
"Alika, kamu tidak apa-apa?"
Meriska tiba-tiba saja muncul dengan wajah panik dan kebingungan karena melihat pengawal Dirga yang diikat eh anak buah Zein.
"Meriska." Lirih Alika.
Alika melepaskan pelukannya dari Zein kemudian memeluk Meriska.
"Maaf, aku terlambat." Ujar Meriska sedih, air mata mereka kembali berlinang.
"Tidak apa-apa, aku baik-baik aja." Balas Alika.
Sedangkan Ramon hanya melongo, mengapa Tuhan begitu cepat menjawab doanya? dan mengapa harus gadis barbar seperti Alika yang selalu merepotkan dirinya? Ramon menggelengkan kepalanya tidak ingin percaya, Ia mengucek matanya untuk memastikan bahwa dia tidak salah melihat orang.
"Mata kamu kenapa?" Tanya Zein.
Ramon menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Ah, Tidak, tiba-tiba saja mataku kelilipan debu." Jawab Ramon berbohong.
"Kenapa kamu bisa tau aku di sini?" Tanya Alika.
"Ah, sudahlah nggak usah di bahas. Ceritanya panjang." Jawab Meriska kemudian melirik Ramon yang sedang meliriknya.
Zein dan Ramon hanya diam melihat mereka berdua. "Ramon, urus Dirga dan anak buahnya. Pastikan mereka masuk penjara dan Dirga berikan hukuman yang berat agar dia menyadari dengan siapa dirinya berhadapan." Perintah Zein.
"Baik bos!"
"Meriska kau ikut Ramon pulang, ini sudah malam, bahaya jika kamu berkendara sendiri." Ujar Zein.
"Tapi.. aku kan harus membawa mereka ke kantor polisi."
Ramon berusaha menghindar. Entah mengapa jika hanya berdua dengan Meriska jantungnya selalu berdebar tidak karuan.
"Tidak apa-apa Zein, aku bisa nyetir sendiri. Aku juga nggak mau dianterin dia." Ujar meriska kemudian mendelik melihat Ramon.
"Tidak bisa, Ramon tetap akan mengantarmu pulang." Ujar Zein pada Meriska.
"Ramon, kerjakan secepat mungkin. Aku, Alika dan Meriska akan menunggumu di hotel. Setelah urusan Dirga selesai, kita kembali ke kota." Perintah Zein kembali.
"Baiklah." Ujar Ramon dengan pasrah suara parau. Ia melirik Meriska sebentar kemudian mendekati anak buahnya, "Bawa mereka." Perintah Ramon kemudian melangkah menuju mobilnya di ikuti para pengawal yang sedang membawa Dirga dan anak buahnya.
"Alika, jangan biarkan mereka membawaku sayang. Dia itu bajingan, lihat bagaimana dia membawaku. Bukankah kamu tidak suka laki-laki yang kasar? aku selalu memperlakukan dengan lembut dan penuh kasih sayang." Teriak Dirga sambil berjalan terpaksa karena didorong oleh pengawal Zein.
"Pria Gila!" Umpat Meriska kemudian melirik Alika dan Zein yang kembali berpelukan tanpa perduli dengan teriakan Dirga, "Hah, ini lebih gila lagi." Batin Meriska.
"Mau kemana?" Tanya Alika saat melihat Meriska melangkah keluar.
"Pergi dari sini, aku nggak mau jadi setan di tengah-tengah kalian. Oh iya, Aku menunggu Ramon di pantai aja, sekalian jalan-jalan kali aja ada wisatawan yang naksir, hehehe." Jawab Meriska sambil bercanda.
Meriska kembali melangkah menuju pantai. Sedangkan Alika dan Zein hanya saling berhadapan setelah Meriska menghilang di balik pintu.
__ADS_1
"Aku menghawatirkanmu, aku hampir saja gila jika tidak segera menemukanmu." Ujar Zein.
Zein menyelipkan rambut Alika di telinga, kemudian mengecup dahinya dengan lembut.
"Ayo kita pindah ke hotel." Ajak Zein.
"Nggak sayang, aku ingin menikmati malam ini di pantai bersamamu." Melas Alika kemudian menarik tangan Zein keluar dari Villa.
Zein pasrah mengikuti Alika menuju pantai. Sebenarnya dirinya sangat lelah karena seharian mencari Alika. Namun melihat wajah ceria Alika membuatnya sedikit melupakan rasa lelahnya.
Alika berlari menuju pantai, ia merentangkan tangannya menikmati angin menerpa wajah dan rambutnya yang tergerai.
"Tidak usah lari-larian Alika, kamu seperti anak kecil yang tidak pernah kepantai aja."
"Aku sangat bahagia Zein! Sebenarnya aku sangat takut jika Dirga benar-benar membawaku pergi jauh."
Zein semakin mendekat, maniknya menatap lekat mata Alika, menyelipkan rambut Alika kebelakang telinganya, parasnya yang cantik tetap bersinar dibawah bulan yang terang. Suara desiran ombak terdengar begitu indah di telinga membuat suasana berubah menjadi romantis.
Mereka diam satu sama lain, menikmati indahnya malam setelah kejadian buruk yang Alika alami. Detak jantung keduanya saling bersahutan.
"Tidak akan ada yang bisa membawamu pergi dariku, aku merindukanmu."
"Aku juga merindukanmu, Zein." Balas Alika.
Kemudian Zein merapatkan bibirnya, kini bibir mereka saling terpaut, tidak ada lagi jarak diantara keduanya. Ciuman yang semakin lama menjadi semakin dalam saat Zein menahan tengkuk Alika. Alika ikut menikmatinya tangannya bergerak diatas dada bidang Zein yang sixpeck.
Ditempat yang tidak jauh dari Alika, Meriska menutup mulut dengan mata melotot, adegan film dewasa begitu nyata di depan matanya, ia segera menutup mata, tidak ingin momen seperti itu masuk di dalam pikirannya. Tiba-tiba saja suara seseorang membuatnya tersentak.
"Apa kamu bilang? dasar otak mesum! aku menutup mata karena tidak ingin melihat mereka." Geram Meriska. mengangkat tangannya untuk memukul Ramon.
"Alaahhh.. ngaku aja, nggak usah malu-malu, aku bisa melakukannya untukmu jika kamu mau, hehehe..."
Ramon semakin jahil. Niat awalnya hanya ingin mengejek Meriska, namun melihat wajah Meriska yang memerah seperti buah cerry membuatnya semakin ingin menjahili wanita cantik dihadapannya.
"Dasar kamu.." Meriska mengangkat tangannya untuk memukul Ramon. Tapi bukan Ramon namanya jika tidak bisa menghindarinya, ia segera berlari tapi tidak ia sangka jika Meriska mengejarnya dengan sejuta omelan yang keluar dari mulutnya.
Ramon terus berlari, kadang menabrak orang lain karena sesekali berbalik mengejek Meriska yang tidak bisa mengejarnya.
"Ayo, pukul kalau bisa, hahaha... payah!" Zein semakin mengejek Meriska.
Meriska semakin Geram, ia kemudian mengambil pasir lalu melemparnya ke Ramon.
............
Sementara Alika dan Zein yang melihatnya tertawa hingga perutnya sakit. Bagaimana tidak jika Ramon dan Meriska seperti anak kecil yang yang sedang bermain kejar-kejaran di pinggir pantai.
"Kenapa aku mereka lebih romantis dari kita ya Zein?" Tanya Alika.
"Hehehe... aku juga merasa hal yang sama. Bagaimana kalau kita jodohkan mereka?" Ide Zein yang tidak terduga muncul begitu saja.
__ADS_1
Alika diam sejenak memikirkannya. "Mmmm... ide yang tidak buruk Zein." Jawab Alika.
Mereka saling melempar senyum kemudian kembali berpelukan. Tidak lama kemudian mereka duduk di beralaskan alas kaki. Dinginnya angin laut membuat Alika melipat kedua tangannya sambil mengelus lengannya sendiri.
"Kamu kedinginan?" Tanya Zein.
"Hmm."
Zein yang peka segera membuka jasnya kemudian memasangnya di bahu Alika. Alika tersenyum mendapatkan perlakuan yang manis dari Zein.
"Makasih Zein."
"Sama-sama sayang."
"Malam yang indah." Ujar Alika sambil mengangkat kepala keatas menatap bintang dan bulan.
"Hm.. lebih indah kamu." Ujar Zein menatap Alika.
Alika tidak berkata-kata lagi selain menyandarkan kepalanya di lengan Zein.
..................
"Dasar asisten gila! sini kalau berani!"
Meriska berkacak pinggang dengan napas yang terengah-engah. Dia berhenti mengejar karena lelah dan perutnya sakit. Masih mengatur napas yang cepat dan terputus-putus, ia memilih duduk dengan kaki lurus ke depan.
"Ini semua gara-gara Alika dan Zein. Bisa-bisanya mereka ciuman di tempat terbuka seperti ini. Mereka tidak tau apa, jika diluar sana masih banyak jomblo seperti aku. Seandainya Alan masih hidup, pasti nasib aku tidak akan seperti ini." Lirih Meriska.
Lama bergumam dalam lamunan dan kesedihannya, Ia mengambil satu botol air mineral yang disodorkan seseorang, tanpa menoleh atau berterima kasih, Meriska membukanya kemudian meminumnya sampai habis.
"Sudah nggak haus lagi?" Tanya orang itu.
Sontak membuat Meriska bergeming, ia hanya menoleh ke sumber suara yang sangat familiar di telinganya.
"Ngapain di sini? apa urusanmu sudah selesai?" Ketus Meriska kemudian segera mengalihkan pandangannya.
"Sudah, kau masih ingin disini atau mau pulang?" Tanya Ramon.
"Pulang aja, aku capek berlari mengejar pria menyebalkan." Kesal Meriska.
"Kenapa dikejar jika orangnya nggak akan pergi jauh?"
"????"
.
.
Bersambung.....
__ADS_1
Sahabat Author yang baik ❤️
Jangan lupa, Like, Komen, Hadiah, Dukungan dan Votenya ya!