
Alika hanya mengangguk lalu berdiri menuju jendela kantor, menatap langit dan keramaian kota dari ketinggian.
"Apa yang aku lakukan sudah benar?" Tanya Alika.
Meriska mengikuti langkah Alika menatap luar jendela.
"Tentu saja, sekarang kamu harus melupakan dia, dia tidak pantas menerima cinta darimu. Untuk apa menangisi pria seperti Dirga. Dia itu hanya mementingkan egonya saja, bukan memikirkan perasaanmu. Pria seperti itu tidak bisa diajak berkomitmen apalagi menikah. Sudahlah, jika aku jadi kamu, aku akan mendekati Tuan Zein. Dia jauh lebih sempurna dari Dirga. Kamu bisa cepat move-on dari Dirga jika sudah dekat dengannya." Nasihat Meriska.
"Meskipun berat dan sulit, aku akan coba. Tapi aku tidak yakin dapat membuatnya mencintai aku, sepertinya dia masih sangat mencintai mantan kekasihnya." Lirih Alika sambil menghapus air matanya.
"Itu urusan belakangan, yang penting kalian deket dulu. Biar bagaimanapun kalian juga akan menikah kan? jadi lebih baik kamu membuka hati untuknya." Ujar Meriska.
"Baiklah! sekarang Aku mau pulang ke rumah, kamu ikut ya? kita makan malam bareng. Sudah lama lho kita nggak makan bareng Mama, Papa. Kalo nggak salah terakhir kita makan bareng saat Kak Alan masih hidup." Ujar Alika mengingat.
"Oke, tunggu sebentar ya? aku beresin pekerjaanku lebih dulu. Aku akan kembali memanggilmu jika sudah selesai."
Meriska segera keluar dari ruangan Alika, Ia membereskan pekerjaannya selama tiga puluh menit, lalu mengajak Alika untuk pulang.
Para staf menunduk hormat pada saat Alika dan Meriska melewati meja kerja mereka. Mereka jarang sekali bertemu dengan Alika. Apalagi karyawan yang laki-laki, mereka tidak pernah melewati kesempatan untuk melihat bos cantiknya ketika berada di kantor. Mereka seolah berlomba-lomba mencari alasan untuk masuk ke ruangan Alika agar dapat melihat wajah Alika dengan dekat.
Mobil meriska sudah berada di depan lobi kantor. Mereka langsung masuk dan duduk di kursi mobil. Setelah memasang seat belt Meriskan menjukan mobilnya menuju rumah Alan.
Sebenarnya Meriska sangat sedih jika ke rumah Alika. Mengingatkan dirinya tentang Alan di sana.
"Khemm." Dehaman Meriska membuyarkan lamunan Alika, "Kamu kenapa diam? masih mikirin Dirga?" Tanya Meriska.
"Nggak, aku hanya malas aja." Jawab Alika.
"Jangan gitu dong..! Sebentar lagi kita sampai di rumah. Jangan perlihatkan wajah jelek itu pada semua orang. Apa lagi Mama kamu, dia pasti sedih jika melihat anaknya seperti ini. Senyum dong..! mana Alika yang aku kenal kuat dan tegar. Lupakan cowok brengsek seperti Dirga. Dan raih masa depanmu bersama Zein." Ujar Meriska.
"Aku ingin mampir di mini market depan. Aku mau beli minum, kau mau titip apa?" Tanya Alika.
"Bagaimana kalo kita mampir di Coffee Shop yang di sana. Sepertinya kamu butuh sesuatu untuk menenangkan diri." Ide Meriska sambil menunjuk salah satu Cafe.
"Terserah kamu saja." Jawab Alika pasrah.
Meriska memarkirkan mobilnya di depan Cafe. Mereka mampir selama tiga puluh menit untuk menikmati coffe latte yang ada di sana. Setelah kopi mereka habis, mereka kembali pulang.
Alika dan Meriska ijut membantu Belinda dan ART menyiapkan makan malam. Sudah lama Belinda tidak merasakan suasana seperti ini. Semenjak Alan meninggal Alika dan Meriska jarang di rumah. Mereka lebih sibuk mengembangkan perusahaannya, sedangkan Hendrik sibuk mengurus perusahaan keluarga yang sudah di berikan pada Alan.
Dulu Hendrik menyerahkan perusahaan sepenuhnya pada Alan. Dia ingin menikmati masa tuanya bersama Belinda tanpa harus memikirkan perusahaan. Tapi kenyataannya berkata lain. Setelah Alan meninggal, Hendrik harus kembali ke perusahaan karena Alika terlanjur mendirikan perusahaan baru.
__ADS_1
"Wah, ini enak banget Mah!" Seru Alika memuji semua makanan yang ada di atas meja makan.
"Ini semua menu kesukaan keluarga kita sayang." Jawab Belinda tersenyum puas.
"Iya Tante, jadi makin lapar." Sela Meriska.
"Sudah, kalian pergi mandi sana, setelah itu, kalian turun untuk makan." Perintah Belinda.
"Oke, Mah."
"Lika, Zein mana? kenapa jam segini belum juga datang? coba kamu telpon, dia sekarang ada di mana, jangan-jangan dia lupa lagi makan malam di sini." Ujar Belinda.
"Iya Mah."
Alika dan Meriska menuju kamar Alika yang berasa di lantai dua. Meriska lebih dulu masuk ke dalam kamar mandi, sedangkan Alika mengambil ponselnya untuk menghubungi Zein.
"[Halo]" Jawab Zein di seberang telpon.
"[Kamu dimana? kamu ingat kan kalau kita akan makam malam di rumah Mama."
"[Masih di kantor, aku akan usahakan pulang secepatnya.]"
"[Ya sudah.]"
Setelah mereka pakaian, mereka kembali ke dapur.
Tidak lama kemudian Zein dan Ramon datang. Ramon membantu Zein turun dari mobil lalu duduk kursi rodanya.
Titin ART yang bekerja di rumah Alika segera membuka pintu rumah saat mendengar suara mobil di luar.
Zein dan Ramon masuk ke dalam rumah. Saat di ruang tamu Zein melihat foto keluarga Alika, disana juga ada Alan yang berdiri di samping Hendrik.
"Ramon, Aku tidak pernah menyangka ternyata kita akan kerumah Alan juga. Dia sangat tertutup masalah keluarganya. Dan sekarang lihat, takdir berkata lain. Aku akan sering ke sini bahkan jika aku menikah dengannya adiknya, maka aku akan menggantikan posisinya menjaga Alika."
"Benar, Oiya, bagaimana jika kita ke kamarnya. Mungkin ada petunjuk yang bisa kita temukan terkait dengan kematiannya."
"Baiklah, aku akan bicara dengan Alika."
"Nak Zein, kamu sudah datang? Mau langsung makan atau mandi dulu?" Tanya Belinda.
"Sebaiknya aku mandi dulu Tante."
__ADS_1
"Baiklah."
"Disana ada kamar tamu. Kalian mandi aja di sana."
"Maaf Tante, bolehkah kami ke kamar Alan saja?"
Belinda berpikir sejenak, "Boleh." Sahut Belinda.
Zein dan Ramon ke kamar Alan. Mereka memgedarkan pandangannya ke seluruh isi kamar.
"Kamar yang cukup nyaman." Puji Zein.
"Iya."
"Mandilah lebih dulu. Aku masih ingin melihat isi kamar Alan." Pinta Zein.
"Oke."
Ramon mengambil handuk dari lemari, kemudian masuk ke dalam kamar mandi.
Zein mengambil laptop diatas meja lalu menyalakannya. Ia mencoba membuka Pasword-nya dengan tanggal lahir Alan tapi tetap tidak bisa.
"Mungkin aku bisa menemukan petunjuk di sini. Tapi bagaimana cara membukanya? apa Alika tahu Pasword-nya?" Monolog Zein.
Zein kembali menutup laptop lalu menyimpannya di tempat semula. Zein membuka laci meja kerja Alan, Ia melihat beberapa flashdisk disana, satu flashdisk yang sepertinya masih baru menarik perhatian.
Ia mengambilnya lalu menyalakan laptop miliknya, Ia kemudian memasukkan flashdisk itu ke dalam laptop. Zein membuka satu persatu file yang ada di dalamnya, satu file terdapat foto dan video persahabatan mereka. Satu file juga terdapat foto dan video dirinya bersama Meriska. File terakhir yang Zein buka membuat raut wajah Zein seketika berubah, netranya langsung berubah menatap laptop dengan tajam.
"Tidak mungkin!" Lirih Zein menggelengkan kepalanya.
"Apa yang tidak mungkin?" Tanya Ramon
Ramon baru saja keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk yang melingkar di pinggangnya. Melihat wajah Zein sangat serius menatap laptop di hadapannya. Ia segera menghampiri lalu ikut melihatnya.
.
.
Bersambung....
Sahabat Author yang baik ❤️
__ADS_1
Jika kalian suka dengan cerita ini, Jangan lupa, Like, Komen, Hadiah, Dukungan dan Votenya ya! 🙏🙏🙏