Calon Istri Milyader

Calon Istri Milyader
Kesedihan Papa


__ADS_3

Zein diam, merasa bersalah karena membuat Alika marah. Tapi dalam sekejap raut wajahnya berubah senang. Sebenarnya ia ingin tahu seberapa dekat Alika dan Frans. Tapi setelah Alika menjelaskan, Zein dapat menyimpulkan jika Frans memang menyukai Alika tapi sebaliknya Alika hanya menganggapnya sebagai sahabat tidak lebih.


"Ternyata gadis barbar ini banyak yang suka padanya. Apa yang membuat mereka tertarik pada Alika ya? apa karena dia cantik atau apa? ah, kenapa juga aku memikirkannya." Batin Zein.


Zein dan Alika menemui Hendrik di kantornya untuk memperlihatkan bukti pelaku pembunuhan Alan. Mereka tidak ingin bicara di rumah karena takut Belinda mendengarnya.


"Kita mampir di restoran Marea seafood." Perintah Zein.


"Baik Tuan." Balas Ramon tetap fokus melihat ke depan.


Setelah beberapa menit, mereka tiba di restoran, menikmati makanan sebentar lalu menuju perusahaan Hendrik. Sebelum Ramon masuk ke dalam mobil, anak buahnya datang membawa satu tongkat untuk Zein. Ramon dan anak buahnya memang janjian disana setelah mereka membeli tongkat untuk Zein, mereka mengantarnya ke sana. Ramon mengambilnya lalu menyimpan di bagasi mobil. Setelah itu melajukan mobilnya.


Di perusahaan Hendrik, mereka langsung menuju ruangan Hendrik. Para karyawan memberi hormat pada Alika dan menatap Zein dengan raut wajah heran, siapa laki-laki cacat, tampan, tinggi, dan berkharisma yang datang bersama dengan putri Tuan Hendrik bosnya. Ada juga diantara mereka yang sudah mengenal Zein lewat beberapa media bisnis. Mereka yang mengenal Zein ikut menunduk saat Zein dan Ramon melihatnya.


Setelah mereka melewati karyawan dan masuk ke ruangan Hendrik. Para karyawan mulai berbisik satu sama lain. Salah satu karyawan kantor yang mengetahui tentang pertunangan Alika dari orang tuanya menjelaskan bahwa Zein adalah tunangan Alika.


Karyawan merasa kasihan pada Alika. Mereka merasa Alika tidak pantas untuk Zein yang cacat meskipun tampan dan seorang milyader.


"Menurutku mereka tidak cocok, Nona Alika sangat cantik, pintar, dan kaya, masa iya mau tunangan dengan pria cacat. Kasihan banget." Ujar karyawan wanita.


"Kalau sudah cinta apapun lewat!" Ujar karyawan pria.


"Tapi itu kayaknya bukan pacar Nona Alika deh! aku pernah melihat mereka saat menghadiri meeting, kalo nggak salah namanya Dirga dia juga nggak cacat." Ujar karyawan pria yang lain.


"Kalau dia bukan pacar Nona Alika, apa mereka dijodohkan?" Tanya karyawan lain lagi.


"Mungkin saja, mana mungkin Nona Alika mau tunangan dengan pria cacat." Jawab yang lainnya.


"Kalau tunangannya seorang milyader cacat sih aku nggak masalah, yang penting uangnya, uuuhh mengalir..." Semangat yang satunya lagi.


"Huss, kenapa kalian jadi gosipin anak bos? sudah, lanjutkan kerjaan kalian. Apa kalian mau di pecat oleh Tuan Hendrik?" Seru manager keuangan yang kebetulan melewati mereka yang sedang berkumpul.


"Ini Pak, kami hanya kasihan dengan Nona Alika." Sahut salah satu dari mereka kemudian bubar dan kembali ke meja masing-masing.


.............


"Papa...!" Sapa Alika langsung masuk ke dalam ruangan Hendrik tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Kebiasaan! Kamu kalau masuk selalu mengagetkan Papa, apa kau mau Papa kena serangan jantung di sini?" Canda Hendrik lalu memeluk putri semata wayangnya.

__ADS_1


"Tentu tidak dong Pa..! Alika yakin Papa akan panjang umur." Ujar Alika tersenyum.


Hendrik melepaskan pelukannya lalu menghubungi sekertarisnya untuk melarang orang lain masuk kedalam ruangannya karena sedang kedatangan tamu. Setelah menutup interkom, Hendrik melihat Zein, ada yang beda dengan penampilan Zein saat ini menurutnya.


"Nak Zein, kamu sudah bisa jalan?" Tanya Hendrik penuh semangat.


Hendrik sangat senang melihat Zein tidak menggunakan kursi roda lagi.


"Iya Om, kata dokter aku sudah bisa menggunakan ini." Jawab Zein kemudian memperlihatkan tongkat di tangannya.


"Bagus lah kalau seperti itu. Om sangat senang melihat kamu sehat kembali. Ayo Zein, Ramon kita duduk di sana, biar ngobrolnya lebih santai." Hendrik mengajak mereka duduk di sofa ruang kerjanya.


"Aku nggak diajak nih Pah?" Ujar Alika mendengus kesal.


"Kamu berdiri aja di situ." Canda Hendrik.


Alika mengerucutkan bibirnya lalu ikut duduk disofa.


"Ada apa nih kalian rame-rame datang ke perusahaan Om. Apa ada hal penting yang ingin kalian sampaikan?" Tanya Hendrik pada Zein.


"Iya Om, ini masalah pernikahan kami."


"Iya Om, Zein ingin segera menikahi Alika, tapi sebelumnya, aku ingin meminta ijin untuk membawa Alika menemui Kakek di perkebunan. Apa boleh?" Tanya Zein dengan wajah yang sangat serius.


"Zein! kamu apaan sih! bukannya kita kesini mau membicarakan kak Alan?" Sela Alika berbisik kemudian dengannya kesal memukul lengan Zein.


"Ia, sabar dulu." Balas Zein berbisik, "Bagaimana Om?" Tanya Zein meminta persetujuan dari Hendrik.


"Om setuju saja, kapan rencana kalian pergi?" Tanya Hendrik.


"Pekan depan Om." Ujar Zein.


"Hah!?" Alika kembali mendelik.


"Baiklah, lakukan apa saja yang menurutmu baik Zein. Om percayakan Alika padamu." Ujar Hendrik.


Zein mengangguk, "Makasih atas kepercayaannya Om. Ada lagi yang ingin Alika sampaikan. Ini masalah kematian Alan." Ujar Zein.


"Alan?" Hendrik mengernyitkan keningnya karena kaget.

__ADS_1


Alika langsung menjelaskan pada Hendrik. "Ia Pah, bukankah sudah aku katakan kematian Kak Alan tidak wajar? tapi gak ada satu orangpun yang percaya padaku. Sekarang aku memiliki bukti siapa pelaku pembunuhan Kak Alan." Ungkap Alika.


Alika mengambil ponselnya lalu memberinya pada Hendrik.


"Bukankah polisi mengatakan kalau kematian Alan karena kecelakaan?" Ujar Hendrik masih tidak percaya.


"Coba Papa dengerin aja sendiri. Aku yakin Papa akan percaya dengan keyakinan Alika." Ujar Alika.


Hendrik kemudian memutar rekaman pembicaraan Alika dan Sander. Semua yang ada di ruangan hanya diam mendengarkan termasuk Ramon.


Setelah rekaman berhenti, Hendrik menatap Zein, "Apa Zein yang mereka maksud adalah kamu?" Tanha Hendrik.


"Iya Om, Monika adalah pacar aku waktu itu. Maafkan aku karena tidak bisa menyelamatkan nyawa Alan. Seandainya saja Alan mengatakannya padaku saat di pesta. Mungkin semuanya tidak akan terjadi." Sesal Zein.


Hendrik hanya diam, menghela napas berat. Ia menekan pelipisnya yang tiba-tiba berdenyut. Ia tidak menyangka jika Sander dan Monika melakukan semua itu hanya karena menginginkan harta dari Zein. Marah pada Zein juga percuma karena Zein juga tidak tahu apa-apa. Hendrik juga yakin jika Zein sangat kehilangan Alan.


"Pah, Papa baik-baik aja kan?" Tanya Alika memastikan keadaan Hendrik.


Hendrik menatap Alika dengan tatapan sendu lalu memeluknya dengan erat. Hatinya kembali sedih, kerinduan yang mendalam serta tidak rela anaknya meninggal karena di bunuh. Setetes air mata Hendrik keluar dari ujung matanya. Itu menandakan betapa dirinya sangat kehilangan Alan, putra satu-satunya yang sangat ia sayangi melebihi nyawanya sendiri. Sebenarnya dia juga merasa ada yang tidak beres dengan kematian Alan, hanya saja dia menutupinya karena tidak ingin Alika dan Belinda kepikiran sama seperti dirinya. Tapi setelah polisi memberikan pernyataan jika Alan meninggal murni karena kecelakaan, Hendrik pun menepis pemikirannya dan berusaha menerima kematian Alan dengan ikhlas.


Alika membalas pelukan Hendrik juga ikut menangis, isakan tangisnya semakin pilu saat tubuh Papanya gemetar menahan kesedihannya. Mereka sama-sama saling memberikan kekuatan. Tidak mudah menerima kenyataan jika orang yang kita sayangi pergi dengan kematian yang tidak wajar.


"Iya nak, Papa baik-baik saja." Lirih Hendrik kemudian menghapus air mata di ujung matanya.


Keheningan terjadi di dalam ruangan, hanya isakan tangis Alika yang terdengar begitu sendu menyentuh hati.


Zein dan Ramon ikut sedih, ujung mata mereka juga mengeluarkan air mata namun mereka segera menghapusnya.


Hendrik dan Alika melepaskan pelukannya. Alika menggenggam tangan Hendrik memberi kekuatan.


"Pah, Alika ingin membuka kembali kasus kematian Kak Alan. Bagaimana menurut Papa?" Tanya Alika.


....


Bersambung....


Sahabat Author yang baik ❤️


Jangan lupa, Like, Komen, Hadiah, Dukungan dan Votenya ya! 🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2