Calon Istri Milyader

Calon Istri Milyader
Mencari jejak 2


__ADS_3

Tok.. tok.. tok..!


Seseorang mengetuk pintu mobil, membuat Meriska mengira dia seorang pengemis. Meriska mengambil beberapa lembar uang dari dalam dompetnya kemudian membuka kaca mobil.


"Nona mau ke kota? jalanan disana tutup. " Tanya seorang pria.


"Iya, Tapi saya baru saja lewat sana." Ujar Meriska karena saat ke rumah Alika, ia melewati jalan yang sama.


"Maaf Nona barusan jalanan tutup karena ada pohon yang tumbang. Anda harus memutar lewat jalur sana, nanti belok kekiri saat untuk kembali ke jalan utama menuju pusat kota." Jelas Pria itu kemudian menunjukkan Meriska arah jalan.


"Oh, baiklah, terimakasih." Ujar Meriska dengan lembut kemudian kembali menutup kaca mobil.


"Apa ini petunjuk dari Tuhan jika aku harus lewat sana? Cepat juga Tuhan mengabulkan doaku. Baiklah, aku akan mencari Alika ke arah sana." Monolog Meriska kemudian belok kiri kearah pinggiran kota.


................


Ditempat lain.


Alika membuka mata dengan perlahan, menyatukan nyawa yang masih belum terkumpul sambil mengedarkan pandangannya. Dia sedang berbaring di sebuah kamar yang menurutnya sangat asing.


"Aku dimana? siapa yang membawaku ke tempat ini?" Monolog Alika mencoba mengingat dengan kepala sedikit pusing. Ia menekan pelipisnya untuk menghilangkan rasa nyeri di kepalanya.


Tidak lama kemudian seorang pelayan paruh baya masuk ke dalam kamar membawa nampan berisi makanan dan air minum.


"Nona sudah bangun? silahkan dimakan Nona." Ujar wanita paruh baya itu kemudian kembali melangkah keluar.


"Tunggu, aku dimana? dan siapa yang membawa aku ke sini?" Tanya Alika bingung. Terlalu banyak pertanyaan yang tertumpuk di otaknya. Siapa yang membawanya? untuk apa? dia dimana? dan masih banyak lagi yang lainnya.


"Di Pantai Riviera vittoria. Saya permisi." Jawab wanita itu kemudian segera keluar takut Dirga marah jika salah bicara.


"Eh, tunggu aku belum selesai..."


Pintu segera tertutup, Alika yang sedang menaikkan nada suaranya seketika berhenti. Ia hanya melirik makanan yang di letakkan di meja nakas tanpa sedikitpun niat untuk menyentuhnya.


Alika memperbaiki posisi duduknya, mencoba mengingat kembali kejadian semalam. Yang dia ingat Zein mengantarnya pulang ke rumah setelah itu Dirga datang menemuinya.


"Ah, Dirga brengsek!" Geram Alika.


Alika beranjak meninggalkan tempat tidurnya, berjalan menuju pintu kamar namun ternyata terkunci dari luar. Pikirannya mulai gelisah mencoba mencari cara untuk keluar dengan membuka tirai jendela yang menghadap ke laut. Tidak ada jendela disana karena hanya dinding kaca sebagai pembatas memperlihatkan betapa indahnya pemandangan pantai di luar sana. Suara ombak air laut terdengar begitu indah di telinganya namun tidak mampu menghilangkan rasa khawatirnya sekarang. Kedua orang tuanya dan Zein pasti sedang cemas memikirkan keberadaannya saat ini.


"Kamu sudah bangun?"


Suara bariton yang familiar ditelinganya membuyarkan lamunannya. Alika berbalik melihat sumber suara.


"Dirga."

__ADS_1


Hanya kata itu yang keluar dari mulut Alika kemudian kembali berbalik melihat ke jendela. Melihat wajah Dirga hatinya kembali Kesal. Entah sampai kapan laki-laki itu berhenti mengejarnya dan membiarkan hidupnya tenang.


"Kau suka tempat ini? Indah bukan? kita akan menikmatinya bersama jika kamu kembali padaku." Tawar Dirga sambil melangkah mendekat.


Alika tidak mengalihkan pandangannya, tetap membelakangi Dirga tanpa bicara. Ia berharap Meriska dapat menemukan dan segera membawanya pulang.


"Alika."


Dirga memegang kedua pundak Alika kemudian membalikkan tubuh Alika berhadapan dengannya.


"Apa yang kau inginkan Dirga?" Tanya Alika menantang.


Alika tiba-tiba bicara dengan suara parau. Menatap mata Dirga penuh kebencian. Tidak ada lagi tatapan penuh cinta disana setelah penghianatan yang Dirga lakukan.


"Aku hanya ingin kau ikut denganku dan kita hidup bersama. Menikah, berkeluarga dan membesarkan anak-anak kita."


"Ck! jangan mimpi!" Alika mendengkus membuat Dirga mulai emosi.


"Apa karena pria itu? Ck! aku pikir kau benar-benar mencintaiku, tapi ternyata kau begitu mudahnya berpaling dengan pria lain hanya dalam waktu beberapa bulan."


"Dengan apa yang telah kau lakukan, apa kamu pantas untuk aku cintai? aku rasa kau sudah tahu jawabannya. Aku tunangan dengan Zein karena dijodohkan. Sekarang memang aku mencintainya, apa itu salah? ingat, kita sudah tidak memiliki hubungan apapun." Tegas Alika penuh penekanan pada kalimatnya 'tidak memiliki hubungan apapun."


"Alika sayang..! aku mohon berikan aku kesempatan, Aku hampa tanpamu, aku tidak memiliki semangat lagi, tanpamu disisiku terasa begitu hampa."


"Ada atau tidak ada Zein dikehidupanku, aku tidak akan pernah kembali padamu. Apa kau pikir dengan menculikku seperti ini aku akan memaafkanmu? Kamu gila Dirga!"


"Ia, aku memang gila karena kamu sayang..!"


Dirga mendekatkan tubuhnya pada Alika, menatapnya dengan mata penuh gairah membuat Alika sedikit takut dan mulai mundur dengan kaki yang gemetar.


"Jangan macam-macam Dirga." Ujar Alika menyadari kakinya sudah tidak bisa mundur lagi. Ia berbalik ternyata Dirga membawanya ke sisi tempat tidur.


"Kenapa? kamu takut sayang...! bagaimana kalau kita mengawali kisah kita dengan bercinta diatas ranjang ini, agar kamu dapat merasakan betapa hangatnya cinta yang aku miliki untukmu." Tatapan Dirga semakin dalam. Tangannya mulai menyentuh rok Alika dan mengangkatnya memperlihatkan paha Alika yang putih mulus.


Alika hanya diam mencari cara agar lepas dari Dirga.


"Mana Alika yang aku kenal pemberani? ayolah sayang, aku pastikan kau akan ikut menikmatinya." Goda Dirga.


Bug!


Alika mengangkat lututnya memukul benda berharga milik Dirga.


"Ah.. Alika!" Ringis Dirga sambil memegang asetnya.


"Bukankah kau mencari Alika yang kau kenal pemberani? rasain!" Ejek Alika.

__ADS_1


"Alika! jangan membuatku berbuat kasar dan memaksamu." Geram Dirga.


"Lepaskan aku jika kau tidak ingin mendapatkan yang lebih dari ini Dirga." Alika ikut Geram.


"Tidak akan! aku akan membawamu pergi." Kesal Dirga kemudian segera keluar meninggalkan Alika.


Dirga keluar dari kamar dengan wajah memerah menahan sakit. Sungguh tendangan Alika sangat perih hingga ke ubun-ubun kepalanya. Ia khawatir jika asetnya sudah tidak bisa berfungsi lagi dengan baik.


"Ada apa bos?" Tanya salah satu anak buahnya melihat tingkah Dirga yang aneh.


Dirga mengunci kamar dari luar kemudian memerintahkan anak buahnya untuk menjaga Alika dengan baik.


"Jangan banyak nanya! Jaga dia dengan baik. Dia sangat licik dan kuat. Jika dia berhasil kabur, maka nyawa kalian yang menjadi taruhannya." Ancam Dirga kemudian segera menuju kamarnya yang tidak jauh dari kamar Alika di sekap.


..........


Ramon, kau sudah dapatkan posisi Meriska?" Tanya Zein di dalam mobil.


Saat ini mereka sedang mengikuti Meriska. Setelah Meriska menghubungi Ramon, Ramon berhasil melacak keberadaannya dan sekarang sedang mengikutinya.


"Sudah dia sedang menuju pinggiran kota."


"Bagus, ikuti kemana Meriska pergi."


"Apa yang akan dia lakukan di sana? kenapa tidak meminta bantuan kita? apa dia tidak takut bahaya yang akan dihadapinya?" Tanya Ramon sambil fokus menyetir.


"Mana aku tau? yang pastinya dia sedang mencari Alika kan? mungkin dia mendapatkan petunjuk yang kita tidak dapat. Dia sama persis dengan Alika, suka bertindak sendiri."


"Ikuti saja kemana dia pergi. Dia akan membawa kita menemui Alika."


"Kok kamu sangat yakin? bisa aja dia menemui kliennya dulu ya kan?"


Drrtt.. drrtt.. drrtt..


Ponsel Ramon berdering, kali ini dari anak buahnya yang mencari informasi tentang Dirga. Ramon menekan headset bluetooth yang terpasang di telinganya kemudian mulai bicara.


.


.


Bersambung....


Sahabat Author yang baik ❤️


Jangan lupa, Like, Komen, Hadiah, Dukungan dan Votenya ya!

__ADS_1


__ADS_2