Calon Istri Milyader

Calon Istri Milyader
Marah


__ADS_3

Ting!


Lift terbuka dan mereka bertiga langsung keluar dari lift menuju kamar apartemen.


"Maaf Tuan Zein, aku pamit pulang karena masih harus kembali ke kantor." Ujar Ramon setelah mereka berada di depan pintu. Ia harus pergi saat itu juga untuk menghindari amukan Zein.


Zein hanya mengangguk lalu membuka pintu dengan menekan angka kunci di sisi pintu.


"Kamu nggak mau masuk dulu Ramon?" Tawar Alika.


"Tidak perlu Nona lain kali saja, saya sedang di tunggu di kantor." Tolak Ramon.


"Yah..! sayang sekali padahal kopi buatan ku sangat enak lho, kamu harus cobain lain kali." Ujar Alika dengan perasaan kecewa.


"Ia Nona, lain kali aja. Permisi." Pamit Ramon.


Setelah kepergian Ramon, mereka berdua masuk ke dalam. Alika langsung menuju kamar namun suara berat Zein menghentikan langkahnya.


"Dari mana saja kamu?" Bentak Zein dengan nada tinggi.


"Bukannya kamu sudah liat aku di restoran bersama Meriska?" Tanya Alika balik.


Zein tersenyum dengan seringai licik di wajahnya. "Pergi dengan Meriska lalu pulang bersama laki-laki lain? Apa kamu pikir aku buta?" Amarah Zein makin meningkat membuat Alika seketika gemetar dan ketakutan.


"Kenapa kamu marah?" Tanya Alika balik.


"Apa kamu sadar kamu sudah bertunangan? apa menurutmu itu wajar jika kamu pergi berdua dengan laki-laki lain? Bagaimana jika wartawan mengambil gambar kalian?" Geram Zein.


"Kamu menuduh aku selingkuh? Aku dan Meriska ada urusan dengan pacar Sander. Dan kami tidak memiliki hubungan apa-apa, Dia hanya mengantar kami pulang, Meriska turun di hotel dan aku disini. Masalah wartawan kamu tidak perlu khawatir, aku akan membereskan mereka jika berani mengambil gambar tanpa sepengetahuanku." Jelas Alika langsung masuk kamar.


Prakk!


Suara pintu kamar yang di banting oleh Alika membuat Zein ikut tersentak.


"Kenapa jadi dia yang marah? yang seharusnya marah kan aku." Monolog Zein kesal. Ia mengusap wajahnya dengan kasar lalu memukul pegangan kursi rodanya.


"Arghh." Teriak Zein lalu masuk ke dalam kamarnya.

__ADS_1


.....


Alika langsung melempar sling bagnya di atas tempat tidur. Membuka high heels lalu menendangnya ke sembarang arah.


"Enak saja marah ke aku? emang dia siapa? pacar bukan, suami juga bukan!" Gerutu Alika.


Alika menuju kamar mandi, Ia membersihkan diri, memakai piala polkadot, memakai skincare lalu mengambil laptopnya. Ia membuka email yang masuk lalu menyelesaikan pekerjaan yang dikirim oleh Meriska.


Dua jam telah berlalu, Alika menutup laptopnya. Ia mengambil ponselnya lalu keluar menuju dapur. Saat di dapur Ia mengambil segelas air minum di kulkas lalu meminumnya. Setelah itu, Alika duduk kemudian menghubungi Belinda karena kedua orang tuanya telah kembali ke Milan.


"[Halo sayang..!]" Jawab Belinda di seberang telpon saat melihat wajah cantik anaknya.


"[Halo Mah.]" Balas Alika.


"[Ada apa sayang?]" Tanya Belinda.


"[Mah tolong telpon Kakek Hutama dong..! bilang Alika mau pulang, cari alasan gitu, atau apa lah terserah Mama. Yang penting Alika pergi dari sini. Aku sudah nggak tahan Mah! Zein nyebelin banget, selalu marah nggak jelas.]" Adu Alika sambil memelas.


"[Sabar dong sayang. Kalau kamu mau pulang cepat, caranya hanya satu.]" Ujar Belinda.


"[Apa Mah?]" Tanya Alika penasaran.


"[Kelamaan Mah! Lika maunya pulang sekarang. Mana mungkin Lika membuat dia jatuh cinta? Dia itu pria yang menyebalkan dan kaku.]" Bujuk Alika.


"[Kenapa tidak mungkin? Lika, kamu itu cantik sayang..! banyak hal yang bisa membuat Zein jatuh cinta padamu.]" Ujar Belinda.


"[Pokoknya Mama harus bantuin Lika ngomong dengan Kakek Hutama. Bilangin, Lika siap menikah dengan Zein kapan aja asalkan Lika boleh pulang sekarang. Lika banyak pekerjaan di Milan Mah! Kasihan Meriska, Dia harus double job karena Lika nggak ada. Urusan jatuh cinta nanti aja belakangan setelah nikah.]" Melas Alika.


"Ia nanti Mama coba deh, udah dulu ya? Mama harus pergi dengan Papa." Pamit Belinda.


"Ia Mah, Bye-bye." Pamit Alika lalu menutup telponnya.


Alika meletakkan ponselnya diatas meja, Ia ingin beranjak namun dikagetkan oleh Zein yang sedang menatapnya tanpa ekspresi.


"Kenapa kamu seperti jalangkung? selalu muncul tiba-tiba disaat yang tidak tepat!bikin orang jantung aja." Ketus Alika lalu berdiri menuju kulkas dan mengambil bahan makanan, "Duh..! Zein denger nggak ya? yang aku omongin dengan Mama. Mudah-mudahan aja nggak." Batin Alika.


Zein hanya diam, Ia mengambil air minum lalu mendekati meja makan.

__ADS_1


"Jadi dia juga bekerja? gadis manja sepertinya bisa kerja apa selain menghambur-hamburkan uang orang tuanya." Batin Zein mengejek.


"Kamu mau masak?" Tanya Zein melihat Alika meletakkan bahan makanan di dekat kompor.


Alika tidak menjawab, Ia sibuk mengaduk makanan yang akan Dia buat.


"Aku juga lapar, buatkan juga untukku." Ujar Zein.


"Kenapa nggak pesan makanan aja? apa Tuan Zein yang terhormat ini sudah kehabisan uang untuk memesan makanan?" Ketus Alika. Ia masih marah karena Zein menuduhnya selingkuh.


"Kalau nggak mau, ya sudah! biar aku pesan makanan." Zein menekan tombol kursi rodanya meninggalkan meja makan, namun Alika segera menghentikannya.


"Tidak usah! aku masak banyak kok, kamu tunggu aja di sana. Aku akan memanggilmu jika sudah selesai." Ujar Alika lalu kembali melanjutkan masakannya.


"Kamu ini gimana sih! tadi suruh pesan makanan, sekarang suruh menunggu. Yang bener yang mana?" Tanya Zein.


"Nggak usah pesan makanan." Jawab Alika.


Zein tetap di tempat, Ia tidak mau pindah keruang tamu yang Alika tunjuk. Sambil menunggu Alika menyelesaikan masakannya, Ia memainkan ponselnya, sesekali mengarahkan pandangannya ke Alika yang sedang memakai celemek sambil mengaduk makanan di atas kompor.


"Cantik." Lirih Zein.


Setelah beberapa menit, nasi goreng ala chef Alika tertata di atas meja makan.


"Sudah selesai." Alika melihat puas masakannya, "Ayo makan." Ajak Alika lalu duduk di salah satu kursi kosong.


Zein mengambil piring yang sudah di isi nasi goreng kemudian menikmatinya. Tidak ada obrolan diantara mereka saat makan hingga selesai. Masing-masing hanya sibuk menikmati makanannya.


"Masakan Alika memang enak. Jika dia jadi istriku, aku bisa terus menikmati masakannya tiap hari dong! Eh, kenapa aku memikirkan dia jadi istriku?" Batin Zein lalu mengusap mulutnya dengan tissue.


"Bagaimana nasi gorengnya, enak kan?" Semangat Alika.


"Biasa aja, tapi karena aku sangat lapar, makanya aku habiskan." Jawab Zein dengan wajah datar.


"Ih, nggak mau ngaku lagi, bilang aja enak! biar yang buatan juga merasa senang dan dihargai. Lain kali aku nggak mau masak lagi untukmu. Kamu pesan makanan aja yang menurutmu enak." Kesal Alika.


.

__ADS_1


.


Bersambung....


__ADS_2