
Zein membukanya lalu membaca dengan teliti. Setelah melihat semua isinya, ia tersenyum puas atas laporan yang di berikan oleh Ramon.
"Dia benar-benar memutuskan pria brengsek bernama Dirga itu? Laki-laki yang tidak berguna dan memang pantas untuk dibuang."
"Iya."
"Tidak profesional banget dalam bekerja. Masa ia sekertaris di jadikan selingkuhan. Kurang apa coba Alika dibandingkan sekertaris ini? tidak ada menariknya sama sekali." Ejek Zein sambil memandang dengan seksama foto Dirga dan Vanesa.
"Kurang banyak kali bos!" Canda Ramon.
"Hehehe, kamu benar karena Alika memang cuma satu. Sejak kapan mereka pacaran ya?" Tanya Zein kembali serius.
"Mereka pacaran selama dua tahun. Dari informasi yang aku dengar, Alika sering memberi proyek pada Dirga. Perusahaan mereka terikat kontrak kerjasama, tapi sekarang Alika sudah memutuskan kontrak itu secara sepihak. Sepertinya dia tidak mau lagi melihat Dirga di kantornya, semua kerjasama yang berhubungan dengan Dirga sudah ia selesaikan tanpa membayar penalti. Alika memang pintar, meskipun sakit hati, tapi dia tidak gegabah dalam mengambil keputusan. Ia masih bisa memikirkan perusahaannya dengan baik. Jika orang lain yang mengalaminya, mungkin orang itu akan mengalami kerugian besar, dan..."
"Dan yang paling untung adalah Dirga, itu kan maksud kamu?" Lanjut Zein.
"Tepat!" Singkat Ramon
Zein kemudian diam sambil memikirkan cara agar dapat mengikat perusahaan Alika.
Ramon mulai waspada, jika melihat gaya diam Zein, pasti dia sedang merencanakan sesuatu.
"Aku ingin kau melakukan sesuatu." Ujar Zein dengan wajah datar dan dinginnya.
"Tuh bener kan? dia pasti akan merepotkan ku." Batin Ramon.
..........
Di hotel Sander sedang bangun dari tidurnya. Ia mengucek matanya dengan kasar lalu memegang kepalanya yang masih terasa berat dan sedikit pusing. Ia bingung dimana dirinya saat ini. Ia berusaha berpikir dengan keras mengingat kejadian semalam.
Setelah beberapa menit, ia ingat membawa Alika ke pesta ulang tahun Roby, tapi setelah itu Sander tidak mengingat lagi kejadian selanjutnya. Ia menoleh ke kiri dan kekanan mencari keberadaan Alika namun tidak menemukannya.
"Shitt!" Geram Sander memukul kasur dengan bantal guling.
Sander beranjak dari kasur menuju kamar mandi. Ia membersihkan diri terlebih dahulu kemudian menghubungi Monika setelah pakaian.
"[Halo.]" Jawab Monika dibalik telepon.
"[Halo sayang..!]"
"[Kamu dimana? kenapa nggak ada kabar dari semalam? Kau bilang hanya sebentar di pesta Roby, kenapa malah nggak pulang?]" Maki Monika.
"[Maaf sayang, aku mabuk dan Roby membawaku ke kamar hotel. Ini juga baru bangun.]"
"[Kamu nggak nginap dengan wanita lain kan?]" Tanya Monika karena cemburu.
"[Nggak dong sayang..! kamu cemburu ya?]" Elak Sander.
__ADS_1
"[Aku video call ya? aku ingin liat.]" Pinta Monika masih curiga.
"[Ia sayang..!]"
Sander memencet tombol gambar video call di ponselnya lalu muncul wajah Monika di sana.
"[Arahkan kameranya ke semua arah Sander!]"
Monika masih belum percaya hingga Sander mengarahkan kamera ponselnya ke semua ruangan termasuk kamar mandi.
"[Nggak ada kan? aku beneran sendiri. Kamu kok nggak percaya pacar sendiri?]"
"[Aku hanya ingin memastikannya sayang..!"
"[Sudah dulu ya? aku mau turun sarapan. Aku akan menemuimu di lokasi pemotretan.]"
Monika tersenyum puas, Sander memang sendiri disana. "Baiklah, Sampai jumpa sayang..!"
Monika menutup teleponnya. Ia melanjutkan sarapannya bersama Nura kemudian segera bersiap-siap menuju perusahaan Alika.
Hari ini adalah pemotretan terakhir di kantor Alika, setelah itu Monika akan melakukan pemotretan di tempat terbuka.
Sedangkan Sander keluar dari kamarnya menuju restoran hotel untuk sarapan. Ia mengambil sarapan sandwich, jus, dan dissert, setelah itu dia duduk di kursi yang kosong seorang diri.
Saat menikmati makanannya kemudian ponselnya berbunyi. Sander mengambil ponselnya disaku celana lalu melihat siapa yang menelponnya sepagi ini.
"[Halo.]" Jawab Sander.
"[Sander, kamu lagi dimana?]" Tanya Roby.
"[Di restoran hotel, ada apa? nggak biasanya kau telpon sepagi ini.]"
"[Tunggu aku di sana, jangan kemana-mana.]" Ujar Roby lalu menutup sambungan teleponnya.
Beberapa menit kemudian Roby masuk kedalam restoran. Ia menarik kursi lalu duduk di depan Sander.
Sander baru saja selesai sarapan, ia melap mulutnya dengan tissue lalu bersandar di kursi menatap Roby dengan penasaran.
"Kenapa mencariku jam segini? bukannya kamu harus ke kantor?" Sander melihat jam tangan di pergelangan tangannya.
"Mmm.. gini aku langsung aja karena aku masih banyak kerjaan lain. Sorry bro karena mungkin aku lancang. Tapi aku ingin tanya soal Alika."
"Alika?"
"Iya."
"Kenapa dengannya? jangan bilang kau juga menyukainya Roby, dalam waktu dekat ini dia akan jadi milikku. Jadi jangan berpikiran untuk merebutnya dariku."
__ADS_1
"Tidak Sander, itu tidak mungkin." Sergah Roby.
Setelah ia tahu Alika dan Zein telah bertunangan, ia memilih mundur karena Zein adalah temannya dan dia tahu bagaimana berkuasanya Zein. Dia juga berpikir tidak mungkin Zein bertunangan dengan Alika jika tidak serius dan mencintai Alika. Zein sangat susah di tebak, hanya Ramon satu-satunya orang yang tau segalanya tentang Zein tapi sangat sulit mendapatkan informasi darinya.
"Lalu apa?"
"Sebagai teman aku hanya mengingatkan mu, sebaiknya kau lupakan Alika."
"Hehehe, jangan bercanda Roby. Aku sangat menyukainya, bahkan jatuh cinta padanya saat pertama kali kami bertemu. Mana mungkin aku melupakannya?"
"Alika adalah tunangan Zein."
"What!"
"Iya, Alika dan Zein baru saja bertunangan. Aku datang ke acara pertunangan mereka saat itu. Makanya pada saat kau mengenalkan Alika padaku, aku merasa pernah melihatnya tapi entah dimana."
"Kamu nggak lagi ngeprank aku kan?"
"Ya ampun Sander, nggak lah! aku cuma nggak ingin kau mendapatkan masalah, apalagi ini Zein, apa belum cukup kau merebut Monika darinya?"
"Kau tau sendiri kan dia yang duluan merebut Monika dariku? Aku akan mengembalikan Monika padanya, tapi jangan harap aku melepas Alika begitu saja."
"Jangan lakukan itu Sander, aku yakin kali ini Zein tidak akan tinggal diam jika kau merebut tunangannya. Jika selama ini dia diam karena Monika, itu karena mereka belum memiliki ikatan. Sedangkan dengan Alika, aku sangat yakin mereka sudah merencanakan pernikahannya.
"Kau ini temanku atau teman Zein? kenapa kau lebih membelanya dari pada aku? Mereka belum menikah bukan? jadi masih ada kesempatan untukku memiliki Alika. Orang yang sudah menikah aja masih bisa selingkuh, apalagi mereka yang masih tunangan."
"Zein juga temanku Sander! Sebagai teman, aku hanya mengingatkanmu. Jangan sampai yang kau lakukan dapat menghancurkan dirimu."
"Ahh.. sudahlah! berhenti menceramaiku, aku tidak perduli dengan Zein. Dia itu pengecut dan tidak bisa berbuat apa-apa karena lumpuh. Mana mungkin pria cacat itu mampu membahagiakan Alika? Aku tahu dia seorang milyader, tapi itu tidak menjamin kebahagiaan bro..! Dia memang sanggup memenuhi nafkah lahir Alika tapi tidak dengan nafkah batin, iya kan? Wanita juga butuh keduanya, dan semua itu hanya aku yang sanggup memberinya pada Alika."
"Aku hanya tidak ingin kau mengganggu hubungan mereka. Bukankah kau sudah kembali pada Monika? lebih baik jangan mengganggu Alika dan Zein lagi."
"Aku tidak bisa, kau tidak mengerti apa yang aku rasakan."
"Baiklah jika seperti itu pemikiranmu, terserah kau saja, yang pastinya aku sudah mengingatkan jika yang kau lakukan ini salah. Aku capek melihat kalian berdua memperebutkan wanita."
Roby pasrah, percuma saja bicara dengan Sander yang keras kepala. Dari dulu Sander memang tidak pernah mau mendengarkan nasihatnya.
.
.
Bersambung....
Sahabat Author yang baik ❤️
Jangan lupa, Like, Komen, Hadiah, Dukungan dan Votenya ya! 🙏🙏
__ADS_1