
"Aku lagi konsen, kamu bisa diem nggak sih!" Kesal Alika.
"Kenapa kalian jadi bertengkar?" Tanya Meriska.
"Itu sudah biasa, jangan perdulikan mereka berdua. Jika dalam sehari mereka tidak bertengkar, serasa sayur tanpa garam, hambar!" Jawab Ramon.
Alika mulai menekan tombol keybord dengan jari kecilnya yang lincah. Tangan mungilnya seolah sedang menari diatas keybord. Ia memasukkan beberapa kode dan pasword yang hanya dia sendiri yang mengerti. Zein dan Ramon hanya diam melihat Alika begitu lincah menggunakan laptop. Setelah beberapa menit, pasword terbuka. Mereka tersenyum karena Alika berhasil membukanya.
"Kamu hebat!" Puji Ramon menaikkan kedua jempolnya.
"Biasa aja." Ujar Zein dengan wajah datarnya.
"Iya, biasa aja, masih banyak lagi yang luar biasa yang dapat aku lakukan dengan jariku yang indah ini. Termasuk mencakar wajah orang lain ketika aku kesal padanya." Sindir Alika. Bukannya Zein berterima kasih karena berhasil membuka pasword-nya, dia malah mengejeknya.
Zein mengambil laptop ke pangkuannya dari tangan Alika, kemudian membuka file yang tersimpan di sana. Terlalu banyak file yang ada di dalam laptop membuat Zein bingung harus memulai dari mana.
"Coba mulai dari file yang terakhir Alan buat." Ide Alika saat melihat kebingungan Zein.
Zein diam tapi mengikuti perkataan Alika. Setelah membuka, ternyata mereka tidak menemukan apapun di sana.
Dengan kesal Zein meletakkan laptop diatas meja. "Kenapa tidak ada apapun di sini?" Tanya Zein kesal.
"Kamu kenapa sih!" Tanya Alika heran.
"Aku yakin kematian Alan ada hubungannya dengan Monika dan Sander." Lirih Zein.
"Monika dan Sander, apa maksudnya? kenapa kamu berpikiran seperti itu? jangan sembunyikan sesuatu dariku Zein." Tanya Alika curiga.
"Alan memiliki bukti perselingkuhan Monika dan Sander." Ujar Zein.
"Dari mana kamu tau?" Tanya Alika.
Dengan berat hati Zein memasukkan flashdisk ke dalam laptop Alan. Sebenaranya Ia tidak mau orang lain melihat perselingkuhan Monika, dia sangat malu dengan kelakuan wanita yang sangat di cintainya.
Di dalam flashdisk sangat terlihat jelas bagaimana Sander dan Monika sedang berciuman di lorong Club lalu mereka masuk ke dalam salah satu kamar kosong yang di sediakan untuk mereka yang sedang ingin menyalurkan hasratnya.
__ADS_1
"Apa maksudnya ini? bukankah Monika dan Sander memang pacaran? Kenapa kalian bilang mereka selingkuh? emangnya mereka selingkuh dari siapa?" Tanya Alika bingung.
"Monika pacar Zein." Sela Ramon.
Deg!
Alika tertegun sejenak, lalu berbalik menatap Zein yang sedang menunduk. Zein sangat malu pada Alika dan Meriska. Bisa saja Alika mengejeknya saat itu juga, tapi sayang mulut Alika seolah keluh tidak bisa menjahili Zein. Hatinya ikut sedih dan iba, apa yang dialami Zein sama dengan yang Ia rasakan. Kecewa dan sakit hati itulah yang mereka rasakan.
"Jadi Monika itu pacar kamu Zein? bukankah dia pacaran dengan Sander?" Tanya Alika menatap Zein, "Ia kan Meris?" lalu berpindah menatap Meriska meminta persetujuan.
"Iya, kami malah melihat mereka keluar dari kamar dengan rambut yang masih basah." Ungkap Meriska langsung menutup mulutnya dengan tangan saat Alika melotot kearahnya.
Zein dan Ramon hanya diam untuk sejenak, satu bukti nyata perselingkuhan Monika kembali dia dapatkan dari mulut Meriska.
"Mantan!" Lirih Zein memendam amarah dalam hatinya.
Sampai saat ini Monika belum juga menghubunginya. Jatah bulanan untuk Monika sudah lewat satu minggu dari biasanya tapi Monika belum juga mencarinya.
"Maaf Zein, kami nggak tahu." Lirih Alika.
"Lika, kita ke kamar yuk! sepertinya Zein butuh sendiri." Ajak Meriska.
"Baiklah, Ramon kami duluan ya? Hibur tuh bos kamu yang lagi sakit hati. Bilang perempuan kayak gitu dibuang aja, ngapain juga di pertahankan, nggak guna!" Kesal Alika, Entah mengapa jika melihat perselingkuhan, Alika selalu mengingat penghianatan yang dilakukan oleh Dirga.
"Kalian memang jodoh! senasib juga sama, sama-sama di selingkuhin pasangan." Ejek Monika.
Alika langsung memukul lengan Meriska lalu menariknya segera keluar dari kamar Alan, sebelum mulut Meriska semakin tidak terkontrol dan mempermalukan dirinya.
"Hehehe, bener juga ya? cinta mereka berakhir karena perselingkuhan. Ihh, cinta begitu rumit, untung aku tidak memiliki waktu pacaran. Bisa sakit hati aku seperti mereka jika mencintai lalu dikhianati." Gumam Ramon bergidik ngeri setelah Meriska dak Alika menghilang dibalik pintu.
...........
Alika dan Meriska kembali ke kamarnya. Mereka mengganti pakaian tidur lalu duduk di atas tempat tidur.
"Tak ku sangka ternyata Zein pacar Monika. Tapi kenapa Monika selingkuh ya? bukankah Zein tipe pria yang sempurna?" Tanya Meriska.
__ADS_1
"Mana aku tau? mungkin karena Zein lumpuh dan Monika tidak bisa menerima itu. Makanya dia memilih pria lain. Ah, sudahlah, jangan membahas masalah Zein karena itu bukan urusan kita." Jawab Alika.
"Lalu bagaimana dengan kerja sama kita dengannya Monika? apa kita lanjutkan atau di batalkan?" Tanya Meriska.
Alika berpikir sambil berbaring menatap langit-langit kamar. Pikirannya menerawang apa yang harus ia lakukan kedepannya. Dia juga tidak mungkin membatalkan kerja sama yang sudah mereka sepakati.
"Jangan di batalkan! Jika kita dekat dengan Monika, kita akan tahu siapa aja yang dekat dan berhubungan dengan Kak Alan, itu akan membuat kita lebih mudah menemukan pelakunya, tapi jangan sampai membuat mereka curiga jika kita sedang menyelidiki kematian Kak Alan."Jawab Alika.
"Baiklah, apa kamu punya ide?" Meriska setuju dengan pemikiran Alika.
"Hmm." Gumam Alika tersenyum licik.
"Apa kamu perlu bantuanku?" Tanya Meriska.
"Aku ingin kamu mengurus Monika agar menyelesaikan pemotretan secepatnya. Masalah Sander itu urusanku. Sepertinya dia tipe pria seperti Dirga. Playboy cap buaya! Aku akan memanfaatkannya mencari pelaku pembunuhan Kak Alan." Ide Alika.
"Siap bu bos, sekarang sudah bisa tidur dong? udah ngantuk banget nih!" Melas Meriska, Ia memperbaiki posisi bantalnya lalu menutup mata dengan tenang.
Alika masih belum bisa tertidur. Ia menghawatirkan keadaan Zein saat ini. Sangat sulit menerima kenyataan jika orang yang kita cintai ternyata menghianati kita. Memilih bersama orang lain tanpa memikirkan perasaan yang lain.
"Ah, kenapa aku jadi memikirkan Zein? Dia kan laki-laki, pasti sangat mudah baginya mendapatkan wanita lain. Tidak seperti aku yang masih menyimpan Dirga di sini." Gumam Alika lalu memegang hatinya.
Ia menutup mata sejenak lalu kembali membuka mata. Pikirannya tidak tenang sekarang ini.
"Meris, aku menghawatirkan keadaan Zein, apa menurutmu aku ke kamar Zein untuk melihat keadaannya ya? Saat di apartemen dia pernah seperti ini, kamu tau nggak? tangannya sampai luka karena memukul dinding. Apa Ramon masih ada disana ya? aku jadi bingung memikirkannya. Aku kesana apa nggak nih?" Tanya Alika.
Meriska tidak menjawab membuat Alika kesal tanpa menoleh dan masih menatap langit-langit kamarnya.
"Meris! aku kesana apa nggak?" Tanya Alika kembali dengan nada yang lebih tinggi.
"Meris, Meris!" Panggil Alika.
.
.
__ADS_1
Bersambung....