat sesuatu diluar nalar termasuk menyingkirkan nyawa orang lain tanpa memikirkan akibatnya. Untung saja aku jomblo karena cintaku hanya untuk uang. Dia tidak pernah menyakiti tapi selalu memberikan kebahagiaan padaku, hehehe..."
Ramon geleng-geleng kepala, merasa sangat bersyukur karena tidak memiliki pacar saat ini.
"Kau mulai banyak bicara. Sekali lagi kau membuka mulut, bonus yang kuberikan akan aku tarik!" Ancam Zein.
Ramon langsung menutup mulutnya rapat-rapat. Tentu saja karena tidak ingin kehilangan cek tak terhingganya. Kembali fokus ke jalanan yang mendominan pejalan kaki dan turis yang sedang berlibur menikmati akhir pekan.
Tidak lama kemudian mereka tiba di sebuah bangunan tua yang dipenuhi anak buahnya.
Zein turun dari mobil melangkahkan kakinya dengan lebar menuju salah satu ruangan gelap tanpa penerangan.
Disana sudah ada Calista yang duduk dalam keadaan kedua kaki terikat dan mulut tertutup kain. Untuk kali ini Calista tidak menyesali perbuatannya karena menganggap Alika sudah meninggal. Dia berpikir tidak mungkin Alika selamat karena terjatuh dari ketinggian. Dia lupa jika di bawah sana ada sungai. Meskipun kemungkinan untuk hidup sangat kecil, tapi tetap saja peluang untuk bertahan tetap ada.
Zein menendang pintu cukup keras, membuat Calista tersentak mengarahkan pandangannya ke arah pjntu. Begitu lampu dinyalakan oleh Zein, senyum Calista melebar memperlihatkan deretan giginya yang rapi. Sudah lama ia merindukan Zein dan berdekatan langsung dengannya. Meskipun pertemuan ini salah tapi melihat wajah Zein sudah membuatnya sangat bahagia.
"Buka semua ikatannya." Perintah Zein pada kedua anak buahnya yang berdiri di depan pintu menjaga Calista.
Mereka langsung masuk melakukannya kemudian keluar dari ruangan, membiarkan Zein dan Ramon bersama Calista di dalam.
__ADS_1
"Zein, akhirnya kau datang padaku. Aku sangat merindukanmu Zein, tolong lepaskan ikatannya." Semangat Calista dengan nada yang sangat lembut. Berharap Zein menolongnya karena Ramon menyekapnya.
Zein mendekat tanpa bicara, netranya tetap fokus pada gadis yang sedang tergila-gila padanya. Sebenarnya dia kasihan pada Calista tapi dia sangat marah karena hampir kehilangan Alika akibat perbuatan Calista.
"Aku tau sebenarnya kau juga cinta padaku Zein. Mungkin kau hanya butuh waktu untuk meyakinkan diri. Sudah tidak ada lagi penghalang diantara kita. Ayo kita menikah dan memiliki keluarga kecil dimana hanya ada aku, kamu dan anak-anak kita." Ungkap Calista penuh harap.
Zein mendengus kesal. Kata-kata Calista membuatnya ingin muntah. "Apa katamu? anak-anak kita? menyentuhmu saja rasanya aku sangat jijik. Kau sudah gila Calista!"
Zein mulai bersuara dengan nada penuh penekanan, maniknya menatap tajam lawan bicaranya. Membuat Calista tersentak dan diam untuk sejenak.
Ramon yang bersandar di dinding dengan melipat kedua tangannya geleng-geleng kepala melihat Calista.
"Dia mulai halu lagi Zein! Sepertinya dia butuh kaca yang cukup besar untuk bercermin. Mungkin dia tidak sadar dengan siapa dirinya berhadapan saat ini." Sela Ramon masih mempertahankan gaya cool dan santainya.
Calista mendelik, menatap tajam kearah Ramon. Sedari dulu ia tidak pernah akur dengannya. Apa yang dilakukan Calista untuk mendekati Zein, selalu saja mendapatkan kritikan pedas dari Ramon.
"Jangan ikut campur Ramon! kau bukan siapa-siapa, kau hanya bawahan rendahan Zein!" maki Calista.
"Awas saja kau, jika aku sudah menikah dengan Zein. Kau orang pertama yang akan aku pecat!" ancam Calista.
"Hahaha..." Ramon tertawa hingga perutnya sakit. Sedangkan Zein hanya diam dan tersenyum membiarkan Ramon sedikit bermain-main dengan Calista. "Narsis! siapa yang akan menikah denganmu? Zein? jika itu terjadi, tanpa kau pecat-pun, aku orang pertama yang akan mengundurkan diri bekerja dengannya." Ejek Ramon.
"Brengsek kau Ramon!" Umpat Calista.
"Kenapa kau marah? itu memang kenyataan. Zein tidak akan menikah denganmu. Kau tau kenapa? karena Alika masih hidup. Wanita yang ingin kau singkirkan sekarang sudah sehat. Jadi, jangan mimpi terlalu tinggi, kalau jatuh akan sangat menyakitkan!" Ungkap Ramon.
Calista sangat syok tidak ingin percaya. "Apa?! Alika masih hidup? kau pasti berbohong! tidak mungkin Alika hidup karena aku sudah mendorongnya jatuh ke jurang."
__ADS_1
Tanpa Calista sadari, dirinya sudah terpancing emosi oleh Ramon. Secara tidak langsung dia telah mengakui perbuatannya pada Alika.
"Sudah kuduga kau yang melakukannya!" Sela Zein dengan seringai licik di wajahnya. Tatapannya semakin tajam ke satu titik dimana Calista sedang duduk.
"Kau salah dengar Zein! Aku tidak melakukan apapun, Alika tidak sengaja terjatuh saat kami bicara. Aku berani sumpah jika Alika kecelakaan karena kakinya terpeleset dan akhirnya jatuh ke jurang. Kamu harus percaya padaku Zein!" Serga Calista.
"Kecelakaan?! setelah apa yang kau lakukan pada Alika, apa kau pikir aku masih bisa percaya padamu? Apa salah Alika padamu? Dia hanya mengikuti keinginan keluarga kami, hah?! jika kamu marah, marah saja padaku karena menerima bertunangan dengannya?" sengit Zein.
Zein mendekatkan wajahnya lebih dekat lagi dengan wajah Calista. Memberi jarak hanya beberapa sentimeter membuat Calista tercengang.
Calista menatap mata Zein penuh damba, hembusan napas Zein dapat ia rasakan menyapu permukaan kulit wajahnya. Ia mulai menutup mata menunggu saat dimana Zein mencium bibirnya.
Tanpa ia sangka, tiba-tiba Zein menekan pipinya dengan kasar dan cukup lama. "Apa yang sedang kau pikirkan, hah?! wanita sepertimu tidak cukup pantas untuk aku sentuh!" Zein menaikkan sebelah alisnya lalu melepaskan tangannya.
Calista meringis, perih, dan kesakitan, matanya langsung membola begitu mendengar suara bariton Zein dengan intonasi lebih tinggi.
"Zein, kenapa sangat susah menarik hatimu? aku hanya mencintaimu, tidakkah kau sadar sejak awal kita bertemu aku sudah jatuh cinta padamu? meskipun kamu cacat, aku masih tetap setia padamu. Tidak seperti pacar kamu yang pergi darimu. Dan sekarang Alika, dia juga tidak sebaik aku Zein!" Lirih Calista. Netranya menatap Zein penuh iba.
"Karena kau tidak tulus, ada tujuan yang kau inginkan, aku tau semua tentang dirimu. Aku tidak mudah menerima orang lain masuk ke dalam hidupku, kau tau itu kan? tapi salahmu karena kau menyakiti Alika. Orang yang sangat aku cintai. Jika bukan karena kau anak dari sahabat Mama, aku sudah membunuhmu Calista!" Geram Zein.
.
.
Bersambung....
Sahabat Author yang baik ❤️
__ADS_1
Jangan lupa, Like, Komen, Hadiah, Dukungan dan Votenya ya! 🙏🙏
Zein berjuang mendapatkan alika, terus menemui alika sembunyi-sembunyi.