Calon Istri Milyader

Calon Istri Milyader
Canggung


__ADS_3

Tidak ada percakapan diantara mereka selama menikmati makanan.


Ramon juga tidak berani bersuara, hanya sesekali melirik Alika dan Zein. Setelah selesai makan siang, Ramon pamit karena harus menyelesaikan pekerjaannya di kantor dan tidak ingin berlama-lama berada diantara keduanya. Memberikan ruang untuk mereka agar saling bicara namun semuanya sia-sia.


Zein beranjak dari kursinya kemudian menuju kamar, sedangkan Alika membereskan bekas makanan yang ada diatas meja makan.


.......... ....


Zein Alika dan Ramon kembali ke Roma. Mereka kemudian melanjutkan perjalanan menuju perkebunan Kakek Hutama. Mereka dijemput oleh supir di bandara tapi Zein menyuruh Ramon dan supirnya untuk pulang dengan menggunakan taksi, karena dia sendiri yang ingin mengendarai mobilnya.


Zein masih fokus pada jalanan mengemudikan mobil menuju perkebunan Kakek Hutama. Tangannya yang sudah sembuh kini dapat bergerak dengan bebas. Kakinya juga sudah dapat berjalan dengan normal.


Suasana kembali canggung diantara keduanya. Semenjak kedatangan Frans di apartemennya, ditambah laporan dari anak buahnya tentang Alika dan Dirga bertemu di kantor. Zein mulai menjaga jarak karena tidak ingin hatinya jatuh terlalu dalam. Keduanya jarang berbicara karena Alika sama sekali tidak menyadari kesalahannya.


"Khemm." Zein mendeham menghilangkan kecanggungannya.


"Alika, bolehkah aku bertanya sesuatu yang cukup spesifik?"


Alika menoleh ke samping kanan, menatap wajah Zein yang tetap fokus ke arah depan tanpa melihatnya.


"Tanya aja."


Alika mulai waspada, semenjak di dalam pesawat hingga tiba di Roma. Zein tidak pernah mengajaknya bicara. Alika hanya memilih diam, dalam hati bertanya kenapa Zein kembali berubah dingin dan kaku padanya.


Zein menarik napas yang banyak, menaikkan oksigen dari rongga dadanya lalu melepaskannya dengan perlahan.


"Apa kau berencana untuk kembali pada Dirga?"


Pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut Zein. Meskipun dia tahu itu bukan rananya, tapi mendengar laporan dari anak buahnya membuat rasa panas dihatinya tidak pernah mereda. Mencoba mengabaikan namun selalu saja mengganjal di pikirannya.


Alika mendelik, tentu saja membuatnya terkejut, ia kembali mengingat kejadian di kantor beberapa hari yang lalu.


.......Flashback off .......


"Alika tunggu." Panggil Dirga saat melihat Alika dilobi hendak masuk ke dalam lift menuju ruangannya.


Alika menajamkan pendengarannya, apa ia tidak salah dengar, suara Dirga begitu nyata memanggil namanya. Karena rasa penasaran, Alika berbalik, maniknya menyipit menatap Dirga yang sedang berlari kecil menghampirinya.


"Kenapa kau disini? bukankah kita sudah tidak ada urusan lagi?"

__ADS_1


Pertanyaan Alika membuat hati Dirga sedikit tersinggung. Tetap tersenyum walaupun kehadirannya tidak di inginkan oleh Alika. Mau bagaimana lagi, ia harus berjuang kembali untuk mendapatkan cintanya.


"Jangan jutek seperti itu dong! jika kamu nggak mau balikan dengan aku, kita masih bisa berteman bukan? aku hanya ingin dekat denganmu lagi."


"Ogah!"


"Alika, berikan aku kesempatan sekali saja, aku sudah memutuskan Priska, dia juga sudah mengundurkan diri. Aku janji tidak akan ada lagi yang mengganggu hubungan kita. Aku rasa kau juga tidak serius dengan pertunanganmu kan? kau hanya menjadikan pria itu sebagai pelarian."


Alika memicingkan matanya, Dirga terlalu percaya diri dengan persepsinya.


"Sok tau! Aku rasa itu bukan lagi urusanmu, Dirga." Alika sengaja menekankan nada datar pada kalimatnya. Berharap kali ini Dirga dapat menempatkan diri jika sedang berbicara dengannya. Apalagi mereka sedang di kantor, untung saja hanya mereka berdua yang berdiri di depan lift.


Tanpa kata-kata Dirga langsung menarik tangannya Alika masuk ke dalam lift yang baru saja terbuka. Menekan lantai sepuluh menuju ruangan Alika.


Meriska melongo saat mereka melewati ruangannya. Terlintas di benaknya apa yang sedang terjadi pada mereka, dan kenapa Dirga datang ke kantornya menemui Alika. Saat ingin berdiri ia melihat Alika memberi isyarat seolah meminta Meriska untuk datang ke ruangannya.


"Lepaskan!"


Alika menarik kasar tangannya. Kini mereka di dalam ruangan Alika, Dirga tetap mendominan, ia masih sangat yakin jika Alika hanya berusaha untuk menghindarinya.


Dirga mendekati Alika dengan tatapan mata tajam. Alika mulai waspada mundur selangkah demi selangkah ke belakang hingga tubuhnya terbentur di dinding. Dirga mengungkungnya kemudian bertumpu pada kedua tangannya, kini jarak wajah keduanya hanya beberapa senti. Begitu Dirga ingin menciumnya, Alika langsung mengangkat lututnya, mendarat dengan sempurna di junior Dirga yang sudah sesak dibalik celana.


"Aku tidak perduli, seharusnya itu aku lakukan sejak dulu, saat aku melihatmu bersama Priska di kamar hotel. Sekarang pergi dari sini."


Alika segera membuka pintu bersamaan dengan Meriska yang hendak masuk memeriksa keadaan mereka.


"Kau baik-baik saja?" Tanya Meriska.


"Tenang aja, aku masih bisa mengatasi buaya darat itu." Tunjuk Alika dengan dagunya ke arah Dirga.


"Aku akan pergi, sampai kapanpun aku tidak akan rela kau bersama orang lain Alika. Aku akan kembali." Ujar Dirga kemudian keluar dari ruangan Alika dengan wajah yang memerah menahan sakit.


Meriska memperhatikan cara jalan Dirga tidak seperti saat dia datang bersama Alika. "Apa yang kau lakukan padanya? apa terjadi sesuatu?" Tanya Meriska penasaran.


"Aku hanya memberinya sedikit pelajaran, yang mungkin akan menjadi kenangan yang tidak akan pernah ia lupakan." Jawab Alika menyeringai penuh kemenangan.


.......flashback on.......


"Kenapa kau melamun? apa kau akan kembali pada Dirga?" Tanya Zein sekali lagi.

__ADS_1


Suara Zein mengagetkan dan membuyarkan lamunannya. "Hah? itu.. aku.. anu.." Jawab Alika gagu, belum sempat memikirkan jawaban yang tepat.


"Jawab yang jelas Alika! anak buahku melihat kalian masuk kedalam lift berdua." Suara Zein kembali terdengar.


Alika hanya mendesah, perlahan menetralkan suhu tubuhnya yang mulai dingin karena AC yang membuat bulu kuduknya berdiri.


"Aku nggak tahu..."


Sebenarnya jawaban itu tidak pernah Ia pikirkan, tidak pernah terlintas dalam benaknya akan kembali pada Dirga. Seorang penghianat tidak akan memiliki kesempatan kedua dalam kamus hidupnya.


"Nggak tahu? artinya kalian belum benar-benar mengakhiri hubungan kalian? masih ada rasa cinta di hatimu untuknya?"


Alika diam, Pertanyaan random dari Zein membuat kepalanya pusing tujuh keliling. Kehadiran Dirga yang selalu muncul tiba-tiba di hadapannya sudah sangat mengganggunya. Kenapa tiba-tiba Zein ingin tahu hubungannya dengan Dirga.


"Kenapa kamu jadi ingin tahu? kalau ia kenapa? dan kalau tidak juga kenapa?" Alika balik bertanya.


"Kalau iya kamu harus putuskan dia, dan kalau tidak juga harus putus!"


Alika mendelik melirik Zein yang sedang memelankan laju mobilnya kemudian berhenti saat lampu merah sedang menyala. "Kenapa begitu?"


"Karena aku tidak suka, ada orang lain diantara hubungan kita. Kita akan menikah, jika keluargaku dan kelurgamu tau aku tidak mau disalahkan karena tidak bisa menjagamu."


"Apa hanya karena itu?"


"Karena apa lagi emangnya?"


Alika menghela napas berat. Alasan yang sangat ingin ia dengar ternyata tidak dikatakan oleh Zein. "Ya... mungkin aja karena kamu cemburu." Ujar Alika langsung memalingkan wajahnya menghadap pintu kaca di sebelah kirinya.


Zein memicing kemudian melirik Alika. Baru saja ingin memegang tangan Alika, lampu merah sudah berganti hijau, suara klakson dari belakang juga mulai berbunyi. Dengan perlahan Zein kembali menginjak gas di bawah sana, pandangannya fokus kearah depan.


Hening selama beberapa menit hingga Zein melihat sebuah kedai makanan di pinggir jalan. Perutnya harus di isi karena perjalanan mereka masih jauh. Butuh tiga jam lagi untuk sampai di perkebunan.


.


.


Bersambung...


Sahabat Author yang baik ❤️

__ADS_1


Jangan lupa, Like, Komen, Hadiah, Dukungan dan Votenya ya! 🙏🙏


__ADS_2