Calon Istri Milyader

Calon Istri Milyader
Kunci Cadangan


__ADS_3

Zein berhasil mendapatkan kunci cadangan kamar milik Sander di resepsionis. Dia memanfaatkan kekuasaannya dengan beralasan tunangannya sedang di jebak oleh seseorang di dalam kamar itu. Dia juga mengancam resepsionis jika tidak memberinya kunci saat itu juga, maka dia akan menuntut pihak hotel dan kedua resepsionis itu jika terjadi apa-apa dengan calon istrinya karena terlambat menolongnya.


Kedua resepsionis yang berjaga jadi ketakutan dan segera memberikan kunci kamar pada Zein. Mereka tidak mau di pecat dan akan sulit mendapatkan pekerjaan kembali.


Setelah mendapatkan kunci kamar Zein dan Ramon segera menuju lift. Mereka segera masuk kedalam lift kemudian keluar di lantai dua puluh satu.


Mereka berdua keluar dari lift dan terkejut melihat Meriska sedang berada di sana sambil mengawasi kamar Sander.


Alika sudah mengatur semuanya. Sebelum Alika dan Sander masuk kamar, Alika mengirim pesan pada Meriska untuk ikut dan menunggunya di luar kamar. Jika dalam waktu satu jam Alika tidak keluar juga, maka ia meminta Meriska untuk segera masuk membantunya.


Di depan kamar, Meriska sedang mondar-mandir, sesekali ia melihat jam di pergelangan tangannya karena menghawatirkan Alika. Sudah hampir satu jam Alika di dalam tapi dia belum juga keluar.


"Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Zein mengagetkan Meriska dengan wajah datar dan tatapan tajam.


"Aku.. Aku sedang menunggu Alika." Jawab Meriska gugup setelah itu ia bernapas dengan lega karena kedatangan Zein dan Ramon.


"Dia tidak akan keluar jika kita tidak masuk," Ujar Zein, "Ramon buka pintunya." Perintah Zein.


Ramon segera membuka kunci kamar lalu mereka masuk. Meriska antara percaya dengan tidak karena mereka memiliki kunci kamar Sander.


Mereka sangat terkejut melihat Sander sedang menarik tangan Alika hingga Alika jatuh di pelukannya.


"Apa yang kau lakukan? Brengsek! lepaskan dia!" Bentak Zein tidak terima Alika dipegang oleh Sander apalagi memeluknya.


Sander menoleh kearah pintu. Kesenangannya bersama Alika terganggu dengan kehadiran Zein, Ramon dan Meriska.


Alika menarik tangannya kemudian menjauh dari Sander.


"Kenapa kalian di sini? apa kalian salah kamar? Kalian menggangguku bersama pacarku yang cantik." Tanya Sander setengah sadar.


Zein mengepalkan tangannya. Tanpa menjawab Zein langsung memukul wajah Sander.


Bug!


Sander memegang wajahnya yang memerah, rasa sakitnya berdenyut hingga ke telinga. Rahangnya mengeras dan kesadarannya mulai pulih setelah mendapat pukulan keras dari Zein. Ia mengusap matanya berkali-kali untuk memastikan siapa yang berada di depannya.


"Zein!" Lirih Sander kemudian tersenyum meremehkan Zein.


"Bajingan, apa yang kau lakukan pada Alika?" Geram Zein ingin memukul Sander untuk kedua kalinya.


"Hehehe, apa urusanmu? apa kau juga menyukainya? Sama seperti kau menyukai Monika?" Tanya Sander.

__ADS_1


"Diam!"


"Aku akan mengembalikan Monika padamu karena aku sudah bosan padanya, tapi tidak dengan gadis ini! Dia milikku, hanya milikku." Tegas Sander tapi dalam sekejap ia langsung lemas.


"Dasar gila!" Rutuk Zein. Ia tidak mau berdebat dengan Sander yang sedang mabuk, "Ramon." Panggil Zein.


"Iya Tuan." Ramon maju mendekati Zein.


"Bereskan bajingan ini." Perintah Zein.


Zein kemudian menatap Alika dengan tajam. Kekesalannya bertambah pada Alika saat Alika tidak berkata apa-apa, meminta tolong dan berterima kasih padanya pun Alika tidak melakukannya.


"Pulang bersamaku!" Bentak Zein.


Alika yang masih mematung tersentak, ia tidak menyangka Zein akan datang dan menemukan dirinya sedang berdua dengan Sander di dalam hotel. "Apa yang sedang Zein pikirkan tentang aku ya? apa Zein berpikir aku selingkuh dan melakukan hal yang diluar batas dengan Sander? ah, kenapa juga aku memikirkannya?" Batin Alika.


"Kenapa diam saja? ayo pulang! apa kamu mau semalaman bersama bajingan ini?"


Alika bergidik ngeri lalu segera keluar menarik tangan Meriska. Sedangkan Zein mengikutinya dengan kursi roda.


"Apa yang kamu lakukan Meriska? Kenapa kamu melibatkan Zein dan Ramon? Rencanaku hampir saja gagal karena kedatangan kalian." Kesal Alika sambil mencubit lengan Meriska.


"Makanya kalau aku bilangin ya nurut. Sekarang jadi ribet kan urusannya. Apa kamu nggak liat gimana wajah garang Zein. Dia bisa saja menelanku hidup-hidup!" Kesal Alika.


"Sudah ngomelnya? Kalau sudah, biarkan aku yang ngomong. Aku juga nggak tau kenapa mereka tiba-tiba muncul dari dalam lift. Aku pikir mereka hantu hotel yang sedang gentayangan. Eh, ternyata mereka nyata." Sergah Meriska.


"Jangan bercanda, mana mungkin mereka ke sini jika bukan kamu yang mengatakannya." Pikir Alika.


"Ya mana Aku tau? kamu kan calon istrinya! harusnya kamu itu lebih mengenal Zein."


Meriska menaikkan kedua bahunya lalu memencet tombol lift yang terletak di samping kanan lift.


Ting!


pintu lift terbuka.


Alika dan Meriska masuk ke dalam di susul Zein. Saat pintu lift akan tertutup, Zein menahannya karena melihat Ramon sedang berjalan ke arahnya.


Ramon segera masuk dan lift kembali tertutup.


"Meriska, kamu bisa pulang sendiri kan? Alika akan pulang bersamaku." Tegas Zein tak terbantahkan.

__ADS_1


Meriska melirik Alika terlebih dahulu meminta persetujuan. Saat Alika melotot dan menggelengkan kepalanya. Meriska segera mengangguk.


"Lebih baik Alika yang marah padaku dari pada Tuan Zein. Melihat wajahnya yang sedang marah saja aku sudah takut dan gemetaran. Ah, bagaimana nasib Alika selanjutnya ya? Maafkan aku Alika, ali ini Aku benar-benar tidak bisa membantumu menghindar dari Zein." Batin Meriska.


Alika menginjak kaki Meriska.


"Aww, kamu apaan sih! sakit tau?" Kesal Meriska memegang kakinya yang sakit sambil meringis.


"Sorry, nggak sengaja." Ketus Alika. Ia sengaja menginjak kaki Meriska. Karena membiarkannya pulang bersama Zein.


Zein dan Ramon hanya saling melirik melihat keduanya. Ramon ingin sekali tertawa tapi tidak berani karena Zein sedang marah pada Alika.


Setelah beberapa menit, lift kembali terbuka di basement. Zein memegang tangan Alika agar tidak lari darinya menuju mobil.


"Alika, aku duluan ya? Permisi Tuan Zein." Pamit Meriska.


Zein hanya mengangguk sementara Alika menggelengkan kepalanya.


Alika tidak rela Meriska pulang sendiri, Ia sangat yakin Zein akan memarahinya habis-habisan saat tiba di apartemen.


"Apaan sih Zein, lepaskan!" Bentak Alika sambil berusaha menarik tangannya.


"Tidak! kamu harus ikut denganku." Balas Zein.


"Iya, aku janji akan ikut, tapi lepaskan dulu tanganku, ini sakit." Melas Alika. Dalam otaknya, dia sudah berencana untuk segera masuk ke mobil Meriska setelah Zein melepasnya.


"Tidak!" Tolak Zein, "Ramon, buka pintu mobilnya." Perintah Zein.


Ramon segera membuka pintu mobil. Setelah Alika masuk, ia membantu Zein juga masuk lalu melipat kursi roda Zein dan menyimpannya di bagasi mobil.


Setelah duduk di kursi kemudi dan memasang seat beltnya, Ramon menginjak gas lalu melajukan mobilnya menuju apartemen.


.


.


Bersambung...


Sahabat Author yang baik ❤️


Jika kalian suka dengan cerita ini, Jangan lupa, Like, Komen, Hadiah, Dukungan dan Votenya ya! 🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2