
"Kenapa Sander begitu dekat dengan Alika?" Tanya Monika heran pada Nura.
"Mungkin mereka sedang membicarakan kamu. Kamu tau sendiri kan bagaimana Sander? Dia selalu memujimu dan bangga padamu." Jawab Nura agar Monika tidak bertanya yang macam-macam.
"Hehehe, iya juga ya?" Lirih Monika.
"Sudah, jangan pikirkan mereka, lebih baik kamu fokus untuk produk kedua." Ujar Nura sambil memperbaiki make-up Monika.
Mereka kembali melanjutkan pemotretan. Alika dan Meriska kembali ke ruangannya untuk mempersiapkan bahan meeting bersama beberapa kepala divisi atau departemen.
"Sander ngomong apa aja?" Tanya Meriska sambil mengatur berkas di depan meja kerja Alika.
"Dia ajak aku dinner." Jawab Alika.
"Trus, kamu mau diajak begitu saja dengannya?" Ketus Meriska.
"Hmm, terpaksa." Alika menganggukkan kepalanya. "Mungkin ini kesempatan untuk kita. Aku harus mendekatinya agar bisa menarik informasi tentang Kak Alan. Bukankah Zein bilang kematian Kak Alan ada kaitannya dengan mereka?"
Tanya Alika.
"Ia sih! tapi kok aku merasa dia berbahaya ya? kamu harus hati-hati dengannya." Pikir Meriska.
"Kita harus mencobanya, tapi aku tetap ingin kamu mengikutiku, aku takut dia berniat yang macam-macam."
"Siap bu bos! aku siap menjadi detektif demi cintaku pada Alan." Semangat Meriska memberikan tanda hormat dengan menaikkan lima jarinya yang tertutup rapat di pelipisnya.
"Kamu ini." Alika geleng-geleng kepala.
"Apa kamu sudah bicara dengan Zein?" Tanya Meriska
"Belum, dia nggak perlu tau." Jawab Alika.
"Alika! apapun yang kamu lakukan sekarang ini dia harus tahu, kalian sudah tunangan. Jangan sampai masalah kecil menghancurkan pertunangan kalian." Nasihat Meriska.
"Kamu terlalu lebay..! bukannya lebih baik jika itu terjadi? aku tidak perlu repot-repot memikirkan cara memutuskan pertunangan ini." Ujar Alika menyadarkan bahunya di kursi.
Setelah beberapa menit, mereka menuju ruang meeting, beberapa kepala divisi atau departemen sudah menunggu kehadiran mereka. Meriska mulai membuka meeting dan meminta mereka untuk mempertanggung jawabkan laporan yang telah mereka buat. Hanya ada beberapa bagian dari laporan yang harus di revisi. Semuanya berjalan dengan lancar selama dua jam. Meeting selesai dan semuanya kembali ke ruangan masing-masing.
Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore, satu persatu karyawan keluar dari kantor dan kembali ke rumah untuk istirahat.
Meriska mengambil kunci mobilnya lalu mengantar Alika untuk pulang.
"Aku saranin telpon Zein sebelum pergi bersama Sander. Dia harus tahu apa yang kau lakukan." Ujar Meriska setelah mereka duduk di dalam mobil. Mereka memasang seat belt, lalu Meriska melajukan mobilnya menuju kediaman keluarga Alika.
__ADS_1
"Ini hanya masalah kecil Meris, kita nggak perlu melibatkan orang lain." Tolak Alika.
"Tapi, tetap saja aku menghawatirkanmu. Jangan sampai kamu beneran jatuh cinta pada Sander. Ingat dia itu milik Monika." Nasihat Meriska.
"Aku tau apa yang harus aku lakukan." Ujar Alika.
Bunyi notifikasi masuk ke dalam ponsel Alika. Ia menghela napas saat melihat siapa yang mengirim pesan.
"Pesan dari siapa?" Tanya Meriska.
"Pesan dari Sander, kami akan makan malam di restoran the roof milano. Kamu temenin aku ke sana ya? tapi kamu cukup melihat kami dari jauh." Ujar Alika.
"Hm, baiklah. Tapi aku harus pulang ke apartemenku dulu." Pasrah Meriska dengan wajah cemberutnya.
Setelah empat puluh menit, akhirnya mereka tiba di rumah orang tua Alika. Alika langsung masuk lalu menuju kamar dan bersiap-siap untuk pergi. Sedangkan Meriska kembali ke apartemennya.
Sebelum pukul tujuh Meriska menjemput Alika.
"Kamu cantik banget..!" Puji Meriska.
Meriska memutar tubuh Alika di depan cermin dengan mengenakan dress selutut berwarna peach, make-up tipis serta lip balm membuat kecantikan Alika tampak lebih alami dan segar.
Mereka segera menuju restoran the roof milano.
"Kamu tenang aja, aku bakalan jaga jarak kok." Yakin Meriska.
"Kau memang bisa aku andalkan." Lirih Alika.
Tak terasa kini mereka tiba di depan restoran. Meriska menurunkan Alika di depan pintu masuk restoran, lalu menuju perkiraan mobil. Setelah memarkirkan mobilnya, Meriska segera masuk dan mencari tempat yang cocok dan tepat untuk mengawasi Alika dari jarak jauh.
Di dalam restoran, ternyata Sander sudah berada di rooftop, ia menyediakan makan malam romantis untuknya dan Alika di sana.
Sander berdiri menatap pemandangan kota dari atas. Ia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Alika. Ia sangat senang bisa mengajak Alika makan bersama.
Tidak lama kemudian, Alika masuk dan menghampiri Sander setelah yakin Meriska berada di tempat yang aman.
"Hai, maaf aku membuatmu menunggu." Sapa Alika sambil tersenyum.
Sander menyambut Alika dengan mencium tangannya dengan lembut.
"Hai, tidak masalah. Ayo sini duduk." Ajak Sander sambil menarik satu kursi untuk Alika.
"Makasih." Ujar Alika setelah duduk di kursi.
__ADS_1
Sander menarik kursi untuknya lalu duduk berhadapan dengan Alika.
"Alika, malam ini kamu sangat cantik." Puji Sander
Alika mengernyitkan keningnya. Ingin rasanya ia muntah saat mendengar kata-kata gombal dari mulut Sander. "Apa kemarin-kemarin aku tidak cantik?" Tanya Alika.
"Ah, Maksud aku, malam ini kamu jauh lebih cantik." Ralat Sander.
"Oya? makasih lho pujiannya. Kamu sangat pandai merayu, pantes saja Monika jatuh cinta, ternyata kamu sangat romantis." Puji Alika.
"Hehe, nggak usah bawa-bawa nama Monika, kita nikmati malam ini berdua." Ujar Sander.
Pelayan datang menghampiri mereka lalu meletakkan makanan yang telah dipesan oleh Sander sebelumnya. Makan malam romantis dengan iringan musik klasik yang sudah dipersiapkan oleh Sander.
Setelah menata makanan, pelayan mempersilahkan mereka menikmatinya lalu pergi menuju meja lain.
"Kok aku merasa makan malam ini sangat romantis ya?" Tanya Alika.
"Aku sengaja menyiapkan ini khusus untuk kamu yang pantas diperlakukan seperti ini. Jujur saja aku sangat menyukaimu saat kita pertama kali bertemu. Alika apa kau mau jadi pacar aku?" Ungkap Sander.
"Aku.." Gugup Alika bingung harus berkata apa. Ia tidak menyangka Sander akan mengungkapkan perasaannya secepat itu.
Sander segera memegang kedua tangan Alika. Netranya menatap mata Alika dengan lekat. Jantungnya berdetak dengan kencang saat mata Alika membalas tatapannya.
"Aku tau ini membuatmu terkejut dan tidak nyaman. Kamu juga pasti mempertanyakan hubunganku dengan Monika. Tapi ji akan memaksamu menjawabnya sekarang. Kita masih memiliki waktu untuk saling mengenal bukan?" Ungkap Sander.
"Kamu salah, karena aku sudah mengenalmu dengan baik. Jika bukan karena sebuah alasan, aku nggak akan pernah mau makan malam dengan lelaki buaya seperti kamu." Batin Alika.
"Kenapa kamu melamun? Ayo kita makan. Kamu harus makan yang banyak." Semangat Sander.
Sander memotong steak di piringnya lalu menukar piring Alika dengannya.
"Aku bisa sendiri Sander. Tidak usaha repot-repot seperti ini." Tolak Alika.
Sander tetap melakukan apa yang ingin dia lakukan. Sedangkan Alika hanya bisa pasrah mendapatkan perlakuan yang menurutnya sangat berlebihan.
Saat mereka sementara menikmati makanan diatas meja makan. Tiba-tiba seseorang datang menghampiri Alika.
.
.
Bersambung...
__ADS_1