
Tidak ada pembicaraan diantara mereka di dalam mobil. Zein menahan amarahnya pada Alika karena tidak ingin berdebat di depan Ramon. Sedangkan Alika memperbaiki posisi kepalanya di sandaran kursi.
Alika memejamkan mata, Dia ingin menenangkan diri sebelum Zein mengeluarkan amarah padanya. Tanpa ia sadari ia tidur terlelap, kepalanya yang bersandar di kursi pindah ke bahu Zein.
Zein mengernyitkan keningnya melirik Alika. Ia kemudian melambaikan tangannya di depan mata Alika yang sedang tertutup. Zein menghela napas berat. Suara dengkuran halus keluar dari mulut Alika yang sedikit terbuka. Bagaimana bisa dia memarahi Alika yang sedang tertidur pulas.
"Ah, Dasar barbar! sedang tidurpun dia masih saja mengganggu ketenanganku." Batin Zein.
Zein menutup bibir Alika dengan jari tangannya agar tidak mendengkur. Setelah dia melepaskan tangannya, mulut Alika kembali terbuka lalu mengeluarkan suara halus kembali.
"Ah." Dengus Zein.
Ramon melirik ke belakang dari kaca spion. Ia menahan tawa saat melihat Zein sedang bermain-main dengan bibir Alika.
Selama tiga puluh menit di perjalanan, akhirnya mereka tiba di apartemen. Zein membangunkan Alika tapi Alika tidak juga membuka mata.
"Jangan pura-pura tidur. Kalau kau tidak bangun dalam hitungan ketiga, maka aku akan menciummu disini. Satu.. dua... Ti.."
Belum juga ucapan Zein selesai, Alika langsung membuka mata dan segera membuka pintu mobil.
Alika segera berlari masuk ke apartemen tanpa menunggu Zein dan Ramon.
"Alika mana?" Tanya Zein saat mereka masuk ke dalam apartemen. Zein mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan mencari keberadaan Alika.
"Dikamarnya kali bos!" Jawab Ramon.
"Sebaiknya kamu pulang dan istirahat."
"Tapi, kamu tidak apa-apa dengan Alika kan? jangan terlalu kasar padanya Zein. Alika bukan tipe cewek yang lemah. Jika kamu kasar maka kamu akan kehilangan dia." Nasihat Ramon.
"Aku tau, besok aja baru aku bicara dengannya. Aku juga tidak ingin mengganggunya istirahat." Ujar Zein kemudian masuk ke dalam kamarnya.
.....
Selesai acara di hotel, Roby mencari tahu siapa Alika di Internet. Tidak banyak yang dapat ia temukan. Ia mengambil ponselnya kemudian menatap wajah Alika, diusapnya dengan lembut layar ponselnya sambil tersenyum.
"Ah, kenapa aku memikirkan Alika?" Roby menekan pelipisnya berkali-kali. Tangannya terus menggesek gambar yang yang ada di galeri ponselnya. Hingga pada satu gambar yang membuatnya sangat terkejut.
"Zein dan Alika?" Guman Roby sambil memperbesar wajah Alika dan Zein.
Di ponsel Roby, terdapat fotonya bersama kolega bisnisnya, mereka sedang berdiri di samping Alika dan Zein yang baru saja meresmikan pertunangan mereka.
__ADS_1
"Sudah ku duga, aku pernah melihatnya. Ternyata Alika adalah tunangan Zein. Tapi kenapa Sander tidak mengetahuinya?" Monolog Roby kemudian menggeser layar ponselnya melihat foto yang lainnya.
"Tapi kenapa pertunanga mereka tidak di publikasikan? aku yakin ada sesuatu yang membuat Zein menyembunyikan statusnya? Jika seperti ini, aku tidak akan sanggup bersaing dengan Zein." Gumam Roby.
Roby melihat jam di tangannya, waktu sudah menunjukkan pukul satu malam. Ia ingin menghubungi Sander tapi dia ragu-ragu. Sander paling tidak suka ditelpon saat tengah malam. Apa lagi jika dia sedang bersenang-senang diatas tempat tidur. Dia akan memaki siapa saja yang mengganggunya.
"Ah, besok aja aku menanyakannya. Apa Sander benar-benar tidak tahu jika Alika adalah tunangan Zein." Monolog Roby lalu meletakkan ponselnya diatas nakas kemudian berbaring di tempat tidur.
.....
Keesokan harinya
Zein keluar dari kamarnya, ia mencari Alika di dapur tapi tidak menemukannya. Zein mengambil air minum digelas lalu meneguknya hingga habis.
Melihat pintu kamar Alika yang masih tertutup rapat. Zein mengarahkan kursi rodanya menuju ruang kerjanya.
Zein mengambil ponselnya yang baru, lalu menghubungi dokter Richard lewat video call.
"[Halo]" Jawab Dokter Richard lewat sambungan telepon selulernya.
"[Halo Dok.]" Sapa Zein.
"[Biasa aja panggilnya! Bagaimana keadaan kamu? Kamu masih melakukan terapi kan?]" Tanya Richard.
"[Bagus. Jika kamu sudah merasa lebih baik, kamu boleh mencoba memakai tongkat untuk berjalan.[" Ujar Richard.
"[Kamu nggak lagi bercanda kan?]" Semangat Zein.
"[Ini masih terlalu pagi untuk bercanda Zein.]"
"[Hehehe, baiklah, Aku akan ikuti saranmu.]"
"[Bagus, tapi usahakan jangan terlalu jauh jalannya, misalnya ke Mall atau ke kantor. Cukup di dalam rumah aja. Nanti jika keramnya sudah semakin menghilang, kamu boleh melepas tongkatnya.]" Jelas Richard.
"[Oke, Makasih Rich.]" Ujar Zein lalu menutup sambungan telponnya.
Zein kembali keluar mencari Alika, Ia mengetuk pintu kamar Alika yang masih terkunci.
Tok.. tok.. tok..!
"Alika, bangun! ini sudah jam tujuh pagi." Teriak Zein dibalik pintu.
__ADS_1
Alika tidak menjawab kemudian Zein kembali mengetuk pintu hingga beberapa kali.
Alika membuka pintu lalu mengeluarkan kepalanya. "Apaan sih! ganggu orang tidur aja." Kesal Alika karena tidurnya terganggu. Ia mengucek matanya berkali-kali lalu menatap Zein dengan wajah cemberutnya.
"Jangan jadi pemalas, aku sangat lapar, buatkan aku sarapan." Perintah Zein.
"Aku masih ngantuk, ahh..." Alika menguap lalu menutup mulutnya.
Zein langsung menutup hidungnya lalu mundur menjaga jarak dari Alika. "Kamu sangat jorok! sana mandi." Ejek Zein lalu menunjuk ke dalam kamar dengan dagunya.
"Masa sih bau?" Alika meletakkan telapak tangannya di depan mulut lalu mengeluarkan udara dari dalam mulutnya. "Ah, nggak bau kok. Apa kau mau coba cium?" Jahil Alika langsung maju mendekati Zein lalu menunduk di depan wajah Zein.
Saat jarak mereka semakin dekat Zein, Zein langsung memundurkan kursi rodanya lalu segera menuju ke dapur.
"Cepatlah, aku menunggumu di dapur. Jika tidak, maka aku akan menelpon Tante Belinda karena kau membiarkanku kelaparan." Ancam Zein saat menjauh dari Alika.
"Hah..!? dasar tukang adu." Kesal Alika.
Pukkk!
Alika membanting pintu dengan keras lalu masuk kedalam kamarnya kembali. Ia membersihkan diri lalu keluar setelah pakaian dan make-up tipis.
Saat di dapur Ia tidak melihat Zein. "Bukankah lebih baik Dia tidak di sini? Ah, kenapa juga aku mengharapkan dia disini?" Kesal Alika pada dirinya lalu menepuk jidatnya satu kali.
Alika mengambil bahan makanan di dalam kulkas lalu membuat sarapan. Setelah beberapa menit di dapur, sarapan yang dibuat Alika selesai. Ia menuju kamar Zein lalu mengetuknya.
Di dalam kamar Zein baru saja melakukan terapi berjalannya. Ia keluar kamar dengan tubuh yang masih basah karena berkeringat.
Alika tertegun melihat otot perut Zein yang duduk di kursi roda tanpa menggunakan baju, Zein hanya menggunakan celana kaos pendek.
"Sudah puas menatapnya? tunggulah dimeja makan, aku mau mandi." Ujar Zein kembali menutup pintu kamarnya lalu menuju kamar mandi dengan kursi rodanya.
Alika masih berdiri mematung di depan pintu. "Apa itu? roti sobek? ah, kenapa aku diam saja saat melihatnya?" Batin Alika.
Alika menggelengkan kepalanya lalu berbalik menuju dapur.
.
.
Bersambung....
__ADS_1
Sahabat Author yang baik ❤️
Jika kalian suka dengan cerita ini, Jangan lupa, Like, Komen, Hadiah, Dukungan dan Votenya ya! 🙏🙏🙏