Calon Istri Milyader

Calon Istri Milyader
Kedatangan Mama


__ADS_3

"Dia memang begitu Zein! diluarnya aja kelihatan barbar, mandiri, ngeselin, jahil, sok jagoan, jutek, tapi sebenarnya Alika sangat manja, baik, bertanggung jawab, dan penyayang. Jika kamu bisa membuatnya jatuh cinta padamu, Om yakin kau akan merasa menjadi pria paling beruntung mendapatkannya. Om katakan ini bukan karena Alika anak Om, tapi karena aku sangat mengenalnya dengan baik." Ujar Hendrik dengan nada pelan agar tidak ada yang mendengarnya selain Zein.


"Iya Om aku juga yakin Alika gadis yang sangat baik, hanya saja buruh kesabaran extra untuk menghadapinya." Ujar Zein.


"Hehehe, kalau itu aku setuju." Ujar Hendrik mengangguk.


"Ayo kita makan dulu, nanti dilanjutkan obrolannya." Ujar Belinda.


Mereka duduk di satu meja, Alika mengambilkan makan untuk Zein lalu meletakkan di depannya.


"Alika, Apa kamu nggak liat tangan Zein sedang sakit? ya di suapin dong sayang..! masa ia Zein makan dengan tangan kiri." Ujar Belinda membuat Alika seketika mendelik ke arah Zein yang sedang tersenyum karena setuju dengan Belinda.


"Tapi Mah! Alika juga mau makan." Tolak Alika.


"Coba kamu makan dengan tangan kiri, apa bisa?" Tanya Hendrik.


"Nggak Pah." Jawab Alika sambil menggeleng.


"Ya sudah, tunggu apa lagi! kamu bisa makan sambil suapin Zein kan?" Ujar Hendrik.


"Hehehe, calon mertuaku memang sangat kompak! calon mertua idaman aku banget, jika aku menikah dengan Alika, aku beruntung memiliki mertua seperti mereka." Batin Zein.


"Malu Pah!" Ujar Alika dengan wajah yang memerah.


"Nggak usah malu sama calon suami sendiri, anggap saja training sebelum kau menjadi istri Zein. Iya kan Zein?" Ujar Belinda kemudian meminta pendapat Zein.


"Iya Tante." Singkat Zein.


"Sepiring berdua aja, biar lebih romantis!" Sela Hendrik.


"Papa!" Kesal Alika merasa kedua orang tuanya sengaja mendekatkan dirinya dan Zein.


Alika menghela napas berat, dari pada berdebat yang ujung-ujungnya juga pasti dia kalah, Ia memutuskan mengambil piring Zein kemudian menyuapinya dengan ragu-ragu. Padahal dalam hati ia juga mau melakukannya.


Zein tersenyum lalu membuka mulutnya dan menikmati makanannya. Setelah menyuapi Zein, Alika juga makan. Kedua orang tuanya juga mulai menikmati makanannya sambil melirik mereka berdua secara bergantian.


"Masakan Alika makin enak, apa karena ada bumbu cinta ya Pah?" Puji Belinda.


"Iya Mah, bagaimana Zein! Alika istri idaman kan?" Jawab Hendrik kemudian meminta persetujuan Zein.


Khukk..khukk..khukk..


Zein tersedak makanan membuat Alika panik lalu memberinya air minum.


"Pelan-pelan aja makannya, jadi tersedak kan?" Ujar Alika.


Zein meminum air kemudian mengatur napasnya dengan perlahan. Inilah salah satu yang Zein tidak suka jika sedang makan. Berbicara sambil menikmati makanan dapat membuat orang lain tersedak.

__ADS_1


"Bagaimana, sudah agak baikan?" Tanya Alika.


Zein mengangguk lalu kembali meminta air minum.


"Gara-gara Papa nih!" Kesal Alika.


"Hehehe, Maaf ya Zein." Tulus Hendrik.


"Tidak apa-apa Om." Balas Zein.


"Sudah, lanjutkan makannya lagi." Sela Belinda.


Mereka kembali melanjutkan makannya. Setelah selesai makan Alika membersihkan dapur sedangkan yang lainnya duduk di sofa ruang tamu sambil berbincang masalah keluarga.


Alika menyusul duduk di ruang tamu setelah menyelesaikan pekerjaannya.


"Sini sayang, duduk dekat Mama." Belinda menepuk sofa di sampingnya kemudian Alika duduk.


"Tangan kamu bagaimana Zein?" Tanya Hendrik.


"Sudah agak mendingan Om." Jawab Zein.


"Jangan di gerakkin dulu tangannya, jika butuh sesuatu bilang ke Alika aja." Ujar Belinda.


"Iya Tante." Jawab Zein.


"Hah!? apa nggak terlalu cepet Mah." Tanya Alika dengan expresi wajah terkejut.


"Tidak sayang. Apalagi yang kalian tunggu? Cepat atau lambat kalian juga akan menikah bukan? jadi kami memutuskan acaranya akan di laksanakan di Roma." Ujar Belinda.


"Tapi Mah, aku dan Zein belum siap? jujur saja masih ada orang lain di hati kami." Ungkap Alika.


Alika melirik Zein yang juga meliriknya dengan tatapan datar dan dinginnya. Ia sangat sulit menebak isi hati Zein yang menurutnya terlalu kaku. Ia masih mengira Zein masih sangat mencintai Monika sedangkan dirinya tidak mau ada wanita lain dalam rumah tangganya kelak.


Hendrik langsung menatap Alika. "Apa kamu masih berhubungan dengan Dirga? Sudah berapa kali Papa bilang dia itu tidak cocok untuk kamu nak!"


"Kenapa Papa selalu bilang seperti itu?" Tanya Alika.


"Karena itu kenyataannya Alika! Papa tidak akan rela melepaskan anak kesayangan Papa pada orang yang tidak bisa dipercaya." Tegas Hendrik.


Hendrik pernah melihat Dirga dan Priska sedang makan siang di salah satu restoran. Mereka sangat mesra tidak seperti atasan dan bawahannya, tapi lebih tepatnya seperti sepasang kekasih yang sedang berkencang.


"Maksud Papa, Papa lebih percaya dengan Zein? tapi dia juga masih mencintai wanita lain Pah." Ungkap Alika.


"Siapa bilang?" Sela Zein.


"Aku yang bilang! barusan kau memimpikannya bukan? kau selalu memanggil namanya." Tuduh Alika.

__ADS_1


"Jangan asal ngomong kalau nggak tau apa-apa." Kesal Zein.


"Siapa yang asal ngomong? kau juga berciuman dengannya kan." Geram Alika.


"Tidak!" Sergah Zein.


Belinda dan Hendrik saling melirik, mereka harus segera menghentikan perdebatan Alika dan Zein. Mereka sangat tau jika Alika tidak pernah mau kalah jika sedang berdebat. Tidak heran jika Alika mendapatkan piala juara satu debat mahasiswa.


"Sudah! berhenti berdebat lagi, percuma kau berdebat dengannya Zein, pasti kau akan kalah, Alika juara satu debat mahasiswa internasional di korea saat masih kuliah. Jadi lebih baik kau mengalah dan diam." Jelas Hendrik.


Zein menautkan kedua keningnya. Ada sesuatu yang baru yang ia ketahui tentang Alika kembali. "Kenapa Ramon terlalu lambat memberikan informasi tentang Alika? awas kau Ramon aku akan menghukummu karena ini." Batin Zein.


"Pah, kenapa bocorin rahasia Alika? itu hanya masa lalu dan kebetulan lawan Alika kurang pandai dalam berdebat. Kalian harus janji merahasiakan ini ke orang lain." Ujar Alika.


Sementara mereka membahas masalah debat, Belinda menangkap sesuatu yang lain dari perdebatan Zein dan Alika.


"Alika apa kau cemburu dengan wanita yang ada di mimpi Zein?" Selidik Belinda.


Alika melirik Zein yang sedang menyunggingkan senyum liciknya. "Siapa yang cemburu? tidak mungkin Mah." Sergah Alika menggelengkan kepalanya.


"Kalau nggak cemburu, ngapain kamu marah-marah, itu hanya mimpi. Mau Zein ciuman, pelukan, pegangan tangan di hadapan kamu tidak masalah kan? jika tidak ada perasaan seharusnya sikap kamu tenang dan biasa aja." Tegur Belinda.


Zein tersenyum puas mendapat pembelaan dari Belinda. Ia sudah tau harus bersikap seperti apa jika di hadapan keluarga Alika, lebih baik diam dan mendengarkan dari pada ikut bicara tapi salah dimata Alika.


"Apa Iya aku sedang cemburu? aku hanya kesal aja pada Zein, mau menikah denganku tapi di pikirannya hanya ada Monika. Mana bisa begitu?" Batin Alika.


Mah, sudah malam, sebaiknya kita pulang, biarkan mereka juga istirahat." Ujar Hendrik.


"Iya Pah." Jawab Belinda kemudian berbalik pada Alika. "Mama pulang dulu ya? Jangan lupa obat Zein, kamu belum memberinya setelah makan tadi." Ujar Belinda mengingatkan.


"Iya Mah, Alika tau."


Alika memeluk Belinda, kemudian memeluk Hendrik karena mereka akan pergi. "Hati-hati di jalan Pah jangan ngebut-ngebut." Pesan Alika.


"Zein lekas sembuh ya? aku akan menghubungimu untuk membicarakan bisnis kita." Pesan Hendrik kemudian menepuk pundak Zein.


Bisnis yang Hendrik maksud adalah kasus Alan yang mereka sengaja sembunyikan dari Belinda.


Alika dan Zein mencium tangan mereka, kemudian kedua orang tuanya keluar dari apartemen Zein.


.


.


Bersambung....


Sahabat Author yang baik ❤️

__ADS_1


Jangan lupa, Like, Komen, Hadiah, Dukungan dan Votenya ya! 🙏🙏


__ADS_2