Calon Istri Milyader

Calon Istri Milyader
Rencana Papa


__ADS_3

"Oke." Alika menaikkan jarinya berbentuk O.


Mereka membereskan meja kerja Alika kemudian mengambil tas dan ponsel diatas meja. Setelah itu mereka keluar menuju lift. Saat lift terbuka, mereka segera masuk menuju parkiran.


"Kita mampir di restoran dulu ya? aku sangat lapar. Cacing di perutku sudah pada demo." Ujar Meriska setelah mereka keluar dari lift.


"Iya, aku juga lapar. "Sahut Alika.


Alika dan Meriska masuk ke dalam mobil kemudian melaju menuju restoran.


"Meris, tolong cariin tiket pesawat ke Roma buat besok, aku akan menjenguk Kakek di rumah sakit."


"Apa?" Meriska mendekatkan telinganya pura-pura tidak mendengar, "Aku nggak salah denger kan? Masa calon istri milyader, pemilik salah satu maskapai di cariin tiket. Yang bener aja, bisa jatuh harga diri Zein jika tau ini."


"Makanya, kamu nggak usah bilang. Biar jadi surprise nantinya."


"Siap bu bos!" Ujar Meriska sambil mengangkat tangannya memberi tanda hormat.


Lima belas menit kemudian mereka tiba di restoran. Alika dan Meriska langsung masuk. Memesan makanan terlebih dahulu kemudian duduk dikursi kosong menunggu pesanan datang.


"Eh, kamu tau nggak kalau Dirga sekarang sudah bebas."


Alika menggelengkan kepalanya. "Kalau sudah bebas emangnya kenapa? aku sudah tidak ada hubungan dengannya." Ujar Alika cuek.


"Aku yakin Dia akan datang mencari kamu lagi. Dia akan bucin setengah mati sama kamu." Ujar Meriska.


"Sudah ah, itu masa lalu yang harus aku kubur dalam-dalam."


"Dihati aku sekarang cuma ada Zein."


"Mhh.. trus bagaimana hubungan kalian, apa Om Hendrik sudah setuju?"


"Entahlah, terakhir ketemu Zein, Papa hanya cuek tapi tidak mengusirnya. Kadang aku juga bingung, apa Papa sedang merencanakan sesuatu yang aku nggak tau ya?"


"Mungkin saja. Om Hendrik itu kan susah di tebak. Wajahnya datar seperti Zein tapi otaknya terus berputar. Ihh.. aku jadi ngeri."


Puk!


Alika memukul lengan Meriska dengan pelan.


"Kurang ajar kamu, kamu pikir Papa dan Zein itu hantu?"


"Hehehe... becanda. Makanannya kok lama banget ya?" Kesal Meriska sambil mengetuk meja dengan jari-jarinya menoleh kiri dan kanan melihat pelayan.


"Kamu nggak sabaran banget sih! Tunggu aja! Oiya, selama aku pergi perusahaan aku titip ya?"


"Tenang aja, perusahaan aman di tangan aku."


Tidak lama kemudian pesanan datang diantar dua orang pelayan.


Mata Alika melotot saat pelayan tidak berhenti meletakkan makanan.


"Silahkan!" Ujar pelayan restoran setelah menata makanan yang mereka pesan diatas meja.


"Hah? Kamu gak salah pesan makanan sebanyak ini?" Tanya Alika heran.

__ADS_1


"Nggak, ini semua pesanan aku."


"Kapan kamu memesannya?"


"Saat kamu ke toilet, hehehe...."


Jelas saja banyak makanan, setelah Alika memesan makanan untuk mereka, Alika ketoilet sebentar, dan saat itu Meriska menambah pesanannya dua porsi lagi.


Meriskan segera mengambil makanannya lalu menikmatinya, sedangkan Alika hanya geleng-geleng kepala melihatnya sahabatnya makan dengan sangat lahap.


"Kamu lapar, apa doyan?"


"Dua-duanya, ini enak banget... ayo makan. Nggak usah malu-malu."


"Kamu tuh yang nggak tau malu! Kita jadi pusat perhatian karena terlalu banyak makanan diatas meja." Kesal Alika.


"Bodo amat! emang gw pikirin! yang bayar gw kenapa mereka yang repot!" Meriska menjawab dengan santai dan cuek sambil menikmati makanannya.


Sedangkan Alika tersenyum manis saat tatapannya bertemu dengan mata pengunjung yang lain. Jika dia bisa sembunyi, ia akan masuk di bawah meja karena malu akibat ulah sahabatnya.


Setelah menghabiskan makanan. Meriska mengantar Alika pulang lebih dulu kemudian ia kembali ke apartemennya.


.............


Alika masuk ke dalam rumah, ia melihat Belinda sedang duduk nonton drama korea kesukaanya di ruang tamu.


"Kok Mama belum tidur?" Tanya Alika.


"Nungguin kamu sayang. Sini! duduk deket Mama." Panggil Belinda sambil kemudian menepuk sofa di sampingnya.


Puk!


Belinda memukul tangan Alika saat ingin mengambil lagi.


"Ihhh... kamu ini, itu punya Mama."


"Mama nggak asik, pelit amat sih sama anak sendiri!" Balas Alika tapi tangannya terus mengambil kentang lalu memakannya.


"Kalau kamu mau, suruh Titin buatin untuk kamu. Jangan ganggu jatah Mama. Tuh liat, drakornya masih lama mainnya."


"Karena drakornya masih lama, gimana kalau Mama aja yang minta Titin buatin yang baru. Yang ini buat Alika aja, sudah hampir dingin juga kan?" Ide Alika sambil menarik piring kehadapannya.


"Terserah kamu saja. Mama pusing, kenapa kamu baru pulang?"


"Lembur dengan Meriska, Mah!"


"Oo..."


Belinda diam, membiarkan Alika menikmati kentang gorengnya. Setelah Alika berhenti kemudian meminum air putih. Belinda Mulai bicara kembali.


"Sayang... ada yang ingin Mama omongin."


"Hm.."


"Besok kita akan berangkat ke Milan. Papa ingin kamu dan Andrew tunangan disana."

__ADS_1


Byurrr...!


Alika mengeluarkan air minum dari mulutnya karena kaget. Tubuhnya langsung kaku, matanya membola menatap Belinda. Ia tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.


"Mah! Alika nggak mau. Alika hanya mau menikah dengan Zein, bukan dengan Andrew atau yang lainnya." Tolak Alika.


"Mama tau sayang, tapi ini sudah keputusan Papa kamu. Mama nggak bisa berbuat apa-apa selain setuju."


"Mah, Bukankah Om Matheo sudah tidak mau menjodohkan Andrew dengan Alika. Kenapa sekarang dia berubah?"


"Karena Papa berhasil membujuknya."


"Nggak Mah, Alika nggak mau. Besok Alika memang mau ke Milan, tapi bukan untuk bertunangan dengan Andrew. Alika ingin menjenguk Kakek Hutama di rumah sakit, Kakek sedang kritis Mah." Melas Alika, buliran air mata mulai membasahi pipinya.


Belinda berpikir sejenak. "Gini aja, bagaimana kalau kita perginya bareng. Nanti kamu ijin ke Papa mau jenguk Kakek, gimana ide Mama?"


"Alika mau aja, tapi Alika nggak mau tunangan dengan Andrew."


"Jangan membantah sayang! istirahatlah, besok pagi kita berangkat."


Alikan memegang tangan Belinda. Air matanya terus mengalir bagaikan air sungai yang tidak ada ujungnya. "Hikss, Mah! Alika mohon, bujuk Papa batalin pertunangan dengan Andrew." Melas Alika.


Belinda menghela napas berat. Sebagai seorang ibu yang sangat menyayangi anaknya, ia tidak tega melihat Alika menangisi. Kesedihan Alika membuat hatinya ikut teriris. Ia tahu akan sulit membujuk Hendrik mengubah keputusannya, tapi demi Alika ia akan mencobanya.


"Baiklah, Mama akan coba bujuk Papa. Tapi Mama nggak janji ini akan berhasil. Tidurlah." Ujar Belinda kemudian menghapus air mata Alika.


"Ada apa ini? kenapa Alika menangis Mah?" Tanya Hendrik tiba-tiba muncul di ruang tamu.


Hendrik keluar dari kamarnya karena mencari Belinda yang sudah satu jam tidak masuk kamar.


"Pah, Alika tidak mau tunangan dengan Andrew."


"Kenapa tidak sayang? Andrew pria yang sangat baik. Papa yakin suatu saat nanti kalian akan saling jatuh cinta. Besok kita akan berangkat ke Milan, pertunangan kalian akan dilaksanakan di hotel miliki Papa Andrew." Bujuk Hendrik.


"Pah, Alika mohon, kita sudah membahas masalah ini. Aku tidak mau." Melas Alika.


"Mau tidak mau, kamu tetap harus bertunangan dengan Andrew. Mereka sudah mempersiapkan semuanya. Jangan mempermalukan Papa Alika! jika kamu membatalkannya, maka jangan harap kamu masih menjadi bagian dari keluarga ini." Tegas Hendrik.


Alika menatap Hendrik dengan tajam, air mata yang tadinya sudah di hapus Belinda kembali berlinang membasahi pipinya yang mulus.


"Papa kejam!" Sungut Alika kemudian menghapus air matanya.


Alika menoleh kearah Belinda. Matanya menatap Belinda meminta pembelaan.


"Sayang lebih baik kamu istirahat, nanti Mama bicara dengan Papa." Sela Belinda.


Belinda memang tidak pernah berkata kasar pada Alika. Itu karena dia terlalu sayang padanya. Semenjak Alan meninggal hanya Alika yang mampu memberinya semangat hidup selain Hendrik. Sebenarnya dia juga tidak setuju dengan Andrew karena tidak terlalu mengenal keluarganya. Sedangkan jika Alika bersama Zein, kedua keluarga besar mereka sudah saling mengenal.


Alika mengangguk kemudian beranjak menuju kamarnya dengan wajah di tekuk. Alika melempar tasnya di atas tempat tidur, membuka sepatu kemudian berbaring menatap langit-langit kamarnya yang berwarna putih.


"Zein, aku butuh kamu." Batin Alika.


.............


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2