
Alika membuka pintu kemudian mengangkat kedua tangannya. Begitupun dengan Belinda keluar dengan terpaksa karena seseorang membuka pintu mobil disampingnya kemudian menariknya keluar.
"Apa yang kalian inginkan? jika ingin uang, ambil saja semuanya dan biarkan kami pergi." Tegas Alika ingin melawan namun, berhenti setelah melihat Mamanya disandera dengan menggunakan pisau dilehernya.
"Hahahaha...." Empat orang itu serentak tertawa, "Kami tidak butuh uang kamu Nona, ayo ikut kami." Paksa mereka kemudian menarik tangan Alika dan Belinda menuju ke mobil mereka.
"Brengsek kalian! lawan aku kalau berani, Jangan menyakiti Mamaku." Geram Alika. Ia memberontak berusaha melepaskan tangannya.
"Jangan coba-coba melawan! atau nyawa Mamamu aku lenyapkan." Ancam pria yang memegang pisau di leher Belinda.
Alika berpikir sejenak, begitu penjahatnya lengah, Alika langsung memukul tangan preman hingga pistol yang di pegangnya terjatuh di tanah, kemudian segera mengambilnya lalu menodongkan ke arah penjahat yang menyandera ibunya.
"Lepaskan Mamaku, dqn pergi dari sini atau peluru ini akan menembus dikepala kalian." Ancam Alika.
"Hahaha... kamu pikir aku takut cantik? kamu yang yang harus letakkan senjata itu, atau nyawa ibumu melayang." Penjahat mengancam balik. Mereka tertawa karena mengira gadis cantik seperti Alika tidak tahu menggunakan senjata api.
Salah satu dari mereka melangkah mendekat, sedangkan Alika langsung menembak kakinya.
Dor!
Orang itu terluka akibat terkena peluru di bagian kakinya.
"Aku tidak mengancam, jika kalian berani melangkah, satu persatu nyawa kalian akan aku lenyapkan." Ancam Alika balik. "Lepaskan Mama saya, maka aku akan melepaskan kalian." Tagas Alika sambil melirik mereka satu persatu, tapi tangannya yang memegang senjata tetap ke arah kepala penjahat yang menyandera Belinda.
Tidak lama kemudian satu mobil lagi datang mendekat, Alika tidak berdaya saat satu senjata diarahkan di kepala belinda dan juga di kepalanya.
"Bawa mereka." Perintah Alexis.
...........
Ditempat lain Zein baru saja menyelesaikan meetingnya bersama kliennya di sebuah Cafe.
Zein dan Ramon keluar dari Cafe kemudian masuk kedalam mobil. Hari sudah malam, lampu dijalan mulai menyala satu persatu. Ramon melajukan mobilnya menuju apartemen, sedangkan Zein yang duduk dikursi belakang, mengambil ponselnya kemudian mengaktifkannya.
Melihat panggilan Alika berkali-kali, ia mencoba menelponnya tapi ponsel Alika sudah tidak aktif.
"Ramon, kenapa Alika tidak menjawabnya telponku ya?" Tanya Zein.
Ramon hanya melirik, kemudian fokus melihat kearah jalanan. "Mana aku tau bos, emangnya aku cenayang yang bisa tau segalanya?" Batin Ramon.
"Apa kamu bilang?" Tanya Zein kembali.
Tanpa sadar Ramon menjawab. "Mana aku tau bos."
"Aneh, tadinya dia menelpon berkali-kali tapi kenapa sekarang tidak aktif? coba kamu cek dimana dia berada." Perintah Zein.
Ramon mengambil ponselnya kemudian menghubungi anak buahnya untuk melacak posisi Alika. Setelah beberapa menit anak buahnya mengirim pesan dimana titik lokasi Alika.
Cittttt!
Ramon berhenti di tepi jalan. Melihat kembali lokasi yang dikirim anak buahnya.
__ADS_1
"Ada apa?" Tanya Zein.
"Bos bukannya Nona Alika lagi belanja?"
"Iya benar."
"Kenapa posisi terakhirnya di tengah hutan?" Tanya Ramon kemudian memperlihatkan titik lokasi Alika.
"Kamu benar, bukankah hutan ini milik Alexis?" Tanya Zein.
"Benar, jangan-jangan..." Ramon dan Zein saling bertatapan dengan pemikiran yang sama."
"Mereka menyandera Alika." Tebak Zein kemudian Ramon mengangguk.
Wajah zein memerah, rahangnya mengeras dengan gigi saling rapat, serta kedua tangannya mengepal kuat. "Brengsek! awas saja jika Alexis berani menyentuh apalagi melukai Alika, "Ayo Ramon, kumpulkan semua anak buah kita untuk kesana, aku akan memberikan Alexis pelajaran karena telah berani mengusik ketenanganku." Geram Zein.
"Siap bos."
"Kita nggak boleh gegabah, karena Tante Belinda bersama Alika. Aku tidak ingin mereka berdua terluka, kau mengerti?"
"Mengerti bos."
Ramon memutar arah mobilnya menuju hutan, ia menghubungi anak buahnya untuk menyusulnya ke hutan. Setelah menutup telpon, Ramon dan Zein menyusun strategi.
...........
Sementara di tempat lain.
"Mah, maafkan Alika karena tidak bisa menyelamatkan Mama."
"Tidak apa-apa sayang, Kamu sudah berusaha, asalkan kamu bersama Mama, Mama akan kuat."
Tidak lama kemudian, pintu terbuka. Mereka menatap siapa yang berjalan masuk saat pintu terbuka.
Alexis melangkah mengahampiri Alika. Ia menunduk kemudian duduk berjongkok di hadapan Alika. Mengangkat dagu Alika kemudian membelai sisi wajah Alika dengan lembut.
"Apa maumu, hah?!" Bentak Alika.
"Wetsss... Cantik-cantik kok galak, Ternyata kamu lebih cantik dari foto yang aku lihat." Puji Alexis dengan seringai licik di wajahnya. Ia bahkan tidak menghiraukan bentakan Alika karena terlalu terpesona pada sosok wanita cantik dihadapannya.
"Bajingan! Lepaskan!" Berontak Alika berusaha melepaskan ikatan tangannya.
"Jangan membuatku marah, ikuti saja apa yang aku inginkan." Ujar Alexis kemudian berdiri memperbaiki setelan jasnya, "Bawa dia ke ruang kerjaku." Perintah Alexis pada anak buahnya.
"Baik Tuan." Sahut mereka berdua kemudian mulai membuka ikatan tali di kaki Alika.
"Kalian mau bawa aku kemana, hah?! aku tidak mau." Teriak Alika.
"Jangan bawa anak saya. Aku akan berikan uang yang banyak untuk kalian. Telpon saja suamiku. Tapi jangan berbuat yang macam-macam pada putriku." Belinda ikut berteriak sambil memberontak tapi tidak bisa berbuat apa-apa.
"Hahahaha... aku tidak butuh uang suamimu yang bodoh itu! Bahkan uangku jauh lebih banyak dari yang kau punya." Ejek Alexis menyunggingkan senyum licik.
__ADS_1
"Jika bukan karena uang, lalu apa yang kalian inginkan?" Tanya Alika.
"Pertanyaan yang bagus. Aku menginginkanmu dan juga sedikit keahlianmu untuk membuka kode chip ini." Ungkap Alexis kemudian memperlihatkan sebuah chip di tangannya.
"Ck! aku tidak sudi dan aku tidak akan mau melakukannya." Alika mendecih menolak keinginan Alexis.
"Cepat bawa dia." Perintah Alexis pada anak buahnya kembali.
"Lepaskan, lepas!"
Alika memberontak sekuat tenaga namun kekuatannya tidak melebihi dua pria berbadan besar dan berotot di samping kiri dan kanannya.
Alika berjalan mengikuti Alexis memasuki ruangan kerja yang cukup luas. Mata Alika seketika membola karena takjub dengan design, interior dan isi didalam ruangan. Ada meja panjang dengan enam laptop diatasnya, serta layar LED berukuran tiga kali empat yang menempel di dinding.
Netra Alika menatap tajam Alexis yang sedang duduk bersandar dikursi kebesarannya. Entah apa yang dipikirkan pria licik itu dengan senyuman tipis di bibirnya.
"Untuk apa membawaku ke sini?"
"Tidak usah pura-pura bodoh di hadapanku. Kau tau untuk apa semua perangkat yang ada di sini. Cukup turut perintahku!"
"Bagaimana jika aku tidak mau. Aku tidak tau apa-apa."
"Baiklah, jika kamu tidak mau mengakui kehebatanmu. Tapi sayang identitas yang kau sembunyikan telah aku tau. Aku sudah mencarimu selama bertahun-tahun dan akhirnya aku menemukanmu."
"Apa maksud mu?"
"Hanya kau yang bisa membuka file di chip ini."
"Maaf, tapi aku sungguh tidak tahu." Sergah Alika.
"Kuncinya ada padamu. Sebelum meninggal, kakek kamu memberitahukan pasword dari chip ini bukan?" Tanya Alexis dengan tatapan mengintimidasi.
Alika tersentak mundur, bagaimana bisa orang lain mengetahui percakapannya di rumah sakit saat itu. "Da.. dari mana kau tau?"
"Mata dan telinga banyak di luar sana. Hanya saja Hendrik sangat pandai menyembunyikanmu. Cepat lakukan!"
Alika menggelengkan kepalanya. "Aku tidak mau, jika aku membukanya maka sepuh perusahaan besar akan bangkrut dan hancur bersamaan." Tolak Alika.
"Hahaha... memang itu tujuanku. Mereka adalah musuh-musuhku, karena mereka telah bekerja sama menghancurkan perusahaan orang tuaku. Aku akan membalas mereka dengan melakukan hal yang sama. Cepat buka!"
"Tidak!"
Alexis mengambil ponselnya lalu memperlihatkan keadaan Belinda di ruang tertutup itu. Seseorang sedang menodongkan senjata di kepala Belinda, membuat tubuh Alika seketika melemas tak berdaya.
"Mama.." Teriak Alika.
"Kau tidak akan membiarkan Mamamu mati ditanganku bukan?" Alexis kembali mengancam.
"Bajingan! jangan melukai Mamaku." Geram Alika berusaha meraih Alexis namun kedua tangannya ditahan oleh dua orang anak buah Alexis.
"Oke, Mamamu akan baik-baik saja jika kau melakukan yang kuperintahkan. Tapi jika kau melawan, maka nyawa Mamamu ada ditanganku."
__ADS_1