Calon Istri Milyader

Calon Istri Milyader
Keras Kepala


__ADS_3

Roby berdiri dari kursinya lalu memperbaiki setelan jasnya.


"Apa kau tahu siapa yang membawaku ke kamar hotel?" Tanya Sander.


"Kenapa kau bertanya padaku? bukannya kau pulang bersama Alika?" Roby balik bertanya.


"Jadi, yang membawaku ke kamar Alika? tapi kenapa dia meninggalkanku sendiri? ah, dia memang berbeda dari wanita lain." Lirih Sander.


"Malah melamun." Ejek Roby.


"Hehehe, Aku hanya mencoba mengingat kejadian semalam. Tapi kenapa bibirku bibirku sakit ya?" Sander memegang sudah bibirnya.


"Mungkin kau memaksa Alika berbuat sesuatu yang ia tidak sukai. Jadi itu akibatnya, hehehe.. rasain!" Ejek Roby kembali.


"Dasar sahabat durhaka! Tidak, tidak, bukan seperti itu, sepertinya aku dipukul Zein deh!" Sander berusaha mengingat kembali, "Ia aku yakin itu Zein! kurang ajar! aku yakin Dia datang ke kamar dam membawa Alika pergi." Geram Sander.


"Tuh kan? baru aku bilangin Zein nggak akan tinggal diam jika kau deketin Alika. Kau nggak mau dengerin aku sih!? Sekarang terserah kau saja, aku mau pergi." Ujar Roby.


"Kau mau ke kantor?" Tanya Sander.


"Ia, Aku harus menghadiri meeting satu jam lagi. Pikirkan apa yang aku katakan tadi. Aku hanya tidak ingin hal buruk terjadi padamu. Aku pergi dulu, aku peringatkan sekali lagi, jauhi Alika sebelum kau terlalu dalam mencintainya. Sampai kapanpun dia milik Zein, karena yang aku dengar saat di pesta pertunangannya, mereka berdua di jodohkan oleh Kakek Hutama. Kau tahu sendiri bagaimana Kakek Zein. Zein saja yang berkuasa tidak bisa berkutik di hadapannya, apalagi kita yang hanya secuil debu bagi mereka. Kau bisa bangkrut dalam sekejap jika masih nekad. Aku harap kau memikirkannya. Aku pergi, sampai jumpa." Jelas Roby.


Roby mengambil ponselnya diatas meja kemudian pergi meninggalkan Sander yang masih mematung.


Sander tidak menyangka hubungan Zein dan Alika terjadi karena campur tangan dari Hutama. Mendengar nama Hutama membuatnya takut, tapi tekadnya untuk memiliki Alika sangat besar. Dulu ia sangat mudah mendapatkan Monika karena mereka memang pernah pacaran dan Hutama tidak menyukai Monika.


"Jika hubungan Alika dan Zein karena perjodohan, itu artinya mereka tidak saling mencintai dong? hehehe, sepertinya ini akan menarik, Aku akan membuat Alika jatuh cinta padaku lebih dulu. Dengan begitu, Alika akan meninggalkan Zein, lalu Hutama? hehehe, dia tidak akan bisa berbuat apa-apa lagi. Tapi jika aku tidak bisa membuat Alika mencintaiku, maka aku akan membawanya pergi dari Zein, lalu menghamilinya." Pikir Sander.


Sander menyeringai licik, ujung bibirnya teangkat sedikit karena merasa puas dengan idenya.


"Ah, persetan dengan Hutama. Dia tidak akan bisa berbuat apa-apa jika aku sudah mendapatkan hati Alika. Biar Alika yang meninggalkan Zein nantinya." Monolog Sander.


Setelah sarapan, Sander check-out dari hotel kemudian menuju mobilnya yang terparkir di basement.


.........


Apartemen Zein.


Zein mengetuk pintu kamar Alika yang sedang terkunci.


Alika yang baru saja keluar dari kamar mandi berjalan membuka pintu, Ia menyembunyikan tubuhnya di balik pintu lalu mengeluarkan kepalanya yang terlilit handuk.


"Ada apa?" Tanya Alika yang hanya wajahnya terlihat oleh Zein.

__ADS_1


"Kamu habis mandi?"


"Ia, kenapa?"


"Kamu belum pakaian?"


"Hm."


"Kenapa kamu buka pintunya? seharusnya kamu itu pakaian dulu baru buka pintu, apa kau nggak takut jika aku berbuat macam-macam?" Kesal Zein.


Ia harus menghilangkan pikiran kotor yang tiba-tiba muncul di kepalanya. Zein memutar kursi rodanya untuk segera pergi, namun panggilan Alika menghentikannya.


"Zein tunggu!" Panggil Alika.


"Pakai pakaianmu dulu, aku tunggu di ruang tamu." Ujar Zein tanpa berbalik.


Zein kembali meninggalkan Alika menuju ruang tamu.


Ramon yang sedang menunggunya hanya geleng-geleng kepala melihat wajah kesal Zein yang memerah.


"Apa kalian ribut lagi?" Tebak Ramon.


Zein hanya menggelengkan kepalanya tapi memukul pegangan kursi rodanya.


"Alika membuat kesalahan, dia habis mandi dan membuka pintu hanya menggunakan handuk."


"Loh salahnya dimana? kalau orang habis mandi memang pakai handuk kan?" Jahil Ramon.


"..." Zein mendelik tajam menatap Ramon.


"Ah, jangan bilang kau mengharapkan dia nggak pakai baju Zein!" Tebak Ramon.


"Dasar otak mesum!" Rutuk Zein.


"Tuh kan ngaku!" Ramon menunjuk wajah Zein.


"Kau tau sendirilah, aku pria normal! membayangkan apa yang ada di balik handuknya saja membuatku kesal."


"Makanya, halalin Alika secepatnya, biar nggak ngebayangin yang iya-iya melulu. Sepertinya tinggal berdua dengan Alika akan menyiksamu. Saranku lebih baik kalian segera menikah, cepat atau lambat juga pasti akan terjadi kan? jangan sampai keduluan Sander atau Dirga. Menurutku lebih cepat lebih baik. Masalah cinta atau tidak, itu urusan belakangan. Setelah menikah, anggap saja kalian pacaran, mulai mengenal satu sama lain, belajar saling mencintai, saling menjaga. Pasti sangat indah bukan?"


"Kau terlalu banyak ngomong! kau kehabisan obat ya?"


"Aku hanya tidak ingin kau menyiksa diri Zein. Aku tau kau butuh seseorang disisimu, tapi itu bukan aku. Alika adalah orang yang tepat, dia bisa melakukan apapun untukmu.

__ADS_1


"..."


"Nih ya aku contohin! Alika bisa ngapain aja untukmu, Dia pintar masak, bisa merawatmu saat sakit, menyiapkan semua keperluanmu sebelum kekantor. dan setelah kau pulang juga dia masih menunggumu untuk makan malam. Apa kami tidak sadar selama ini bagaimana dia mengurusmu? Apa yang kau inginkan dia bisa memberinya, termasuk kepuasan ranjangmu, ia kan?"


"Aku..."


"Jangan mikirin Monika lagi. Move-on dong..! Lihat Alika, sepertinya dia sudah move-on dari Dirga, masa kamu nggak bisa."


"Aku juga lagi berusaha. Baiklah, sepertinya yang kamu omongin ada benarnya juga. Aku akan segera menemui Om Hendrik untuk membahas pernikahan kami. Setelah itu aku dan Alika akan menemui Kakek di perkebunan." Ujar Zein.


Pendapat Ramon masuk akal baginya. Sebenarnya dia juga tidak ingin jika Sander dan Dirga mendekati Alika. Kedua orang itu merupakan saingan terbesar baginya.


Tidak lama kemudian Alika keluar dari kamarnya menuju ruang tamu.


"Aku akan ke rumah sakit bersama Ramon."


"Untuk apa?"


"Hanya kontrol, Aku ingin menggunakan tongkat. Richard menyarankan untuk kerumah sakit karena dia tidak sempat kesini memeriksa kakiku." Jelas Zein.


"Aku ikut." Ujar Alika mantap membuat Zein dan Ramon saling melirik.


"Kau ingin ikut?" Tanya Zein.


"Iya, emangnya nggak boleh?" Jawab Alika.


"Apa kau yakin." Zein balik Tanya memastikan, ia tidak menyangka Alika bersedia menemaninya ke rumah sakit. "Disaat aku mengharapkan Monika merawat dan selalu ada untukku, kenapa justru sekarang Alika yang melakukan semuanya? Gadis barbar yang baru saja aku kenal tapi ternyata memiliki hati yang sangat baik dan penuh perhatian. Ya.. meskipun dia suka jahil dan kadang membuatku kesal. Tapi jujur saja, sekarang aku tidak bisa jauh darinya." Batin Zein.


"Boleh apa nggak nih? kalo boleh aku ambil tas, kalo nggak aku ke kantor, gimana?" Tanya Alika ulang.


"Oke, kamu ikut." Jawab Zein.


"Tunggu sebentar." Semangat Alika.


.


.


Bersambung...


Sahabat Author yang baik ❤️


Jangan lupa, Like, Komen, Hadiah, Dukungan dan Votenya ya! 🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2